Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Berburu Takjil; Membunuh Pikiran Jahil dan Jiwa Kerdil



Jumat , 29 Maret 2024



Telah dibaca :  952

Bulan ramadhan tahun ini terasa sangat panas. Namun disisi lain ada berkahnya. Penulis melihat antusias masyarakat muslim mengadakan kegiatan sosial, salah satunya pembagian takjil yang dilakukan oleh ormas agama, ormas kepemudaan,paguyuban suku, lembaga lembaga pendidikan dan lain lain. Bukan itu saja, ada beberapa yayasan non-muslim juga melakukan hal sama, yaitu kegiatan pembagian takjil untuk masyarakat muslim. Dilihat dari sisi kemanusiaan, gejala bagi takjil merupakan fenomena positif. Kegiatan ini merefleksikan bahwa sinar-sinar kasih sayang senantiasa tumbuh pada jiwa-jiwa yang tenang (mutmainah) tanpa harus membedakan status sosial, budaya, agama dan keyakinan.  Meskipun terkadang ada sebagian kelompok melihatnya sebagai kegiatan seremonial atau bahkan dianggap sebagai “pansos” semata, penulis melihatnya bahwa persoalan kemanusiaan adalah persoalan kesadaran kolektif untuk bisa terwujud dalam kehidupan yang lebih harmonis. Tentang bentuk dan model marketingnya, terserah saja. Setiap manusia mempunyai kreasi tersendiri agar lebih menarik dalam mempromosikan arti penting persaudaraan baik dalam kontek satu iman dan agama, ataupun sebagai bagian ukhuwah insaniyah.

Beberapa tahun lalu saat memasuki bulan ramadhan, penulis sering menemukan kalimat cinta sangat eksotis tentang suatu amal sholeh di media sosial. Kalimat eksotisme tersebut tujuannya untuk menjaga kualitas ikhlas dan terhindar dari menyakiti orang lain yang menerima bantuan. Berikut beberapa kalimat yang sering menghiasi medsos :  “Jangan  sakiti orang yang kamu bantu dengan foto fotomu”. Ada juga kalimat lain; “Jangan kamu pamerkan amal ibadah mu di media sosial, jika ingin membantu, bantullah secara diam diam”.  Kelihatannya kalimat kalimat seperti itu kurang berlaku saat sekarang ini. Gejala maraknya masyarakat berbagai takjil menunjukan bahwa mereka juga ingin berbagi kebaikan di bulan ramadhan. Apalagi kata Nabi bahwa puasa adalah suatu ibadah  yang berhak menilainya hanya Allah swt. 

Ungkapan kalimat-kalimat tersebut di atas terlihat menunjukan kesholehan tinggi tinggi dari sang komentator (meskipun sebatas memberi nasehat dan tidak juga berbuat membantu orang lain). Ia mencoba membatasi makna keikhlasan dengan cara "menutup" rapat-rapat sehingga perbuatan tersebut tidak dilihat oleh orang lain. Seolah olah dengan cara demikian, kualitas amal ibadah terjaga dan keikhlasan benar benar diraih dengan sempurna. Terlihat masuk akal, Namun jika dikaji lebih mendalam, justru bisa sangat membahayakan diri sendiri. Sebab persoalan riya suatu amal adalah persoalan hubungan manusia dengan Tuhannya. Apakah ia melakukan perbuatan secara ikhlas atau tidak, bukan orang lain yang mengetahuinya tapi diri sendiri dan Tuhanya. Ibarat sebongkah emas, statusnya tetap emas meskipun di tempatkan dimanapun berada apakah di hutan belantara ataupun toko emas di Mall paling bergensi sekalipun. Ikhlas tidak ada hubungannya dengan “dilihat” atau “tidak dilihat” oleh kerumunan orang. Bagi Allah tidak ada yang rahasia. Semua akan terlihat terang benderang dalam pandangan-Nya. Jadi, memang sangat sulit mengukur keikhlasan ibadah sosial dengan penilaian kasat mata sebagaimana sulitnya ibadah mahdhah (ibadah langsung kepada Allah seperti sholat) dengan  ukuran yang sangat formalistik seperti memakai baju islami atau bukan atau dengan  celana cingkrang atau tidak, dengan wajah berjenggot atau tidak, dengan jidat hitam atau tidak. Ciri-ciri tersebut hanya bisa untuk mengukur pada tataran kuantitas, artinya semakin hitam jidatnya bisa jadi lebih sering sujud ketimbang yang tidak hitam jidatnya. Sedangkan persoalan diterima oleh Allah dan kualitas ikhlas,  itu hak preogratif-Nya.

