
Antrian haji Indonesia semakin panjang. Bisa jadi ini indikator bahwa masyarakat Indonesia semakin banyak yang sejahtera. Resikonya, semakin banyak manusia sejahtera, semakin banyak juga orang yang mengeluh. Sebab level kesejahteraan merupakan kondisi rasa nyaman dan tenang. Kesandung sedikit, terasa seperti bencana.
Dulu saat listrik belum ada, tiap
rumah ada Petromak atau Dian, Lentera, Ublik atau apa saja. Menjelang jam 6
sore dihidupkan. Menjelang jam 9 malam dimatikan. efisiensi. kini listrik ada,
mati sedikit saja, geger bukan main. Semua marah. Apalagi yang sedang mencapai
maqam ustadz tanggung, itu biasanya keluar kalimat yang sangat mengerikan:”Dasar
petugas listrik kafir, sudah tahu waktu menjelang maghrib malah mati!”. Semangat
beragama yang kebablasen.
Saya bukan ingin seperti masa dulu saat
orang tua kita yang anak-anaknya “kemreyek” karena tidak pernah
mengikuti program KB (Keluarga Berencana) yang dicanangkan oleh pemerintah dan
memilih KB mandiri. Maksud nya KB (Keluarga Besar) mandiri. Ada sedikit makan
dibagi, tidak ada makan cari sama-sama.
Sebelum ada listrik, semua ingin sekali
listrik datang. Dalam benak orang tua dulu atau anak-anak pelajar dulu, jika
belajar memakai Dian dari jam 7 malam sampai jam 8 malam. Setelah itu orang tua
menyuruh untuk mematikan nya. Sekali lagi efisiensi minyak tanah. Dalam pikiran
orang-orang dulu, jika ada Listrik pasti bisa belajar sampai jam 10 malam,bisa
belajar jam 5 pagi sebelum berangkat sekolah. “Duh, rasanya bahagia sekali”,
pikiran orang-orang dulu.
Kini listrik telah datang. Siang dan malam
sama-sama terang. Dulu yang katanya ingin belajar sampai jam 10 malam hanya
angan-angan. Anak-anak sekarang pegangannya bukan buku, tapi Android dan HP.
Belajar hanya sampingan. Pekerjaan wajib nonton Youtube dan Tik-Tok. Isinya hanya hiburan. 24 nonton hiburan.
Sungguh, anak-anak sekarang sejahtera. Tapi
seperti yang saya katakan di atas, kesejahteraan sering berbanding lurus
dengan kesedihan. Semakin merasa sejahtera, terkadang semakin merasa menderita.
Orang yang sudah merasakan sejahtera, nikmat terasa sebatas di tenggorakan. Itu
perasaan saya sendiri. entah perasaan anda. Saya tidak tahu.
Orang tua kita dulu selalu memberi dongeng
tentang perjalanan pergi haji. 3 bulan baru sampai di Makah. Kadang mereka pulang
tidak membawa bekal apa-apa. Hanya baju yang ada dibadan. Kadang sampai di
rumah harus ditandu karena kaki pecah-pecah tidak bisa jalan kaki. Tidak ada
oleh-oleh Kurma, Kismis, Air Zam-Zam. Yang ada adalah tangisan keluarga karena
masih bisa bertemu kembali.
Kini kita telah menyaksikan para jamaah
haji telah berangkat ke Baitullah. Tentu ada rasa bahagia, haru dan suasana
hati lainnya bercampur aduk. Rasa nano-nano.
Biasanya setelah berjalan beberapa haji,
mulai muncul cerita makanan, tempat penginapan dan keterlambatan Katering.
Viral. Wartawan mewancarai. Dunia media pun heboh. Bukan hanya haji, tapi juga
umroh. Sama. Selalu saja ada cerita para jamaah haji atau umrah yang merasa
terdzalimi dengan pelayanan para petugas haji. Mungkin tamu Allah harus
benar-benar perfect pelayanannya. Dan ironisnya, kata “sempurna” terlalu
banyak perspektif. Antara petugas haji dan para tamu Allah sering tidak sama
pemahamannya.
