
Salah satu ciri dari orang berpuasa yaitu
lapar dan dahaga. Jika ada orang berpuasa tetapi merasakan kedua hal tersebut,
kemungkinan sudah terbiasa puasa sunnah atau puasa dengan melaksanakan
amalan-amalan tertentu. Ada teman-teman ku yang rajin puasa seperti puasa senin-kamis,
puasa Nabi Dawud (satu hari puasa, satu hari tidak), puasa ngrowot (puasa yang
tidak makan nasi), puasa dalalail (puasa mengamalkan kitab dalalail, bisa
sampai empat tahun berpuasa, kecuali hari-hari yang diharamkan berpuasa), puasa
kejadogan (puasa untuk mendapatkan ilmu kanuragan, suatu ilmu yang bersifat
mistik seperti kebal dari senjata tajam, pengasihan, penundukan musuh, dan
sejenisnya), puasa patigeni (puasa hanya makan nasi putih dan air putih saja, jenis
puasa untuk ilmu kanuragan), puasa padang ati (biasanya untuk hal-hal yang
positif dalam memperdalam ilmu agama seperti menghafalkan Al-Qur’an, Hadist, atau
Tatabahasa Arab dan Sastranya seperti Al-Fiyah Ibnu Malik dan ‘Uqudul Juman).
Kebetulan saya dulu tidak pernah puasa
sunnah. Jadi menemukan puasa wajib seperti bulan ramadhan terasa sekali lapar
dan dahaga. Lebih terasa lagi kalau pas jalan-jalan melihat ta’jil, dan
penjual es yang berderet di pinggir jalan. Hebatnya lagi, yang jualan bukan
hanya orang muslim, tapi non-muslim juga memanfaatkan moment tersebut untuk
bisnis. Mereka berbaur, berjejer bersama pedagang non-muslim.
Menahan lapar dan dahaga mempunyai
kemampuan berbeda-beda. Karena sudah terbiasa, bisa melewati dengan baik. Ada yang
tidak terbiasa, ia harus melewati dengan beragam rintangan. Ada kondisi tubuh
yang kurang memungkinkan akibat pengaruh penyakit tertentu, maka tantangan
untuk melakukan nya jauh lebih besar. Satu lagi, ada kondisi akibat tuntutan
kerja yang harus menguras energi seperti bekerja di pelabuhan atau pabrik,
harus mikul benda yang cukup berat. Atau juga kerja di Perkebunan Sawit, ngangkat
tandan kelapa sawit ke Dondangan Truk. Dan masih banyak lagi pekerjaan
yang menguras energi sangat banyak.
Puasa nya masyarakat umum tidak sama
puasanya para ustadz yang biasa memberi tausiah di mushola-mushola atau di
masjid-masjid. Para ustadz sudah ma’lum tentang persoalan tersebut, bahkan
sampai ancaman dan pahala nya sudah sangat faseh menjelaskan di mimbar-mimbar
pengajian.
Sedangkan puasa manusia pada umum nya merupakan
puasa yang super komplek. Ada Kernet Bus antar kabupaten atau dalam kabupaten. Ia
harus bicara keras agar mendapatkan penumpang. Mulai pagi sampai sore. Ia harus
melakukan hal tersebut karena ia punya istri dan anak. Ada tanggungan yang
harus diselesaikan selain persoalan makan, minum dan membeli kebutuhan selama
bulan romadhan, juga untuk membayar uang kos atau membayar cicilan di Bank. Jadi,
ibadah puasa itu sangat berat bagi sebagian masyarakat dengan beragam profesi
dan kondisi tubuh.
Pada persoalan tersebut, penulis tidak akan
membahas secara spesifik. Biarkan saja para fuqoha, para kyai dan ustadz untuk
bisa menjelaskan jalan keluar bagi kelompok yang sangat riskan dalam melaksanakan
puasa akibat beragam persoalan hidup.
Kenapa puasa menjadi suatu kewajiban. Sebab
puasa mencetak masyarakat yang mutaqin. Meskipun Allah menggunakan kalimat “la’allaqum
tattaqun”, agar supaya menghasilkan kualitas takwa”, tetap dimensi
sosialnya agar terbentuk kehidupan mutaqin.
Kehidupan mutaqin tentu saja tidak harus
seperti para Nabi atau para sahabat seperti Abu Bakar yang tiap malam menangis
terus. Sebab sahabat nabi mencapai derajat mutaqin pun ada yang sholat malam
nya tidak ekstrem. Ali bin Abi Thalib sebelum sholat subuh sudah bangun.
Sholat malam dua raka’at, baca surat al-ikhlas tiga kali. Lalu menunggu sholat
subuh. Pagi nya, ia pergi ke pasar jualan kayu bakar untuk kebutuhan keluarga.
Kehidupan mutaqin juga bukan kehidupan
seperti orang-orang yang tidak punya dosa sama sekali. Orang suci. Untuk memperlihatkan
identitas kesucian dengan atribut baju yang tidak dipakai oleh khalayak umum. Sakral
dan terlihat wibawa. Mutaqin menjalankan perintah Allah dengan kadar
kemampuannya. Baik dhohir dan batin. Ukurannya adalah diri sendiri, bukan orang
lain. Jika Abu Bakar bisa mengidentifikasikan diri memakai baju yang menutup
seluruh kaki nya karena sebagai bangsawan tidak ada persoalan. Jika Utsman bin
Affan memakai baju dengan brand yang mahal-mahal, tidak ada masalah. Jika
Bilal bin Rabah memakai baju rombengan tetap ok-ok saja. No problem.
Mereka tetap mutaqin. Sebab baju yang mereka pakai tidak menghalangi diri
mereka untuk mengabdi kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama manusia.
Makna mutaqin lebih jelas sebagaimana dawuh
kanjeng Nabi Muhammad SAW sebagai berikut: “Barangsiapa berpuasa dibulan Ramadhan
karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosa nya
yang telah lalu (HR. Bukhari dan Muslim).
Jadi persoalan puasa adalah persoalan
seberapa besar sandaran kita melaksanakan puasa kepada Allah. Itu ukuran yang
sangat real. Bukan seberapa kuat menjalankan puasa atau seberapa besar ia tidak
tertarik kepada hal-hal yang menggodanya. Puasa lahir dari kemurnian kesadaran
diri mengabdi kepada-Nya dan berusaha sekuat tenaga menjalankan filosofis dari
ibadah puasa tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Puasa nya total hanya
mengharap ridha-Nya, tidak bocor sama sekali. puasa nya juga menjadi kesadaran
sosial untuk bisa memperbaiki sistem kehidupan, perilaku, dan hubungan sesama manusia
semakin baik dan memberi manfaat positif.
Walhasil, lapar dan dahaga yang kita
rasakan sebenarnya untuk membuka batin kita agar ada rasa tumbuh nilai-nilai
kemanusiaan. Dari rasa lapar dan dahaga, kita mempunyai kesadaran untuk bisa
menolong sesama manusia sebagai identitas manusia terbaik di dunia. Kanjeng Nabi
dawuh: “Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amal
perbuatannya”.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2941
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872