Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Antara Yudisium dan Provokasi Motivator



Jumat , 27 September 2024



Telah dibaca :  544

Siang ini saya ada dua kegiatan; menjemput mertuaku. Ia ingin menemui saudara nya di Pakning. Dari Selatpanjang naik Dumai Line. Biasanya sampai Bengkalis agak lambat. Sekitar jam 13.30. Untung saja Basir adik iparku memberi tahu kalau sudah ada yang menjemput di Pelabuhan Bengkalis, yaitu saudara-saudara yang dari Pakning. Saya sebenarnya ingin tetap datang ke Pelabuhan. Rasanya tidak enak ada mertua datang tidak disambut. Ada alasan urgen pada waktu bersamaan yaitu Yudisium Wisuda Mahasiswa Jurusan Syariah dan Ekonomi Islam STAIN Bengkalis.

Saat jalan menuju lokasi yudisium, saya tanya kepada salah satu mahasiswi yang lagi duduk-duduk menunggu teman-temannya:”Mau yudisium ya?’. Diantara mereka menjawab; “Iya pak”. Lalu saya balik bertanya lagi;” Ingin wisuda juga?”. dia pun mengangguk. Saya bertanya lagi; “Setelah wisuda mau apa? Menikah, kerja, atau kuliah lagi?”. Dia hanya tersenyum. Saya susah mengartikan senyum nya dan senyum teman-temannya. Kalau istri ku tersenyum, agak sedikit bisa ditebak. Berbeda senyum, berbeda juga jawaban dan maksudnya.

Yudisium sebagai tanda selesai proses perkuliah. Mahasiswa telah menjalankan proses selama beberapa tahun di Perguruan Tinggi. Ada rasa Bahagia. Ada rasa bingung dan bisa jadi ada rasa tidak menentu rasa dalam hati.

Saat saya menyajikan materi kuliah beberapa waktu lalu, ada seorang mahasiswa yang bertanya sedikit nyleneh dan lari dari kontek materi. Saya tetap senang dan merespon pertanyaanya dengan baik. Kurang lebih pertanyaannya seperti ini:

“Pak, saat sekarang ini orang bisa sukses masa depannya melalui kuliah. Tapi ada juga yang sukses tidak pernah kuliah. Bahkan ada yang hanya tamat SMP menjadi miliarder. Bahkan saat sekarang ini, saya sering mendengar ungkapan yang menurutku kurang baik. Ada orang mengatakan”buat apa kuliah daripada nganggur, lebih baik kerja dan sukses tanpa harus mencari title”.

Saya tersenyum. mahasiswa tadi mungkin telah membaca buku-buku motivator yang tersebar banyak di rak-rak buku perpustakaan, toko buku ofline dan online, atau juga telah mengikuti pelatihan (TOT) dan bisa jadi ada pengalaman hidup yang mempengaruhi hidupnya.

Para penulis seperti Napoleon Hill,Dale Carnegie,Charles Duhigg,Norman Vincent adalah sederetan penulis dan motivator yang mampu membangkitkan emosional pembaca untuk mengikuti apa yang mereka tulis. Namun merealisasikan ajaran-ajaran motivator tidak sesederhana apa yang mereka baca. Keindahan kalimat tidak seindah realita kehidupan. Ada segunung persoalan untuk merealisasikan “untaian kata motivator” menjadi nyata dan sukses. Satu dari seribu orang yang sukses. Bahkan bisa jadi satu dari satujuta orang yang sukses. Sebab orang-orang seperti motivator di atas memang jumlahnya sangat sedikit. Jangan-jangan satu orang dari satu juta orang yang membaca yang bisa sukses.

Saya mencoba memberi pandangan kepada mereka. Saya mengatakan bahwa setiap pandangan mempunyai kebenaran, kelebihan plus kekurangan dari prespektif lain. Ada seseorang mempunyai talenta “lebih” sehingga mampu mengobati pasien atau orang yang sakit bisa sembuh dengan ramuan yang dibuat oleh orang tersebut (dengan beragam sebutan). Pada tulisan sebelumnya saya telah mencontohkan proses penyembuhan “tulang kaki patah” Kyai Sarbini. Menurut dokter Rumah sakit penyelesaian cuma dua; pasang platina di kaki dan potong kakinya. Keputusannya tidak mengikuti saran dokter. Ia berobat ke pengobatan tradisional "sangkal putung" khusus pengobatan patang tulang. Akhirnya sembuh dan normal kembali kakinya.

Namun pada sisi lain, ada beragam penyakit yang harus diobati dengan prinsip-prinsip ilmiah, diteliti segala gejala-gejala dan dicari apa penyebabnya, lalu diambil kesimpulan untuk mengambil langkah-langkah konkrit pengobatan. Pola penyelesaian tersebut membutuhkan pendidikan yang sekarang disebut dengan fakultas kedokteran dan sejenisnya. Hal-hal yang sama pada persoalan-persoalan kehidupan lain juga ada yang membutuhkan spesifikasi keilmuan yang hanya bisa didapat melalui pendidikan formal.

Jika Rocky Gerung mengatakan bahwa” Ijazah bukti bahwa ia pernah sekolah,namun bukan bukti pernah berfikir”. Ia mengatakan demikian juga lahir dari proses perkuliahan. Bisa jadi jika Rocky Gerung tidak pernah kuliah, kalimat legendaris tersebut tidak pernah terdengar di telinga kita.

Dunia saat sekarang ini terus berkembang dan semakin administratif. Pekerjaan dan keahlian semakin mengarah kepada spisifikasi keahlian. Ada perpaduan yang sangat komplek dari talenta lahiriah dan buatan melalui proses pendidikan. Semua terus membutuhkan penggemblengan untuk mewujudkan manusia manusia Tangguh dan bisa meraih prestasi bagi mahasiswa.

Apapun namanya, proses penggemblengan, pelatihan, training dan sejenisnya baik melalui lembaga resmi atau pengalaman hidup tetap dinamakan pendidikan. Dari fakta ini sebenarnya, Pendidikan tidak bisa dipisahkan dari naluri manusia. Sebab manusia lahir sampai kembali kepada Sang Pencipta merupakan wujud dari pendidikan itu sendiri.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

???? Sending a gift from Binance. GET => https://t

9kwyhj

   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875