
Kemenangan timnas Indonesia atas Thailand sangat
dramatis dan fantastis. Ini peristiwa bersejarah. Andai saja pemenangnya timnas
Thailand, saya bisa membayangkan ada ribuan gadis berkulit putif dan bermata
sipit dengan pakaian yang menggoda dan para pemuda turun ke jalananan dengan
mengibarkan bendera kecil di tangan mereka untuk menyambut pahlawan negara. Anda
saja ini terjadi di Arab Saudi, saya hanya bisa membayangkan wanita-wainta
cantik nya membuat stiker bendera negara yang bertulis kalimat tauhid di pipi
mereka dengan gaya sangat “kemayu” dengan tubuhnya dibalut oleh baju
berwarna khas; putih dan hijau. Ini imajiner saya atas penantian panjang selama
32 tahun. Bayangkan, Indonesia harus puasa selama itu untuk mendedikasikan diri
sebagai sang juara. Ini sebanding dengan penantian panjang kaum reformis dalam
menumbangkan penguasa otoriter Orde
Baru. Jika melihat file sejarah di televiisi, wajah terlihat sangat bahagia
para tokoh seperti Amien Rais, Gus Dur, Megawati dan tokoh-tokoh lain, para
aktivis dan para mahasiswa sebagai penggerok lokomotif demokrasi.Semua tumpah
ruah di jalan menyambut hari lahir kedua mereka sebagai manusia yang bebas
berjalan untuk apa dan bagaimana. Sebab hari kelahiran pertama dari rahim ibu
belum sempurna. Memang bisa jalan dan lari kemana saja-termasuk “cemplungan”
di parit atau kalen di pinggir Sawah. Pulang lalu di “ujel-ujel”
sama ibu nya disuruh pergi mandi. Jadi, wajar sekali jika mereka bahagia
menyambut peristiwa bersejarah tersebut.
Sekali lagi kemenangan di Stadion Sepak
Bola Phnom Penh Kamboja ini penantian sangat panjang. Sepanjang sejarah, Timnas Indonesia baru tiga
kali (seingat saya) sepak boleh menang di Sea-Games yaitu tahun 1987, 1991, dan 2023. Tahun 1987 saya masih MI di era Orde Baru. Tahun
1991 masih Orde Baru, saya kelas satu Aliyah. Soeharto berkuasa selama 32 tahun
telah menoreh dua kali kemenangan di Sea-Games. Jokowi hampir sekitar Sembilan
tahun bisa mengantarkan juara. Luar biasa !!!. Sebenarnya pak Joko Widodo bisa
bersendau gurau (kalau bangga pasti tak usah ditanya lagi) ketika ada wartawan
tanya begini, “Bagaimana pendapat bapak presiden tentang kemenangan U-22 di Kamboja?”.
Jika saya sebagai pak Jokowi akan menjawab begini, “Jika saya ditambah lagi
satu periode, saya pastikan juara satu kali lagi, hhhhh”. Tapi Jokowi tidak
mau, karena ini melanggar konstitusi.
Tahun Politik
Semua Jadi Warna Politik
Kenapa (perasaan saya ) sambutan
masyarakat kurang bergairah atas kemenangan yang spektakuler. Bayangkan broo,
kemenangan nya tidak “baen-baen”, skor “5-2”. Musuhnya adalah timnas
Thailand. Dalam sejarah, selalu saja “klenger” jika melawan timnas Gajah Putih. Karena terlalu sering kalah,
sampai alam bawah sadar saya selalu mengatakan “pasti kalah” timnas garuda
(karena terlalu sering kalah sih). Sudah berkali-kali dengan timnas ini (selain
Vietnam dan Malaysia) selalu saja runner up. Sampai-sampai ada teman saya
mengaitkan kekalahan tersebut karena qadha dan qadar Alloh, bahwa timnas
Indonesia sudah ditulis di lauh al-mahfud hanya ada “runner up”. Teman saya
memang termasuk golongan “para bonek” yang sering kena “bentak” istrinya,
sehingga jiwa tawakal dan pasrah kepada Allah semakin tinggi,termasuk pada
persoalan sepak bola. Bahkan ada lagi yang lebih ekstrem, ada teman saya ingin
mencari Dukun Santet agar saat main sepak bola, timnas Thailand di santet pakai
santet “Semur Jengkol”, agar perut mules dan kembung.
