
Sang ibu yang sudah tidak muda lagi
duduk di kursi plastik di depan agak kesamping sebuah minimarket. Kepalanya disandarkan
pada punggung kursi, sehingga terlihat seperti menghadap arah langit. Tapi matanya
terpejam. Udara hari itu memang cukup panas. Namun cahaya matahari sudah
condong ke barat. Gedung minimarket tingkat tiga telah melindunginya dari
panasnya sinar matahari. Mata terpejam bukan karena tidur. Sepertinya ia ingin istirahat.
Terlihat sangat letih. Tapi ia harus duduk dan berharap ada pembeli yang akan
membeli es campur di gerobak sederhana.
Penulis tidak mengetahui, apakah ibu
tua tadi mengerti tentang kalender hijriah, bahwa nanti malam ada malam yang
disebut dengan malam nisfu sya’ban. Kanjeng nabi Muhammad dawuh:
“ Jibril telah
datang kepadaku pada malam nisfu sya’ban lalu berkata: “Wahai Muhammad, pada malam
ini dibuka pintu-pintu langit dan pintu-pintu rahmat, oleh karena itu,
bangunlah dan dirikan sholat, serta angkatlah kepalamu dan kedua tanganmu ke
langit (berdoa). Kemudian nabi bertanya: adakah arti malam ini?”Jibril
menjawab: “Malam ini telah dibuka 300 pintu rahmat dan pintu ampunan. Allah swt
akan mengampuni dosa-dosa hamba Nya sepanjang ia tidak menyutukan-Nya dengan
sesuatu. Kecuali seorang ahli sihir, tukang ramal, orang yang suka permusuhan,
pengadu domba, pemabuk, durhaka kepada orang tuanya, dan orang-orang yang
memutuskan silaturahim. Mereka tidak akan diampuni oleh Allah swt”.
Sore hari sang ibu pun pulang. Entah
dimana rumahnya. Sebagai seorang ibu, ia pasti harus bekerja lagi menyiapkan
makanan sore atau malam hari untuk suami dan anak-anaknya. Ia mempunyai waktu
istirahat sebentar. Saat masjid-masjid dan mushola-mushola setelah maghrib
membaca surat yasin tiga kali dan mengharapkan keberkahan datangnya malam yang
sangat mulia, bisa jadi sang ibu tadi baru sholat maghrib, istirahat sebentar
sambil makan nasi putih dan lauk ala kadarnya. Ia mungkin tidak membaca surat
yasin. Tapi suara-suara ayat suci masuk ke dalam telinganya dan menambah rasa
tenang dalam hatinya. Ia sebenarnya ingin seperti ibu-ibu lain bisa ke mushola
atau masjid. Ingin seperti mereka yang badan nya sudah bersih-bersih dan
berangkat ke masjid menjelang datangnya waktu maghrib. Tapi apa daya, ia harus
mencari rezeki, agar bisa beli beras, lauk dan biaya untuk anak-anak yang
sedang sekolah. Ia pun tidak sempat melakukan hal-hal tersebut sebagaimana
ibu-ibu tadi. Ia terasa kotor dan tidak mengerti apa sebenarnya rahasia dari
malam nifsu sya’ban. Sang ibu tua yang ia tahu adalah jadwal harian yang
harus dilakukan yaitu sebelum subuh sudah menyiapkan seluruh keperluan, mulai
dari sarapan pagi sampai pada bahan-bahan yang sudah diracik dan siap jualan
keliling es campur untuk pagi hari sampai sore hari.
Namun ibu itu bisa jadi bagian dari
golongan orang-orang yang mendapatkan keberkahan rezeki yang telah diusahakan
di siang hari. Kanjeng Nabi bersabda: “ Apabila telah datang malam
pertengahan bulan Sya’ban maka diserahkan kepada malaikat maut sebuah catatan.
