
Malam yang sunyi, terdengar tetesan air. Tidak
begitu deras. Tapi jelas suaranya. Mungkin menetes pada seng bekas. Suaranya jelas
dan teratur. Beberapa katak dan Binatang malam pun terus berbunyi tiada henti. Ia
sedang bertasbih kepada Sang Pencipta. Ia malam itu semua nya sedang berdzikir,
bertasbih dan memuji Allah SWT. Saya hanya duduk seorang diri, tidak berdzikir,
tidak juga sholat tahajud. Tangan kanan masih memegang HP, menyuguhkan berita
dan berita tidak seindah malam yang penuh keindahan dan kesahduan. Akhirnya,
malam itu saya benar-benar lupa tidak menyapa Tuhan, tidak sujud, tidak
mengucapkan syukur atas segala nikmatnya, tidak bertasbih sebagaimana yang
telah dilakukan oleh katak, jangkrik, dan binatang-binatan lain yang tiada
henti-hentinya bertasbih kepada-Nya. Kadang saya merasa lebih bodoh dari binatang-binatang
tersebut. bodoh tapi kadang merasa pintar dan hebat.
Saat saya menyempatkan membuka Sirah Nabi, terkadang
saya seperti sedang berselancar pada kehidupan 14 abad yang lalu. Dalam benak
saya terlihat hamparan Padang Pasir dan bangunan rumah-rumah yang sangat
sederhana. Saya seolah-olah melihat Rumah Nabi. Saat Nabi masuk ke dalam rumah
dalam perut keadaan lapar, ia menemui Aisyah dan bertanya manakala ada makanan
yang bisa dimakan untuk ganjal perut. Aisyah dengan tenang menjawab : “Hari ini
tidak ada bahan makanan yang bisa dimasak yang Rasul”. Nabi tersenyum menjawab:
“Tidak apa-apa sayang, hari ini aku puasa saja”.
Seolah-olah saya melihat Rumah Rasul, melihat
kamar-kamarnya. Tidak ada permadani yang lembut. Saya seperti melihat anyaman
daun kurma yang ada di lantai. Sang Rasul pun merebahkan diri melepaskan rasa lelah
karena padatnya aktivitas. Ia pun tertidur, saya melihat kedua pipi dan kedua
tangan nya yang putih kemerah-kemerahan -seperti layaknya kulit putih dari
nenek moyangnya berasal dari Palestina -terlihat garis-garis bekas daun kurma. Ia
terlihat sangat menikmati istirahatnya dengan penuh kebahagiaan. Meskipun beralas
daun kurma.
Saya tidak sanggup meneruskan bacaannya. Sebab
saya jelas tidak sanggup juga mengikuti kesederhanaanya. Saya tidak sanggup
mengikuti rasul yang makan tidak pernah kenyang. Kadang hanya tiga butir kurma.
Minum pun terbatas. Saya tidak sanggup seperti itu. Saya benar-benar tidak
pantas menyebut sebagai pengikut rasul. Malu, malu sekali. Saya jauh dari definisi
umat nya.
Saya beralih membaca buku biografi. Seorang
tokoh dari India. Namanya Mahatma Gandi. Kulitnya hitam, badan kurus dan
dibalut dengan kain warna putih. Hampir semua gambar di buku itu selalu
menunduk ke bawah. Kacamata yang bulat yang menghiasi wajah nya sebagai
bertanda ia seorang kutu buku, penulis, pemikir yang antara tulisan, pikirannya
menyatu dengan perbuatannya sehari-hari.
Ada beberapa pemikiran Mahatma Gandi yang saya
kutip di artikel ini antara lain:”Saya menolak kekerasan karena saat terlihat
menghasilkan kebaikan, kebaikan itu hanyalah sementara; keburukan yang
dihasilkan adalah kekal”.
Saya merenung. Saya mencoba membuka
referensi saat India melawan Inggris. Saat Mahatma Gandi melakukan “satyagraha”,
yaitu perlawanan dengan tanpa kekerasan. Ia melawan inggris dengan membangun
kekuatan batin, fisik dan kepercayaan diri yang tinggi atas kemampuan
kemandirian bangsa nya sendiri. ia menyakini, dengan kemandirian yang kuat,
jalan tertutup bagi bangsa lain untuk menjajah dan mengaturnya.
Mahatma Gandi juga memandang setiap
kesulitan sebagai peluang untuk pelayanan, sebuah tantangan yang bisa memancing
sumber kecerdasan dan imajinasi yang lebih besar dari dalam dirinya. Hari ini Tuhan
telah mendatangkan kesulitan. Bukan untuk manusia menjadi anarkis, bukan
sebagai jalan untuk saling bunuh-membunuh, merusak dan berbuat semaunya. Tapi kesulitan
sebagai jalan untuk menggali potensi diri untuk membangkitkan seluruh
kecerdasan dari sudut pandang intelektual, spiritual, emosional dan sosial. Kecerdasan
ini yang membuat manusia lahir benar-benar Merdeka. Sebab kemerdekaan sejati
saat manusia mampu membebaskan diri dari kebodohan intelektual, spiritual,
emosional dan sosial.
Untuk mengubah hidup di era sekarang ini
memang tidak perlu berharap banyak dari orang lain, melainkan dari cara
berfikir diri sendiri. semakin banyak menggantungkan harapan kepada orang lain,
semakin besar penderitaan manusia tersebut. mengaktifkan berfikir kreatif, maka
akan terlatih kemampuan nya membaca situasi, kondisi dan bisa menyelesaikan nya
dengan baik dan bijak.
Tentu saja apa yang kita lakukan harus
dengan semangat ibadah. Ketika seseorang melakukan segalanya dengan semangat
beribadah, semua tampat yang ia kunjungi adalah sakral. Sebab semua yang
dilihat semata-mata melihat keagungan Allah SWT.
Walhasil, saya mencoba membuka tangga dengan
membaca pikiran Mahatma Gandi agar sampai pada tangga ajaran Nabi Muhammad SAW
pun belum mampu. Jangankan sampai Nabi Muhammad, menerapkan pemikiran Mahatma
Gandi yang nota bene bukan pengikut nya Nabi pun sangat sulit
diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Saya benar-benar semakin tidak jelas
perasaan batiniah ku. Apalagi di media sosial menyuguhkan berita politik negara
Nepal, dekat India. Brutal. Ada tertawa di balik penderitaan. penjarahan,
pembunuhan, dan pembantaian tanpa kemanusiaan. Entah seperti apa setelah itu. Apakah
kebahagiaan masyarakat Nepal akan berubah menjadi bencana kemanusiaan ketika
tidak ada pemerintahan lagi. Apakah kemenangan hari ini sebagai pengadilan
massa akan berubah sulitnya ekonomi, pekerjaan dan macetnya sumber-sumber
pangan akibat tidak ada penguasa di negara tersebut. wallahu a’lam. Tuhan yang
lebih mengetahui.
Saya lagi-lagi bertanya:”Dimana ajaran Mahatma
Gandi, dan dimana ajaran Nabi Muhammad SAW yang agung, apakah semua itu sudah
hilang”. Tapi saya harus menyakini, ajaran tersebut masih terus hidup dan akan
tetap hidup meskipun dalam himpitan penderitaan. Sebab memang demikianlah tuhan
menaikan derajat hamba-nya dengan ujian dan penderitaan.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4550
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2948
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875