
BEBERAPA hari ini di Twitter masih saja
memberitakan kejahatan kemanusiaan di Palestina. Dina Sulaeman seorang Jurnalis
dan Pengamat Politik Timur Tengah paling sering mengirim berita, foto dan video
berkaitan tentang kejahatan Israel yang telah melakukan genosida terhadap
rakyat Palestina. Jurnalis yang dulu dituduh sebagai agen Syiah, sekarang telah
mempunyai jasa besar memberikan laporan secara lengkap peristiwa-peristiwa yang
mengharu-biru di tanah para Nabi. Bahkan bisa jadi, dia adalah salah satu
pahlawan kemanusiaan yang memperjuangkan kemerdekaan di Palestina dan mengecam
kebiadaban Israel melalui ketajaman analisisnya.
Perang rebutan wilayah Palestina sudah
berlansung cukup lama. Daerah pertemuan tiga agama besar ( Islam, Yahudi, dan Kristen
) sangat rumit. Di daerah tersebut berkumpul Masjid Aqsa, Haekal Sulaiman, dan
Gereja The Holy Sepuchhre. Mereka berebut dan ingin berkuasa. Perang atas isu
agama ini akan terus berlanjut. Genjatan senjata sering hanya sebatas istirahat
di siang hari dan akan dilanjutkan perang pada sore hari.
Wilayah Palestina sebagaimana wilayah Indonesia
pada masa penjajahan Belanda dan Jepang. Kondisi seperti ini telah melahirkan
generasi-generasi muda yang tangguh dan tahan banting atas segala penderitaan.
Wajar, jika kita sering mendengar dalam sejarah keberanian para santri dan
melakukan gerakan non-kooperatif terhadap penjajah dengan tidak menggunakan
produk penjajah belanda seperti Celana Panjang dan Jaz serta Topi. Meskipun
disisi lain, keberanian para santri kala itu diwujudkan dengan kooperatif dan
mengikuti budaya baju model penjajah, tapi mengambil sisi positif untuk
memperkuat kualitas diri dan digunakan untuk melawan para penjajah di kemudian
hari.
Masyarakat Palestina adalah masyarakat yang
sangat tangguh. Anak-anak nya sudah terbiasa melihat dentuman Mesiu dan Rudal.
Mayat-mayat bergelimpangan di depan mata mereka. Bahkan kedua orang tuanya
sekalipun. Tapi mereka tidak meneteskan air mata. Anak-anak kecil bangsa Palestina
dengan suara jelas dan lantang mengatakan, “Kedua orang tua kami mati ditembak
oleh Yahudi, paman kami diculik tidak pulang-pulang. Kami seorang diri. Saya
berharap sekali, mereka bisa kumpul dan bisa melihat anak nya menjadi dokter di
kemudian hari”.
Ada juga video anak kecil Palestina yang
mengatakan bahwa tidak ada tidak ada tempat di Palestina yang aman. Tidak ada
makanan. Yang paling aman dan menyenangkan dan banyak makanan hanya ada di Surga.
Anak tersebut mengatakan demikian tidak dengan ekspresi sayu, atau tangisan
yang berkepanjangan. Dia bicara sangat tenang setenang Air Laut yang dalam.
Hari ini semua sedih melihat anak-anak Palestina yang berwajah bersih mati dibombardir oleh Tentara Israel. Masyarakat dunia menaruh empati terhadap peristiwa ini. Pemerintah Indonesia, ormas-ormas Islam, dan masyarakat
telah mengirim bantuan. Masyarakat internasional pun demikian. Terkadang sikap politik
membela Palestina melebihi jabatan yang disandangnya, sebagaimana yang
dilakukan oleh Lone Belarra menteri keadilan sosial Spanyol. Atas keberanian
sikapnya membela Palestina, Perdana Menteri Pedro Sanchez memecatnya dari jabatan Menteri
Sosial.
Bangsa Indonesia tentu tidak berharap situasi
negara dan bangsa ini seperti di Timur Tengah wabill khusus di Palestina.
Pengalaman penderitaan selama hampir 4 abad oleh bangsa penjajah sudah lebih
dari cukup penderitaan bangsa Indonesia. Saat itu atas nama bangsa Indonesia yang
beragam agama, keyakinan, suku, etnis dan budaya berhasil menyatakan diri
sebagai satu kesatuan kekuatan melawan penjajah Belanda. Kini anak-anak cucu
telah merasakan alam kemerdekaan. Meskipun belum sepenuhnya cita-cita pendiri
bangsa telah berhasil dengan baik. Paling tidak, masyarakat Indonesia tidak
separah kehidupan masyarakat Palestina saat ini. Kini anak-anak kita bisa
mencari makanan dimanapun dan jam berapapun, sudah bisa tersedia di berbagai
tempat, pada saat fasilitas seperti ini tidak ada di Palestina.
Ada sikap masyarakat Palestina yang perlu
dicontoh oleh bangsa Indonesia yaitu ketegaran dalam menghadapi segala ujian
hidup dengan penuh kelapangan dada, optimisme dan selalu bersandar kepada Sang
Pencipta. Sikap ini yang membuat mereka eksis mendapatkan tekanan dan gempuran
dari Bangsa Israel.
Disisi lain, ada sikap yang tidak perlu
ditiru oleh bangsa Indonesia yaitu konflik terus-menerus dikalangan elit Bangsa
Palestina yaitu antara Partai Hamas dan Partai Fatah. Keduanya bersaing ingin
memenangkan kekuasaan terkadang harus perang saudara di antara mereka. Hal ini
berangkat dari perbedaan pandangan politik dan perjuangan ideologi
masing-masing partai politik.
Indonesia bukan Palestina, dan Palestina
bukan Indonesia. Setiap bangsa mempunyai karakter sendiri-sendiri untuk
mencirikan diri dengan nilai-nilai dan budaya serta penerapan ajaran agama yang
sesuai dengan karakter bangsa masing-masing. Namun dalam kontek kemanusiaan,
semua manusia mempunyai sifat sama yaitu sama-sama membutuhkan kasih sayang. Itu
sebabnya, sudah spantasnya kita membantu Bangsa Palestina pada saat mereka
kesusahan seperti saat sekarang ini.
Namun jangan sampai sikap kasih sayang kita
kepada bangsa lain melupakan kasih sayang kita kepada tetangga dekat kita. Jangan
sampai terjadi, tetesan air mata kita terhadap penderitaan orang lain, tapi
tidak bisa menggugah mata hati kita kepada penderitaan saudara kita yang bisa
jadi tidak mempunyai kebutuhan pokok, rumah dan pendidikan. Ironisnya, kadang
itu tetangga kita sendiri.
Kita bisa jadi lebih mudah bersatu atas
penderitaan bangsa lain, tapi kadang susah bersatu dengan bangsa sendiri,
saling hina, ejek, dan merasa paling kuat iman, paling sholeh dan paling benar
pendapatnya. Bagaimanapun, kaki kita menginjak Bumi Pertiwi dan tangan kita memetik
Bunga di Halaman Rumah, serta mencari nafkah di negara kita sendiri. Pantaskah
kita saling mencaci-maki ? Haruskah ketika kita sudah menjadi negara yang merdeka berubah menjadi jiwa-jiwa yang rapuh, lupa bersyukur, atas nikmat kemerdekaan dalam segala keterbatasan. Bisakah kita mempunyai jiwa yang tangguh, bersama-sama membangun bangsa dan negara semakin baik?. Semua jawaban ada pada diri masing-masing.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3574
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876