Maka dikatakan, cabutlah pada tahun ini, nama yang ada dalam catatan itu,
karena sungguh seorang hamba akan menanam tanaman, akan menikahi wanita,
membangun rumah, sedangkan namanya ada dalam catatan itu dan dia tidak tahu”.
Ibu tadi hidup dalam segala
keterbatasan ekonomi. Ia bekerja dengan cara yang halal dan meneteskan keringat
serti menguras energi sehingga terlihat letih. Tubuh yang sudah semakin tua dan
tenaga semakin berkurang tidak menghalangi dirinya untuk mencari rezeki yang
halal. Ia tidak malu terkadang tertidur di pinggir jalan. Ia tetap tegar dalam keterbatasan
fasilitas dunia. Ia bukan seorang saudagar, bukan pada anggota legislatif atau
eksekutif, bukan juga kelompok kaum elit. Ia adalah manusia kebanyakan yang “rintihan
hati nya” bisa menggetarkan langit di malam nifsu sya’ban. Tangisan dan
doa yang tulus dalam hati dalam kondisi penuh penderitaan telah membuka
pintu-pintu langit menurunkan rahmat ke dunia.
Sebagian orang mungkin tidak begitu
memperdulikan ibu penjual es campur dan ibu-ibu lain dan orang-orang yang
senasib dengannya. Ia mungkin tidak pernah ikut dalam kontestasi demokrasi,
bukan tim sukses dan tidak pernah terlintas dalam benaknya membuat stiker yang
ada gambar dirinya. Kelompok-kelompok ini adalah kelompok yang termarginalkan
dan sering dilihat sebelah mata. Mereka kadang dibutuhkan kadang saat-saat
tertentu, dan kemudian hari dilupakan sepanjang hidup. Sang ibu tadi kadang ada
di gambar foto karena ia mendapatkan bantuan beras atau apalah dari para
pengambil kebijakan, para dewan atau eksekutif. Itulah foto terindah yang
pernah mampir di beranda media sosial. Bahkan sang ibu dan mereka pun tidak
mengetahui foto-fotonya beredar di medsos.
Malam nifsu sya’ban telah
menjadi harapan besar hamba-hamba Allah untuk mendapatkan rahmat, kasih sayang
Allah, dibuka pintu rezeki, dan diampuni dosa-dosanya. Allah telah memberi
bonus kemulyaan tersebut untuk hamba-hamba-Nya kecuali orang-orang yang suka
memfitnah, mengadu domba, suka bermusuhan, pemabuk, syirik, dan durhaka kepada
orang tua.
Momen nifsu sya’ban dalam
kontek kehidupan sosial, Apalagi pada saat ini masih terasa pesta demokrasi
belum bisa membahagiakan bagi sebagian orang atau kelompok tertentu. Semoga masa
lalu yang buruk dikubur dalam-dalam, dan membuka lembaran baru dengan hati yang
jauh dari rasa dengki, dan pikiran jauh dari sifat permusuhan dan fitnah serta
senantiasa beribadah kepada Allah dan berbakti kepada orang tua. Melalui perbaikan
kualitas kita yang tulis, insya Allah kita mendapatkan keberkahan hidup di
bulan yang mulia ini. Siapapun kita, statusnya apapun kita, semua sama. Sang ibu
penjual es campur dan kita adalah orang-orang yang sedang mengharapkan rahmat
dari-Nya. Sebab dengan rahmat-Nya, hidup kita akan mendapatkan kebahagiaan di
dunia dan akherat.
Penulis : Imam Ghozali
Sulastri, M.Pd.I
Alhamdulillah tulisan nya bagus kehidupan sosial keseharian dihubungkan dgn hubungan vertikal kepada Alloh SWT lewat nisfu sya'ban ...tulisan yg memberikan ketertarikan utk terus dibaca karena ada 2 line sasaran habluminnas dan habluminallah ...luarbiase pak DR.... konteks tulisan yg sy senangi merangkai kehidupan sosial utk meraih kebahagiaan dari Sang Khaliq
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876