Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Al-Baqarah Ayat 33: Evolusi Manusia Vs Evolusi Ilmu Pengetahuan



Jumat , 16 Mei 2025



Telah dibaca :  646

Setelah sholat subuh, wiridan sebentar. Ngaji sebentar. Cukup satu ayat. Ngaji sambil angen-angen sa’ maknane. Saya membuka beberapa makna dari para ulama arif billah tentang Q.S. Surat Al-Baqarah ayat 33. Saya termenung dan menemukan suatu kesimpulan: sungguh manusia tercipta dengan potensi akal yang luarbiasa. Melalui anugerah tersebut, manusia mampu membuka rahasia alam semesta melalui ilmu-ilmu pengetahuan.

Dialog ilmu pengetahuan selalu saja sangat menantang dan menyenangkan. Tentu saja saya tidak akan membahas makna ilmu menurut para ulama arif billah yang membagi dalam tiga jenis: nurul yaqin, ainul yaqin dan haqul yaqin. Saya hanya menceritakan realita ilmu pengetahuan di kalangan para pencari ilmu tingkat dasar seperti para santri di tingkat wustho di Pesantren. Mereka sangat asyik berdiskusi makna per kata dan per kalimat dari kitab-kitab turos. Hasilnya, mereka saling mempresentasikan hujah masing-masing. Kadang ada beragam pandangan yang berbeda-beda. Tidak mengapa. Sebab memang hal demikian wilayah manusia. Hakikat dari kebenaran tetap hanya milik Allah SWT. Kebenaran manusia bersifat relatif dan bisa diperdebatkan di kemudian hari. Ada qaul qadim yang kemudian muncul qaul jadid sebagai wujud bahwa kebenaran manusia bersifat relatif.

Islam mengajarkan bahwa desain manusia sejak pertama bukan sebatas makhluk hasil evolusi baik postur tubuh maupun akal kecerdasan. Manusia dari dulu hingga sekarang ini jika disebut hayawan tetap ada spesifikasi yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya yaitu natiq. Maknanya, ia bisa berbicara tapi tidak sebatas bicara. Ia juga mempunyai naluri. Tapi tidak sebatas berhenti pada naluri. Ia berbicara, punya naluri dan juga kemampuan untuk memproduksi pikiran-pikiran dalam wujud kebudayaan dan peradaban yang sanga dinamis. Kemampuan yang demikian tidak dipunyai oleh binatang-binatang, malaikat dan iblis. Itu sebabnya manusia menjadi makhluk tersendiri dan berbeda dari makhluk lain dalam hal status di hadapan Allah dari dulu hingga saat sekarang ini. Ia mempunyai kemampuan yang sangat luarbiasa sebagai khalifah di bumi. Tidak ada satu makhluk pun yang mempunyai kemampuan tersebut.

Allah telah berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 33 berbunyi:

قَالَ يٰٓاٰدَمُ اَنْۢبِئْهُمْ بِاَسْمَاۤىِٕهِمْۚ فَلَمَّآ اَنْۢبَاَهُمْ بِاَسْمَاۤىِٕهِمْۙ قَالَ اَلَمْ اَقُلْ لَّكُمْ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ غَيْبَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۙ وَاَعْلَمُ مَا تُبْدُوْنَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُوْنَ ۝٣٣

Artinya:

Dia (Allah) berfirman, “Wahai Adam, beri tahukanlah kepada mereka nama-nama benda itu!” Setelah dia (Adam) menyebutkan nama-nama itu, Dia berfirman, “Bukankah telah Kukatakan kepadamu bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang selalu kamu sembunyikan?”

Manusia harus konsisten terhadap status manusia sebagai pembawa obor peradaban. Sejak nabi adam, manusia telah menjadi penerang dalam kegelapan dan petunjuk kebenaran. Konsistensi Nabi Adam membawa cahaya ilahiyah tidak memperdulikan situasi keluarganya, apakah ada yang mengikuti perintah-perintah nya atau melawan nya. sebab ilmu pengetahuan bersifat netral. Ia suci dan selalu dalam keadaan suci dan agung. Jika ada orang berilmu mempunyai perilaku tidak terpuji bukan karena pengaruh ilmu pengetahuannya, tetapi karena intervensi nafsu terlalu kuat hingga menyebabkan akalnya terperangkap seperti terjebaknya manusia saat minum arak. Ia mabuk. Saat kondisi pulih, ia baru menyadari segala kesalahan yang terjadi. Ia menyesal. Tapi sesal kemudian tidak berguna. Nasi sudah menjadi bubur.

Penyesalan yang tidak berguna jika hanya sebatas berhenti pada kalimat seperti ini: “Saya menyesal, jika tidak melakukan seperti itu maka tidak akan terjadi bencana pada ku”. ini yang disebut penyesalan tidak ada gunannya.

Penyesalan yang berguna yaitu saat seseorang mendapatkan sesuatu yang tidak menyenangkan dan karenanya mendatangkan kesadaran untuk membuat perubahan positif dalam hidup. Menyesal dibarengi taubatan nasuha dalam konteks yang luas. Bukan hanya dalam pengertian keterlambatan terhadap kesadaran menjalankan ibadah kepada Allah, tetapi juga keterlambatan dalam membangun sistem kehidupan yang lebih baik lagi dari masa-masa sebelumnya.

Penulis menilai bahwa Allah memperkenalkan kepada Nabi Adam tentang asma-asma yang berada di alam semesta ini bukan sebatas pada kesadaran untuk beribadah kepada-Nya, bahwa Allah benar-benar Sang Pencipta. Penulis melihat ada persaingan tiga kelompok besar: manusia, malaikat dan iblis. Semua menginginkan ada pengakuan terbaik sebagai naluri dasar dari setiap makhluk. Dalam hal ibadah dan ketaatan kepada-Nya, semua taat dan mengabdi kepada-Nya.

Persoalan tidak hanya berhenti pada persoalan ubudiyah semata. Ada konteks sosial yang lebih luas dalam merawat alam semesta ini. Dan Allah telah menilai bahwa hanya manusia yang mempunyai kapasitas menjadi penggerak perubahan dan pencipta peradaban. Sebab pada diri manusia ada kemampuan yang sangat istimewa yaitu kedalaman ilmu pengetahuan. Modal ini yang menjadikan dunia semakin bermakna.

Pada persoalan ini penulis semakin memahami bahwa Tuhan telah menyiapkan manusia secara sempurna baik fisik maupun kecerdasan. Bahkan kemampuan nabi adam melampaui dari kemampuan seluruh manusia di bumi ini. Ia memberikan seluruh rahasia jenis-jenis ilmu pengetahuan pada masa nya.

Semakin jelaslah, bahwa manusia tidak mengalami suatu evolusi kejadian dari satu makhluk ke makhluk lainnya. Manusia hanya terkena aturan evolusi ilmu pengetahuan yang terus mengalami perbaikan-perbaikan secara kualitas dan kuantitas. Perbaikan tersebut tentu saja harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Sebab jika ilmu pengetahuan yang kemudian muncul lagi cabangan nya dalam wujud ilmu saint dan teknologi jika dibiarkan tanpa dikontrol dengan ilmu-ilmu ilahiyah bisa menjadi ancaman pada diri manusia sendiri.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872