Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

322 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Akreditasi Spiritual



Rabu , 30 Juli 2025



Telah dibaca :  426

Setelah selesai mengikuti acara Kenduri Adat di LAM sempena Hari Jadi Bengkalis ke-513, ingin nya cepat-cepat pulang(Rabu, 30 Juli 2025).

Waktu sudah sore. Sekitar jam 17.30 WIB. Mas Jarir sibuk ngobrol dengan Dr.H. Bagus Santoso-Wakil Bupati Bengkalis. Saat ia melihat ku, langsung memanggil dan memegang punggungku. kami pun ngobrol sedikit. Langsung to the point. Ngobrol akreditasi prodi di IAIN Datuk Laksemana Bengkalis.”Insya Allah semua hasilnya sesuai dengan ekspetasi”. Tentu saja kami pun tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada nya yang paling sering datang saat proses akreditasi (rabu, 30/07/2025).

Tulisan ini tidak akan membahas tentang akreditasi prodi. Biarkan saja para dosen-dosen muda yang hebat-hebat, yang pandangannya masih “awas”, “jelas”,”terang” dan “teliti” melihat dokumen-dokument. Saya secara pribadi hanya bisa men-suport. Jika mereka butuh data, berupa karya buku atau artikel, saya siap-siap saja memberi nya. Alhamdulillah pertengahan tahun 2025, saya sudah menyerahkan 5 buku ber-ISBN karya ku. Insya Allah juga ada 3 artikel internasional dan nasional yang segera saya serahkan ke prodi HKI untuk kepentingan akreditas mendatang.


Kampus memang sangat membutuhkan akreditasi sebagai cermin salah satu keberhasilan proses penataan sistem pendidikan di sebuah institusi. Melalui akreditasi, ada harapan-harapan besar melahirkan alumni yang berdaya saing di era kehidupan modern saat sekarang ini. Dari sini akreditasi menjadi sangat penting untuk mewujudkan harapan-harapan tersebut.

Manusia sebagai homo religion -manusia secara naluri beragama – tidak sebatas membutuhkan akreditasi dalam dunia pendidikan. Ia juga membutuhkan akreditasi spiritual. Akreditasi ini sebagai upaya mewujudkan keseimbangan kebutuhan hidup manusia, baik kebutuhan bersifat jasadiyah -fisik -maupun kebutuhan yang bersifat spiritual seperti keimanan dan pemahaman tentang hakekat-hakekat pandangan hidup dalam aspek agama.

Seberapa penting akreditasi spiritual dalam kehidupan era modern ini. Cara berfikirnya tentu saja merujuk dari pandangan agama yang mengajarkan cara pandang hidup tidak hanya sebatas duniawi semata, tapi juga berpijak pada pandangan ukhrowi.

Bahkan dalam pandangan duniawi pun agama mengatur secara komprehensif agar kualitas duniawi juga mengarah kepada tujuan ukhrowi. Seperti Tuhan memperintah sholat. Itu gerakan duniawi, yang diikat oleh aturan-aturan fiqih sholat. Ada takbir sampai salam. Ada tatacaranya. Namun sholat tidak cukup berhenti dari kesempurnaan menjalankan syarat dan rukunya, ada hal yang lembih mendalam lagi yaitu memahami sholat dalam konteks sosial dan spiritual. Jika sholat tidak mampu memenuhi kedua unsur tersebut, maka sholat nya dianggap riya. Lebih ekstrem lagi, allah menganggap orang-orang beragama sebagai orang-orang yang celaka. Q.S. Al-Ma’un ayat 1-5 berbunyi:

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim. dan tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin. Celakalah orang-orang yang melaksanakan salat, (yaitu) yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat riya, dan enggan (memberi) bantuan.”

Pesan-pesan Tuhan tentang ada pola integral antara persoalan duniawi dan ukhrowi bisa ditemukan lagi pada ayat-ayat atau hadist-hadist lain dalam bidang ibadah dan muamalah.


