
Sepak bola memang telah menggeser kekhusu’an
sholat tarawih bagi sebagian jamaah. Alasannya sederhana. Jika sholat tarawih bisa
digeser waktunya, Sepakbola tidak bisa. Jika sholat tarawih urusan individu
dengan Tuhan, sepak bola urusannya dengan negara dan bangsa.”malam ini, Indonesia
harus menang” kata Paijo yang sangat nasionalisme.
Parmin tersenyum sinis. Melihat pertandingan
kemaren melawan Australia. Timnas Indonesia keok. Trauma. Ia pesimis. “paling
keok lagi” :batinnya.
Ia memang termasuk simpatisan STY. Fans berat.
Itu sebabnya, melihat senyum Patrick Kluivert sangat muak. Entah apa sebabnya Parmin
benar-benar tidak suka kepadanya. Apa karena ia sering melihat film Spongebob, ada
Patrick Star. Ia seekor bintang laut, dengan kepala plontos dan badan gemuk. Murah
senyum dan suka main ubur-ubur. Mungkin Parmin akan berpantun begini: “Ubur-ubur
ikan lele, bisa juara ?..mimpi lee..”.
Sepak bola selalu saja menghasilkan dua
kelompok pro dan kontra. Ada Paijo, ada juga Parmin. Apalagi jika sudah sekala
dunia, maka sekecil apapun kesalahan akan mendapat sorotan sangat tajam dari
masyarakat.
Dulu STY juga dikritik habis-habisan oleh Tommy
Welly atau Bung Towel. Tapi, STY tak ambil pusing. Pelatih berwajah dingin
terlihat sangat keras kepala, disiplin dan kerja berdasarkan target yang jelas.
Terbukti, ia mampu membawa Timnas Indonesia ke putaran ketiga kualifikasi piala
dunia 2026 zona Asia.
Pergantian pelatih timnas dari STY ke Patrick
Kluivert bagi masyarakat awam memang menimbulkan beragam pertanyaan yang belum
mendapatkan jawaban memuaskan dari PSSI. Pasalnya, keberhasilan STY membawa
timnas Indonesia naik sukses sangat mengagetkan di mata dunia. Tentu masyarakat pecinta sepak bola berharap sangat besar kepada STY . Namun harapan tersebut pupus. STY diganti oleh Patrick. Lebih menyedihkan
lagi,timnas Indonesia dibantai oleh Australia. Padahal saat dipegang oleh STY, timnas
Indonesia bisa menahan 0-0 dari timnas Australia.
Saya secara pribadi memang kurang tertarik
kepada sepak bola. Saya selalu saja terlambat mendapatkan info tentang
pertandingan persiapan piala dunia tersebut. saya malam ini malah tertarik
kepada Kang Paijo dan Kang Parmin. Soalnya mereka nonton bareng. Khawatir mereka
berkelahi. Untung saja ada Pak Sabar yang umur nya lebih tua dari keduanya. Mereka
bertiga sama-sama nonton dengan ekspresi beragam.
Karena saya datang agak terlambat, saya
bertanya kepada Pak Sabar: “Bagaimana pak, mana yang menang”?
“Mbuh, ora urus. Aku lagi pusing” Jawab Pak
Sabar.
“Pusing Kenapa Pak ?”
“Bojo wadon, karo bocah-bocah podo njaluk
baju baru, THR malah urung metu!” Jawab Pak Sabar.
Saya tersenyum, saya kira Indonesia cukup diwakili oleh Kang Paijo yang optimisme dan Kang Parmin yang pesimisme terhadap nasbi timnas Indonesia. kini tambah satu lagi orang yang mewakili masyarakat Indonesia, yaitu menghadapi lebaran bertambah pusing. Gara-gara istrinya ngambek belum dibelikan baju. Wah kalau istri sudah ngambek, jangankan sepak bola, perang dunia ke-III pun tidak peduli.Jika istri sudah dibelikan baju, meskipun perang dunia ke-III meletus, bagi Pak Sabar terasa seperti hari kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872