Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Berpolitik dengan Tuhan



Sabtu , 05 Oktober 2024



Telah dibaca :  288

Judul itu mungkin salah. Nyleneh. Tidak masuk akal. Terserah. Anda mempunyai hak untuk menilai. Tapi itu yang pertama terlintas dalam hati dan pikiranku. Ketika manusia sibuk berpolitik dalam mencapai tujuannya, kenapa tidak berpolitik dengan Tuhan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Hujatul Islam mengistilahkan “agama dan negara” seperti saudara kembar. Serupa tapi tidak sama. Sama tapi tidak serupa. Serupa tapi tidak sama, karena ada beda secara prosedural, agama aturan yang membuat Allah sedangkan negara yang membuat para penguasa. Sama tapi tidak serupa, yaitu sama-sama mengabdi kepada-Nya dengan cara yang berbeda-beda. Istilah sederhananya, sama-sama mencari Ridha Allah swt.

Umpamanya anda melakukan sholat karena Allah. Anda kerja juga karena Allah, beda tetapi nilai nya sama. Tapi ketika sholat karena manusia. Kerja karena Allah, maka kerja mu dilihat oleh Allah sebagai ibadah. Sedang sholat masih belum dianggap maksimal. Menyembah Allah, tapi pencitraan. Ironisnya pencitraan kepada manusia ciptaan Allah.

Sekarang lagi musim pilkada. Anda sebagai calon pemimpin dan pendukungnya sebenarnya saudara kembar; kekuasaan dan agama. Berbeda tapi ada titik temunya. Persoalannya sekarang sama-sama saudara kembar, tetapi yang dicari adalah perbedaannya. Ironisnya lagi, saat semakin jelas perbedaan semakin jelas juga jurang pemisahnya. Ironisnya sudah tidak lagi memperdulikan makna “saudara” lagi. Yang ada malah kepentingan. Apa boleh? Boleh saja. Tapi kepentingan yang berlandaskan pada kesadaran bersama bahwa kita sama-sama saudara kembar.

Saudara kembar anda bukan berhenti pada penisbatan saudara kembaran Qabil atau Habil. Jika berhenti pada titik ini, maka yang terjadi tersebarnya fitnah, permusuhan, perkelahian dan saling membunuh. Qabil tidak peduli, siapa yang dibunuh. Qabil tidak peduli saudara satu kandung atau tidak. Keinginan didapat. hajat didapat. Beres.

Kita boleh berbicara apa saja, atas nama apa saja. Semua kepentingan bisa dibalut atas nama kerakyatan, atas nama keadilan, atas nama agama, atas nama kesholehan, dan atas nama apa saja. Terserah. Kita bisa akrobatik apapun yang kita inginkan. Terserah. Namun kita tidak boleh melupakan saudara kembarnya yaitu agama.

Apakah kita tega berbicara keadilan tetapi harus memfitnah saudaranya. Apakah kita ridha menjatuhkan saudara kita saat Allah tidak meridhai perbuatan kita. Apakah kita berbicara atas nama agama sedangkan yang kita serang sebenarnya satu agama. Apakah kita harus berbicara kualitas iman anda sedangkan, penilaian keimanan adalah hak preogatif Tuhan. Apakah kita akan berlagak melebihi Tuhan kita?

Boleh lah berpolitik dengan Tuhan, tapi jangan sampai mengangkangi Tuhan. Berpolitik dengan Tuhan, adalah menata hati dan memperbaiki niat yang tulus dalam setiap ucapan, pikiran dan tindakan. Mungkin itu sangat sulit. Gesekan kepentingan tidak bisa terelakan. Percikan-percikan api ketidaksukaan “ujug-ujug”muncul dalam hati. Hanya saja, Tuhan telah mengajarkan kepada kita “Jangan sampai kebencian kita kepada suatu kaum (pasangan calon lain) menjadi kita tidak bisa berlaku adil”.

Maknanya apa? Kita sekarang dipersilahkan untuk melaksanakan episode kontestasi. Saat persaingan telah usai, maka semua akan kembali seperti semula. Mereka yang kita benci bisa jadi menjadi sahabat. Begitu juga sebaliknya. Itu bisa terjadi dan sangat mungkin. Namun yang perlu diingat, kita telah meninggalkan jejak digital yang mungkin sangat kelam dengan ujaran kebencian, hoax, permusuhan, fitnah dan sejenisnya. Bicara tanpa data. Narasi hanya sebatas mencurahkan kebencian yang terpendam dalam hati.

Berpolitik dengan tuhan sebenarnya berpolitik seperti layak anak-anak kecil. Mereka bermain, bersendau gurau, kadang tegang urat leher, kadang marah-marah, tapi hanya sebatas saat permainan. Tidak sampai masuk ke dalam hati. Hari berikutnya “bermain bersama lagi”.

Silahkan para calon pemimpin menawarkan ide-ide terbaiknya. Silahkan para tim sukses mem-back up sebaik mungkin calon jagoannya. Tapi ingat, semua ada akhirnya. Semua akan bertemu. Semua akan “rangkul-rangkulan”. Semua tersenyum dengan beragam warna senyum. Dan hanya senyum yang tulus akan menjadi saksi sejarah bahwa kita bersaing dalam kontestasi pilkada benar-benar senyum tulus dari hati yang paling dalam. Sebab semua menyadari, jabatan sudah tertulis di lauhul Mahfud. Kita sebatas menjalankan episode kehidupan melalui proses politik. Dan itu sebenarnya proses amal sholeh kita. Bukan menangnya, dan juga bukan kalahnya. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4550


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875