Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Bermunajat di Akhir Tahun 2024



Rabu , 25 Desember 2024



Telah dibaca :  689

Sudah lama tidak hujan. Pagi ini sangat Istimewa. Hujan sangat deras. Beberapa hari udara terasa deras. Kini terasa sejuk. Terasa ingin tidur, membetulkan selimut. Atau jika tidak bisa tidur, duduk sambil minum kopi dan ditemani gorengan ubi. Sayangnya, kopi tidak ada, ubi pun belum beli. Hanya saja, ada gantinya; ada sepotong roti basah dan secangkir wedang kunyit panas. Kata orang tua dulu, wedang kunyit sangat baik untuk kesehatan lambung.

Pagi ini kami menuju Tanjung Balai Karimun. Kata orang Selatpanjang atau Bengkalis, Tanjung Balai sangat indah. Daerah kepulauan yang berbukit-bukit. Jika dilihat dari tengah laut agak jauh, Tanjung Balai seperti pulau terapung di laut. Apalagi jika disiang hari, ada pantulan sinar matahari dari atap seng perumahan, hotel, dan pabrik-pabrik yang terlihat di pinggir-pinggir kota. Pemandangan yang membuat kota semakin indah.

Tapi bagi orang Tanjung Balai atau Batam, Selatpanjang kota yang sangat menyenangkan. Katanya Selatpanjang seperti Singapura. Ada banyak Klenteng hampir di Sepanjang jalan kota-kota utama. Ada juga Hari Raya Imlek yang mungkin terbesar di Indonesia, ada di Selatpanjang.

Itulah kehidupan. Saling “sawang-sinawang”. Saling memandang. Yang kita anggap bahagia, belum tentu bahagia. Yang kita anggap susah belum tentu susah. Pandangan mata terbatas dan mudah tertipu. Apa yang dilihat tidak mesti sesuai dengan kenyataan. Kita bisa mengambil sisi positifnya, bahwa semua itu bisa menjadi modal dasar untuk mengembangkan diri menjadi orang yang senantiasa berprasangka baik kepada siapapun.

Kanjeng Nabi Muhammad SAW telah bersabda: “Allah ta’ala berfirman, aku sesuai perasangka hamba-Ku”. “Allah berfirman, “Aku sesuai persangka hamba-Ku. Maka berprasangkalah kepad-Ku menurut apa yang dikehendakinya”.”Aku sesuai prasangka hamba-Ku. Jika ia berprasangka baik kepadaku, maka kebaikan itu untuknya dan jika ia berprasangka buruk, maka itu untuknya”.”Janganlah salah seorang di antara kalian mati, melainkan ia harus berhusnudzan pada Allah SWT”.

Kumpulan hadist nabi tersebut di atas memberikan pelajaran berharga bahwa manusia harus senantiasa berfikir positif terhadap segala kejadian yang menimpa dirinya dan keluarganya, bahkan juga dalam kontek berbangsa dan bernegara. Ada dua kejadian bertolak belakang: penderitaan dan kebahagiaan, kekayaan dan kemiskinan, kesehatan dan sakit, punya jodoh dan belum, punya anak dan belum. Dua hal tersebut selalu mendapatkan respon yang berbeda-beda dalam kehidupan sehari-hari. Pada umum nya, orang mendapatkan kenikmatan apapun akan senang, sedangkan mendapatkan cobaan akan sedih. Itu regulasi umum manusia di dunia ini.

Kenapa Tuhan dan Nabi Muhammad yang agung mengajarkan untuk tidak cepat-cepat mengatakan bahwa “miskin” itu penderitaan, “sakit” itu siksaan hidup, “diputus kekasih” itu adalah bencana hidup, dan segala sesuatu yang tidak menyenangkan selalu dilihat dari hal-hal yang tidak baik?.

Mari kita telusuri kehidupan yang sebenarnya. Saat anda sedang menyesali nasib kehidupan yang tidak jelas kapan bisa beli beras, kapan bisa beli rumah dan sebagainya, pada saat yang sama tiba-tiba anda mendengar melalui berita di media online, ada berita bahwa orang yang duitnya trilyunan rupiah disita oleh negara, dan keluarga masuk penjara, serta keluarga besar mendapatkan sanksi sosial karena perbuatannya tersebut. Apa arti duit trilyunan, tapi ia menderita lahir batin. Sedangkan anda yang saat sekarang ini hanya bisa makan ala kadarnya masih diberi kesehatan badan, bisa bekerja meskipun serabutan, bisa “nglinting” dan hebatnya lagi tidak pernah sakit jantung. Kadang yang higienis, makan milih-milih, malah lebih dulu sakit jantung dari anda yang makan “asal ketemu makanan”.

