Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Anak Kecil Berdoa di Depan Multazam



Jumat , 19 September 2025



Telah dibaca :  447

Hari ini dunia kembali berduka. AS kembali menggunakan hak veto resolusi genjatan senjata Gaza. Hal ini karena berangkat dari isi resolusi yang tidak mengutuk Hamas dan tidak mencantumkan Israel untuk membela diri. AS dan Israel benar-benar satu paket. Sama-sama menginginkan Palestina hilang dari peta dunia, dan berubah menjadi peta negara Israel. Kejahatan kemanusiaan terus membayangi penduduk Gaza. Jalur bantuan buntu. Bahan makanan, obat-obatan, baju, selimut dan kebutuhan primer tidak bisa masuk. Tentara Israel telah memblokade seluruh jalur masuk bantuan kemanusiaan dari negara asing.

Sedih mendengarnya, sakit melihat tayangan dan gambar-gambar penderitaan rakyat Palestina. Seolah-olah sudah tidak ada lagi rasa kemanusiaan. Kota yang selalu terlihat dengan kepulan asap bekas gedung, rumah, mobil yang telah hancur berantakan. Hanya ada tiang, dan kerangka mobil serta ban bekas yang terus mengeluarkan asap. Anak-anak kecil tanpa baju, tangan dan kaki terlihat kecil dan mata besar seperti melotot. Bukan marah, tapi karena menahan lapar yang sangat mendalam. Hingga terlihat wajah nya sudah tidak ada daging sama sekali. Hanya kulit dan tulang wajah yang telah menyatu.

Suatu hari, saat saya berada di depan Multazam -Dinding Ka’bah yang terletak diantara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah- ada dua anak kecil satu laki-laki satu perempuan. Keduanya sangat rajin sholat dan berdoa. Saya sangat kagum. Saya duduk di sampingnya dan ingin tahu darimana mereka berasal. Selesai sholat dan berdoa, saya bertanya: “Dari mana asal mu”. Keduanya menjawab dengan bahasa Arab Ajam : “Dari Palestina”.

Kedua nya sangat khusu’ sholat. Sangat khusu berdoa. Meskipun masih anak-anak. Keduanya sudah terlatih dalam melihat realita kehidupan, bahwa hidup di tengah-tengah penindasan bangsa Israel sangat menyakitkan sekali. Mereka bagian dari anak-anak remaja yang sudah dewasa sebelum masa nya. Mereka dewasa karena keadaan. Punya keberanian dan tanggungjawab mempertahankan setiap jengkal tanah wilayah Palestina.

Keduanya pun telah mengetahui, doa di depan Multazam sangat mustajab. Keduanya mengangkat kedua tangan memohon kebaikan-kebaikan untuk nya, keluarganya dan bangsa nya. perjuangan masih panjang. Tapi doa terus dipanjatkan. Entah kapan bangsa Palestina punya negara sendiri. Doa baginya merupakan sumber energi perjuangan yang sangat dahsyat melebihi dahsyatnya senjata perang. Senjata Israel memang bisa membunuh jasadnya, tapi ia tidak mampu membunuh semangat jihadnya. Mati satu, tumbuh seribu. Itu prinsip yang telah tertanam dalam jiwa-jiwa anak remaja Palestina.

Saya pun kadang berfikir juga, entah Palestina kapan palestina menjadi sebuah negara yang benar-benar Merdeka. Harapan-harapan selalu menyala. Tapi disisi lain, tangisan-tangisan jiwa pun tidak bisa dipungkiri melihat realita kehidupan mereka saat sekarang ini.

Kadang saya menghibur diri membaca kisah-kisah kaum sufi. Ketika sang guru sufi ditanya tentang campur tangan Tuhan pada rakyat Palestina. Apakah Tuhan membiarkan musuh-musuh-Nya bisa menang, sedangkan orang-orang yang taat kepada Allah justru kalah dan mati bergelimpangan di tanah.

Sanga guru sufi pun menjawab: “Anakku, jangan berfikir negatif kepada ketentuan Allah. Semua adalah kebaikan. Saudara-saudara mu yang perang di medan pertempuran dan meninggal dunia merupakan jalan terbaik bagi mereka. Allah telah menjadikan mereka tempat-tempat terindah di surga. Allah terlalu sayang kepada mereka. Sebab jika mereka tetap hidup dan kemudian disandera, lalu mereka kemudian berubah pikiran dan bergabung dengan Israel, maka saudara-saudara mu akan menjadi manusia yang hina dan celaka, meskipun bergelimang harta”.

Saya termenung sesaat,dan teringat kembali pada kedua anak kecil dari Palestina di depan Multazam. Saya kemudian belajar memahami bahwa ternyata makna sebuah perjuangan selalu saja membawa hasil terbaik meskipun kadang ada harapan-harapan yang belum bisa diwujudkan. Sebab semua nya selalu ada rahasia di balik semuanya. Dan salah satu rahasia di balik semua itu adalah, Tuhan sedang melatih kepada manusia bahwa semuanya sudah diatur dengan cara terbaik oleh Allah SWT.

Dumai Line, 19 September 2025



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4548


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2874