
Siang ini saya ada dua kegiatan; menjemput
mertuaku. Ia ingin menemui saudara nya di Pakning. Dari Selatpanjang naik Dumai
Line. Biasanya sampai Bengkalis agak lambat. Sekitar jam 13.30. Untung saja Basir
adik iparku memberi tahu kalau sudah ada yang menjemput di Pelabuhan Bengkalis,
yaitu saudara-saudara yang dari Pakning. Saya sebenarnya ingin tetap datang ke
Pelabuhan. Rasanya tidak enak ada mertua datang tidak disambut. Ada alasan
urgen pada waktu bersamaan yaitu Yudisium Wisuda Mahasiswa Jurusan Syariah dan
Ekonomi Islam STAIN Bengkalis.
Saat jalan menuju lokasi yudisium, saya
tanya kepada salah satu mahasiswi yang lagi duduk-duduk menunggu teman-temannya:”Mau
yudisium ya?’. Diantara mereka menjawab; “Iya pak”. Lalu saya balik
bertanya lagi;” Ingin wisuda juga?”. dia pun mengangguk. Saya bertanya
lagi; “Setelah wisuda mau apa? Menikah, kerja, atau kuliah lagi?”. Dia
hanya tersenyum. Saya susah mengartikan senyum nya dan senyum teman-temannya.
Kalau istri ku tersenyum, agak sedikit bisa ditebak. Berbeda senyum, berbeda
juga jawaban dan maksudnya.
Yudisium sebagai tanda selesai proses
perkuliah. Mahasiswa telah menjalankan proses selama beberapa tahun di Perguruan
Tinggi. Ada rasa Bahagia. Ada rasa bingung dan bisa jadi ada rasa tidak menentu
rasa dalam hati.
Saat saya menyajikan materi kuliah beberapa
waktu lalu, ada seorang mahasiswa yang bertanya sedikit nyleneh dan lari
dari kontek materi. Saya tetap senang dan merespon pertanyaanya dengan baik. Kurang
lebih pertanyaannya seperti ini:
“Pak, saat sekarang ini orang bisa sukses masa
depannya melalui kuliah. Tapi ada juga yang sukses tidak pernah kuliah. Bahkan ada
yang hanya tamat SMP menjadi miliarder. Bahkan saat sekarang ini, saya sering
mendengar ungkapan yang menurutku kurang baik. Ada orang mengatakan”buat apa
kuliah daripada nganggur, lebih baik kerja dan sukses tanpa harus mencari title”.
Saya tersenyum. mahasiswa tadi mungkin
telah membaca buku-buku motivator yang tersebar banyak di rak-rak buku
perpustakaan, toko buku ofline dan online, atau juga telah mengikuti pelatihan
(TOT) dan bisa jadi ada pengalaman hidup yang mempengaruhi hidupnya.
Para penulis seperti Napoleon Hill,Dale Carnegie,Charles
Duhigg,Norman Vincent adalah sederetan penulis dan motivator yang mampu membangkitkan
emosional pembaca untuk mengikuti apa yang mereka tulis. Namun merealisasikan ajaran-ajaran
motivator tidak sesederhana apa yang mereka baca. Keindahan kalimat tidak seindah
realita kehidupan. Ada segunung persoalan untuk merealisasikan “untaian kata
motivator” menjadi nyata dan sukses. Satu dari seribu orang yang sukses. Bahkan
bisa jadi satu dari satujuta orang yang sukses. Sebab orang-orang seperti
motivator di atas memang jumlahnya sangat sedikit. Jangan-jangan satu orang
dari satu juta orang yang membaca yang bisa sukses.
Saya mencoba memberi pandangan kepada mereka. Saya mengatakan bahwa setiap pandangan mempunyai kebenaran, kelebihan plus kekurangan dari prespektif lain. Ada seseorang mempunyai talenta “lebih” sehingga mampu mengobati pasien atau orang yang sakit bisa sembuh dengan ramuan yang dibuat oleh orang tersebut (dengan beragam sebutan). Pada tulisan sebelumnya saya telah mencontohkan proses penyembuhan “tulang kaki patah” Kyai Sarbini. Menurut dokter Rumah sakit penyelesaian cuma dua; pasang platina di kaki dan potong kakinya. Keputusannya tidak mengikuti saran dokter. Ia berobat ke pengobatan tradisional "sangkal putung" khusus pengobatan patang tulang. Akhirnya sembuh dan normal kembali kakinya.
Namun pada sisi lain, ada beragam penyakit
yang harus diobati dengan prinsip-prinsip ilmiah, diteliti segala gejala-gejala
dan dicari apa penyebabnya, lalu diambil kesimpulan untuk mengambil langkah-langkah
konkrit pengobatan. Pola penyelesaian tersebut membutuhkan pendidikan yang
sekarang disebut dengan fakultas kedokteran dan sejenisnya. Hal-hal yang sama pada
persoalan-persoalan kehidupan lain juga ada yang membutuhkan spesifikasi
keilmuan yang hanya bisa didapat melalui pendidikan formal.
Jika Rocky Gerung mengatakan bahwa” Ijazah
bukti bahwa ia pernah sekolah,namun bukan bukti pernah berfikir”. Ia mengatakan
demikian juga lahir dari proses perkuliahan. Bisa jadi jika Rocky Gerung tidak
pernah kuliah, kalimat legendaris tersebut tidak pernah terdengar di telinga
kita.
Dunia saat sekarang ini terus berkembang
dan semakin administratif. Pekerjaan dan keahlian semakin mengarah kepada
spisifikasi keahlian. Ada perpaduan yang sangat komplek dari talenta lahiriah
dan buatan melalui proses pendidikan. Semua terus membutuhkan penggemblengan
untuk mewujudkan manusia manusia Tangguh dan bisa meraih prestasi bagi
mahasiswa.
Apapun namanya, proses penggemblengan,
pelatihan, training dan sejenisnya baik melalui lembaga resmi atau pengalaman
hidup tetap dinamakan pendidikan. Dari fakta ini sebenarnya, Pendidikan tidak
bisa dipisahkan dari naluri manusia. Sebab manusia lahir sampai kembali kepada Sang
Pencipta merupakan wujud dari pendidikan itu sendiri.
Penulis : Imam Ghozali
???? Sending a gift from Binance. GET => https://t
9kwyhj
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875