Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Berharap Revolusi Ruhaniah Jamaah Haji



Selasa , 13 Mei 2025



Telah dibaca :  498

Antrian haji Indonesia semakin panjang. Bisa jadi ini indikator bahwa masyarakat Indonesia semakin banyak yang sejahtera. Resikonya, semakin banyak manusia sejahtera, semakin banyak juga orang yang mengeluh. Sebab level kesejahteraan merupakan kondisi rasa nyaman dan tenang. Kesandung sedikit, terasa seperti bencana.

Dulu saat listrik belum ada, tiap rumah ada Petromak atau Dian, Lentera, Ublik atau apa saja. Menjelang jam 6 sore dihidupkan. Menjelang jam 9 malam dimatikan. efisiensi. kini listrik ada, mati sedikit saja, geger bukan main. Semua marah. Apalagi yang sedang mencapai maqam ustadz tanggung, itu biasanya keluar kalimat yang sangat mengerikan:”Dasar petugas listrik kafir, sudah tahu waktu menjelang maghrib malah mati!”. Semangat beragama yang kebablasen.

Saya bukan ingin seperti masa dulu saat orang tua kita yang anak-anaknya “kemreyek” karena tidak pernah mengikuti program KB (Keluarga Berencana) yang dicanangkan oleh pemerintah dan memilih KB mandiri. Maksud nya KB (Keluarga Besar) mandiri. Ada sedikit makan dibagi, tidak ada makan cari sama-sama.

Sebelum ada listrik, semua ingin sekali listrik datang. Dalam benak orang tua dulu atau anak-anak pelajar dulu, jika belajar memakai Dian dari jam 7 malam sampai jam 8 malam. Setelah itu orang tua menyuruh untuk mematikan nya. Sekali lagi efisiensi minyak tanah. Dalam pikiran orang-orang dulu, jika ada Listrik pasti bisa belajar sampai jam 10 malam,bisa belajar jam 5 pagi sebelum berangkat sekolah. “Duh, rasanya bahagia sekali”, pikiran orang-orang dulu.

Kini listrik telah datang. Siang dan malam sama-sama terang. Dulu yang katanya ingin belajar sampai jam 10 malam hanya angan-angan. Anak-anak sekarang pegangannya bukan buku, tapi Android dan HP. Belajar hanya sampingan. Pekerjaan wajib nonton Youtube dan Tik-Tok. Isinya hanya hiburan. 24 nonton hiburan.

Sungguh, anak-anak sekarang sejahtera. Tapi seperti yang saya katakan di atas, kesejahteraan sering berbanding lurus dengan kesedihan. Semakin merasa sejahtera, terkadang semakin merasa menderita. Orang yang sudah merasakan sejahtera, nikmat terasa sebatas di tenggorakan. Itu perasaan saya sendiri. entah perasaan anda. Saya tidak tahu.

Orang tua kita dulu selalu memberi dongeng tentang perjalanan pergi haji. 3 bulan baru sampai di Makah. Kadang mereka pulang tidak membawa bekal apa-apa. Hanya baju yang ada dibadan. Kadang sampai di rumah harus ditandu karena kaki pecah-pecah tidak bisa jalan kaki. Tidak ada oleh-oleh Kurma, Kismis, Air Zam-Zam. Yang ada adalah tangisan keluarga karena masih bisa bertemu kembali.

Kini kita telah menyaksikan para jamaah haji telah berangkat ke Baitullah. Tentu ada rasa bahagia, haru dan suasana hati lainnya bercampur aduk. Rasa nano-nano.

Biasanya setelah berjalan beberapa haji, mulai muncul cerita makanan, tempat penginapan dan keterlambatan Katering. Viral. Wartawan mewancarai. Dunia media pun heboh. Bukan hanya haji, tapi juga umroh. Sama. Selalu saja ada cerita para jamaah haji atau umrah yang merasa terdzalimi dengan pelayanan para petugas haji. Mungkin tamu Allah harus benar-benar perfect pelayanannya. Dan ironisnya, kata “sempurna” terlalu banyak perspektif. Antara petugas haji dan para tamu Allah sering tidak sama pemahamannya. 

