
Sudah lama tidak hujan. Pagi ini sangat Istimewa. Hujan sangat
deras. Beberapa hari udara terasa deras. Kini terasa sejuk. Terasa ingin tidur,
membetulkan selimut. Atau jika tidak bisa tidur, duduk sambil minum kopi dan ditemani
gorengan ubi. Sayangnya, kopi tidak ada, ubi pun belum beli. Hanya saja, ada
gantinya; ada sepotong roti basah dan secangkir wedang kunyit panas. Kata orang
tua dulu, wedang kunyit sangat baik untuk kesehatan lambung.
Pagi ini kami menuju Tanjung Balai Karimun. Kata orang Selatpanjang
atau Bengkalis, Tanjung Balai sangat indah. Daerah kepulauan yang
berbukit-bukit. Jika dilihat dari tengah laut agak jauh, Tanjung Balai seperti
pulau terapung di laut. Apalagi jika disiang hari, ada pantulan sinar matahari
dari atap seng perumahan, hotel, dan pabrik-pabrik yang terlihat di
pinggir-pinggir kota. Pemandangan yang membuat kota semakin indah.
Tapi bagi orang Tanjung Balai atau Batam, Selatpanjang kota yang
sangat menyenangkan. Katanya Selatpanjang seperti Singapura. Ada banyak
Klenteng hampir di Sepanjang jalan kota-kota utama. Ada juga Hari Raya Imlek
yang mungkin terbesar di Indonesia, ada di Selatpanjang.
Itulah kehidupan. Saling “sawang-sinawang”. Saling
memandang. Yang kita anggap bahagia, belum tentu bahagia. Yang kita anggap
susah belum tentu susah. Pandangan mata terbatas dan mudah tertipu. Apa yang dilihat tidak mesti sesuai dengan kenyataan. Kita bisa mengambil sisi positifnya, bahwa semua itu bisa menjadi modal dasar untuk mengembangkan diri menjadi orang yang senantiasa
berprasangka baik kepada siapapun.
Kanjeng Nabi Muhammad SAW telah bersabda: “Allah ta’ala
berfirman, aku sesuai perasangka hamba-Ku”. “Allah berfirman, “Aku sesuai
persangka hamba-Ku. Maka berprasangkalah kepad-Ku menurut apa yang
dikehendakinya”.”Aku sesuai prasangka hamba-Ku. Jika ia berprasangka baik
kepadaku, maka kebaikan itu untuknya dan jika ia berprasangka buruk, maka itu
untuknya”.”Janganlah salah seorang di antara kalian mati, melainkan ia harus
berhusnudzan pada Allah SWT”.
Kumpulan hadist nabi tersebut di atas memberikan pelajaran berharga
bahwa manusia harus senantiasa berfikir positif terhadap segala kejadian yang
menimpa dirinya dan keluarganya, bahkan juga dalam kontek berbangsa dan
bernegara. Ada dua kejadian bertolak belakang: penderitaan dan kebahagiaan,
kekayaan dan kemiskinan, kesehatan dan sakit, punya jodoh dan belum, punya anak
dan belum. Dua hal tersebut selalu mendapatkan respon yang berbeda-beda dalam
kehidupan sehari-hari. Pada umum nya, orang mendapatkan kenikmatan apapun akan
senang, sedangkan mendapatkan cobaan akan sedih. Itu regulasi umum manusia di
dunia ini.
Kenapa Tuhan dan Nabi Muhammad yang agung mengajarkan untuk tidak
cepat-cepat mengatakan bahwa “miskin” itu penderitaan, “sakit” itu siksaan
hidup, “diputus kekasih” itu adalah bencana hidup, dan segala sesuatu yang
tidak menyenangkan selalu dilihat dari hal-hal yang tidak baik?.
Mari kita telusuri kehidupan yang sebenarnya. Saat anda sedang
menyesali nasib kehidupan yang tidak jelas kapan bisa beli beras, kapan bisa
beli rumah dan sebagainya, pada saat yang sama tiba-tiba anda mendengar melalui
berita di media online, ada berita bahwa orang yang duitnya trilyunan rupiah
disita oleh negara, dan keluarga masuk penjara, serta keluarga besar
mendapatkan sanksi sosial karena perbuatannya tersebut. Apa arti duit
trilyunan, tapi ia menderita lahir batin. Sedangkan anda yang saat sekarang ini
hanya bisa makan ala kadarnya masih diberi kesehatan badan, bisa bekerja
meskipun serabutan, bisa “nglinting” dan hebatnya lagi tidak
pernah sakit jantung. Kadang yang higienis, makan milih-milih, malah lebih dulu
sakit jantung dari anda yang makan “asal ketemu makanan”.
