
Hari ini dunia kembali berduka. AS kembali
menggunakan hak veto resolusi genjatan senjata Gaza. Hal ini karena berangkat
dari isi resolusi yang tidak mengutuk Hamas dan tidak mencantumkan Israel untuk
membela diri. AS dan Israel benar-benar satu paket. Sama-sama menginginkan
Palestina hilang dari peta dunia, dan berubah menjadi peta negara Israel.
Kejahatan kemanusiaan terus membayangi penduduk Gaza. Jalur bantuan buntu.
Bahan makanan, obat-obatan, baju, selimut dan kebutuhan primer tidak bisa
masuk. Tentara Israel telah memblokade seluruh jalur masuk bantuan kemanusiaan
dari negara asing.
Sedih mendengarnya, sakit melihat tayangan
dan gambar-gambar penderitaan rakyat Palestina. Seolah-olah sudah tidak ada
lagi rasa kemanusiaan. Kota yang selalu terlihat dengan kepulan asap bekas
gedung, rumah, mobil yang telah hancur berantakan. Hanya ada tiang, dan
kerangka mobil serta ban bekas yang terus mengeluarkan asap. Anak-anak kecil
tanpa baju, tangan dan kaki terlihat kecil dan mata besar seperti melotot.
Bukan marah, tapi karena menahan lapar yang sangat mendalam. Hingga terlihat
wajah nya sudah tidak ada daging sama sekali. Hanya kulit dan tulang wajah yang
telah menyatu.
Suatu hari, saat saya berada di depan Multazam
-Dinding Ka’bah yang terletak diantara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah- ada dua
anak kecil satu laki-laki satu perempuan. Keduanya sangat rajin sholat dan
berdoa. Saya sangat kagum. Saya duduk di sampingnya dan ingin tahu darimana
mereka berasal. Selesai sholat dan berdoa, saya bertanya: “Dari mana asal mu”.
Keduanya menjawab dengan bahasa Arab Ajam : “Dari Palestina”.
Kedua nya sangat khusu’ sholat. Sangat khusu
berdoa. Meskipun masih anak-anak. Keduanya sudah terlatih dalam melihat realita
kehidupan, bahwa hidup di tengah-tengah penindasan bangsa Israel sangat
menyakitkan sekali. Mereka bagian dari anak-anak remaja yang sudah dewasa
sebelum masa nya. Mereka dewasa karena keadaan. Punya keberanian dan
tanggungjawab mempertahankan setiap jengkal tanah wilayah Palestina.
Keduanya pun telah mengetahui, doa di depan
Multazam sangat mustajab. Keduanya mengangkat kedua tangan memohon
kebaikan-kebaikan untuk nya, keluarganya dan bangsa nya. perjuangan masih
panjang. Tapi doa terus dipanjatkan. Entah kapan bangsa Palestina punya negara
sendiri. Doa baginya merupakan sumber energi perjuangan yang sangat dahsyat
melebihi dahsyatnya senjata perang. Senjata Israel memang bisa membunuh
jasadnya, tapi ia tidak mampu membunuh semangat jihadnya. Mati satu, tumbuh
seribu. Itu prinsip yang telah tertanam dalam jiwa-jiwa anak remaja Palestina.
Saya pun kadang berfikir juga, entah Palestina
kapan palestina menjadi sebuah negara yang benar-benar Merdeka. Harapan-harapan
selalu menyala. Tapi disisi lain, tangisan-tangisan jiwa pun tidak bisa
dipungkiri melihat realita kehidupan mereka saat sekarang ini.
Kadang saya menghibur diri membaca
kisah-kisah kaum sufi. Ketika sang guru sufi ditanya tentang campur tangan Tuhan
pada rakyat Palestina. Apakah Tuhan membiarkan musuh-musuh-Nya bisa menang,
sedangkan orang-orang yang taat kepada Allah justru kalah dan mati
bergelimpangan di tanah.
Sanga guru sufi pun menjawab: “Anakku, jangan
berfikir negatif kepada ketentuan Allah. Semua adalah kebaikan. Saudara-saudara
mu yang perang di medan pertempuran dan meninggal dunia merupakan jalan terbaik
bagi mereka. Allah telah menjadikan mereka tempat-tempat terindah di surga. Allah
terlalu sayang kepada mereka. Sebab jika mereka tetap hidup dan kemudian disandera,
lalu mereka kemudian berubah pikiran dan bergabung dengan Israel, maka
saudara-saudara mu akan menjadi manusia yang hina dan celaka, meskipun
bergelimang harta”.
Saya termenung sesaat,dan teringat kembali pada kedua anak kecil dari Palestina di depan Multazam. Saya kemudian belajar memahami bahwa ternyata makna sebuah perjuangan selalu saja membawa hasil terbaik meskipun kadang ada harapan-harapan yang belum bisa diwujudkan. Sebab semua nya selalu ada rahasia di balik semuanya. Dan salah satu rahasia di balik semua itu adalah, Tuhan sedang melatih kepada manusia bahwa semuanya sudah diatur dengan cara terbaik oleh Allah SWT.
Dumai Line, 19 September 2025
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4548
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2944
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2874