
Hari ini saya mengikuti dua acara peringatan
hari kemerdekaan ke-79. Pagi hari di STAIN Bengkalis. Pagi hari sudah gerimis
mendekati hujan. Ada yang berharap hujan berlanjut, tidak jadi upacara. Ada yang
berdoa agar hujan berhenti. Cuaca sudah sangat gelap. Pesimis. Toh berdoa tetap
juga hujan. Ma’lum STAIN tidak punya alat rekayasa hujan. Hanya Cuma satu, doa.
Ada juga yang berharap tetap dilaksanakan dengan merubah tempat acara. Semula di
lapangan STAIN, dipindah ke Gedung SBSN lantai tiga. Pak Imam Hakim mengirim di
grup ASN foto cuaca yang kurang mendukung. Katanya, “Melihat sikon cuaca,
apa tidak sebaiknya upacara dipindah ke Gedung?”. Pertanyaan sekaligus Solusi.
Tapi saya baru membaca setelah upacara selesai. tidak sempat membuka HP. Selain
kondisi tubuh masih “nggliyeng” demam, saya duduk sambil mengheningkan
seorang diri,”semoga hujan istirahat sebentar”. Alhamdulillah, hujan pun
berhenti. Entah doa siapa. Mungkin ada doa waliyullah atau orang-orang lugu dan
lurus. Mungkin juga doaku. Tapi haruskah saya terus demam agar doa makbul?. Ah,
kenapa malah jadi mikir tidak baik. Astaghfirullah.
Cuaca pagi itu memang terlihat sendu dan
lesu. Wajah-wajah kurang ceria, terutama unsur pimpinan. Kurang semangat. Sebagian
mereka sangat optimis. Mereka mengabadikan diri melalui foto androidnya. Saya tidak
sempat berfoto. Saya menatap papan nama dosen, ormawa, mahasiswa, tendik dan
darmawanita yang masih kosong. Saya cek petugas, sudah kumplit. Ada MC, Dirigen,
Pembaca Pembukaan UUD 1945 dan doa. Sayangnya, kursi belum ada. Gelisah,
terutama mas samsul. Ma’lum dia bagian perlengkapan. Entah ngomel-ngomel apa
saya kurang jelas. Mas rahmat menjadi sasaran. Ma’lum kunci kantor P3M masih
tertutup, padahal acara sudah hampir dimulai. Rahmat sebagai juru kunci
kehujanan di perjalanan menuju STAIN.
Saya sedih, tapi gara-gara melihat peristiwa
tersebut jadi tersenyum. Itulah manusia. Tidak ada yang sempurna. Kesempurnaan hanya
bisa dibentuk dengan kerjasama dan terus memperbaiki secara terus-menerus.
Sekali lagi, acara selesai dengan baik. MC nya
baik, pembaca UUD 1945 baik, komandan upaca baik, dan dirigen nya juga
baik. Saat Ia naik tangga sampai lagu
berlangsung, saya melirik memastikan kemampuannya. Alhamdulillah cukup baik. Selesai
acara, saya menemui nya dan mengucapkan terima kasih. Di grup WA pun saya sudah
mengucapkan terima kasih atas dedikasi yang tinggi dalam memulyakan hari
kemerdekaan ke-79.
Sore hari, saya mengikuti penurunan bendera
di Kantor Pemda Kepulauan Meranti. Duduk bagian deret depan dengan Forkompinda.
Duduk di kursi VIP tambah bingung. Tidak bisa ngobrol dan merokok. Selain itu,
kondisi badan kurang fit. Apalagi pas berdiri pada prosesi penurunan bendera. Sangat
lama sekali. Badan sudah keluar keringat dingin. Hampir saja pingsan. Untung saja
masih bisa bertahan sampai selesai. Saya langsung duduk. Selesai acara, Sekda
duduk disampingku. Ngobrol seperti kawan lama. Sudah lama tidak ketemu, jadi
asik ngobrol sekitar 20 menit.
Ada catatan kecil saat penurunan bendera di
sore hari. Saat melihat bendera dengan iringan drumb band Satpol PP, terdengar
ada suasana semangat perjuangan yang mendalam. Imajinasiku langsung pada saat perjuangan
merebut kemerdekaan. Betapa berat perjuangan para pendiri bangsa mewujudkan
negara yang merdeka.
Entah kenapa saya jadi teringat lagu
gombloh. Ia bukan lagu nasional. Tapi ruhnya menembus nasionalisme sampai ke
sumsum tubuh.
Salah satu bait lagu nya gombloh:
Indonesia, merah darah ku, putih tulangku,
Bersatu dalam semangat mu,
Indonesia debar jantungku, getar nadiku
Berbaur dalam angan-anganmu,
Kebyar-kebyar Pelangi jingga,
Indonesia nada laguku,
Symphoni perteguh,
Selaras dengan symphonimu,
Kebyar-kebyar Pelangi jingga
Dipembatas lirik lagu, ada kalimat yang
sangat nasinalisme yang tidak kalah dengan syair tersebut. Begini bunyinya:
Biarpun langit bergoncang, kau tetap Indonesia
ku
Andaikan matahari terbit dari barat, kau
pun Indonesia ku
Tak sebilah pedang yang tajam,dapat
palingkan daku darimu.
Saya sangat merasakan nasionalisme tumbuh
saat mendengar lagu tersebut. lirik lagunya, musiknya, dan penyanyinya yang
kumis dan jenggot panjang tidak terawat serta tubungan kurus kerempeng menggambarkan
nasionalisme sangat tinggi dari segala keterbatasan yang ada padanya. Dari gombloh
seolah-olah dia berpesan, “Lihat aku,kurus dan tubuh tinggal tulang, dan
hidupku belum jelas nasibnya, sangat mencintai bangsa dan negara Indonesia. Kenapa
kalian yang telah menikmati jerih payah para pahlawan malah merusak cita-cita pada
pendiri bangsa!!!.
Dari sini, saya kira lagu gombloh pantas
menjadi lagu nasional.
Penulis : Imam Ghozali
Imam hakim
Sampean dan Gombloh Nasonalis sejati Gus...ra pamer ra pamrih..masya allaah..
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3569
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876