Avatar

A. Ushfuri

Penulis Kolom

6 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

"

Pelamun yang menulis daily journal, membaca dan mencoba meramu prosa dan puisi. Berkepribadian melankolik, romantik, dan narsistik. Bisa dikenal melalui

Ig : @standbymi1

"

Bahasa Rumit Bikin Sembelit



Rabu , 11 Juni 2025



Telah dibaca :  576

Memang ada kecenderungan untuk merumitkan tulisan oleh akademisi-akademisi muda. Mereka memilih kata-kata yang sulit alih-alih menggunakan kata sederhana. 

Seolah-olah semakin tulisan sulit dipahami pembaca berarti semakin tinggi lah kasta intelektual penulisnya. Huh.

Ruwetnya budaya literasi kita baru-baru ini pun mengusik Penulis AS Laksana. Konteksnya dia jemu membaca naskah-naskah pemenang Sayembara Kritik Sastra DKJ tahun 2024.

“Ini adalah strategi dekonstruksi epistemologis terhadap narasi hegemonik yang termanifestasi dalam artikulasi intertekstual wacana identitas subaltern.”

Tulisan semacam itu tidak memiliki muatan penting selain meneguhkan perasaan berkuasa, perasaan lebih pintar, dan lebih berpengetahuan ketimbang orang-orang lain. Kenapa tidak memilih simpel saja?

Kecenderungan macam itu pun ada di kalangan sebagian santri. Belakangan saya mengamati kawan, ada obsesi untuk menjejalkan diksi yang mereka sebut bahasa intelec pada teks-teks khutbah dan ceramah. Kata ruhani dialihkan menjadi spiritual, ilmu tauhid jadi teologi, dsb. Mungkin besok-besok Jurispendesi Islam lebih dipilih daripada Fiqih.

Yang kadang geli dalam pendengaran saya,  ketika mereka sembarangan memakai kata, akibatnya mafhum dari kalimat tersebut terasa aneh. Saya seperti sedang minum kopi tapi rasanya asin. Kasus macam ini terjadi karena mereka kurang buka KBBI, mafhumnya ngawur, kata yang sebenarnya maknanya begini tapi mereka memahaminya begitu.

Dulu memang ada seorang mamang (ustadz) disini yang menuntut santri untuk mensyarah kitab dengan, "Keluarkan bahasa-bahasa intelectual," ujarnya. 

Mungkin maksud dari beliau supaya santri terdorong untuk terbiasa dengan bahasa yang biasanya dipakai Rocky Gerung, yang menurut beliau bahasa tersebut bertujuan untuk "menaikkan oktaf pembicaraan."

Tapi bagi saya dalam situasi sedang memahamkan orang, pakai yang gampang-gampang saja lah. Dalam hal mensyarah kitab Matn Bina' itu ya tak papa lah kalau pakai bahasa intelectual, itupun kalau menjelaskannya pada santri. Seorang penyampai ilmu tentu harus jeli mengukur ukuran kepala penerima.

Sampai ada yang meminta pada saya, “ajari dong saya bahasa bahasa intelek gitu.”

“Maksudmu biar apa pakai bahasa gitu,” ujarku ngegas.

“Ya kayak keren gitu,” katanya.

“Biar apa coba memaksakan bahasa macam itu pada audience yang bakal gak paham. Orang yang ngomong didepan menyampaikan ilmu itu seharusnya meracik bahasa yang bikin orang gampang paham lah. 

“Dahlah anak-anak Indonesia ini miskin literasi, kamu pakai pulak bahasa intelek itu, yang ada jadinya bahasa tel*k. Bahkan di kita itu ada tajuk-tajuk ngawur. Bahasa-bahasa tiktok macam, ‘setelah before’, ‘my favorit song-ku’.”

Untuk berbahasa secara benar dengan bahasa sederhana saja kita masih kacau. Bocil di negara minat baca terendah ini kalau mentah-mentah dikasih bahasa intelec itu, tambah sesat lah mereka. Bukan menghilangkan bodoh, yang ada memupuk ambiguitas.

Maka dari itu, adalah sebuah keangkuhan ketika seseorang menjejalkan ilmu sembari merumit-rumitkannya—tanpa kemaslahatan dibalik itu. 

Mahbub Djunaidi pernah mengomentari artikel karya Rosihan Anwar bertajuk, “Perbedaan Analisa Politik Antara Soekarno dan Hatta.” Artikel penulis ternama tersebut dimuat di harian kompas 15 September 1980. Pak Mahbub berkomentar bahwa tulisan tersebut dapat membuat tidak bisa buang hajat besar 2 hari lamanya.

"Pencernaan kacau balau dan anus saya kehilangan elastisitasnya." 

Karena rakyat itu berhak untuk paham, tafsir yang baik dan bermutu bukanlah yang membuat seret pencernaan disebabkan ego si ahli. Pada topik yang sifatnya krusial runyam dan ambiguitas makna bahkan dapat memicu pertikaian debat tak berguna.

Sewaktu panas-panasnya perbincangan tentang Islam Nusantara, seorang profesor dari satu Universitas mendefinisikan Islam Nusantara sebagai berikut.

"Islam yang empirik dan distingtif sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi, penerjemahan, vernakularisasi Islam universal dengan realitas sosial, budaya, dan sastra di Indonesia.”

Komentar Ustadz Nuruddin mengenai itu sepertinya cukup mewakili. “Singkat kata, definisi ini terlalu njlimet,” kata lulusan Jami’ah Al-Azhar itu.

Akhirnya rakyat tetap gontok-gontokan di media sosial dan warung kopi. Buntut dari kurang jelasnya sesuatu yang sedang diperdebatkan. 

Sampai pada akhirnya persoalan itu basi dalam keadaan mentah, tersapu oleh polemik baru, dan kita pun tidak benar-benar mendapat pembelajaran apa-apa.

Kondisi seperti ini tentu adalah salah satu faktor sakitnya budaya literasi bangsa. Tulisan-tulisan menjadi kurang diminati, berpikir secara runut tidak menjadi budaya, dan nalar kritis pun semakin berkurang. Akibatnya gampang dipropaganda.

Walhasil, saya kira sudah waktunya kita semua bertobat dari rasa tinggi hati karena secuil pengetahuan yang dimiliki. Tugas seorang cendikiawan bukanlah memvalidasi kecendekiawanannya dengan bahasa yang tinggi, memenuhi tulisan dengan grafik angka dengan narasi mentah. Tapi yang gampang-gampang saja lah. Sederhanakan.

Ada kutipan dari kawan saya, Friday. “Keberanian untuk terlihat sederhana adalah kebajikan yang langka dalam dunia tulis-menulis.”

Kalau kutipan tersebut kurang mengena, wajar saja. Karena Friday adalah makhluk chatGPT.






Download File

Penulis : A. Ushfuri


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13550


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4545


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870