
Setelah sholat subuh, wiridan sebentar. Ngaji
sebentar. Cukup satu ayat. Ngaji sambil angen-angen sa’ maknane. Saya membuka
beberapa makna dari para ulama arif billah tentang Q.S. Surat Al-Baqarah
ayat 33. Saya termenung dan menemukan suatu kesimpulan: sungguh manusia
tercipta dengan potensi akal yang luarbiasa. Melalui anugerah tersebut, manusia
mampu membuka rahasia alam semesta melalui ilmu-ilmu pengetahuan.
Dialog ilmu pengetahuan selalu saja sangat
menantang dan menyenangkan. Tentu saja saya tidak akan membahas makna ilmu
menurut para ulama arif billah yang membagi dalam tiga jenis: nurul
yaqin, ainul yaqin dan haqul yaqin. Saya hanya menceritakan realita
ilmu pengetahuan di kalangan para pencari ilmu tingkat dasar seperti para
santri di tingkat wustho di Pesantren. Mereka sangat asyik berdiskusi makna per
kata dan per kalimat dari kitab-kitab turos. Hasilnya, mereka saling
mempresentasikan hujah masing-masing. Kadang ada beragam pandangan yang
berbeda-beda. Tidak mengapa. Sebab memang hal demikian wilayah manusia. Hakikat
dari kebenaran tetap hanya milik Allah SWT. Kebenaran manusia bersifat relatif
dan bisa diperdebatkan di kemudian hari. Ada qaul qadim yang kemudian muncul
qaul jadid sebagai wujud bahwa kebenaran manusia bersifat relatif.
Islam mengajarkan bahwa desain
manusia sejak pertama bukan sebatas makhluk hasil evolusi baik postur tubuh
maupun akal kecerdasan. Manusia dari dulu hingga sekarang ini jika disebut hayawan
tetap ada spesifikasi yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya yaitu natiq.
Maknanya, ia bisa berbicara tapi tidak sebatas bicara. Ia juga mempunyai
naluri. Tapi tidak sebatas berhenti pada naluri. Ia berbicara, punya naluri dan
juga kemampuan untuk memproduksi pikiran-pikiran dalam wujud kebudayaan dan
peradaban yang sanga dinamis. Kemampuan yang demikian tidak dipunyai oleh
binatang-binatang, malaikat dan iblis. Itu sebabnya manusia menjadi makhluk
tersendiri dan berbeda dari makhluk lain dalam hal status di hadapan Allah dari
dulu hingga saat sekarang ini. Ia mempunyai kemampuan yang sangat luarbiasa
sebagai khalifah di bumi. Tidak ada satu makhluk pun yang mempunyai kemampuan
tersebut.
Allah telah berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah
ayat 33 berbunyi:
قَالَ يٰٓاٰدَمُ اَنْۢبِئْهُمْ بِاَسْمَاۤىِٕهِمْۚ فَلَمَّآ اَنْۢبَاَهُمْ
بِاَسْمَاۤىِٕهِمْۙ قَالَ اَلَمْ اَقُلْ لَّكُمْ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ غَيْبَ
السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۙ وَاَعْلَمُ مَا تُبْدُوْنَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُوْنَ
٣٣
Artinya:
Dia (Allah) berfirman, “Wahai Adam, beri tahukanlah kepada mereka
nama-nama benda itu!” Setelah dia (Adam) menyebutkan nama-nama itu, Dia
berfirman, “Bukankah telah Kukatakan kepadamu bahwa Aku mengetahui rahasia
langit dan bumi, dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang selalu
kamu sembunyikan?”
Manusia harus konsisten terhadap status manusia sebagai pembawa obor
peradaban. Sejak nabi adam, manusia telah menjadi penerang dalam kegelapan dan
petunjuk kebenaran. Konsistensi Nabi Adam membawa cahaya ilahiyah tidak
memperdulikan situasi keluarganya, apakah ada yang mengikuti perintah-perintah
nya atau melawan nya. sebab ilmu pengetahuan bersifat netral. Ia suci dan
selalu dalam keadaan suci dan agung. Jika ada orang berilmu mempunyai perilaku
tidak terpuji bukan karena pengaruh ilmu pengetahuannya, tetapi karena
intervensi nafsu terlalu kuat hingga menyebabkan akalnya terperangkap seperti
terjebaknya manusia saat minum arak. Ia mabuk. Saat kondisi pulih, ia baru
menyadari segala kesalahan yang terjadi. Ia menyesal. Tapi sesal kemudian tidak
berguna. Nasi sudah menjadi bubur.
Penyesalan yang tidak berguna jika hanya sebatas berhenti pada kalimat
seperti ini: “Saya menyesal, jika tidak melakukan seperti itu maka tidak akan
terjadi bencana pada ku”. ini yang disebut penyesalan tidak ada gunannya.
Penyesalan yang berguna yaitu saat seseorang mendapatkan sesuatu yang
tidak menyenangkan dan karenanya mendatangkan kesadaran untuk membuat perubahan
positif dalam hidup. Menyesal dibarengi taubatan nasuha dalam konteks
yang luas. Bukan hanya dalam pengertian keterlambatan terhadap kesadaran
menjalankan ibadah kepada Allah, tetapi juga keterlambatan dalam membangun
sistem kehidupan yang lebih baik lagi dari masa-masa sebelumnya.
Penulis menilai bahwa Allah memperkenalkan kepada Nabi Adam tentang
asma-asma yang berada di alam semesta ini bukan sebatas pada kesadaran untuk
beribadah kepada-Nya, bahwa Allah benar-benar Sang Pencipta. Penulis melihat
ada persaingan tiga kelompok besar: manusia, malaikat dan iblis. Semua
menginginkan ada pengakuan terbaik sebagai naluri dasar dari setiap makhluk.
Dalam hal ibadah dan ketaatan kepada-Nya, semua taat dan mengabdi kepada-Nya.
Persoalan tidak hanya berhenti pada persoalan ubudiyah semata.
Ada konteks sosial yang lebih luas dalam merawat alam semesta ini. Dan Allah
telah menilai bahwa hanya manusia yang mempunyai kapasitas menjadi penggerak
perubahan dan pencipta peradaban. Sebab pada diri manusia ada kemampuan yang
sangat istimewa yaitu kedalaman ilmu pengetahuan. Modal ini yang menjadikan
dunia semakin bermakna.
Pada persoalan ini penulis semakin memahami bahwa Tuhan telah menyiapkan
manusia secara sempurna baik fisik maupun kecerdasan. Bahkan kemampuan nabi
adam melampaui dari kemampuan seluruh manusia di bumi ini. Ia memberikan
seluruh rahasia jenis-jenis ilmu pengetahuan pada masa nya.
Semakin jelaslah, bahwa manusia tidak mengalami suatu evolusi kejadian
dari satu makhluk ke makhluk lainnya. Manusia hanya terkena aturan evolusi ilmu
pengetahuan yang terus mengalami perbaikan-perbaikan secara kualitas dan
kuantitas. Perbaikan tersebut tentu saja harus dijaga dengan sebaik-baiknya.
Sebab jika ilmu pengetahuan yang kemudian muncul lagi cabangan nya dalam wujud
ilmu saint dan teknologi jika dibiarkan tanpa dikontrol dengan ilmu-ilmu ilahiyah
bisa menjadi ancaman pada diri manusia sendiri.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324
Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185
Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81
Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96
Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2942
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872