
Bulan ramadhan tahun ini terasa sangat
panas. Namun disisi lain ada berkahnya. Penulis melihat antusias masyarakat
muslim mengadakan kegiatan sosial, salah satunya pembagian takjil yang dilakukan oleh ormas agama, ormas kepemudaan,paguyuban suku, lembaga lembaga pendidikan dan lain lain. Bukan itu saja, ada beberapa
yayasan non-muslim juga melakukan hal sama, yaitu kegiatan pembagian takjil untuk masyarakat muslim. Dilihat dari sisi kemanusiaan, gejala bagi takjil merupakan fenomena positif. Kegiatan ini merefleksikan bahwa sinar-sinar kasih sayang senantiasa tumbuh pada jiwa-jiwa yang
tenang (mutmainah) tanpa harus membedakan status sosial, budaya, agama dan
keyakinan. Meskipun terkadang ada
sebagian kelompok melihatnya sebagai kegiatan seremonial atau bahkan dianggap
sebagai “pansos” semata, penulis melihatnya bahwa persoalan kemanusiaan
adalah persoalan kesadaran kolektif untuk bisa terwujud dalam kehidupan yang
lebih harmonis. Tentang bentuk dan model marketingnya, terserah saja. Setiap
manusia mempunyai kreasi tersendiri agar lebih menarik dalam mempromosikan arti
penting persaudaraan baik dalam kontek satu iman dan agama, ataupun sebagai bagian
ukhuwah insaniyah.
Beberapa tahun lalu saat memasuki bulan
ramadhan, penulis sering menemukan kalimat cinta sangat eksotis
tentang suatu amal sholeh di media sosial. Kalimat eksotisme tersebut tujuannya untuk menjaga kualitas ikhlas dan terhindar dari menyakiti orang lain yang menerima bantuan. Berikut beberapa kalimat yang sering menghiasi medsos : “Jangan sakiti orang yang kamu bantu dengan foto fotomu”. Ada juga kalimat lain; “Jangan
kamu pamerkan amal ibadah mu di media sosial, jika ingin membantu, bantullah secara diam diam”. Kelihatannya kalimat kalimat seperti itu kurang berlaku saat sekarang ini. Gejala maraknya masyarakat berbagai takjil menunjukan bahwa mereka juga ingin berbagi kebaikan di bulan ramadhan. Apalagi kata Nabi bahwa puasa adalah suatu ibadah yang berhak menilainya hanya Allah swt.
Ungkapan kalimat-kalimat tersebut di atas terlihat menunjukan kesholehan tinggi
tinggi dari sang komentator (meskipun sebatas memberi nasehat dan tidak juga berbuat membantu orang lain). Ia mencoba membatasi makna keikhlasan dengan cara "menutup" rapat-rapat sehingga perbuatan tersebut tidak dilihat oleh orang lain. Seolah olah dengan cara
demikian, kualitas amal ibadah terjaga dan keikhlasan benar benar diraih dengan
sempurna. Terlihat masuk akal, Namun jika dikaji lebih mendalam, justru bisa sangat
membahayakan diri sendiri. Sebab persoalan riya suatu amal adalah persoalan hubungan manusia dengan Tuhannya. Apakah ia melakukan perbuatan secara ikhlas atau tidak,
bukan orang lain yang mengetahuinya tapi diri sendiri dan Tuhanya. Ibarat
sebongkah emas, statusnya tetap emas meskipun di tempatkan dimanapun berada apakah
di hutan belantara ataupun toko emas di Mall paling bergensi sekalipun. Ikhlas
tidak ada hubungannya dengan “dilihat” atau “tidak dilihat” oleh kerumunan
orang. Bagi Allah tidak ada yang rahasia. Semua akan terlihat terang benderang
dalam pandangan-Nya. Jadi, memang sangat sulit mengukur keikhlasan ibadah sosial dengan penilaian kasat mata sebagaimana sulitnya ibadah mahdhah (ibadah langsung kepada Allah seperti sholat) dengan ukuran yang sangat formalistik seperti memakai baju islami atau bukan atau dengan celana cingkrang atau tidak, dengan wajah berjenggot atau tidak, dengan jidat hitam atau tidak. Ciri-ciri tersebut hanya bisa untuk mengukur pada tataran kuantitas, artinya semakin hitam jidatnya bisa jadi lebih sering sujud ketimbang yang tidak hitam jidatnya. Sedangkan persoalan diterima oleh Allah dan kualitas ikhlas, itu hak preogratif-Nya.
