Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Bisakah Lagu Gombloh Menjadi Lagu Nasional ?



Sabtu , 17 Agustus 2024



Telah dibaca :  917

Hari ini saya mengikuti dua acara peringatan hari kemerdekaan ke-79. Pagi hari di STAIN Bengkalis. Pagi hari sudah gerimis mendekati hujan. Ada yang berharap hujan berlanjut, tidak jadi upacara. Ada yang berdoa agar hujan berhenti. Cuaca sudah sangat gelap. Pesimis. Toh berdoa tetap juga hujan. Ma’lum STAIN tidak punya alat rekayasa hujan. Hanya Cuma satu, doa. Ada juga yang berharap tetap dilaksanakan dengan merubah tempat acara. Semula di lapangan STAIN, dipindah ke Gedung SBSN lantai tiga. Pak Imam Hakim mengirim di grup ASN foto cuaca yang kurang mendukung. Katanya, “Melihat sikon cuaca, apa tidak sebaiknya upacara dipindah ke Gedung?”. Pertanyaan sekaligus Solusi. Tapi saya baru membaca setelah upacara selesai. tidak sempat membuka HP. Selain kondisi tubuh masih “nggliyeng” demam, saya duduk sambil mengheningkan seorang diri,”semoga hujan istirahat sebentar”. Alhamdulillah, hujan pun berhenti. Entah doa siapa. Mungkin ada doa waliyullah atau orang-orang lugu dan lurus. Mungkin juga doaku. Tapi haruskah saya terus demam agar doa makbul?. Ah, kenapa malah jadi mikir tidak baik. Astaghfirullah.

Cuaca pagi itu memang terlihat sendu dan lesu. Wajah-wajah kurang ceria, terutama unsur pimpinan. Kurang semangat. Sebagian mereka sangat optimis. Mereka mengabadikan diri melalui foto androidnya. Saya tidak sempat berfoto. Saya menatap papan nama dosen, ormawa, mahasiswa, tendik dan darmawanita yang masih kosong. Saya cek petugas, sudah kumplit. Ada MC, Dirigen, Pembaca Pembukaan UUD 1945 dan doa. Sayangnya, kursi belum ada. Gelisah, terutama mas samsul. Ma’lum dia bagian perlengkapan. Entah ngomel-ngomel apa saya kurang jelas. Mas rahmat menjadi sasaran. Ma’lum kunci kantor P3M masih tertutup, padahal acara sudah hampir dimulai. Rahmat sebagai juru kunci kehujanan di perjalanan menuju STAIN.

Saya sedih, tapi gara-gara melihat peristiwa tersebut jadi tersenyum. Itulah manusia. Tidak ada yang sempurna. Kesempurnaan hanya bisa dibentuk dengan kerjasama dan terus memperbaiki secara terus-menerus.

Sekali lagi, acara selesai dengan baik. MC nya baik, pembaca UUD 1945 baik, komandan upaca baik, dan dirigen nya juga baik. Saat Ia naik tangga sampai  lagu berlangsung, saya melirik memastikan kemampuannya. Alhamdulillah cukup baik. Selesai acara, saya menemui nya dan mengucapkan terima kasih. Di grup WA pun saya sudah mengucapkan terima kasih atas dedikasi yang tinggi dalam memulyakan hari kemerdekaan ke-79.

Sore hari, saya mengikuti penurunan bendera di Kantor Pemda Kepulauan Meranti. Duduk bagian deret depan dengan Forkompinda. Duduk di kursi VIP tambah bingung. Tidak bisa ngobrol dan merokok. Selain itu, kondisi badan kurang fit. Apalagi pas berdiri pada prosesi penurunan bendera. Sangat lama sekali. Badan sudah keluar keringat dingin. Hampir saja pingsan. Untung saja masih bisa bertahan sampai selesai. Saya langsung duduk. Selesai acara, Sekda duduk disampingku. Ngobrol seperti kawan lama. Sudah lama tidak ketemu, jadi asik ngobrol sekitar 20 menit.

Ada catatan kecil saat penurunan bendera di sore hari. Saat melihat bendera dengan iringan drumb band Satpol PP, terdengar ada suasana semangat perjuangan yang mendalam. Imajinasiku langsung pada saat perjuangan merebut kemerdekaan. Betapa berat perjuangan para pendiri bangsa mewujudkan negara yang merdeka.

Entah kenapa saya jadi teringat lagu gombloh. Ia bukan lagu nasional. Tapi ruhnya menembus nasionalisme sampai ke sumsum tubuh.

Salah satu bait lagu nya gombloh:

Indonesia, merah darah ku, putih tulangku,

Bersatu dalam semangat mu,

Indonesia debar jantungku, getar nadiku

Berbaur dalam angan-anganmu,

Kebyar-kebyar Pelangi jingga,

Indonesia nada laguku,

Symphoni perteguh,

Selaras dengan symphonimu,

Kebyar-kebyar Pelangi jingga

Dipembatas lirik lagu, ada kalimat yang sangat nasinalisme yang tidak kalah dengan syair tersebut. Begini bunyinya:

Biarpun langit bergoncang, kau tetap Indonesia ku

Andaikan matahari terbit dari barat, kau pun Indonesia ku

Tak sebilah pedang yang tajam,dapat palingkan daku darimu.

Saya sangat merasakan nasionalisme tumbuh saat mendengar lagu tersebut. lirik lagunya, musiknya, dan penyanyinya yang kumis dan jenggot panjang tidak terawat serta tubungan kurus kerempeng menggambarkan nasionalisme sangat tinggi dari segala keterbatasan yang ada padanya. Dari gombloh seolah-olah dia berpesan, “Lihat aku,kurus dan tubuh tinggal tulang, dan hidupku belum jelas nasibnya, sangat mencintai bangsa dan negara Indonesia. Kenapa kalian yang telah menikmati jerih payah para pahlawan malah merusak cita-cita pada pendiri bangsa!!!.

Dari sini, saya kira lagu gombloh pantas menjadi lagu nasional.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

Imam hakim

Sampean dan Gombloh Nasonalis sejati Gus...ra pamer ra pamrih..masya allaah..

   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876