Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Al-Qur’an dan Kelucuan Manusia



Minggu , 15 Desember 2024



Telah dibaca :  593

Panitia MTQ di grup WA sibuk. Dewan hakim juga sibuk. Mereka sama-sama sibuk. Namun karena usia nya hampir beti-beti (beda tipis-beda tipis) kadang tidak ubahnya seperti anak-anak saat sekolah di SD Inpres zaman Soeharto. Lucu-lucu. Tapi lucunya, mereka tidak bisa melucu di depan istrinya selucu ketika bertemu teman-temannya. Me-lucu di depan istrinya ada SOP tersendiri. Jika tidak, ke-lucu-an menjadi tidak lucu. Apalagi jika istrinya menggunakan  SOP model inteljen, maka harus sangat bijak memilih kalimat agar stabilitas nasional tetap terjaga dengan baik dan aman.

Setelah saya pikir-pikir “tidak begitu serius”, ternyata menu utama hidup adalah kelucuan itu sendiri. Apa jadinya jika dunia ini kehilangan kelucuan. Mungkin sudah kiamat saat delapan hari bumi diciptakan. Untung saja Tuhan memberi unsur kelucuan kepada manusia, sehingga kiamat tidak jadi-jadi datang. Padahal sudah sejak kecil informasi kiamat hampir saja terjadi. Dulu tahun 1982-an, informasi kiamat sudah dekat. Kami takut sekali. Ternyata itu kelaku Pat Robertson. Paranormal dari AS dan beritanya disebar di masjid, mushola dan sekolah-sekolah. Semua stress. Memang kerjaan AS membuat negara lain jadi stress.

Pada tahun 1997 muncul komet Hale-Bopp. Informasinya kiamat sudah dekat.  ini rupanya menginspirasi sebuah sekte bernama Heaven’s Gate atau Gerbang Langit yang mempercayai dunia akan segera kiamat dan membuat 39 pengikutnya bunuh diri pada 26 Maret 1997. Seorang peramal agung keturunan Yahudi bernama Michel de Nostrdamme akan terjadi kiamat tahun 1997. Ramalan suku maya, kabarnya, kiamat tersebut akan terjadi pada 21 Desember 2012 (https://nasional.okezone.com, 2023). Peramal India, Kushal Kumar memprediksi kiamat pada tanggal 29 juni 2024 Peramal India (https://www.tempo.co, 2024).

Al-qur’an sebagai firman Tuhan juga telah menceritakan hari kiamat. Bahasa lain dari nya yaitu hari akhirat. Artinya hari terakhir tanpa batas waktu. Kebalikan dari akhirat yaitu dunia yang berasal dari kata adna-yudni atau danu yang artinya dekat. Sebab kehidupan di dunia itu sangat pendek. Berbeda dengan kehidupan di alam kubur dan akherat. Dunia juga berasal dari kata al-daniyah artinya kenikmatan, keindahan. Kenyataannya dunia terlihat indah di pandang oleh mata dan terlihat nikmat dalam persaaan. Namun tidak semua yang indah dan nikmat di dunia kekal abadi. Sebab ia bersifat fana. Itu sebabnya dunia juga mempunyai makna  sebagai tempat segala cobaan (al-dunya). Karena kenyataannya, tidak semua orang yang mendapatkan kebahagiaan dan kenikmatan selalu bahagia. Juga orang yang tidak mendapatkan fasilitas di dunia dengan mapan terasa menderita. Akhirnya baik orang yang kaya atau miskin sama-sama mendapatkan ujian atau cobaan dalam kehidupan dengan wujud yang beragam (https://hidayatullah.com, 2022).

Meskipun Al-Qur’an membicarakan akhirat tetapi Al-Qur’an mengajak hidup di dunia ini penuh dengan riang gembira sebagaimana Q.S. Al-An’am ([6]:32): “Dan kehidupan di dunia ini tiada lain hanyalah permainan dan sendau gurau”. Penulis melihat anak-anak kecil dan teringat pada masa itu, kadang ada kakak yang paling besar mencubit kita, lalu kita menangis. Orang tua dan keluar besar kita malah tertawa terbahak-bahak melihat tangisan kita saat masih berumur 7 bulanan- atau 1 tahunan. Mereka bahagia melihat tangisan dan kemarahan kita sebagai bagian dari permainan dan sendau gurau.

Saat kita sudah dewasa dan menikah, hidup pun masih sendau gurau. Ingin menikah harus dihias, pakai gincu dan dihias sehingga sering disebut “raja dan ratu sehari”. Lucu. Padahal semua tidak dibutuhkan oleh pengantin.  Padahal yang diinginkan oleh kedua penganten bukan itu. Mereka yang diinginkan oleh penganten adalah sendau gurau saat berada di kamar; tersenyum, main cubit-cubitan. Sakit tapi tetap tersenyum. Sakit tapi tidak marah. Sang suami tersenyum dan membisikan kalimat di telinga isrinya: “hanya dirimu wanita tercantik di dunia”. Istrinya tersenyum, tersipu malu-malu, sehingga kelaku nya terlihat “halu” luar biasa seperti minum satu timba Tuak. Tapi…memang begitulah kehidupan. Meskipun kadang berbicara di “luar nurul”, pasangan kita tetap percaya. Itulah surga. Keindahan di luar jangkauan alam pikiran kita. Kita telah dilatih untuk berbicara, berbuat dan bertingkah laku dengan pasangan hidup dan anak-anak untuk tidak selalu rasional, tapi terkadang lebih pada pendekatan emosional. Tapi mencari titik temu kedua tersebut agar “klop” membutuhkan proses yang disebut belajar dan terus belajar.

