
Saat menulis tulisan ini sekitar pukul 13.57 WIB pada tanggal 1
januari 2025. Matahari masih bersinar sama seperti tahun 2024. Angin pun masih
berhembus sama seperti tahun sebelumnya. Pohon mangga di depan rumah belum
berbuah. Sebelahnya ada pohon jambu madu, juga belum berbuah. Ia akan berbuah
sama seperti tahun sebelumnya. Menunggu masa yang sudah ditentukan oleh Allah
SWT.
Pergantian tahun terasa sangat cepat. Kita masih ingat saat puasa
Ramadhan tahun lalu, dan berapa kali kita menghatamkan Al-Qur’an. Kita juga
masih ingat tempat-tempat silaturahim di rumah saudara-saudara kita, teman,
atau guru-guru serta orang-orang yang dianggap istimewa oleh kita. Bahkan kita
pun masih ingat tentang minuman dan makanan yang istimewa yang diberikan oleh
orang-orang yang dianggap istimewa.
Jika anda sudah memasuki umur 40 tahun ke atas mulai
terkaget-kaget. Ada anak-anak remaja menyapa anda. Bingung. siapa gerangan
mereka? Itulah dulu, saat anda masih berumur 20-25 tahun, mereka masih
digendong, disusui dengan ASI. Mereka anak nya si fulan, cucu nya si fulan.
Anda mengangguk, tapi anda tidak paham satu-persatu. Anda hanya ingat
orang-orang yang selisih umur nya di bawah tidak jauh dari anda, dan di atas
anda. Mereka adalah teman-teman mu saat anda masih sekolah di SD,SMP, SMA.
Ketika ada WA grup, isinya: anak-anaknya sudah wisuda, punya anak, berita sakit
dan kematian.
Kita bukan Ashabul Kahfi. Tapi kadang seperti nya, kadang
bingung dengan kondisi sekitar kita. Jika Ashabul Kahfi tertidur 309
tahun. Lalu bangun. Jelas sudah berganti pemimpin dan sistem pemerintah yang
baru. Anda mungkin hanya tidur dari tahun 2024 dan bangun di tahun 2025. Itupun
tidur di jam 23.59 menit dan bangun jam 24.00. Setelah itu ada sirine
dan kembang api berhamburan di udara. Pertanda ada pergantian tahun. Pemimpin
masih Prabowo-Gibran. Sistem pemerintahan kita 5 tahun sekali sudah membuat
bingung. Sebelum nya, ada Gus Dur, Megawati, SBY, Jokowi juga bingung. Sekarang
bingung. Nyanyian sama: “urip kok gregesi terus”.
Pagi hari pergi ke pasar ada ibu-ibu ngedumel. Katanya: “brambang
se-upil-upil kok larange orang ketulungan”. Ada lagi ibu-ibu muda lagi
hamil muda pun mendesah sambil pegang perut: “susah mencari santen kelapa”.
Mbah Bejo yang lagi “kurang bejo” garuk-garuk kepala: “Duit seratus ribu
terlihat banyak, tapi cuma kanggo beli seperti ini sudah habis”.
Lain cerita ibu-ibu, ada juga cerita bapak-bapak. Seorang tukang
ojek duduk di dekatku, “alhamdulillah ustadz, saya sekarang sudah punya Sumur
Bor. Bantuan calon bupati”. Ia sangat senang mempunyai sumur bor melebihi
senangnya punya duit 300 T. sumur bor nyata, duit trilyunan cuma ngimpi.
Ada yang lebih bersyukur lagi yaitu tukang parkir. Sambil iseng-iseng,
saya duduk dan ngobrol tentang pendapatan bersih satu hari. Katanya: “Bisa
sekitar 200 ribu satu hari pak”. Lumayan juga, jika satu hari 100 ribu,
satu bulan 3 juta. Lebih tinggi penghasilannya dari honor di Pemda. Bedanya, ia
hanya punya satu seragam dan tidak pernah ganti-ganti.
Yang paling kasihan sebenarnya Penjual Jagung. Istri dan
anak-anaknya minta duit. Ketika jualan jagung dan menawarkan kepada seorang
ustadz, malah jawaban sangat menyakitkan hati: “Tidak boleh bakar-bakar jagung
di malam tahun baru, haram !”. Penjual Jagung ngedumel, dongkol sambil nggrutu:
“Kerja nya cuma bisa melarang, siapapun sih bisa. Kasih solusi donk. Kasih duit
300 ribu atau apalah agar saya tidak jualan jagung”.
Walhasil, kita kelihatannya tidak perlu terlalu berharap terahadap
perubahan yang signifikan nasib dan kehidupan kita di tahun 2025. Semua sama di
tahun 2024, pemerintah sedang berusaha memperbaiki diri dan kita juga sedang
memperbaiki diri dengan apa yang ada pada diri kita. Pemerintah pusing mikir
duit dan mikir perjalanan pemerintah. Bangsa lain juga pusing mikir situasi
ekonomi global yang sedang kejar-kejaran dengan kemiskinan global.
Jika ingin melakukan perubahan “nek wani ojo wedi-wedi, nek wedi
ojo wani-wani”. Artinya di tahun 2025 ada yang perlu diterapkan pada diri
kita masing-masing yaitu mempertajam jati diri dengan konsisten melakukan
pengembangan pribadi semakin baik. Saya kira ini penting agar
kekagetan-kekagetan tidak lagi selevel Ashabul Kahfi. Mumpung masih tahun baru,
mari rubah gaya hidup baru yang lebih berkualitas dan bermakna dalam karir,
skill dan pekerjaan.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2942
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872