Pada era sebelum Islam datang, ada upaya membuat sistem hukum liberal -pemisahan agama dan dunia. Para bangsawan dan saudagar saat selesai berdagang, sebagian mereka menghabiskan malam nya dengan bermain perempuan, berdansa, dan mabuk-mabukan. Mereka lakukan tujuan satu yaitu mencari kebahagiaan. Ironisnya, kebahagiaan seperti tersebut di atas seperti hidup terkena ganja. Ketagihan setiap saat. Semakin ketagihan, hati semakin gersang. Namun tidak tahu jalan untuk menyuburkan ketenangan hati. akhirnya ia pun mencari lagi ke tempat kebahagiaan di tempat-tempat hiburan.

Setelah Islam datang, pola kehidupan Bangsa Arab berubah. Para bangsawan mencari kebahagiaan melalui perjalanan spiritual dengan sholat wajib, sholat malam, tahajud, wirid, baca Al-Qur’an dan puasa-puasa sunnah serta tangan senantiasa menyalurkan sebagian rezekinya kepada orang-orang yang membutuhkan.

Pola ini menurut penulis artikel ini merupakan pola akreditasi spiritual. Bangsa Arab pada masa Nabi -yang sebelumnya beratus-ratus tahun selalu dalam keterpurukan dan terus-menerus hidup pada era kejahiliyahan -berubah total menjadi manusia yang modern. Untuk mencapai status modern sangat cepat, hanya membutuhkan 23 tahun. Bangsa Arab kala itu benar-benar mencapai puncak keagungan dengan sebutan Madinah Al-Munawarah.

Saya kira pola akreditasi spiritual saat sekarang ini telah ditiru oleh Kaum Yahudi. Kelahiran agama Islam di Jazirah Arab sebagai kekuatan baru telah mengusik kenyamanan Kaum Yahudi yang berada di wilayah-wilayah strategis dan subur di Yasrib. peran mereka semakin terpinggirkan ketika terjadi kegagalan melakukan kudeta kepada kekuasaan Nabi Muhammad. Kaum Yahudi bangkit dari kesadaran kolektif untuk mengambil alih kekuasaan dunia.  Dua poros kekuatan Yahudi: Palestina dan warga diaspora di Benua Eropa. Pemersatu nya yaitu mosaic code.

Mosaic code telah menjadi inspirasi Bani Israel untuk membangun akreditasi spiritual-tentu saja menurut versi nya, bukan versi kita taurat asli dari nabi musa. Mereka berhasil. Kaum yahudi telah mencapai puncak kejayaan tidak melewati zaman batu, zaman logam dan sebagainya. Ia telah hidup melalui sistem kehidupan yang sudah sangat tertata seperti saat sekarang ini. hidup berbasis pada agama dan ilmu. Itu sebabnya, sepanjang sejarah mereka tidak meninggalkan jejak-jejak bangunan seperti yang dilakukan oleh Raja Fir’aun. Ia hidup dengan memegang ajaran agama dan mengembangkan ilmu pengetahuan dalam beragam bidang yang kemudian melahirkan ilmuwan-ilmuwan di abad modern seperti Abraham Zacuto yang karyanya dipakai oleh Vaco De Gama, Albert Einstein, Sigmun Freud, Karl Marx, David Bohr dan lain-lain.


Ajaran mosaic code juga perlu ada pemisahan agama dan negara. ini yang kemudian lahir para ilmuwan-ilmuwan rasionalisme yang tumbuh seperti cendewan di musim hujan di Benua Eropa dalam bidang politik, seni, sastra, ekonomi dan Pendidikan.

Meskipun demikian, dalam rangka untuk menyatukan kekuatan kaum yahudi, mereka menggunakan ikatan spiritual sebagai penganuh agama yahudi sebagai agama satu-satunya khusus untuk Bani Israel -non misioneris. Isu besarnya menyatukan Kaum Yahudi di Palestina dan Kaum Yahudi yang ber-diaspora di benua eropa. Berhasil, yaitu mendirikan Negara Israel pada tahun 1948.

