
Setelah selesai mengikuti acara Kenduri
Adat di LAM sempena Hari Jadi Bengkalis ke-513, ingin nya cepat-cepat pulang(Rabu,
30 Juli 2025).
Waktu sudah sore. Sekitar jam 17.30 WIB. Mas
Jarir sibuk ngobrol dengan Dr.H. Bagus Santoso-Wakil Bupati Bengkalis. Saat ia
melihat ku, langsung memanggil dan memegang punggungku. kami pun ngobrol sedikit.
Langsung to the point. Ngobrol akreditasi prodi di IAIN Datuk Laksemana
Bengkalis.”Insya Allah semua hasilnya sesuai dengan ekspetasi”. Tentu saja
kami pun tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada nya yang paling sering
datang saat proses akreditasi (rabu, 30/07/2025).
Tulisan ini tidak akan membahas tentang akreditasi prodi. Biarkan saja para dosen-dosen muda yang hebat-hebat, yang pandangannya masih “awas”, “jelas”,”terang” dan “teliti” melihat dokumen-dokument. Saya secara pribadi hanya bisa men-suport. Jika mereka butuh data, berupa karya buku atau artikel, saya siap-siap saja memberi nya. Alhamdulillah pertengahan tahun 2025, saya sudah menyerahkan 5 buku ber-ISBN karya ku. Insya Allah juga ada 3 artikel internasional dan nasional yang segera saya serahkan ke prodi HKI untuk kepentingan akreditas mendatang.

Kampus memang sangat membutuhkan akreditasi sebagai cermin salah satu keberhasilan proses penataan sistem pendidikan di sebuah institusi. Melalui akreditasi, ada harapan-harapan besar melahirkan alumni yang berdaya saing di era kehidupan modern saat sekarang ini. Dari sini akreditasi menjadi sangat penting untuk mewujudkan harapan-harapan tersebut.
Manusia sebagai homo religion
-manusia secara naluri beragama – tidak sebatas membutuhkan akreditasi
dalam dunia pendidikan. Ia juga membutuhkan akreditasi spiritual. Akreditasi ini
sebagai upaya mewujudkan keseimbangan kebutuhan hidup manusia, baik kebutuhan
bersifat jasadiyah -fisik -maupun kebutuhan yang bersifat spiritual seperti
keimanan dan pemahaman tentang hakekat-hakekat pandangan hidup dalam aspek
agama.
Seberapa penting akreditasi spiritual dalam
kehidupan era modern ini. Cara berfikirnya tentu saja merujuk dari pandangan
agama yang mengajarkan cara pandang hidup tidak hanya sebatas duniawi semata,
tapi juga berpijak pada pandangan ukhrowi.
Bahkan dalam pandangan duniawi pun agama mengatur
secara komprehensif agar kualitas duniawi juga mengarah kepada tujuan ukhrowi. Seperti
Tuhan memperintah sholat. Itu gerakan duniawi, yang diikat oleh aturan-aturan
fiqih sholat. Ada takbir sampai salam. Ada tatacaranya. Namun sholat tidak
cukup berhenti dari kesempurnaan menjalankan syarat dan rukunya, ada hal yang
lembih mendalam lagi yaitu memahami sholat dalam konteks sosial dan spiritual. Jika
sholat tidak mampu memenuhi kedua unsur tersebut, maka sholat nya dianggap riya.
Lebih ekstrem lagi, allah menganggap orang-orang beragama sebagai orang-orang
yang celaka. Q.S. Al-Ma’un ayat 1-5 berbunyi:
“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim. dan tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin. Celakalah orang-orang yang melaksanakan salat, (yaitu) yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat riya, dan enggan
(memberi) bantuan.”
Pesan-pesan Tuhan tentang ada pola integral antara persoalan duniawi dan ukhrowi bisa ditemukan lagi pada ayat-ayat atau hadist-hadist lain dalam bidang ibadah dan muamalah.

