Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Bagaimana Rasanya Lapar?



Sabtu , 01 Maret 2025



Telah dibaca :  531

Salah satu ciri dari orang berpuasa yaitu lapar dan dahaga. Jika ada orang berpuasa tetapi merasakan kedua hal tersebut, kemungkinan sudah terbiasa puasa sunnah atau puasa dengan melaksanakan amalan-amalan tertentu. Ada teman-teman ku yang rajin puasa seperti puasa senin-kamis, puasa Nabi Dawud (satu hari puasa, satu hari tidak), puasa ngrowot (puasa yang tidak makan nasi), puasa dalalail (puasa mengamalkan kitab dalalail, bisa sampai empat tahun berpuasa, kecuali hari-hari yang diharamkan berpuasa), puasa kejadogan (puasa untuk mendapatkan ilmu kanuragan, suatu ilmu yang bersifat mistik seperti kebal dari senjata tajam, pengasihan, penundukan musuh, dan sejenisnya), puasa patigeni (puasa hanya makan nasi putih dan air putih saja, jenis puasa untuk ilmu kanuragan), puasa padang ati (biasanya untuk hal-hal yang positif dalam memperdalam ilmu agama seperti menghafalkan Al-Qur’an, Hadist, atau Tatabahasa Arab dan Sastranya seperti Al-Fiyah Ibnu Malik dan ‘Uqudul Juman).

Kebetulan saya dulu tidak pernah puasa sunnah. Jadi menemukan puasa wajib seperti bulan ramadhan terasa sekali lapar dan dahaga. Lebih terasa lagi kalau pas jalan-jalan melihat ta’jil, dan penjual es yang berderet di pinggir jalan. Hebatnya lagi, yang jualan bukan hanya orang muslim, tapi non-muslim juga memanfaatkan moment tersebut untuk bisnis. Mereka berbaur, berjejer bersama pedagang non-muslim.

Menahan lapar dan dahaga mempunyai kemampuan berbeda-beda. Karena sudah terbiasa, bisa melewati dengan baik. Ada yang tidak terbiasa, ia harus melewati dengan beragam rintangan. Ada kondisi tubuh yang kurang memungkinkan akibat pengaruh penyakit tertentu, maka tantangan untuk melakukan nya jauh lebih besar. Satu lagi, ada kondisi akibat tuntutan kerja yang harus menguras energi seperti bekerja di pelabuhan atau pabrik, harus mikul benda yang cukup berat. Atau juga kerja di Perkebunan Sawit, ngangkat tandan kelapa sawit ke Dondangan Truk. Dan masih banyak lagi pekerjaan yang menguras energi sangat banyak.

Puasa nya masyarakat umum tidak sama puasanya para ustadz yang biasa memberi tausiah di mushola-mushola atau di masjid-masjid. Para ustadz sudah ma’lum tentang persoalan tersebut, bahkan sampai ancaman dan pahala nya sudah sangat faseh menjelaskan di mimbar-mimbar pengajian.

Sedangkan puasa manusia pada umum nya merupakan puasa yang super komplek. Ada Kernet Bus antar kabupaten atau dalam kabupaten. Ia harus bicara keras agar mendapatkan penumpang. Mulai pagi sampai sore. Ia harus melakukan hal tersebut karena ia punya istri dan anak. Ada tanggungan yang harus diselesaikan selain persoalan makan, minum dan membeli kebutuhan selama bulan romadhan, juga untuk membayar uang kos atau membayar cicilan di Bank. Jadi, ibadah puasa itu sangat berat bagi sebagian masyarakat dengan beragam profesi dan kondisi tubuh.

Pada persoalan tersebut, penulis tidak akan membahas secara spesifik. Biarkan saja para fuqoha, para kyai dan ustadz untuk bisa menjelaskan jalan keluar bagi kelompok yang sangat riskan dalam melaksanakan puasa akibat beragam persoalan hidup.

Kenapa puasa menjadi suatu kewajiban. Sebab puasa mencetak masyarakat yang mutaqin. Meskipun Allah menggunakan kalimat “la’allaqum tattaqun”, agar supaya menghasilkan kualitas takwa”, tetap dimensi sosialnya agar terbentuk kehidupan mutaqin.

Kehidupan mutaqin tentu saja tidak harus seperti para Nabi atau para sahabat seperti Abu Bakar yang tiap malam menangis terus. Sebab sahabat nabi mencapai derajat mutaqin pun ada yang sholat malam nya tidak ekstrem. Ali bin Abi Thalib sebelum sholat subuh sudah bangun. Sholat malam dua raka’at, baca surat al-ikhlas tiga kali. Lalu menunggu sholat subuh. Pagi nya, ia pergi ke pasar jualan kayu bakar untuk kebutuhan keluarga.

Kehidupan mutaqin juga bukan kehidupan seperti orang-orang yang tidak punya dosa sama sekali. Orang suci. Untuk memperlihatkan identitas kesucian dengan atribut baju yang tidak dipakai oleh khalayak umum. Sakral dan terlihat wibawa. Mutaqin menjalankan perintah Allah dengan kadar kemampuannya. Baik dhohir dan batin. Ukurannya adalah diri sendiri, bukan orang lain. Jika Abu Bakar bisa mengidentifikasikan diri memakai baju yang menutup seluruh kaki nya karena sebagai bangsawan tidak ada persoalan. Jika Utsman bin Affan memakai baju dengan brand yang mahal-mahal, tidak ada masalah. Jika Bilal bin Rabah memakai baju rombengan tetap ok-ok saja. No problem. Mereka tetap mutaqin. Sebab baju yang mereka pakai tidak menghalangi diri mereka untuk mengabdi kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama manusia.

Makna mutaqin lebih jelas sebagaimana dawuh kanjeng Nabi Muhammad SAW sebagai berikut: “Barangsiapa berpuasa dibulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosa nya yang telah lalu (HR. Bukhari dan Muslim).

Jadi persoalan puasa adalah persoalan seberapa besar sandaran kita melaksanakan puasa kepada Allah. Itu ukuran yang sangat real. Bukan seberapa kuat menjalankan puasa atau seberapa besar ia tidak tertarik kepada hal-hal yang menggodanya. Puasa lahir dari kemurnian kesadaran diri mengabdi kepada-Nya dan berusaha sekuat tenaga menjalankan filosofis dari ibadah puasa tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Puasa nya total hanya mengharap ridha-Nya, tidak bocor sama sekali. puasa nya juga menjadi kesadaran sosial untuk bisa memperbaiki sistem kehidupan, perilaku, dan hubungan sesama manusia semakin baik dan memberi manfaat positif.

Walhasil, lapar dan dahaga yang kita rasakan sebenarnya untuk membuka batin kita agar ada rasa tumbuh nilai-nilai kemanusiaan. Dari rasa lapar dan dahaga, kita mempunyai kesadaran untuk bisa menolong sesama manusia sebagai identitas manusia terbaik di dunia. Kanjeng Nabi dawuh: “Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amal perbuatannya”.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872