Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Belajar Mendengar



Selasa , 30 September 2025



Telah dibaca :  406

Setelah saya data, ternyata sudah ada 3 ormawa yang telah melakukan kegiatan: HMJ DKI, HMPS HKI, dan HMPS HTN. Capaian masih jauh dari target. Masih ada 26 ormawa yang belum melakukan kegiatan. Tapi jadwal kegiatan sudah ada. Insya Allah mencapai target sesuai harapan.

Berkaca dari ketiga kegiatan organisasi ormawa tersebut, saya optimis bahwa bangsa ini tidak kekurangan generasi-generasi hebat. Saya melihat mereka anak-anak hebat. Ini penglihatan ku dalam kacamata yang sempit. Sebatas dalam scope IAIN Datuk Laksemana Bengkalis. Indonesia begitu luas. Perguruan ini hanya noktah di antara puluhan ribu Perguruan Tinggi di Indonesia dan jutaan Perguruan Tinggi di dunia.

Saya memang harus memperlebar pandangan ku lebih luas. Sering lensa sempitku hanya menangkap suatu peristiwa yang tidak utuh. Kadang-kadang malah penghilatan tersebut terlalu subyektif. Seolah-olah dunia sekarang ini adalah duniaku sendiri. Namun saya mulai terkaget-kaget, bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teori-teori baru tentang kehidupan ini semakin jauh melesat dan saya sendiri terkadang tidak menyadari. Bahkan kadang saya terasa seperti anak jadul yang berdiri di pinggir jalan tol dan tidak tahu cara menyeberangnya. Dari sini mau tidak mau kehebatan-kehebatan ku di masa lalu tidak selamanya relevan dan harus membuka diri untuk menerima ilmu-ilmu baru agar keseimbangan cara berfikir ku dan cara pandangku semakin bisa ter-update.

Memang tidak semua hal-hal yang baru atau cara pandang baru selalu bermakna positif. Mungkin ada teman-teman mahasiswa yang saya temui dan diskusi di ruangan ku mempunyai cara pandang yang cukup bagus dan kadang mengagetkan diriku. Ide-ide sungguh luarbiasa. Saya dibuat terkaget-kaget. Namun hati kecil ku berkata, apakah benar ide tersebut sudah selaras dengan dirinya sendiri? Suatu pertanyaan batin yang membutuhkan pembuktian realita. Mereka masih pada masa-masa mencari jati diri. Banyak keinginan dan cita-cita. belum fokus pada satu tujuan. 

Di dunia yang semakin komplek, teman-teman mahasiswa dan anak-anak ku yang sedang menimba ilmu-nun jauh di sana- memang mempunyai perangkat akal pikiran yang bagus. Mereka bisa meresap pengetahuan yang begitu cepat. Mereka juga bisa meresap nilai-nilai atau ideologi-ideologi yang mereka sukai yang mungkin akan bertentangan dengan generasi yang tidak muda lagi -seperti saya- dan akan terjadi perdebatan ide-ide di ruang-ruang diskusi. Apakah mereka mempunyai filter yang bagus di tengah pertarungan pemikiran ideologi yang begitu dahsyat?.

Apakah ruang ruang pertukaran pemikiran akan menjadi ruang bertemunya taman ide kebaikan atau sebaliknya sebenarnya adalah pilihan-pilihan kita sendiri untuk menciptakan. Seperti layaknya pertukaran pemikiran antara suami-istri yang kadang tidak siap menerima perbedaan. Sehingga untuk menjaga keutuhan pasangannya, Salah satunya harus mengalah sepanjang hidup. Kita bisa membayangkan, betapa ironis kejadian tersebut. Tapi itu realita dalam hidup kita. Diskusi yang tercipta antara suami istri penuh dengan kisah yang mengasikan dan kadang menegangkan. Bahkan kadang hanya sebatas lipstick. Untuk menghindari madharat, mereka cukup mengangguk mengv”iya”kan apa yang dikatakan oleh pasangannya. Dari sini kita bisa memetik pelajaran bahwa pertukaran pemikiran sebenarnya sangat terbuka, dan proses mencari titik temu antara suami istri membutuhkan proses. Semakin dewasa kedua, sebenarnya semakin asyik dan menyenangkan dalam mengungkap ide-ide dalam upaya membangun keluarga sakinah, mawadah wa rahmah.

Tentu saja ruang diskusi yang kita harapkan tidak seperti gambaran diskusi suami istri yang saling mempertahankan ide-ide sendiri dan mengabaikan orang lain. Meskipun beberapa data yang telah saya kumpulkan -dari curhatan para suami atau istri dalam kehidupan sehari hari- tentang kesalahan berulang-ulang berkaitan dengan persoalan: mis komunikasi, dan kurang menerima pemikiran lawan bicara. Pada ruang sosial, "urun rembug" sebenarnya jalan untuk mengikat diri semakin harmonis. Kita membutuhkan adanya pertemuan diskusi penuh dengan ide-ide produktif dalam suasana kekeluargaan. Makna kekeluargaan artinya bahwa kita telah menyadari kelebihan dan kekurangan diri sendiri dan selalu berusaha untuk senantiasa menjaga keharmonisan dengan lawan diskusi. Artinya kita siap menerima pendapat orang lain dan orang lain pun siap mendengar pendapat kita.

Mungkin dalam ruang-ruang diskusi -seperti saya dengan anaku- yang sedang kuliah atau saya dengan pasangan ku yang kadang seperti Tom and Jery, kadang “kereng terus”, lalu guyub kembali. Harapan  untuk mengakhiri penuh dengan kedamaian. Sebab kita menyadari bahwa kita satu keluarga dan sudah tahu kelebihan dan kekurangan kita masing-masing. Tidak ada yang sempurna, baik suami, istri maupun anak-anak nya. semua ada sisi baik dan kekurangannya. 

Tidak peduli setiap hari makan apa, dan apakah anak kita sekolah sarapan atau tidak, dapat duit jajan atau tidak, jangan sampai tetangga mengetahui. Tidak peduli apakah pasangan hidup kita masih suka tidur bareng satu selimut apa sudah “ungkur-ungkuran” dan sudah tidak harmonis lagi pada moment-moment tertentu. Jika ini terjadi, maka tetangga kita jangan sampai mengetahui. Bahkan kalau bisa mertua dan orang tua kita pun jangan sampai bocor halus sampai ke mereka. Ini adalah urusan internal-urusan dalam negeri- yang harus dijaga kerahasiaannya. Ma’lum lah, kita adalah keluarga besar yang kebesaran kita terletak pada kemampuan mengelola dinamika hidup menjadi lebih bermakna dan melahirkan kedewasaan bersama.

Walhasil, kegiatan kemahasiswaan di atas membuat saya semakin menyadari tentang kekurangan pada diri sendiri dan siap menerima kehebatan para mahasiswa generasi penerus. Namun sejelek-jelek orang tua tetap saja ada nilai-nilai kebaikan. Salah satu nilai kebaikan yang saya tekankan kepada anak-anak muda yaitu: “Jangan sampai kehebatan kalian menyebabkan kalian lupa sujud kepada Allah SWT”.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872