
Jam 09.20
WIB sudah sampai di Bandara Yogyakarta Internasional Airport Kulonprogo (Selasa,03/09/2023).
Dua gadis cantik memakai seragam baju hijau daun menyapa dengan sopan. Karyawan dari
perusahaan Grab. Sudah cantik, pandai juga merayu para Penumpang Pesawat yang baru tiba di Bandara. sangat menjiwai sebagai marketing. Melihat cara menawarkan jasa, saya tersenyum. Setelah ada kesepakatan harga, saya duduk menunggu Driver. Sekitar lima menit, datang mobil berwarna hitam.
"Pak Imam nggih?" Tanya seorang laki-laki berwajah
bersih dan badan berisi. Logat Jawa Yogya yang sangat kental. Saya mengangguk.
Dengan cekatan, pak Supir tadi mengambil Tas ku dan menaruh nya di bagian
belakang.
Pak Supir sebut saja nama nya Teguh ( bukan
nama asli). Umur sekitar 56 tahun. Tapi badan terlihat sangat energik. Orangnya
murah senyum dan sangat enak sekali diajak ngobrol. Dia menceritakan perjalanan
hidup nya. Sekitar 14 tahun lalu, di kerja di Bank BRI dengan jabatan mentereng
di salah satu kota di wilayah Sumatera. Karena Ayah nya meninggal dan Ibu
seorang diri di Yogya,akhir nya mengajukan resign. Ingin merawat ibu
tercinta. Selain itu, istri nya juga meninggal dunia saat anak-anak nya masih
kecil. Dia menjadi single parent merawat anak-anaknya. Ada kebahagiaan
dan kesedihan. Bahagia karena bisa merawat ibu dan anak-anak nya. Sedih nya,
Istri nya telah meninggal dunia.
Namun Pak Teguh sangat beruntung. Dia
dikarunia tiga anak Sholeh dan Sholehah.
Ketiganya hapal Al-Quran 30 juz. Dalam dunia akademik, anak pertama seorang dokter yang sedang mengambil Program Doktor di Harvard University, kedua di MIT dan ketiga di Swiss.
Pak Teguh sedih. Kenapa Istri nya cepat
dipanggil Tuhan saat Anak-anak nya sudah sukses. Jika masih hidup rasanya, dia
ingin membisikan kepada istri tercinta,"Sayang, lihatlah anak-anak kita
telah sukses".
Namun situasi berkata lain. Malah jika mengingat istri nya, pak Teguh sering menangis seorang diri di Kamar. Menangis ingat Istrinya dan menangis di masa Tua, ketiga anak nya berada di luar negeri. lebih sedih lagi, anak pertama yang sedang mengambil program doktor adalah seorang Cewek. Belum juga berfikir untuk menikah. Pak Teguh ada perasaan was-was atas sikap anak nya yang belum juga merembuk persoalan pernikahan di umur yang tidak muda lagi. Satu sisi dia memikirkan anak-anak nya, satu sisi juga dia memikirkan dirinya sendiri saat bertambah umur mulai terasa rasa sunyi di rumah nya. Dulu, Rumah ramai.Ingat saat pagi hari, dia sudah sibuk menyiapkan persiapan bekal untuk sekolah anak-anaknya. Ketika pulang menjemput mereka. Bergantian. Ketika makan, semua kumpul. Enak rasanya. walaupun dengan lauk yang sederhana. Tapi suasana itu tinggal kenangan. Pak teguh lagi-lagi menetes air mata saat mengenang masa-masa itu.
Saya mencoba menetralisir suasana agar
tidak larut dalam kesedihan.
"Pak Teguh, Kenapa tidak menikah
lagi" tanyaku
"Saat sebelum meninggal,istri ku
memang menyuruh untuk menikah lagi. Anak-anak pun sudah menyuruh, tapi saya
belum ada rencana. Menikah ternyata tidak semudah yang saya bayangkan"
jawab nya.
Pak Teguh lalu menceritakan kehebatan istri
nya. Sepanjang hidupnya tidak pernah marah kepadanya. Mereka sama-sama memahami
karakter masing-masing. Sehingga ketika ada persoalan di antara mereka,tidak
perlu ribut.
"Apa enak punya istri tidak pernah
marah pak Teguh" tanya ku sambil bergurau.
Dia tertawa mendengar pertanyaanku. Lalu,
dia pun menjawab dengan jawaban yang tidak terduga.
"Susah juga menjawabnya, dibilang enak
ya enak,dibilang tidak enak yang kadang tidak enak. Walaupun saya bahagia, tapi
hidup terasa monoton, itu itu saja" kata nya tertawa.
Kami tertawa. Ternyata kebahagiaan yang
tidak ada konflik sebagaimana yang dialami oleh pak Teguh terasa kurang asik.
Tidak ada tantangan hidup. Terasa hampa. Menurutnya, kebahagiaan sejati adalah
percampuran pahit dan manis, atau kadang pahit kadang manis. Itu baru terasa
nikmatnya sebuah kebahagiaan.
"Kalau begitu, menikah lagi pak Teguh.
Cari yang cerewet, agar bisa jadi Wali" kataku menyarankan kepada nya.
Lagi-lagi kami pun tertawa. Tapi entah apa
yang ditertawakan. Mungkin pada moment tersebut, saran saya sangat menggelitik,
atau menantang bagi nya dan sudah membayangkan seandainya itu terjadi.
Meskipun demikian dalam perjalan tersebut,
pak Teguh mengatakan kalimat yang cukup indah dari firman Alloh SWT:
"Alloh tidak akan membebani seseorang
diluar kemampuannya"
Saya kira ucapan ini menjadi ajaran yang
diamalkan oleh pak Teguh dalam menjalan kehidupan sehari-hari. Tuhan menjadi
tempat curhat terbaik dan menjadi kekasih terindah untuk berdialog dan
bercengkrama setiap saat.
Pengalaman Pak Teguh sebenarnya pengalaman
kehidupan kita. Ada yang menyenangkan dan menyedihkan. Semua akan terasa indah
ketika, hati sudah terisi lautan cinta kepada Alloh SWT.
Penulis : Imam Ghozali
Idul Fitri dan Pesan Cinta Seluruh Alam Semesta
22 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   217
Sahabat Mu Bernama Ramadhan
17 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   216
Puasa, Setan dan Perang
10 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   199
Iran dan Arti Bersahabat Karena Allah
04 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   110
Puasa: Kita Bukan Apa-Apa dan Bukan Siapa-Siapa
24 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   122
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4559
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3576
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2972
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2878