
Bukan NU kalau tidak membuat kejutan. Kalimat
ini kelihatan pantas sebagai pembuka untuk menulis tentang organisasi
tradisional yang mulai melebarkan sayapnya menjadi transnasional. Jika para
peneliti politik berbicara perkembangan ideologi, ketika mendengar ideologi
transnasional maka dengan cepat menangkap bahwa itu adalah Hizbut Tahrir yang
pendirinya bernama Syeikh Taqiyudin Al-Nabhani. Di Indonesia menggunakan nama Hizbut
Tahrir Indonesia [HTI] yang sudah menjadi organisasi terlarang di Indonesia.
Mengapa NU juga disebut sebagai ideologi
transnasional, apakah sama dengan Hizbut Tahrir?. Jika merujuk identitas NU,
maka akan berbicara tentang Khittah yaitu landasan berfikir, bersikap dan
bertindak warga Nahdlatul Ulama yang harus dicerminkan dalam tingkah-laku
perseorangan maupun organisasi serta dalam setiap pengambilan keputusan. Jika merujuk
pada Khittah 1926, NU merupakan gerakan keagamaan yang bertujuan untuk ikut
membangun dan mengembangkan insan dan masyarakat yang bertakwa kepada Allah
s.w.t, cerdas, terampil, berakhlak mulia, tentram, adil dan sejahtera. Organisasi
ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: bersikap tawasuth dan i’tidal yaitu
sikap tengah yang berintikan kepada prinsip hidup yang menjunjung tinggi
keharusan berlaku adil dan lurus di tengah-tengah kehidupan bersama. Kedua sikap
tasamuh. Sikap toleran terhadap perbedaan pandangan baik dalam masalah
keagamaan, terutama hal-hal yang bersifat furu’ atau menjadi masalah khilafiyah,
serta dalam masalah kemasyarakatan dan kebudayaan. Ketiga, tawazun. Sikap seimbang
dalam berkhidmah kepada sesama manusia serta kepada lingkungan kehidupannya. Keempat,
amar ma’ruf nahi munkar. Selalu memiliki kepekaan untuk mendorong perbuatan
yang baik, berguna dan bermanfaat bagi kehidupan bersama; serta menolak dan
menegah semua hal yang dapat menjerumuskan dan merendahkan nilai-nilai
kehidupan.
Sedangkan Hizbut Tahrir adalah organisasi
gerakan politik. Organisasi yang didirikan oleh Taqiyudin Al-Nabhani di
Yerusalem pada 1953. Sebagai gerakan ideologi transnasional, Hizbut Tahrir telah
melakukan gerakan politik bawah tanah di belahan dunia seperti di Kawasan Timur
Tengah, Asia Tengah, Asia Tenggara Hingga Eropa dan Australia. Gerakan-gerakan
politik yang ingin menyatukan seluruh daratan dunia menjadi satu kekuatan Negara
Islam tunggal telah melakukan berbagai ujicoba. Namun pada saat yang sama,
gerakan-gerakan ini mendapat perlawanan dari setiap Negara. Bahkan kemudian
hari menjadi gerakan politik yang dilarang oleh Negara-Negara tersebut. Namun demikian,
militansi gerakan politik bawah tanah ini terorganisasi secara rapi dan mampu
menggerakan politik sekala internasional. Gerakan-gerakan politik seperti ISIS
walaupun tidak mengatasnamakan dari gerakan Hizbut Tahrir, mempunyai pola yang
sama, yaitu ingin mendirikan Khilafah Islamiyah. Pemberontakan ISIS di Suriah
pada tahun 2019 melibatkan kader dari Negara-negara di Dunia. bahkan ratusan
warga Indonesia yang berangkat ke Suriah bergabung dengan ISIS dan menyerang
pemerintah Suriah yang sah. Gerakan-gerakan politik seperti ini adalah gerakan
politik transnasional yang mempunyai cita-cita sama yaitu tegaknya khilafah di
dunia. namun varian-varian organisasinya bermacam-macam nama dan pemimpinnya.
Jadi ada perbedaan. Penulis bisa menilai
bahwa ideologi transnasional NU adalah ideologi yang lahir dari khittah 1926
yaitu merawat eksistensi peradaban dunia melalui dakwah Islam model Ahlusunnah
Wal Jama’ah. Sebagai gerakan keagamaan yang mempunyai tugas untuk menegakan
amar ma’ruf, NU senantiasa menyerukan keseluruh dunia untuk menebarkan kebaikan
terhadap para pemimpin dunia untuk saling menghargai hak-hak asasi manusia yang
diberikan oleh Allah s.w.t. tidak boleh ada suatu bangsa dan Negara tertentu
melakukan imperialisme terhadap Negara dan bangsa lain dengan alasan apapun. Sebab
setiap bangsa mempunyai hak untuk merdeka sebagai anugerah yang diberikan oleh
Allah .s.w.t. melakukan imperialisme, berarti melawan ketentuan-nya. itu
sebabnya, NU harus berdakwah ke seluruh Negara di dunia untuk menegakan amar ma’ruf.
Selain itu, NU mempunyai kewajiban mencegah kemungkaran atau nahi munkar. Sebagai
gerakan keagamaan, organisasi NU secara aktif menyuarakan pembelaan terhadap
masyarakat tertindas dan mengecam terhadap siapapun yang melakukan intimidasi,
imperialisme atas nama apapun termasuk atas nama agama. Sebab secara fitrah
agama senantiasa mengajarkan kebaikan. Itu sebabnya ketika ada sekelompok
melakukan gerakan kegamaan dengan melakukan tindakan yang merendahkan agama,
maka gerakan ini sebenarnya telah melakukan politisasi agama.
Cita-cita Hizbut Tahrir sebagai ideologi
transnasional untuk meraih kekuasaan. Sehingga Ia punya potensi melakukan
kekerasan terhadap kelompok-kelompok yang berbeda dengannya, bahkan punya
potensi besar melakukan perlawanan terhadap Negara-Negara yang tidak sependapat
dengan-nya. Sedangkan NU sebagai gerakan keagamaan masih mengakui kemerdekaan
dan kemandirian setiap Negara-negara di dunia dengan mengajak untuk hidup damai
dan saling-menghormati dalam keberagaman. Jadi ideologi transnasional NU bukan
pada pengertian politik praktis, tapi pada pengertian peradaban. Mungkin ini
yang dimaksud oleh KH. Yahya Cholil Staquf bahwa NU mempunyai cita-cita besar,
yaitu merawat jagat membangun peradaban. Wallahu a’lam.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3578
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2986
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884