Pada era sebelum Islam datang, ada upaya membuat sistem hukum
liberal -pemisahan agama dan dunia. Para bangsawan dan saudagar saat selesai
berdagang, sebagian mereka menghabiskan malam nya dengan bermain perempuan,
berdansa, dan mabuk-mabukan. Mereka lakukan tujuan satu yaitu mencari
kebahagiaan. Ironisnya, kebahagiaan seperti tersebut di atas seperti hidup
terkena ganja. Ketagihan setiap saat. Semakin ketagihan, hati semakin gersang. Namun
tidak tahu jalan untuk menyuburkan ketenangan hati. akhirnya ia pun mencari
lagi ke tempat kebahagiaan di tempat-tempat hiburan.
Setelah Islam datang, pola kehidupan Bangsa Arab berubah. Para bangsawan mencari kebahagiaan melalui perjalanan spiritual dengan sholat wajib, sholat malam, tahajud, wirid, baca Al-Qur’an dan puasa-puasa sunnah serta tangan senantiasa menyalurkan sebagian rezekinya kepada orang-orang yang membutuhkan.
Pola ini menurut penulis artikel ini merupakan pola akreditasi
spiritual. Bangsa Arab pada masa Nabi -yang sebelumnya beratus-ratus tahun
selalu dalam keterpurukan dan terus-menerus hidup pada era kejahiliyahan -berubah
total menjadi manusia yang modern. Untuk mencapai status modern sangat cepat, hanya
membutuhkan 23 tahun. Bangsa Arab kala itu benar-benar mencapai puncak
keagungan dengan sebutan Madinah Al-Munawarah.
Saya kira pola akreditasi spiritual saat sekarang ini telah ditiru oleh Kaum Yahudi. Kelahiran agama Islam di Jazirah Arab sebagai kekuatan baru telah mengusik kenyamanan Kaum Yahudi yang berada di wilayah-wilayah strategis dan subur di Yasrib. peran mereka semakin terpinggirkan ketika terjadi kegagalan melakukan kudeta kepada kekuasaan Nabi Muhammad. Kaum Yahudi bangkit dari kesadaran kolektif untuk mengambil alih kekuasaan dunia. Dua poros kekuatan Yahudi: Palestina dan warga diaspora di Benua Eropa. Pemersatu nya yaitu mosaic code.
Mosaic code telah menjadi inspirasi Bani Israel untuk membangun akreditasi spiritual-tentu saja menurut versi nya, bukan versi kita taurat asli dari nabi musa. Mereka berhasil. Kaum yahudi telah mencapai puncak kejayaan tidak melewati zaman batu, zaman logam dan sebagainya. Ia telah hidup melalui sistem kehidupan yang sudah sangat tertata seperti saat sekarang ini. hidup berbasis pada agama dan ilmu. Itu sebabnya, sepanjang sejarah mereka tidak meninggalkan jejak-jejak bangunan seperti yang dilakukan oleh Raja Fir’aun. Ia hidup dengan memegang ajaran agama dan mengembangkan ilmu pengetahuan dalam beragam bidang yang kemudian melahirkan ilmuwan-ilmuwan di abad modern seperti Abraham Zacuto yang karyanya dipakai oleh Vaco De Gama, Albert Einstein, Sigmun Freud, Karl Marx, David Bohr dan lain-lain.

Ajaran mosaic code juga perlu ada pemisahan agama dan
negara. ini yang kemudian lahir para ilmuwan-ilmuwan rasionalisme yang tumbuh
seperti cendewan di musim hujan di Benua Eropa dalam bidang politik, seni, sastra,
ekonomi dan Pendidikan.
Meskipun demikian, dalam rangka untuk menyatukan kekuatan kaum
yahudi, mereka menggunakan ikatan spiritual sebagai penganuh agama yahudi sebagai
agama satu-satunya khusus untuk Bani Israel -non misioneris. Isu besarnya
menyatukan Kaum Yahudi di Palestina dan Kaum Yahudi yang ber-diaspora di benua
eropa. Berhasil, yaitu mendirikan Negara Israel pada tahun 1948.
