Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Anak Palestina dan Jiwa-Jiwa yang Rapuh



Kamis , 23 November 2023



Telah dibaca :  899

BEBERAPA hari ini di Twitter masih saja memberitakan kejahatan kemanusiaan di Palestina. Dina Sulaeman seorang Jurnalis dan Pengamat Politik Timur Tengah paling sering mengirim berita, foto dan video berkaitan tentang kejahatan Israel yang telah melakukan genosida terhadap rakyat Palestina. Jurnalis yang dulu dituduh sebagai agen Syiah, sekarang telah mempunyai jasa besar memberikan laporan secara lengkap peristiwa-peristiwa yang mengharu-biru di tanah para Nabi. Bahkan bisa jadi, dia adalah salah satu pahlawan kemanusiaan yang memperjuangkan kemerdekaan di Palestina dan mengecam kebiadaban Israel melalui ketajaman analisisnya.

Perang rebutan wilayah Palestina sudah berlansung cukup lama. Daerah pertemuan tiga agama besar ( Islam, Yahudi, dan Kristen ) sangat rumit. Di daerah tersebut berkumpul Masjid Aqsa, Haekal Sulaiman, dan Gereja The Holy Sepuchhre. Mereka berebut dan ingin berkuasa. Perang atas isu agama ini akan terus berlanjut. Genjatan senjata sering hanya sebatas istirahat di siang hari dan akan dilanjutkan perang pada sore hari.

Wilayah Palestina sebagaimana wilayah Indonesia pada masa penjajahan Belanda dan Jepang. Kondisi seperti ini telah melahirkan generasi-generasi muda yang tangguh dan tahan banting atas segala penderitaan. Wajar, jika kita sering mendengar dalam sejarah keberanian para santri dan melakukan gerakan non-kooperatif terhadap penjajah dengan tidak menggunakan produk penjajah belanda seperti Celana Panjang dan Jaz serta Topi. Meskipun disisi lain, keberanian para santri kala itu diwujudkan dengan kooperatif dan mengikuti budaya baju model penjajah, tapi mengambil sisi positif untuk memperkuat kualitas diri dan digunakan untuk melawan para penjajah di kemudian hari.

Masyarakat Palestina adalah masyarakat yang sangat tangguh. Anak-anak nya sudah terbiasa melihat dentuman Mesiu dan Rudal. Mayat-mayat bergelimpangan di depan mata mereka. Bahkan kedua orang tuanya sekalipun. Tapi mereka tidak meneteskan air mata. Anak-anak kecil bangsa Palestina dengan suara jelas dan lantang mengatakan, “Kedua orang tua kami mati ditembak oleh Yahudi, paman kami diculik tidak pulang-pulang. Kami seorang diri. Saya berharap sekali, mereka bisa kumpul dan bisa melihat anak nya menjadi dokter di kemudian hari”.

Ada juga video anak kecil Palestina yang mengatakan bahwa tidak ada tidak ada tempat di Palestina yang aman. Tidak ada makanan. Yang paling aman dan menyenangkan dan banyak makanan hanya ada di Surga. Anak tersebut mengatakan demikian tidak dengan ekspresi sayu, atau tangisan yang berkepanjangan. Dia bicara sangat tenang setenang Air Laut yang dalam.

Hari ini semua sedih melihat anak-anak Palestina yang berwajah bersih mati dibombardir oleh Tentara Israel. Masyarakat dunia menaruh empati terhadap peristiwa ini. Pemerintah Indonesia, ormas-ormas Islam, dan masyarakat telah mengirim bantuan. Masyarakat internasional pun demikian. Terkadang sikap politik membela Palestina melebihi jabatan yang disandangnya, sebagaimana yang dilakukan oleh Lone Belarra menteri keadilan sosial Spanyol. Atas keberanian sikapnya membela Palestina, Perdana Menteri  Pedro Sanchez memecatnya dari jabatan Menteri Sosial.

Bangsa Indonesia tentu tidak berharap situasi negara dan bangsa ini seperti di Timur Tengah wabill khusus di Palestina. Pengalaman penderitaan selama hampir 4 abad oleh bangsa penjajah sudah lebih dari cukup penderitaan bangsa Indonesia. Saat itu atas nama bangsa Indonesia yang beragam agama, keyakinan, suku, etnis dan budaya berhasil menyatakan diri sebagai satu kesatuan kekuatan melawan penjajah Belanda. Kini anak-anak cucu telah merasakan alam kemerdekaan. Meskipun belum sepenuhnya cita-cita pendiri bangsa telah berhasil dengan baik. Paling tidak, masyarakat Indonesia tidak separah kehidupan masyarakat Palestina saat ini. Kini anak-anak kita bisa mencari makanan dimanapun dan jam berapapun, sudah bisa tersedia di berbagai tempat, pada saat fasilitas seperti ini tidak ada di Palestina.

Ada sikap masyarakat Palestina yang perlu dicontoh oleh bangsa Indonesia yaitu ketegaran dalam menghadapi segala ujian hidup dengan penuh kelapangan dada, optimisme dan selalu bersandar kepada Sang Pencipta. Sikap ini yang membuat mereka eksis mendapatkan tekanan dan gempuran dari Bangsa Israel.

Disisi lain, ada sikap yang tidak perlu ditiru oleh bangsa Indonesia yaitu konflik terus-menerus dikalangan elit Bangsa Palestina yaitu antara Partai Hamas dan Partai Fatah. Keduanya bersaing ingin memenangkan kekuasaan terkadang harus perang saudara di antara mereka. Hal ini berangkat dari perbedaan pandangan politik dan perjuangan ideologi masing-masing partai politik.

Indonesia bukan Palestina, dan Palestina bukan Indonesia. Setiap bangsa mempunyai karakter sendiri-sendiri untuk mencirikan diri dengan nilai-nilai dan budaya serta penerapan ajaran agama yang sesuai dengan karakter bangsa masing-masing. Namun dalam kontek kemanusiaan, semua manusia mempunyai sifat sama yaitu sama-sama membutuhkan kasih sayang. Itu sebabnya, sudah spantasnya kita membantu Bangsa Palestina pada saat mereka kesusahan seperti saat sekarang ini.

Namun jangan sampai sikap kasih sayang kita kepada bangsa lain melupakan kasih sayang kita kepada tetangga dekat kita. Jangan sampai terjadi, tetesan air mata kita terhadap penderitaan orang lain, tapi tidak bisa menggugah mata hati kita kepada penderitaan saudara kita yang bisa jadi tidak mempunyai kebutuhan pokok, rumah dan pendidikan. Ironisnya, kadang itu tetangga kita sendiri.

Kita bisa jadi lebih mudah bersatu atas penderitaan bangsa lain, tapi kadang susah bersatu dengan bangsa sendiri, saling hina, ejek, dan merasa paling kuat iman, paling sholeh dan paling benar pendapatnya. Bagaimanapun, kaki kita menginjak Bumi Pertiwi dan tangan kita memetik Bunga di Halaman Rumah, serta mencari nafkah di negara kita sendiri. Pantaskah kita saling mencaci-maki ? Haruskah ketika kita sudah menjadi negara yang merdeka berubah menjadi jiwa-jiwa yang rapuh, lupa bersyukur, atas nikmat kemerdekaan dalam segala keterbatasan. Bisakah kita mempunyai jiwa yang tangguh, bersama-sama membangun bangsa dan negara semakin baik?. Semua jawaban ada pada diri masing-masing.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876