
Judul itu mungkin salah. Nyleneh. Tidak
masuk akal. Terserah. Anda mempunyai hak untuk menilai. Tapi itu yang pertama
terlintas dalam hati dan pikiranku. Ketika manusia sibuk berpolitik dalam
mencapai tujuannya, kenapa tidak berpolitik dengan Tuhan untuk mencapai tujuan
yang diinginkan.
Hujatul Islam mengistilahkan “agama dan
negara” seperti saudara kembar. Serupa tapi tidak sama. Sama tapi tidak serupa.
Serupa tapi tidak sama, karena ada beda secara prosedural, agama aturan yang
membuat Allah sedangkan negara yang membuat para penguasa. Sama tapi tidak
serupa, yaitu sama-sama mengabdi kepada-Nya dengan cara yang berbeda-beda.
Istilah sederhananya, sama-sama mencari Ridha Allah swt.
Umpamanya anda melakukan sholat karena Allah.
Anda kerja juga karena Allah, beda tetapi nilai nya sama. Tapi ketika sholat
karena manusia. Kerja karena Allah, maka kerja mu dilihat oleh Allah sebagai
ibadah. Sedang sholat masih belum dianggap maksimal. Menyembah Allah, tapi
pencitraan. Ironisnya pencitraan kepada manusia ciptaan Allah.
Sekarang lagi musim pilkada. Anda sebagai
calon pemimpin dan pendukungnya sebenarnya saudara kembar; kekuasaan dan agama.
Berbeda tapi ada titik temunya. Persoalannya sekarang sama-sama saudara kembar,
tetapi yang dicari adalah perbedaannya. Ironisnya lagi, saat semakin jelas
perbedaan semakin jelas juga jurang pemisahnya. Ironisnya sudah tidak lagi
memperdulikan makna “saudara” lagi. Yang ada malah kepentingan. Apa boleh?
Boleh saja. Tapi kepentingan yang berlandaskan pada kesadaran bersama bahwa
kita sama-sama saudara kembar.
Saudara kembar anda bukan berhenti pada
penisbatan saudara kembaran Qabil atau Habil. Jika berhenti pada titik ini,
maka yang terjadi tersebarnya fitnah, permusuhan, perkelahian dan saling
membunuh. Qabil tidak peduli, siapa yang dibunuh. Qabil tidak peduli saudara
satu kandung atau tidak. Keinginan didapat. hajat didapat. Beres.
Kita boleh berbicara apa saja, atas nama
apa saja. Semua kepentingan bisa dibalut atas nama kerakyatan, atas nama
keadilan, atas nama agama, atas nama kesholehan, dan atas nama apa saja.
Terserah. Kita bisa akrobatik apapun yang kita inginkan. Terserah. Namun kita
tidak boleh melupakan saudara kembarnya yaitu agama.
Apakah kita tega berbicara keadilan tetapi
harus memfitnah saudaranya. Apakah kita ridha menjatuhkan saudara kita saat Allah
tidak meridhai perbuatan kita. Apakah kita berbicara atas nama agama sedangkan
yang kita serang sebenarnya satu agama. Apakah kita harus berbicara kualitas
iman anda sedangkan, penilaian keimanan adalah hak preogatif Tuhan. Apakah kita
akan berlagak melebihi Tuhan kita?
Boleh lah berpolitik dengan Tuhan, tapi
jangan sampai mengangkangi Tuhan. Berpolitik dengan Tuhan, adalah menata hati
dan memperbaiki niat yang tulus dalam setiap ucapan, pikiran dan tindakan. Mungkin
itu sangat sulit. Gesekan kepentingan tidak bisa terelakan. Percikan-percikan
api ketidaksukaan “ujug-ujug”muncul dalam hati. Hanya saja, Tuhan telah
mengajarkan kepada kita “Jangan sampai kebencian kita kepada suatu kaum
(pasangan calon lain) menjadi kita tidak bisa berlaku adil”.
Maknanya apa? Kita sekarang dipersilahkan
untuk melaksanakan episode kontestasi. Saat persaingan telah usai, maka semua
akan kembali seperti semula. Mereka yang kita benci bisa jadi menjadi sahabat. Begitu
juga sebaliknya. Itu bisa terjadi dan sangat mungkin. Namun yang perlu diingat,
kita telah meninggalkan jejak digital yang mungkin sangat kelam dengan ujaran
kebencian, hoax, permusuhan, fitnah dan sejenisnya. Bicara tanpa data. Narasi hanya
sebatas mencurahkan kebencian yang terpendam dalam hati.
Berpolitik dengan tuhan sebenarnya
berpolitik seperti layak anak-anak kecil. Mereka bermain, bersendau gurau,
kadang tegang urat leher, kadang marah-marah, tapi hanya sebatas saat permainan.
Tidak sampai masuk ke dalam hati. Hari berikutnya “bermain bersama lagi”.
Silahkan para calon pemimpin menawarkan
ide-ide terbaiknya. Silahkan para tim sukses mem-back up sebaik mungkin calon
jagoannya. Tapi ingat, semua ada akhirnya. Semua akan bertemu. Semua akan “rangkul-rangkulan”.
Semua tersenyum dengan beragam warna senyum. Dan hanya senyum yang tulus akan
menjadi saksi sejarah bahwa kita bersaing dalam kontestasi pilkada benar-benar
senyum tulus dari hati yang paling dalam. Sebab semua menyadari, jabatan sudah
tertulis di lauhul Mahfud. Kita sebatas menjalankan episode kehidupan
melalui proses politik. Dan itu sebenarnya proses amal sholeh kita. Bukan menangnya,
dan juga bukan kalahnya.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4550
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2948
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875