Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Anak Kuliah di Harvard University, Kenapa Sedih?


 TAUHID

Jumat , 06 Oktober 2023



Telah dibaca :  909

Jam 09.20  WIB sudah sampai di Bandara Yogyakarta Internasional Airport Kulonprogo (Selasa,03/09/2023). Dua gadis cantik memakai seragam baju hijau daun menyapa dengan sopan. Karyawan dari perusahaan Grab. Sudah cantik, pandai juga merayu para Penumpang Pesawat yang baru tiba di Bandara. sangat menjiwai sebagai marketing. Melihat cara menawarkan jasa, saya tersenyum. Setelah ada kesepakatan harga, saya duduk menunggu Driver. Sekitar lima menit, datang mobil berwarna hitam.

"Pak Imam  nggih?" Tanya seorang laki-laki berwajah bersih dan badan berisi. Logat Jawa Yogya yang sangat kental. Saya mengangguk. Dengan cekatan, pak Supir tadi mengambil Tas ku dan menaruh nya di bagian belakang.

Pak Supir sebut saja nama nya Teguh ( bukan nama asli). Umur sekitar 56 tahun. Tapi badan terlihat sangat energik. Orangnya murah senyum dan sangat enak sekali diajak ngobrol. Dia menceritakan perjalanan hidup nya. Sekitar 14 tahun lalu, di kerja di Bank BRI dengan jabatan mentereng di salah satu kota di wilayah Sumatera. Karena Ayah nya meninggal dan Ibu seorang diri di Yogya,akhir nya mengajukan resign. Ingin merawat ibu tercinta. Selain itu, istri nya juga meninggal dunia saat anak-anak nya masih kecil. Dia menjadi single parent merawat anak-anaknya. Ada kebahagiaan dan kesedihan. Bahagia karena bisa merawat ibu dan anak-anak nya. Sedih nya, Istri nya telah meninggal dunia.

Namun Pak Teguh sangat beruntung. Dia dikarunia tiga anak  Sholeh dan Sholehah. Ketiganya hapal Al-Quran 30 juz. Dalam dunia akademik, anak pertama seorang dokter yang sedang mengambil Program Doktor di Harvard University, kedua di MIT dan ketiga di Swiss.

Pak Teguh sedih. Kenapa Istri nya cepat dipanggil Tuhan saat Anak-anak nya sudah sukses. Jika masih hidup rasanya, dia ingin membisikan kepada istri tercinta,"Sayang, lihatlah anak-anak kita telah sukses".

Namun situasi berkata lain. Malah jika mengingat istri nya, pak Teguh sering menangis seorang diri di Kamar. Menangis ingat Istrinya dan menangis di masa Tua, ketiga anak nya berada di luar negeri. lebih sedih lagi, anak pertama yang sedang mengambil program doktor adalah seorang Cewek. Belum juga berfikir untuk menikah. Pak Teguh ada perasaan was-was atas sikap anak nya yang belum juga merembuk persoalan pernikahan di umur yang tidak muda lagi. Satu sisi dia memikirkan anak-anak nya, satu sisi juga dia memikirkan dirinya sendiri saat bertambah umur mulai terasa rasa sunyi di rumah nya. Dulu, Rumah ramai.Ingat saat pagi hari, dia sudah sibuk menyiapkan persiapan bekal untuk sekolah anak-anaknya. Ketika pulang menjemput mereka. Bergantian. Ketika makan, semua kumpul. Enak rasanya. walaupun dengan lauk yang sederhana. Tapi suasana itu tinggal kenangan. Pak teguh lagi-lagi menetes air mata saat mengenang masa-masa itu.

Saya mencoba menetralisir suasana agar tidak larut dalam kesedihan.

"Pak Teguh, Kenapa tidak menikah lagi" tanyaku

"Saat sebelum meninggal,istri ku memang menyuruh untuk menikah lagi. Anak-anak pun sudah menyuruh, tapi saya belum ada rencana. Menikah ternyata tidak semudah yang saya bayangkan" jawab nya.

Pak Teguh lalu menceritakan kehebatan istri nya. Sepanjang hidupnya tidak pernah marah kepadanya. Mereka sama-sama memahami karakter masing-masing. Sehingga ketika ada persoalan di antara mereka,tidak perlu ribut.

"Apa enak punya istri tidak pernah marah pak Teguh" tanya ku sambil bergurau.

Dia tertawa mendengar pertanyaanku. Lalu, dia pun menjawab dengan jawaban yang tidak terduga.

"Susah juga menjawabnya, dibilang enak ya enak,dibilang tidak enak yang kadang tidak enak. Walaupun saya bahagia, tapi hidup terasa monoton, itu itu saja" kata nya tertawa.

Kami tertawa. Ternyata kebahagiaan yang tidak ada konflik sebagaimana yang dialami oleh pak Teguh terasa kurang asik. Tidak ada tantangan hidup. Terasa hampa. Menurutnya, kebahagiaan sejati adalah percampuran pahit dan manis, atau kadang pahit kadang manis. Itu baru terasa nikmatnya sebuah kebahagiaan.

"Kalau begitu, menikah lagi pak Teguh. Cari yang cerewet, agar bisa jadi Wali" kataku menyarankan kepada nya.

Lagi-lagi kami pun tertawa. Tapi entah apa yang ditertawakan. Mungkin pada moment tersebut, saran saya sangat menggelitik, atau menantang bagi nya dan sudah membayangkan seandainya itu terjadi.

Meskipun demikian dalam perjalan tersebut, pak Teguh mengatakan kalimat yang cukup indah dari firman Alloh SWT:

"Alloh tidak akan membebani seseorang diluar kemampuannya"

Saya kira ucapan ini menjadi ajaran yang diamalkan oleh pak Teguh dalam menjalan kehidupan sehari-hari. Tuhan menjadi tempat curhat terbaik dan menjadi kekasih terindah untuk berdialog dan bercengkrama setiap saat.

Pengalaman Pak Teguh sebenarnya pengalaman kehidupan kita. Ada yang menyenangkan dan menyedihkan. Semua akan terasa indah ketika, hati sudah terisi lautan cinta kepada Alloh SWT.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Idul Fitri dan Pesan Cinta Seluruh Alam Semesta
22 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   217

Sahabat Mu Bernama Ramadhan
17 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   216

Puasa, Setan dan Perang
10 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   199

Iran dan Arti Bersahabat Karena Allah
04 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   110

Puasa: Kita Bukan Apa-Apa dan Bukan Siapa-Siapa
24 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   122

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4559


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2878