Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Benarkah Saya Umat Mu Yang Rasul?



Jumat , 12 September 2025



Telah dibaca :  471

Malam yang sunyi, terdengar tetesan air. Tidak begitu deras. Tapi jelas suaranya. Mungkin menetes pada seng bekas. Suaranya jelas dan teratur. Beberapa katak dan Binatang malam pun terus berbunyi tiada henti. Ia sedang bertasbih kepada Sang Pencipta. Ia malam itu semua nya sedang berdzikir, bertasbih dan memuji Allah SWT. Saya hanya duduk seorang diri, tidak berdzikir, tidak juga sholat tahajud. Tangan kanan masih memegang HP, menyuguhkan berita dan berita tidak seindah malam yang penuh keindahan dan kesahduan. Akhirnya, malam itu saya benar-benar lupa tidak menyapa Tuhan, tidak sujud, tidak mengucapkan syukur atas segala nikmatnya, tidak bertasbih sebagaimana yang telah dilakukan oleh katak, jangkrik, dan binatang-binatan lain yang tiada henti-hentinya bertasbih kepada-Nya. Kadang saya merasa lebih bodoh dari binatang-binatang tersebut. bodoh tapi kadang merasa pintar dan hebat.

Saat saya menyempatkan membuka Sirah Nabi, terkadang saya seperti sedang berselancar pada kehidupan 14 abad yang lalu. Dalam benak saya terlihat hamparan Padang Pasir dan bangunan rumah-rumah yang sangat sederhana. Saya seolah-olah melihat Rumah Nabi. Saat Nabi masuk ke dalam rumah dalam perut keadaan lapar, ia menemui Aisyah dan bertanya manakala ada makanan yang bisa dimakan untuk ganjal perut. Aisyah dengan tenang menjawab : “Hari ini tidak ada bahan makanan yang bisa dimasak yang Rasul”. Nabi tersenyum menjawab: “Tidak apa-apa sayang, hari ini aku puasa saja”.

Seolah-olah saya melihat Rumah Rasul, melihat kamar-kamarnya. Tidak ada permadani yang lembut. Saya seperti melihat anyaman daun kurma yang ada di lantai. Sang Rasul pun merebahkan diri melepaskan rasa lelah karena padatnya aktivitas. Ia pun tertidur, saya melihat kedua pipi dan kedua tangan nya yang putih kemerah-kemerahan -seperti layaknya kulit putih dari nenek moyangnya berasal dari Palestina -terlihat garis-garis bekas daun kurma. Ia terlihat sangat menikmati istirahatnya dengan penuh kebahagiaan. Meskipun beralas daun kurma.

Saya tidak sanggup meneruskan bacaannya. Sebab saya jelas tidak sanggup juga mengikuti kesederhanaanya. Saya tidak sanggup mengikuti rasul yang makan tidak pernah kenyang. Kadang hanya tiga butir kurma. Minum pun terbatas. Saya tidak sanggup seperti itu. Saya benar-benar tidak pantas menyebut sebagai pengikut rasul. Malu, malu sekali. Saya jauh dari definisi umat nya.

Saya beralih membaca buku biografi. Seorang tokoh dari India. Namanya Mahatma Gandi. Kulitnya hitam, badan kurus dan dibalut dengan kain warna putih. Hampir semua gambar di buku itu selalu menunduk ke bawah. Kacamata yang bulat yang menghiasi wajah nya sebagai bertanda ia seorang kutu buku, penulis, pemikir yang antara tulisan, pikirannya menyatu dengan perbuatannya sehari-hari.

Ada beberapa pemikiran Mahatma Gandi yang saya kutip di artikel ini antara lain:”Saya menolak kekerasan karena saat terlihat menghasilkan kebaikan, kebaikan itu hanyalah sementara; keburukan yang dihasilkan adalah kekal”.

Saya merenung. Saya mencoba membuka referensi saat India melawan Inggris. Saat Mahatma Gandi melakukan “satyagraha”, yaitu perlawanan dengan tanpa kekerasan. Ia melawan inggris dengan membangun kekuatan batin, fisik dan kepercayaan diri yang tinggi atas kemampuan kemandirian bangsa nya sendiri. ia menyakini, dengan kemandirian yang kuat, jalan tertutup bagi bangsa lain untuk menjajah dan mengaturnya.

Mahatma Gandi juga memandang setiap kesulitan sebagai peluang untuk pelayanan, sebuah tantangan yang bisa memancing sumber kecerdasan dan imajinasi yang lebih besar dari dalam dirinya. Hari ini Tuhan telah mendatangkan kesulitan. Bukan untuk manusia menjadi anarkis, bukan sebagai jalan untuk saling bunuh-membunuh, merusak dan berbuat semaunya. Tapi kesulitan sebagai jalan untuk menggali potensi diri untuk membangkitkan seluruh kecerdasan dari sudut pandang intelektual, spiritual, emosional dan sosial. Kecerdasan ini yang membuat manusia lahir benar-benar Merdeka. Sebab kemerdekaan sejati saat manusia mampu membebaskan diri dari kebodohan intelektual, spiritual, emosional dan sosial.

Untuk mengubah hidup di era sekarang ini memang tidak perlu berharap banyak dari orang lain, melainkan dari cara berfikir diri sendiri. semakin banyak menggantungkan harapan kepada orang lain, semakin besar penderitaan manusia tersebut. mengaktifkan berfikir kreatif, maka akan terlatih kemampuan nya membaca situasi, kondisi dan bisa menyelesaikan nya dengan baik dan bijak.

Tentu saja apa yang kita lakukan harus dengan semangat ibadah. Ketika seseorang melakukan segalanya dengan semangat beribadah, semua tampat yang ia kunjungi adalah sakral. Sebab semua yang dilihat semata-mata melihat keagungan Allah SWT.

Walhasil, saya mencoba membuka tangga dengan membaca pikiran Mahatma Gandi agar sampai pada tangga ajaran Nabi Muhammad SAW pun belum mampu. Jangankan sampai Nabi Muhammad, menerapkan pemikiran Mahatma Gandi yang nota bene bukan pengikut nya Nabi pun sangat sulit diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Saya benar-benar semakin tidak jelas perasaan batiniah ku. Apalagi di media sosial menyuguhkan berita politik negara Nepal, dekat India. Brutal. Ada tertawa di balik penderitaan. penjarahan, pembunuhan, dan pembantaian tanpa kemanusiaan. Entah seperti apa setelah itu. Apakah kebahagiaan masyarakat Nepal akan berubah menjadi bencana kemanusiaan ketika tidak ada pemerintahan lagi. Apakah kemenangan hari ini sebagai pengadilan massa akan berubah sulitnya ekonomi, pekerjaan dan macetnya sumber-sumber pangan akibat tidak ada penguasa di negara tersebut. wallahu a’lam. Tuhan yang lebih mengetahui.

Saya lagi-lagi bertanya:”Dimana ajaran Mahatma Gandi, dan dimana ajaran Nabi Muhammad SAW yang agung, apakah semua itu sudah hilang”. Tapi saya harus menyakini, ajaran tersebut masih terus hidup dan akan tetap hidup meskipun dalam himpitan penderitaan. Sebab memang demikianlah tuhan menaikan derajat hamba-nya dengan ujian dan penderitaan.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4550


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875