Anda yang saat sekarang ini sedang punya usaha kecil-kecilan dan sepi pelanggan merasa sangat menderita. Pusing dan mungkin putus asa. Pemasukan kecil, pengeluaran besar. Masuk seratus ribu, keluar seratus ribu lima rupiah. Ingat! Di sebelah sana ada orang yang penghasilannya satu bulan 5 milyar, tapi ia juga punya hutang satu bulan 15 milyar. Pusing mu yang rugi lima rupiah dan orang yang rugi 10 milyar mungkin sama. Sama-sama pusing 100%. Kamu pusing karena rugi lima rupiah perhari. Berarti 150 rupiah perbulan rugi. Tetangga jauh mu rugi 10 milyar perbulan.

Haruskah kualitas pusingnya sama? Saya kira jika sama, anda tidak adil terhadap diri anda. Masa pusing kehilangan 150 rupiah sama dengan kehilangan 10 milyar?. Dari sini sebenarnya kita belajar bahwa allah tetap masih sayang kepada kita meskipun dalam wujud yang tidak menyenangkan. Sebab kenyataannya, tidak semua yang tidak menyenangkan tidak baik bagi kita. Hanya saja, sering kita terlalu cepat dan terburu-buru menjustifikasi atau bahkan menggap semua yang tidak menyenangkan diidentikan dengan penderitaan dan kehinaan.

Anda tidak apa-apa dianggap “cungkringen”, “kunteten”, atau “stunting” dan tidak punya tinggi badan yang ideal. Saya benar-benar melihat ada orang yang sangat gagah secara dhohir. Saya mendekat pada nya, ia pun mengeluh sangat sedih: “Saya terkena penyakit gula darah selama 10 tahun lebih. Gula darah nya sangat tinggi, 500”. Saya akhirnya bersyukur saat saya sedang sakit telinga belum juga sembuh-sembuh. Saya melihat, ia lebih menderita dariku. Ia harus minum obat kimia dan herbal tanpa putus. Ia harus menjaga makan dengan sangat ketat. Ia harus olah raga, ia harus hati-hati agar tidak luka. Aduhhhhh. Saya mendengarkan paparan penyakit yang diderita oleh nya merinding. Tidak kuat.

Jadi, kita harus bisa menjadi diri kita sendiri. Tidak perlu ketertangungan kepada orang lain. Semakin tergantung, semakin besar potensi sakit. Semakin mandiri, semakin sedikit sakit. Sebab kemandirian membuat diri kita kuat. Seperti anak-anak yang jatuh bangun belajar naik sepeda. Ia akan jatuh. Pertama sakit, kedua kurang dan selanjutnya sudah tidak merasa sakit lagi. Toh jika sakit terasa sudah berkurang.

Apakah penderitaan sudah berhenti saat anak-anak sudah bisa naik sepeda? Tidak. Episode penderitaan akan terus ada sejalan semakin bertambah umur, bertambah hubungan sosial, dan bertambah kebutuhan serta jabatan atau derajat kita di tengah-tengah Masyarakat. Tuhan akan terus menghadirkan suatu ujian hidup agar kita semakin dewasa dan semakin sukses.

Saya yang saat sekarang ini hidup di daerah kepulauan melihat realita bahwa,”Hanya pelaut ulung yang bisa menaklukan ombak laut yang ganas dan mengerikan”. Ketika berbicara definisi laut, sejak dulu itu-itu saja ceritanya. Ia akan dinamis. Kadang tenang setenang malam hari, kadang ia ganas dan menggulung seluruh benda yang ada di atas nya. Itu gambaran kehidupan.

Kini sudah diujung tahun 2024. Sebentar lagi memasuki tahun 2025. Apa yang ada di 2024, juga ada di 2025. Sama. Itulah perjalanan sejarah umat manusia. Ada miskin, kaya, senang, sedih, tua, muda, dan seterusnya. Waktu akan terus berjalan. Tidak peduli anda yang sedang menunggu malam tahun baru atau tidak. Waktu tidak menghiraukan anda sedang sehat atau sakit. Semua terkena hukum nya” mencabut secara pelan-pelan umur anda setiap saat”.

Anda boleh berharap dan wajib berdoa ada kebaikan di tahun baru. Tapi saya kira anda harus harus berdoa agar “Cinta anda semakin dalam kepada Sang Pencipta yaitu Allah Swt”. Sebab dengan cinta yang mendalam kepada-nya, anda semakin siap menghadapi hidup di tahun 2025 yang mungkin tidak sesuai dengan harapan anda. Tidak apa-apa, yang terpenting anda telah semakin dewasa dan bijak menghadapi hidup. Sebab hidup yang sebenarnya saat anda semakin mengenal Tuhan nya. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872