Dulu saat saya beribadah di Madinah dan Makah, saya juga disambut dengan ucapan”Selamat datang tamu Allah”. Mendengar kalimat tersebut bingung sendiri. Apakah saya benar-benar tamu Allah atau tamu nafsu diri sendiri. Jangan-jangan saya datang ke Baitullah hanya sebatas nafsu belaka, dengan memaksa Jual Kebun, Jual Warisan, dan Hadiah.

Selain itu, apakah pantas saya disebut tamu Allah pada saat diriku masih belum stabil “wolak-walike ati” yang belum istiqamah dan masih subur sifat angkara murka. Saya menerima sebutan sebagai “Tamu Allah”, tapi saya juga menggugat diri sendiri: “Pantaskah saya sebagai tamu Allah sungguhan atau tamu Allah mualaf?”.

Saya merasa masih mualaf sebagai tamu Allah. Masih bingung harus berbuat apa. Masih bingung, sholat ku karena apa. Masih bingung langkah ku menuju Masjid Nabawi di tengah malam untuk apa. Apa benar mencari ridha mu, gengsi, atau kecintaan semu sehingga saat pulang ke kampung halaman mengalami serangan psikologis yang sangat mendalam. Nikmat ku beribadah saat di Masjid Nabawi dan Masjid Haram tiba-tiba terasa hambar saat saya sholat di masjid-masjid di kampungku. Ada rasa hambar. Kenikmatan yang pernah dirasakan di Baitullah hilang entah kemana.

Tiba-tiba saya teringat kisah Sayid Zainal Abidin saat ia berada di Padang Arafah bersama dengan santrinya. Ia bertanya kepada santrinya: “Ada berapa yang sedang melaksanakan ibadah haji di Padang Arafah?”.

Sang santri menjawab: “Sekitar 500 ribu, syeikh?”.

Sayid Zainal Abidin mengusap muka sang santri. Betapa terkejut. Sang santri melihat Padang Arafah seperti Kebun Binatang. Ada Kucing, Anjing, Babi, Kuda, Monyet dan binatang-binatang lainnya. hanya sedikit yang terlihat wujud manusia yang sedang mengagungkan asma-asma Allah SWT.

Lalu Sayid Zainal Abidin mengusap muka sang santri. Pandangan kembali normal. Yang terlihat semua manusia. Sayid Zainal Abidin menjelaskan:

“Anakku, itulah hakikat manusia yang melaksanakan ibadah haji. Ada beragam motif melaksanakan ibadah haji. Mereka mempunyai cita-cita duniawi dan meminta kepada Allah di tempat ini agar semua keinginanya dikabulkan oleh-Nya. hanya sedikit yang tulus beribadah mengharap ridha Allah SWT”.

Ternyata sangat berat memposisikan diri dalam beribadah benar-benar mengharap ridha Allah swt. Kisah tersebut di atas adalah bukti bahwa persoalan kita saat sekarang ini pada ketidakmampuan diri sendiri menjadi hamba-hamba yang muhlisin dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya dengan penuh mahabbah tanpa ada motif apapun. Sulit. Sangat sulit.

Kita tetap berharap agar Allah senantiasa membimbing kita menjadi orang-orang yang selalu berada dalam bimbingan-Nya. Kita juga berharap orang tua kita, saudara kita dan tetangga kita yang berangkat ke Baitullah bisa membawa pulang mendapatkan titel haji mabrur. Dalam konteks individual, semakin baik hubungan nya dengan Allah swt. Dalam konteks sosial semakin baik konstribusinya untuk memperbaiki kualitas kehidupan sosial. Sehingga benar-benar terbentuk masyarakat yang mutmainah yaitu masyarakat yang selalu yakin akan janji-janji Allah dalam menghadapi kehidupan yang terlihat tidak menentu saat sekarang ini.

Jika konstribusi para jamaah haji di atas benar-benar terwujud, saya kira sebagian persoalan bangsa ini mulai terurai secara pelan-pelan. Sebab bangsa yang hebat sebenarnya lahir dari jiwa masyarakat yang kuat. Dan pelaksanaan haji salah satu fungsi melahirkan pola masyarakat yang demikian. Semoga terwujud. Amin.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

MHD SHODIQ

Mantap kyai

   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872