Setiap orang punya potensi riya dalam kesendirian dan ikhlas dalam keramaian. Seperti orang yang rajin ibadah di malam hari, meskipun seluruh  makhluk tidur dan tidak melihatnya, potensi-potensi riya’ sangat terbuka lebar. Bisa jadi pada saat itu, ia merasa dirinya lebih tinggi dari orang-orang yang tidur. Ia merasa bahwa pola hidup telah benar dan sempurna yaitu mengikuti aturan syariat dan menegakan sunah-sunnah Rasul seperti tahajud dan mengurangi tidur. Ia menggunakan argument dalil al-qur’an dan sunnah rasul, terbersit pada dirinya ada kesempurnaan lebih baik dibanding orang-orang yang malam harinya tertidur pulas. Al-Qur’an dan as-Sunnah tidak salah. Justru pada perspektif negatif nya sudah menunjukan kegagalan pada dirinya tentang makna ikhlas, meskipun orang lain tidak melihatnya. Salah satu yang menghancurkan sholat tahajud dan ibadah-ibadah lainnya dimalam hari yaitu saat dirinya menempatkan dirinya lebih baik karena menyibukan beribadah dan memandang orang yang sedang tidur berada di bawah standar ibadahnya. Padahal pada saat yang sama, ia tidak menyadari bahwa orang-orang yang sedang tidur disebabkan siang harinya bekerja keras menghidupi keluarganya, kuliah mencari ilmu, dan melakukan aktivitas sosial. Sehingga ia tidak punya waktu untuk istirahat, dan waktu yang tersisa beristirahat pada dirinya adalah malam hari. Jika demikian, tidurnya malah menjadi ibadah dan terbebas dari perbuatan maksiat.

Jadi ada tahajud berstatus maksiat dan ada tidur berstatus ibadah. Perilaku seseorang dalam kesendirian dan keramaian sebenarnya bukan bagian prasyarat perilaku ikhlas. Sebab ikhlas itu suasana batin yang seluruh makhluk tidak bisa menembus status tersebut. Hanya Allah dan orang tersebut yang mengetahuinya. Itu sebabnya, kanjeng nabi dawuh; Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullah Shallallahu’alai wa sallam bersabda, “Allah berfirman, ‘Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya”.

Tentang definisi ikhlas ada beberapa sabda nabi Muhammad saw sebagai berikut : “Pertama, belenggu tidak akan masuk ke dalam hati seorang muslim jika ia menetapi tiga perkara ikhlas beramal hanya bagi Allah swt, memberikan nasihat yang tulus kepada penguasa dan tetap berkumpul dengan masyarakat muslim”. Hadist Nabi, “Aku bertanya kepada jibril tentang ikhlas, apakah ikhlas itu? lalu Jibril berkata, aku bertanya kepada Tuhan Yang Maha Suci tentang ikhlas, apakah sebenarnya? Allah swt menjawab, suatu rahasia dari rahasia-Ku yang aku tempatkan di hati hamba-hamba-Ku yang kucintai”. Dzun Nun Al-Mishry menjelaskan: “Ada tiga tanda keikhlasan: manakala orang yang bersangkutan memandang pujian dan celaan manusia sama saja; melupakan amal ketika beramal; dan jika ia lupa akan haknya untuk memperoleh pahala di akhirat karena amal baiknya”.

Dari beberapa definisi tersebut sebenarnya tidak ada hubungan sama sekali tentang amal perbuatan dilakukan secara sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan. Dalam beberapa hal, perbuatan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi juga sangat baik dilakukan untuk melatih diri agar tidak terjebak pada keakuan diri yang kadang muncul pada saat melakukan suatu aktivitas. Perbuatan dilakukan secara terang-terangan juga sangat baik dilakukan untuk mengisi ruang-ruang kosong dakwah di berbagai tempat. Apalagi saat sekarang ini, media sosial dan sejenisnya telah dipenuhi hal-hal yang bersifat negatif. Jika ruang-ruang komunikasi public dalam dunia maya dan dunia nyata hanya berisi hal-hal negatif dan tidak memberi manfaatkan, berarti ajakan mereka dalam kemaksiatan justru lebih mengena dan tetap sasaran. Itu sebabnya, porsi perbuatan positif seperti pembagian takjil di bulan ramadhan sudah sangat urgen sekali menghiasi media-media sosial online, sehingga berita berita kemaksiatan benar-benar tidak lagi mendapatkan tempat.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4554


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876