Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Berharap Keberkahan Malam Nisfu Sya'ban



Sabtu , 24 Februari 2024



Telah dibaca :  1024

Sang ibu yang sudah tidak muda lagi duduk di kursi plastik di depan agak kesamping sebuah minimarket. Kepalanya disandarkan pada punggung kursi, sehingga terlihat seperti menghadap arah langit. Tapi matanya terpejam. Udara hari itu memang cukup panas. Namun cahaya matahari sudah condong ke barat. Gedung minimarket tingkat tiga telah melindunginya dari panasnya sinar matahari. Mata terpejam bukan karena tidur. Sepertinya ia ingin istirahat. Terlihat sangat letih. Tapi ia harus duduk dan berharap ada pembeli yang akan membeli es campur di gerobak sederhana.  

Penulis tidak mengetahui, apakah ibu tua tadi mengerti tentang kalender hijriah, bahwa nanti malam ada malam yang disebut dengan malam nisfu sya’ban. Kanjeng nabi Muhammad dawuh:

“ Jibril telah datang kepadaku pada malam nisfu sya’ban lalu berkata: “Wahai Muhammad, pada malam ini dibuka pintu-pintu langit dan pintu-pintu rahmat, oleh karena itu, bangunlah dan dirikan sholat, serta angkatlah kepalamu dan kedua tanganmu ke langit (berdoa). Kemudian nabi bertanya: adakah arti malam ini?”Jibril menjawab: “Malam ini telah dibuka 300 pintu rahmat dan pintu ampunan. Allah swt akan mengampuni dosa-dosa hamba Nya sepanjang ia tidak menyutukan-Nya dengan sesuatu. Kecuali seorang ahli sihir, tukang ramal, orang yang suka permusuhan, pengadu domba, pemabuk, durhaka kepada orang tuanya, dan orang-orang yang memutuskan silaturahim. Mereka tidak akan diampuni oleh Allah swt”.

Sore hari sang ibu pun pulang. Entah dimana rumahnya. Sebagai seorang ibu, ia pasti harus bekerja lagi menyiapkan makanan sore atau malam hari untuk suami dan anak-anaknya. Ia mempunyai waktu istirahat sebentar. Saat masjid-masjid dan mushola-mushola setelah maghrib membaca surat yasin tiga kali dan mengharapkan keberkahan datangnya malam yang sangat mulia, bisa jadi sang ibu tadi baru sholat maghrib, istirahat sebentar sambil makan nasi putih dan lauk ala kadarnya. Ia mungkin tidak membaca surat yasin. Tapi suara-suara ayat suci masuk ke dalam telinganya dan menambah rasa tenang dalam hatinya. Ia sebenarnya ingin seperti ibu-ibu lain bisa ke mushola atau masjid. Ingin seperti mereka yang badan nya sudah bersih-bersih dan berangkat ke masjid menjelang datangnya waktu maghrib. Tapi apa daya, ia harus mencari rezeki, agar bisa beli beras, lauk dan biaya untuk anak-anak yang sedang sekolah. Ia pun tidak sempat melakukan hal-hal tersebut sebagaimana ibu-ibu tadi. Ia terasa kotor dan tidak mengerti apa sebenarnya rahasia dari malam nifsu sya’ban. Sang ibu tua yang ia tahu adalah jadwal harian yang harus dilakukan yaitu sebelum subuh sudah menyiapkan seluruh keperluan, mulai dari sarapan pagi sampai pada bahan-bahan yang sudah diracik dan siap jualan keliling es campur untuk pagi hari sampai sore hari.

Namun ibu itu bisa jadi bagian dari golongan orang-orang yang mendapatkan keberkahan rezeki yang telah diusahakan di siang hari. Kanjeng Nabi bersabda: “ Apabila telah datang malam pertengahan bulan Sya’ban maka diserahkan kepada malaikat maut sebuah catatan. Maka dikatakan, cabutlah pada tahun ini, nama yang ada dalam catatan itu, karena sungguh seorang hamba akan menanam tanaman, akan menikahi wanita, membangun rumah, sedangkan namanya ada dalam catatan itu dan dia tidak tahu”.

Ibu tadi hidup dalam segala keterbatasan ekonomi. Ia bekerja dengan cara yang halal dan meneteskan keringat serti menguras energi sehingga terlihat letih. Tubuh yang sudah semakin tua dan tenaga semakin berkurang tidak menghalangi dirinya untuk mencari rezeki yang halal. Ia tidak malu terkadang tertidur di pinggir jalan. Ia tetap tegar dalam keterbatasan fasilitas dunia. Ia bukan seorang saudagar, bukan pada anggota legislatif atau eksekutif, bukan juga kelompok kaum elit. Ia adalah manusia kebanyakan yang “rintihan hati nya” bisa menggetarkan langit di malam nifsu sya’ban. Tangisan dan doa yang tulus dalam hati dalam kondisi penuh penderitaan telah membuka pintu-pintu langit menurunkan rahmat ke dunia.

Sebagian orang mungkin tidak begitu memperdulikan ibu penjual es campur dan ibu-ibu lain dan orang-orang yang senasib dengannya. Ia mungkin tidak pernah ikut dalam kontestasi demokrasi, bukan tim sukses dan tidak pernah terlintas dalam benaknya membuat stiker yang ada gambar dirinya. Kelompok-kelompok ini adalah kelompok yang termarginalkan dan sering dilihat sebelah mata. Mereka kadang dibutuhkan kadang saat-saat tertentu, dan kemudian hari dilupakan sepanjang hidup. Sang ibu tadi kadang ada di gambar foto karena ia mendapatkan bantuan beras atau apalah dari para pengambil kebijakan, para dewan atau eksekutif. Itulah foto terindah yang pernah mampir di beranda media sosial. Bahkan sang ibu dan mereka pun tidak mengetahui foto-fotonya beredar di medsos.

Malam nifsu sya’ban telah menjadi harapan besar hamba-hamba Allah untuk mendapatkan rahmat, kasih sayang Allah, dibuka pintu rezeki, dan diampuni dosa-dosanya. Allah telah memberi bonus kemulyaan tersebut untuk hamba-hamba-Nya kecuali orang-orang yang suka memfitnah, mengadu domba, suka bermusuhan, pemabuk, syirik, dan durhaka kepada orang tua.

Momen nifsu sya’ban dalam kontek kehidupan sosial, Apalagi pada saat ini masih terasa pesta demokrasi belum bisa membahagiakan bagi sebagian orang atau kelompok tertentu. Semoga masa lalu yang buruk dikubur dalam-dalam, dan membuka lembaran baru dengan hati yang jauh dari rasa dengki, dan pikiran jauh dari sifat permusuhan dan fitnah serta senantiasa beribadah kepada Allah dan berbakti kepada orang tua. Melalui perbaikan kualitas kita yang tulis, insya Allah kita mendapatkan keberkahan hidup di bulan yang mulia ini. Siapapun kita, statusnya apapun kita, semua sama. Sang ibu penjual es campur dan kita adalah orang-orang yang sedang mengharapkan rahmat dari-Nya. Sebab dengan rahmat-Nya, hidup kita akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akherat. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

Sulastri, M.Pd.I

Alhamdulillah tulisan nya bagus kehidupan sosial keseharian dihubungkan dgn hubungan vertikal kepada Alloh SWT lewat nisfu sya'ban ...tulisan yg memberikan ketertarikan utk terus dibaca karena ada 2 line sasaran habluminnas dan habluminallah ...luarbiase pak DR.... konteks tulisan yg sy senangi merangkai kehidupan sosial utk meraih kebahagiaan dari Sang Khaliq

   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876