Setiap orang punya potensi riya dalam
kesendirian dan ikhlas dalam keramaian. Seperti orang yang rajin ibadah di
malam hari, meskipun seluruh makhluk
tidur dan tidak melihatnya, potensi-potensi riya’ sangat terbuka lebar. Bisa
jadi pada saat itu, ia merasa dirinya lebih tinggi dari orang-orang yang tidur.
Ia merasa bahwa pola hidup telah benar dan sempurna yaitu mengikuti aturan syariat
dan menegakan sunah-sunnah Rasul seperti tahajud dan mengurangi tidur. Ia
menggunakan argument dalil al-qur’an dan sunnah rasul, terbersit pada dirinya
ada kesempurnaan lebih baik dibanding orang-orang yang malam harinya tertidur
pulas. Al-Qur’an dan as-Sunnah tidak salah. Justru pada perspektif negatif nya
sudah menunjukan kegagalan pada dirinya tentang makna ikhlas, meskipun orang
lain tidak melihatnya. Salah satu yang menghancurkan sholat tahajud dan
ibadah-ibadah lainnya dimalam hari yaitu saat dirinya menempatkan dirinya lebih
baik karena menyibukan beribadah dan memandang orang yang sedang tidur berada
di bawah standar ibadahnya. Padahal pada saat yang sama, ia tidak menyadari
bahwa orang-orang yang sedang tidur disebabkan siang harinya bekerja keras
menghidupi keluarganya, kuliah mencari ilmu, dan melakukan aktivitas sosial.
Sehingga ia tidak punya waktu untuk istirahat, dan waktu yang tersisa
beristirahat pada dirinya adalah malam hari. Jika demikian, tidurnya malah
menjadi ibadah dan terbebas dari perbuatan maksiat.
Jadi ada tahajud berstatus maksiat dan ada
tidur berstatus ibadah. Perilaku seseorang dalam kesendirian dan keramaian sebenarnya
bukan bagian prasyarat perilaku ikhlas. Sebab ikhlas itu suasana batin yang
seluruh makhluk tidak bisa menembus status tersebut. Hanya Allah dan orang
tersebut yang mengetahuinya. Itu sebabnya, kanjeng nabi dawuh; Dari Abu
Hurairah Radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullah Shallallahu’alai wa sallam
bersabda, “Allah berfirman, ‘Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia
untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya”.
Tentang definisi ikhlas ada beberapa sabda
nabi Muhammad saw sebagai berikut : “Pertama, belenggu tidak akan masuk ke
dalam hati seorang muslim jika ia menetapi tiga perkara ikhlas beramal hanya
bagi Allah swt, memberikan nasihat yang tulus kepada penguasa dan tetap berkumpul
dengan masyarakat muslim”. Hadist Nabi, “Aku bertanya kepada jibril
tentang ikhlas, apakah ikhlas itu? lalu Jibril berkata, aku bertanya kepada Tuhan
Yang Maha Suci tentang ikhlas, apakah sebenarnya? Allah swt menjawab, suatu
rahasia dari rahasia-Ku yang aku tempatkan di hati hamba-hamba-Ku yang kucintai”.
Dzun Nun Al-Mishry menjelaskan: “Ada tiga tanda keikhlasan: manakala orang
yang bersangkutan memandang pujian dan celaan manusia sama saja; melupakan amal
ketika beramal; dan jika ia lupa akan haknya untuk memperoleh pahala di akhirat
karena amal baiknya”.
Dari beberapa definisi tersebut sebenarnya
tidak ada hubungan sama sekali tentang amal perbuatan dilakukan secara
sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan. Dalam beberapa hal, perbuatan
yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi juga sangat baik dilakukan untuk
melatih diri agar tidak terjebak pada keakuan diri yang kadang muncul pada saat
melakukan suatu aktivitas. Perbuatan dilakukan secara terang-terangan juga
sangat baik dilakukan untuk mengisi ruang-ruang kosong dakwah di berbagai
tempat. Apalagi saat sekarang ini, media sosial dan sejenisnya telah dipenuhi
hal-hal yang bersifat negatif. Jika ruang-ruang komunikasi public dalam dunia
maya dan dunia nyata hanya berisi hal-hal negatif dan tidak memberi manfaatkan,
berarti ajakan mereka dalam kemaksiatan justru lebih mengena dan tetap sasaran.
Itu sebabnya, porsi perbuatan positif seperti pembagian takjil di bulan
ramadhan sudah sangat urgen sekali menghiasi media-media sosial online,
sehingga berita berita kemaksiatan benar-benar tidak lagi mendapatkan tempat.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4554
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876