Bisa jadi kurang semangat menyambut
kemenangan ini, akibat polarisasi politik praktis di tengah masyarakat pada
masa lalu dan masih terasa sampai saat ini. Artinya sikap politik sebagai
sebuah kepentingan harus terlihat beda atau antithesis terhadap apa yang tidak
disuka. Itu sebabnya, segala perangkat nya digunakan untuk menggerakan
kepentingan-kepentingan tersebut tanpa melihat benar atau salah. Komentar dan
analisis yang terlihat ilmiah sekalipun diproduksi sebatas untuk menguntungkan
diri sendiri dan kelompok. Maka wajar saja, masyarakat selalu dijejali suatu
perdebatan kontrakdiktif dan kedua nya menggunakan kekuatan-kekuatan politik
massa untuk saling menyerang dan membela.
Begitu seterusnya.
Masyarakat tidak berkecimpung dalam
dunia politik atau pun agak sedikit terserempet “bau-bau politik” masih bisa melakukan
“tepuk-tangan” untuk menunjukan wujud kegembiraan atas keberhasilan suatu
prestasi. Itupun masih pilih-pilih. Ironis memang. Saya kadang iri terhadap
penghargaan orang barat dalam memberikan respon spontanitas atas kesuksean
orang lain. Ada satu sisi pola kehidupan yang sampai hari ini saya kagumi,
yaitu pola kebiasaan “standing applause” yaitu tepuk tangan sambil
berdiri. Saya pernah melihat video youtube penyanyi cilik Celine Tam pada acara
America’s Got Talent. Dia membawakan lagu berjudul “my heart will go on”
nya milik Celine Dion. Waktu tampil di acara itu, terlihat masih anak-anak.
Mungkin berumur sekitar 10 tahun. Saya yang hanya melihat melalui youtube pun
terbawa emosi dan hanyut dalam suasana keharuan yang mendalam sampai-sampai
hampir meneteskan air mata. Bukan karena meresapi lirik-lirik kerinduaan yang
mendalam seorang kekasih, “ far across the distance, and space between us..”
di lanjutkan kalimat yang sangat sedih, “ I believe that the heart does go
on”, saya percaya hati ini akan bertahan. Tapi saya melihat sambutan tulus
dari para penonton. Saat lagu belum selesai dinyanyikan, seluruh penonton yang
ada diruangan tersebut sepontanitas berdiri dan memberi aplaus luar biasa. Sang
ibu dari Celine Tam tidak kuasa menahan tangis penuh kebanggan terhadap anak
nya.
Saya kira kita memang harus belajar
memisahkan persoalan politik praktis dengan politik kebangsaan. Politik praktis
persoalan parsial dan kelompok. Sedang persoalan politik kebangsaan adalah
kolektivitas yang melintasi di atas politik praktis. Pada moment tertentu, kita
terkadang tidak harus melihat siapa mereka dan seperti apa serta bagaimana. Ada
suatu kesadaran yang perlu dibangun dan seharusnya menjadi tradisi untuk
membiasakan senang dan memberi penghargaan ketika melihat orang lain sukses
dalam kehidupan sehari-hari. Sebab apapun dan bagaimanapun, persoalan politik
dan kekuasaan memang punya seni berbeda dengan bidang-bidang lainya. Tapi semua
nya mempunyai denyut nadi dan getaran hati yang sama yaitu sama-sama mencintai bangsa.
Tangan Dingin
Erik Tohir
Follower Erik Tohir di Twitter
setelah kemenangan Timnas di Sea-Game 2023 meningkat pesat. Padahal sebelum nya
“digebug” gara-gara batal nya piala dunia U-20 di Indonesia karena
persoalan timnas Yahudi. Namun kemenangan di Kamboja kelihatanya telah menjadi
obat mujarab bagi nya. Biasanya di Twitter nya yang like tidak lebih dari 1000
follower. Kini follower Erik Thohir meningkat. Unggahan gambar Erik Thohir sedang
berdoa sudah 8000-an. Unggahan ucapan selamat kemenangan dengan background
timnas U-22 dan pelatih Indra Sjafir meningkat dratis sebanyak 61 ribuan lebih
yang memberi “like”. Belum yang lain-lain sama, meningkat tajam.
