Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Ayat Cinta untuk Alam Semesta



Rabu , 25 Desember 2024



Telah dibaca :  1074

Sebagai pembuka tulisan saya berdoa, “Semoga Allah senantiasa menganugerahkan cinta yang tulus kepada-Nya dan hamba-hamba-Nya. Semoga di penghujung tahun 2024, kita semua semakin mencintai-Nya dan mencintai sang kekasih teragung Nabi Muhammad SAW”, amin.

Kadang ada seseorang bertanya kepadaku: “Kenapa anda terus menulis?”. Saya sendiri juga kadang berkata demikian dalam hati. Apa sih manfaat tulisanku. Saya sendiri bingung. Saya sendiri belum begitu memahami makna subyek, predikat, obyek, dan keterangan. Bagiku Pelajaran Bahasa Indonesia adalah Pelajaran bahasa tersulit di dunia. Saya tiap hari selalu bicara Bahasa Indonesia. Jika ada ulangan bahasa, dan ada dua bahasa yang diujikan: Arab dan Indonesia. Maka bisa dipastikan nilai bahasa Arab jauh lebih besar dari bahasa Indonesia. Padahal saya tidak bisa berbahasa Arab secara aktif, dan saya sangat aktif berbahasa Indonesia.

Dalam Bahasa Indonesia tidak perlu anda mengenal istilah “fiil madhi”, “fiil mudhore”, “fiil amar”, “fiil nahi”, “fail”, “maf’ul”, “maf’ul bieh”, “isim makan” dan “isim zaman”. Jika anda yang belum pernah belajar bahasa arab, maka akan terlihat jlimet. Jika ingin mendalami silahkan baca buku “Alfiyah Ibn Malik” yang terdiri dari 1001 syair. Padahal alfiyah artinya seribut, tapi ternyata lebih satu.

Dari Pelajaran Bahasa Indonesia dan arab tersebut di atas, saya mulai berfikir tentang arti kehidupan. Bisakah Bahasa Indonesia ku jelek, tapi bisa memberi manfaat banyak orang. Bisakah nilai Bahasa ku saat masih ditingkat dasar sampai perguruan tinggi nilai nya di bawah standar, tapi bisa keberkahan lebih besar daripada sebatas nilai di buku dan raport?.

Dulu saya minder. Ingin menulis seperti ahli bahasa tidak bisa. Dulu saya minder ingin menulis seperti para pujangga apalagi, sangat tidak mungkin. Dulu saya minder ingin membuat sastra seperti Khairil Anwar, atau menguliti kata sampai pada netron dan proton seperti Sutardji Calzoum Bachri jelas “babarblas” tidak mungkin.

Saya termenung. Hati berkata: “Betapa sedih saat diri ini tidak memberi manfaat”. Sedih sekali. Jangan kan untuk orang lain, untuk diri sendiri belum bisa. Saya pun ingat dawuh ayahandu allahuyarham K.H.R. Munajat (sering dipanggil Mbah Mun) kurang lebih begini: “Selalu berbuat baik kepada siapapun, meskipun ia membencimu”. Apa artinya? Orang tua ku mengajarkan makna cinta yang tulus kepada alam semesta. Siapapun dan apapun latarbelakang mereka. Hingga kadang orang tua ku ditipu, ia tetap tersenyum dan berkata: “Ora opo-opo, itu jalan rezeki dia”.

Semakin bertambah umur semakin bertambah referensi. Ada banyak buku bahkan juga film-film yang sangat menekankan arti penting cinta. Jika anda pernah melihat film Panda Kungfu (https://www.kaskus.co.id, 2013) ada pelajaran berharga”Kemarin adalah sejarah, besok adalah misteri, hari ini adalah anugerah, pengalaman yang telah lalu biarlah berlalu, jadikan pelajaran untuk bisa berbuat lebih baik”. Dalam film Mahabarat (https://kumparan.com, 2023) ada kalimat yang sangat indah : “Lima dasar kebenaran adalah: Pengetahuan, Cinta, Keadilan, Pengabdian dan Kesabaran”. Ada kalam hikmah dari filsafat jawa (https://www.gramedia.com, n.d.) sebagai berikut: “Kawula namung saderma, mobah-mosik kersaning hyang sukma (Lakukan yang kita bisa, selanjutnya serahkan kepada Tuhan). Para ahli sufi paling banyak mengenai hal tersebut seperti ucapan jalaludin rumi sebagai berikut: “ Di manapun kamu, dan apapun yang kamu lakukan, teruslah mencinta." Lebih menukik lagi pertanyaan Junaidi (An-Naisabury, 1997) kepada santrinya sebagai berikut: “Anakku, kalau Allah bersamamu, melihatmu dan menjadi saksi terhadapmu, apakah engkau masih mau bermaksiat?”.

Saya dan anda telah membaca kalam-kalam hikmah di atas. Penulis sendiri memahami bahwa kalimat terindah memang lahir dari latihan secara terus-menerus melalui aturan-aturan kebahasaan yang benar. Namun saat berbicara tentang cinta, kalimat terindah lahir dari luapan cinta yang dalam karena ada rasa sangat menyayangi orang-orang yang dicintai. Mungkin anda akan melihat sangat absur atau tidak jelas susunannya. Semua bisa diurai dengan baik. Semua bisa dijawab dengan baik. Semua bisa diterjemahkan dengan baik, bahkan semua bisa direnungi dan dipraktekan dengan sangat baik saat anda menulis, berkata, dan berbuat karena atas dasar cinta kepada sesama manusia dan alam semesta ini. Karena bahasa cinta adalah bahasa yang diajarkan oleh Tuhan melalui kalimat “ar-rahman dan ar-rahim”. Kita telah diajarkan mencintai setulus hati kepada seluruh makhluk Allah sebagaimana Allah terus memberi kepada mereka. Dan kita juga diajarkan bahwa pada level khusus kita juga diajarkan untuk saling menebarkankan cinta kepada sesama muslim sebab mereka adalah saudara-saudara mu besok dihadapan Allah SWT di Surga.

Dan tulisan ini adalah jalan untuk belajar mengenal cinta kepada seluruh alam semesta. Semoga keberkahan mencintai alam semesta menjadi asbab kita dicintai oleh Allah SWT. Amin.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

Imam hakim

Masya allaah...mencintai semoga senantiasa dicintai....

   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872