Anda yang saat sekarang ini sedang punya usaha kecil-kecilan dan
sepi pelanggan merasa sangat menderita. Pusing dan mungkin putus asa. Pemasukan
kecil, pengeluaran besar. Masuk seratus ribu, keluar seratus ribu lima rupiah.
Ingat! Di sebelah sana ada orang yang penghasilannya satu bulan 5 milyar, tapi
ia juga punya hutang satu bulan 15 milyar. Pusing mu yang rugi lima rupiah dan
orang yang rugi 10 milyar mungkin sama. Sama-sama pusing 100%. Kamu pusing
karena rugi lima rupiah perhari. Berarti 150 rupiah perbulan rugi. Tetangga
jauh mu rugi 10 milyar perbulan.
Haruskah kualitas pusingnya sama? Saya kira jika sama, anda tidak
adil terhadap diri anda. Masa pusing kehilangan 150 rupiah sama dengan
kehilangan 10 milyar?. Dari sini sebenarnya kita belajar bahwa allah tetap
masih sayang kepada kita meskipun dalam wujud yang tidak menyenangkan. Sebab
kenyataannya, tidak semua yang tidak menyenangkan tidak baik bagi kita. Hanya
saja, sering kita terlalu cepat dan terburu-buru menjustifikasi atau bahkan
menggap semua yang tidak menyenangkan diidentikan dengan penderitaan dan
kehinaan.
Anda tidak apa-apa dianggap “cungkringen”, “kunteten”, atau
“stunting” dan tidak punya tinggi badan yang ideal. Saya benar-benar melihat
ada orang yang sangat gagah secara dhohir. Saya mendekat pada nya, ia pun
mengeluh sangat sedih: “Saya terkena penyakit gula darah selama 10 tahun
lebih. Gula darah nya sangat tinggi, 500”. Saya akhirnya bersyukur saat
saya sedang sakit telinga belum juga sembuh-sembuh. Saya melihat, ia lebih
menderita dariku. Ia harus minum obat kimia dan herbal tanpa putus. Ia harus
menjaga makan dengan sangat ketat. Ia harus olah raga, ia harus hati-hati agar
tidak luka. Aduhhhhh. Saya mendengarkan paparan penyakit yang diderita oleh nya
merinding. Tidak kuat.
Jadi, kita harus bisa menjadi diri kita sendiri. Tidak perlu
ketertangungan kepada orang lain. Semakin tergantung, semakin besar potensi
sakit. Semakin mandiri, semakin sedikit sakit. Sebab kemandirian membuat diri
kita kuat. Seperti anak-anak yang jatuh bangun belajar naik sepeda. Ia akan
jatuh. Pertama sakit, kedua kurang dan selanjutnya sudah tidak merasa sakit
lagi. Toh jika sakit terasa sudah berkurang.
Apakah penderitaan sudah berhenti saat anak-anak sudah bisa naik
sepeda? Tidak. Episode penderitaan akan terus ada sejalan semakin bertambah
umur, bertambah hubungan sosial, dan bertambah kebutuhan serta jabatan atau
derajat kita di tengah-tengah Masyarakat. Tuhan akan terus menghadirkan suatu
ujian hidup agar kita semakin dewasa dan semakin sukses.
Saya yang saat sekarang ini hidup di daerah kepulauan melihat
realita bahwa,”Hanya pelaut ulung yang bisa menaklukan ombak laut yang ganas
dan mengerikan”. Ketika berbicara definisi laut, sejak dulu itu-itu saja ceritanya.
Ia akan dinamis. Kadang tenang setenang malam hari, kadang ia ganas dan
menggulung seluruh benda yang ada di atas nya. Itu gambaran kehidupan.
Kini sudah diujung tahun 2024. Sebentar lagi memasuki tahun 2025. Apa
yang ada di 2024, juga ada di 2025. Sama. Itulah perjalanan sejarah umat
manusia. Ada miskin, kaya, senang, sedih, tua, muda, dan seterusnya. Waktu akan
terus berjalan. Tidak peduli anda yang sedang menunggu malam tahun baru atau
tidak. Waktu tidak menghiraukan anda sedang sehat atau sakit. Semua terkena
hukum nya” mencabut secara pelan-pelan umur anda setiap saat”.
Anda boleh berharap dan wajib berdoa ada kebaikan di tahun baru. Tapi
saya kira anda harus harus berdoa agar “Cinta anda semakin dalam kepada Sang
Pencipta yaitu Allah Swt”. Sebab dengan cinta yang mendalam kepada-nya, anda
semakin siap menghadapi hidup di tahun 2025 yang mungkin tidak sesuai dengan
harapan anda. Tidak apa-apa, yang terpenting anda telah semakin dewasa dan
bijak menghadapi hidup. Sebab hidup yang sebenarnya saat anda semakin mengenal Tuhan
nya.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2942
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872