Al-Qur’an tidak melepaskan makna permainan sendau gurau seperti orang bermain judi. Permainan dan sendau gurau bukan persoalan mengundi nasib. Bukan seorang wanita bernama Drupadi yang dipertaruhkan oleh para pandawa dalam permainan dadu. Kata “permainan” dan “sendau gurau” dengan pendekatan qur’ani, yaitu kemampuan mentertawakan diri sendiri. Orang yang telah mampu mentertawakan diri sendiri dengan konstruktif berarti telah mengetahui secara jelas jalan hidupnya dan harus melakukan apa-apa yang seharusnya dilakukannya.

Kata “permainan” adalah suatu wujud aktivitas yang menyita pikiran, perasaan, tenaga, waktu dan harta. Lihat sepak bola. PSSI harus melakukan transformasi terbatas, yaitu naturalisasi pemain dan rekonstruksi pelatih. PSSI tahu jika kedua hal tersebut tidak segera dilakukan, maka permainan menjadi hambar. PSSI belum bermain di piala dunia, masyarakat Indonesia sudah ma’rifat duluan. “pasti kalah”, kira-kira itu jawaban netizen.

Apakah permainan perlu dirubah atau tetap statis seperti dulu? Tidak. Harus berubah. Maka orang-orang seperti Erick Thohir mendatangkan pemain naturalisasi dan merekrut pelatih seperti Shin Thae-Yong. Tahun 2022 Indonesia di peringkat 159, pada tahun 2024 naik ke posisi 130. Sebuah loncatan prestasi yang luarbiasa.

Sebagai sebuah permainan selalu saja ada pro dan kontra. Keberhasilan PSSI naik kelas menjadi 130 saat sekarang ini tidak serta merta semua melakukan “standing applause”. Ada caci maki, iri dengki, dan menuduh telah menjual NKRI. Itulah permainan. Kehidupan sosial yang heterogen saja punya pandangan yang beragam.

Terlepas dari semua kontroversi tersebut di atas, bahwa sehebat apapun permainan kita. Bisa jadi telah mencapai puncak kejayaan. Semua tetap dalam pandangan Allah dilihat sebagai permainan. Dalam pandangan manusia sebagai kesuksesan. Tuhan mengajak manusia untuk melihat realita hidup, bahwa karir terhebat yang kita raih bukan harga mati yang akan tetap melekat pada diri kita. Tuhan memberikan sedikit kemulyaan berupa prestasi atau karir yang menanjak untuk menjadi pengingat bahwa ada tanggungjawab yang harus dipertanggungjawabkan baik dalam kontek hablu minallah maupun hablu minannas.

Makna pertanggungjawaban bahwa Allah menginginkan kepada kita agar jangan sampai lalai dan hidup dalam “zona nyaman”. Permainan kita harus bisa “melegakan” atau menjadikan Allah tersenyum. Sehingga saat permainan tersebut berakhir kita sudah mempersembahkan terbaik dihadapan-Nya.

Dari sini penulis bisa memahami bahwa Allah memperkenalkan Al-Qur’an agar umat muslim melihat segala aktivitas sebagai wasilah “riang gembira” meskipun dalam permainannya sering terjadi sedikit gesek-gesekan, nesu-nesu, emosi, marah dan kadang mungkin tidak tegur sama. Apapun istilahnya Tuhan melalui nabi nya juga sudah berpesan “Jika ente nesu jangan lebih dari tiga hari”. Artinya formalistik regulasi sosial harus lebih diutamakan agar sendau-gurau tetap terlihat “riang, girang” dan “tidak garing”. Sendau gurau yang lahir dari segala rasa nano-nano tetap harus dikemas dengan sebaik-baik dengan kemasan bahwa “Kita adalah saudara dalam satu iman dan satu agama”.

Demikian tadi catatan kecil pada pembukaan MTQ ke-49 Kabupaten Bengkalis di Kota Duri tahun 2024. Tentu saja MTQ bukan PSSI. Ini terlihat lebih sakral, dan kostum yang dipakai pun Islami. Subtansinya, tentu hati nurani kita lebih Islami dari permainan sepakbola yang digawangi oleh PSSI. Apapun namanya, Tuhan tetap menjadikan semua ini bagian dari permainan yang bisa mengantarkan kebahagiaan besok di hadapan-Nya.

Hotel Surya Kota Duri, 15 Desember 2024



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

???? Reminder- Transaction №EZ93. LOG IN =>> https

axug9h

   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4547


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872