Dulu saat saya beribadah di Madinah dan Makah,
saya juga disambut dengan ucapan”Selamat datang tamu Allah”. Mendengar
kalimat tersebut bingung sendiri. Apakah saya benar-benar tamu Allah atau tamu
nafsu diri sendiri. Jangan-jangan saya datang ke Baitullah hanya sebatas nafsu
belaka, dengan memaksa Jual Kebun, Jual Warisan, dan Hadiah.
Selain itu, apakah pantas saya disebut tamu
Allah pada saat diriku masih belum stabil “wolak-walike ati” yang belum
istiqamah dan masih subur sifat angkara murka. Saya menerima sebutan sebagai “Tamu
Allah”, tapi saya juga menggugat diri sendiri: “Pantaskah saya sebagai tamu Allah
sungguhan atau tamu Allah mualaf?”.
Saya merasa masih mualaf sebagai tamu Allah.
Masih bingung harus berbuat apa. Masih bingung, sholat ku karena apa. Masih bingung
langkah ku menuju Masjid Nabawi di tengah malam untuk apa. Apa benar mencari ridha
mu, gengsi, atau kecintaan semu sehingga saat pulang ke kampung halaman
mengalami serangan psikologis yang sangat mendalam. Nikmat ku beribadah saat di
Masjid Nabawi dan Masjid Haram tiba-tiba terasa hambar saat saya sholat di
masjid-masjid di kampungku. Ada rasa hambar. Kenikmatan yang pernah dirasakan di
Baitullah hilang entah kemana.
Tiba-tiba saya teringat kisah Sayid Zainal Abidin
saat ia berada di Padang Arafah bersama dengan santrinya. Ia bertanya kepada
santrinya: “Ada berapa yang sedang melaksanakan ibadah haji di Padang Arafah?”.
Sang santri menjawab: “Sekitar 500 ribu, syeikh?”.
Sayid Zainal Abidin mengusap muka sang
santri. Betapa terkejut. Sang santri melihat Padang Arafah seperti Kebun Binatang.
Ada Kucing, Anjing, Babi, Kuda, Monyet dan binatang-binatang lainnya. hanya
sedikit yang terlihat wujud manusia yang sedang mengagungkan asma-asma Allah SWT.
Lalu Sayid Zainal Abidin mengusap muka sang
santri. Pandangan kembali normal. Yang terlihat semua manusia. Sayid Zainal Abidin
menjelaskan:
“Anakku, itulah hakikat manusia yang
melaksanakan ibadah haji. Ada beragam motif melaksanakan ibadah haji. Mereka mempunyai
cita-cita duniawi dan meminta kepada Allah di tempat ini agar semua keinginanya
dikabulkan oleh-Nya. hanya sedikit yang tulus beribadah mengharap ridha Allah SWT”.
Ternyata sangat berat memposisikan diri
dalam beribadah benar-benar mengharap ridha Allah swt. Kisah tersebut di atas
adalah bukti bahwa persoalan kita saat sekarang ini pada ketidakmampuan diri
sendiri menjadi hamba-hamba yang muhlisin dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya
dengan penuh mahabbah tanpa ada motif apapun. Sulit. Sangat sulit.
Kita tetap berharap agar Allah senantiasa
membimbing kita menjadi orang-orang yang selalu berada dalam bimbingan-Nya.
Kita juga berharap orang tua kita, saudara kita dan tetangga kita yang
berangkat ke Baitullah bisa membawa pulang mendapatkan titel haji mabrur. Dalam
konteks individual, semakin baik hubungan nya dengan Allah swt. Dalam konteks
sosial semakin baik konstribusinya untuk memperbaiki kualitas kehidupan sosial.
Sehingga benar-benar terbentuk masyarakat yang mutmainah yaitu masyarakat yang
selalu yakin akan janji-janji Allah dalam menghadapi kehidupan yang terlihat
tidak menentu saat sekarang ini.
Jika konstribusi para jamaah haji di atas benar-benar
terwujud, saya kira sebagian persoalan bangsa ini mulai terurai secara pelan-pelan.
Sebab bangsa yang hebat sebenarnya lahir dari jiwa masyarakat yang kuat. Dan pelaksanaan
haji salah satu fungsi melahirkan pola masyarakat yang demikian. Semoga terwujud.
Amin.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
MHD SHODIQ
Mantap kyai
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2942
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872