Selain kaum yahudi, ada umat Islam yang menerapkan pentingnya akreditasi spiritual, yaitu Islam Syi’ah Iran. Negara ini merupakan satu-satunya negara Islam yang mampu membangun kekuatan spiritual sebagai sumber energi dalam upaya mewujudkan negara yang modern-religius.

Penulis melihat kondisi Islam Iran seperti Islam pada masa Nabi. Saya ikat dalam sirah Islam, saat terjadi perang, Umat Islam kehabisan bekal. Ada tiga pasukan Islam terluka parah di medan pertempuran. Mereka kehausan. Mereka tidak mengeluh. Di antara mereka ada yang membawa air minum di botol terbuat dari kulit onta. Isinya tinggal sedikit. Ia tidak berani minum karena melihat teman-teman nya kehausan. Lalu airnya diberikan ke teman sebelahnya. Teman sebelahnya memegang botol tersebut, tapi tidak minum. Ia memandang teman sebelahnya lagi, lalu memberikan air tersebut ke sebelahnya lagi. Ia pun tidak mau minum. Ia memberikan air tersebut kepada prajurit pertama -pemilik botol. Mereka bertiga saling memberi. Hingga pada akhirnya air tersebut tidak jadi diminum. Ketiga nya keburu meninggal dunia.

Penulis telah membaca sejarah dan melihat perjalanan sejarah umat Islam Syi’ah di Iran. Tahun 1980-an mereka sangat menderita hingga 1988 akibat kalah perang melawan Irak dan AS. Tahun-tahun selanjutnya, negara tersebut terus diembargo ekonomi oleh AS. Rakyat Iran menderita, kelaparan, dan terlantar. Tapi hebatnya, mereka tidak menunjukan penderitaan di dunia internasional. berita-berita di koran, di TV, internet dan media online tidak memproduksi tulisan, berita atau film-filem tentang kisah kelaparan Islam Syi’ah di Iran hingga saat sekarang ini.

Para ulama Islam di Nusantara pada masa penjajahan Belanda juga menerapkan lelaku akreditasi spiritual. Mereka mengasah ketajaman mata batin dan mengasah intelektual serta keahlian bela diri. Mereka terus menerus berdakwah ke masyarakat. Hingga membentuk masyarakat muslim Indonesia tetap istiqomah dalam beragama Islam meskipun dalam kondisi penjajahan Belanda. Semakin ditekan, semakin menggelora iman umat Islam kala itu.

Kini umat Islam telah hidup di era akreditasi baju atau casing yang bersifat wujudiyah terlihat oleh mata. sebagian umat Islam sudah mulai terpengaruh cara pandang tersebut sebagai bagian dari cara pandang kaum rasional mutlak yang melihat kebahagiaan sebatas kebendaan.

Cara pandang seperti ini jika membaca sejarah sebenarnya merupakan jebakan pemikiran kaum yahudi yang sedang membangun upaya menghilangkan agama universal dan hanya menjaga agama yahudi. Agama-agama dikacaukan dengan produk-produk filsafat dalam segala aspek kehidupan yang terus diproduksi agar umat Islam terus mengejar kebahagiaan dunia dan takut terhadap kematian. Sebuah gerakan memisahkan manusia antara agama dan kehidupan.

Berkaca dari fakta tersebut, maka akreditasi spiritual juga merupakan kebutuhan yang sangat urgen untuk membentuk jati diri muslim yang terus memburu kesuksesan dunia hingga puncak karir semata-mata sebagai wujud memperjuangkan ajaran Islam sebagai way of life dalam kehidupan era modern. Islam hadir bukan sebatas di suara-suara adzan saja, tapi islam hadir dalam ruh peradaban yang rahmatal lil muslimin sekaligus lil ‘alamin.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13558


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876