Penulis artikel ini menilai
kelihatanya teamwork yang dibentuk oleh Erik Thohir betah. Dalam pikiran
dan hati saya pernah “mbatin”, bahwa sepak bola jika dipegang oleh nya
bagus. Itu batin saya yang sebenarnya terlalu overacting karena
mencampuri pandangan pengamat persepakbolaan. Sebab untuk membangun spirit
sebagai manusia tangguh dan sukses tidak sebatas slogan. Saya ingat dia belum lama
diangkat menjadi ketua PSSI. Saya pun masih ingat sebelumnya pernah menulis
artikel Erik Thohir tentang PSSI juga. Jarak antara belum lama dan membenahi
keadaan PSSI yang konon sebelumnya amburadul (hal ini karena pelaporan keuangan
tidak ada). Namun dia mampu membangkitkan anak-anak muda menjad seorang jiwa pemenang.
Suatu prestasi yang menurut saya sangat luarbiasa.
Ada suatu kalimat yang saya agak
lupa ketika memberi semangat kepada timnas Indonesia. Erik Thohir dengan gaya
humble dan bersahabat mengatakan,”jangan kamu lihat lawan, tapi konsentrasi
untuk menang”. Saya kira ini suatu pesan luarbiasa. Ini bisa ditiru dan kalau
bisa jika anda ingin sukses perlu ditulis besar-besar di buku kuliah anda, atau
menjadi amalan setelah sholat lima waktu dan dibaca berulang-ulang.
Kita mungkin lupa sejarah Islam.
Tapi Erik Thohir mampu menangkap sejarah kehebatan Islam pada masa dulu. Para guru-guru
sejarah Islam tentu telah mengetahui peristiwa perang badar. Jumlah kekuatan
yang tidak seimbang. Para sahabat nabi sebagaimana kita pada umum nya berfikir
realistis. Jika berkelahir 1 lawan 5, pasti satu kalah. Nabi tidak berfikir
tentang kuantitas, tapi kualitas baik kualitas skill, fisik dan tidak kalah
pentingnya adalah sandaran secara totalitas kepada Allah s.w.t. jika ini
dilakukan, maka semua lawan terlihat menjadi kecil. Saat sudah melihat cara
berfikir seperti ini, maka jalan untuk menang terbuka.
Suka, Duka (jangan
lupa ber-doa) dalam Dunia Sepak Bola
Sejarah panjang oleh raga sepak bola
di Indonesia memang penuh cerita yang beragam. Para Begawan sepak bola telah
memberikan tentang strategi jitu untuk menjadi sang juara; mulai naturalisasi
para pemain bermata biru berbadan tinggi agar tidak terlihat pendek para pemain
Indonesia sampai pada mencari pelatih dari barat. Mungkin karena semangat
terlalu tinggi ingin memajukan kualitas sepak bola, semua yang merasa mampu
ramai-ramai ingin menjadi pengurus pssi dan ujung-ujungnya terjadi konflik
kepentingan. Akibatnya, dunia sepak bola menjadi korban lagi.
Keberhasilan Timnas saat ini tentu
bukan semata-mata hasil kerja Erik Thohir dan tim nya yang masih se-umur
jagung. Namun dia telah meletakan nilai-nilai filosofis kehidupan yang sangat
mempengaruhi jiwa para pemain untuk siap sedia menelusuri jalan-jalan
kesuksesan yang tidak mudah. Mereka juga tahu untuk mencapai suatu tangga
kesuksesan tertinggi ada ujian yang tidak mudah ditundukan. Mereka telah
berhasil menundukan diri sendiri akan ketakutan, dan melimpah semangat patriotisme
di dada nya. Hasil nya adalah kemenangan.
Lagi-lagi dunia bola adalah dunia kehidupan.
Orang bijak sering mengatakan tidak selama posisi berada di puncak secara
terus-menerus. Suatu saat ada masa-masa apa yang disebut “kegagalan” akibat
dari segala persoalan dan kesalahan. Itu sudah watak manusia untuk menunjukan
bahwa setiap manusia ada kekuranganya. Tentu tidak ada yang membahagiakan bagi kehidupan
sosial adalah kebersamaan dalam suka dan duka. Jika hari ini, timnas sebagai
kemenangan bangsa Indonesia, sudah sepantasnya kita berbahagia atas prestasi
yang luarbiasa ini. Namun suatu masa datang musim kemarau dan pacelik, yang
diharapkan adalah tetap beratu padu membangun kebersamaan dalam menghadapi dan
melalui segala ujian. Bukankah demikian?
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4565
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3577
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2979
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879