Selain kaum yahudi, ada umat Islam yang menerapkan pentingnya akreditasi
spiritual, yaitu Islam Syi’ah Iran. Negara ini merupakan satu-satunya negara Islam
yang mampu membangun kekuatan spiritual sebagai sumber energi dalam upaya mewujudkan
negara yang modern-religius.
Penulis melihat kondisi Islam Iran seperti Islam pada masa Nabi. Saya
ikat dalam sirah Islam, saat terjadi perang, Umat Islam kehabisan bekal.
Ada tiga pasukan Islam terluka parah di medan pertempuran. Mereka kehausan. Mereka
tidak mengeluh. Di antara mereka ada yang membawa air minum di botol terbuat
dari kulit onta. Isinya tinggal sedikit. Ia tidak berani minum karena melihat
teman-teman nya kehausan. Lalu airnya diberikan ke teman sebelahnya. Teman sebelahnya
memegang botol tersebut, tapi tidak minum. Ia memandang teman sebelahnya lagi,
lalu memberikan air tersebut ke sebelahnya lagi. Ia pun tidak mau minum. Ia memberikan
air tersebut kepada prajurit pertama -pemilik botol. Mereka bertiga saling
memberi. Hingga pada akhirnya air tersebut tidak jadi diminum. Ketiga nya keburu
meninggal dunia.
Penulis telah membaca sejarah dan melihat perjalanan sejarah umat Islam
Syi’ah di Iran. Tahun 1980-an mereka sangat menderita hingga 1988 akibat kalah
perang melawan Irak dan AS. Tahun-tahun selanjutnya, negara tersebut terus
diembargo ekonomi oleh AS. Rakyat Iran menderita, kelaparan, dan terlantar. Tapi
hebatnya, mereka tidak menunjukan penderitaan di dunia internasional.
berita-berita di koran, di TV, internet dan media online tidak memproduksi
tulisan, berita atau film-filem tentang kisah kelaparan Islam Syi’ah di Iran
hingga saat sekarang ini.
Para ulama Islam di Nusantara pada masa penjajahan Belanda juga
menerapkan lelaku akreditasi spiritual. Mereka mengasah ketajaman mata batin
dan mengasah intelektual serta keahlian bela diri. Mereka terus menerus berdakwah
ke masyarakat. Hingga membentuk masyarakat muslim Indonesia tetap istiqomah
dalam beragama Islam meskipun dalam kondisi penjajahan Belanda. Semakin ditekan,
semakin menggelora iman umat Islam kala itu.
Kini umat Islam telah hidup di era akreditasi baju atau casing
yang bersifat wujudiyah terlihat oleh mata. sebagian umat Islam sudah mulai
terpengaruh cara pandang tersebut sebagai bagian dari cara pandang kaum
rasional mutlak yang melihat kebahagiaan sebatas kebendaan.
Cara pandang seperti ini jika membaca sejarah sebenarnya merupakan
jebakan pemikiran kaum yahudi yang sedang membangun upaya menghilangkan agama
universal dan hanya menjaga agama yahudi. Agama-agama dikacaukan dengan produk-produk
filsafat dalam segala aspek kehidupan yang terus diproduksi agar umat Islam terus
mengejar kebahagiaan dunia dan takut terhadap kematian. Sebuah gerakan memisahkan
manusia antara agama dan kehidupan.
Berkaca dari fakta tersebut, maka akreditasi spiritual juga
merupakan kebutuhan yang sangat urgen untuk membentuk jati diri muslim yang
terus memburu kesuksesan dunia hingga puncak karir semata-mata sebagai wujud memperjuangkan
ajaran Islam sebagai way of life dalam kehidupan era modern. Islam hadir bukan
sebatas di suara-suara adzan saja, tapi islam hadir dalam ruh peradaban yang rahmatal
lil muslimin sekaligus lil ‘alamin.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13558
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3569
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876