Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Bola antara Suka, Duka dan Doa



Rabu , 17 Mei 2023



Telah dibaca :  433

Kemenangan timnas Indonesia atas Thailand sangat dramatis dan fantastis. Ini peristiwa bersejarah. Andai saja pemenangnya timnas Thailand, saya bisa membayangkan ada ribuan gadis berkulit putif dan bermata sipit dengan pakaian yang menggoda dan para pemuda turun ke jalananan dengan mengibarkan bendera kecil di tangan mereka untuk menyambut pahlawan negara. Anda saja ini terjadi di Arab Saudi, saya hanya bisa membayangkan wanita-wainta cantik nya membuat stiker bendera negara yang bertulis kalimat tauhid di pipi mereka dengan gaya sangat “kemayu” dengan tubuhnya dibalut oleh baju berwarna khas; putih dan hijau. Ini imajiner saya atas penantian panjang selama 32 tahun. Bayangkan, Indonesia harus puasa selama itu untuk mendedikasikan diri sebagai sang juara. Ini sebanding dengan penantian panjang kaum reformis dalam menumbangkan penguasa otoriter  Orde Baru. Jika melihat file sejarah di televiisi, wajah terlihat sangat bahagia para tokoh seperti Amien Rais, Gus Dur, Megawati dan tokoh-tokoh lain, para aktivis dan para mahasiswa sebagai penggerok lokomotif demokrasi.Semua tumpah ruah di jalan menyambut hari lahir kedua mereka sebagai manusia yang bebas berjalan untuk apa dan bagaimana. Sebab hari kelahiran pertama dari rahim ibu belum sempurna. Memang bisa jalan dan lari kemana saja-termasuk “cemplungan” di parit atau kalen di pinggir Sawah. Pulang lalu di “ujel-ujel” sama ibu nya disuruh pergi mandi. Jadi, wajar sekali jika mereka bahagia menyambut peristiwa bersejarah tersebut.

Sekali lagi kemenangan di Stadion Sepak Bola Phnom Penh Kamboja ini penantian sangat panjang.  Sepanjang sejarah, Timnas Indonesia baru tiga kali (seingat saya) sepak boleh menang di Sea-Games yaitu tahun 1987, 1991, dan 2023. Tahun 1987 saya masih MI di era Orde Baru. Tahun 1991 masih Orde Baru, saya kelas satu Aliyah. Soeharto berkuasa selama 32 tahun telah menoreh dua kali kemenangan di Sea-Games. Jokowi hampir sekitar Sembilan tahun bisa mengantarkan juara. Luar biasa !!!. Sebenarnya pak Joko Widodo bisa bersendau gurau (kalau bangga pasti tak usah ditanya lagi) ketika ada wartawan tanya begini, “Bagaimana pendapat bapak presiden tentang kemenangan U-22 di Kamboja?”. Jika saya sebagai pak Jokowi akan menjawab begini, “Jika saya ditambah lagi satu periode, saya pastikan juara satu kali lagi, hhhhh”. Tapi Jokowi tidak mau, karena ini melanggar konstitusi.

Tahun Politik Semua Jadi Warna Politik

Kenapa (perasaan saya ) sambutan masyarakat kurang bergairah atas kemenangan yang spektakuler. Bayangkan broo, kemenangan nya tidak “baen-baen”, skor “5-2”. Musuhnya adalah timnas Thailand. Dalam sejarah, selalu saja “klenger” jika melawan timnas  Gajah Putih. Karena terlalu sering kalah, sampai alam bawah sadar saya selalu mengatakan “pasti kalah” timnas garuda (karena terlalu sering kalah sih). Sudah berkali-kali dengan timnas ini (selain Vietnam dan Malaysia) selalu saja runner up. Sampai-sampai ada teman saya mengaitkan kekalahan tersebut karena qadha dan qadar Alloh, bahwa timnas Indonesia sudah ditulis di lauh al-mahfud hanya ada “runner up”. Teman saya memang termasuk golongan “para bonek” yang sering kena “bentak” istrinya, sehingga jiwa tawakal dan pasrah kepada Allah semakin tinggi,termasuk pada persoalan sepak bola. Bahkan ada lagi yang lebih ekstrem, ada teman saya ingin mencari Dukun Santet agar saat main sepak bola, timnas Thailand di santet pakai santet “Semur Jengkol”, agar perut mules dan kembung.

Bisa jadi kurang semangat menyambut kemenangan ini, akibat polarisasi politik praktis di tengah masyarakat pada masa lalu dan masih terasa sampai saat ini. Artinya sikap politik sebagai sebuah kepentingan harus terlihat beda atau antithesis terhadap apa yang tidak disuka. Itu sebabnya, segala perangkat nya digunakan untuk menggerakan kepentingan-kepentingan tersebut tanpa melihat benar atau salah. Komentar dan analisis yang terlihat ilmiah sekalipun diproduksi sebatas untuk menguntungkan diri sendiri dan kelompok. Maka wajar saja, masyarakat selalu dijejali suatu perdebatan kontrakdiktif dan kedua nya menggunakan kekuatan-kekuatan politik massa untuk saling menyerang dan membela.  Begitu seterusnya.

Masyarakat tidak berkecimpung dalam dunia politik atau pun agak sedikit terserempet “bau-bau politik” masih bisa melakukan “tepuk-tangan” untuk menunjukan wujud kegembiraan atas keberhasilan suatu prestasi. Itupun masih pilih-pilih. Ironis memang. Saya kadang iri terhadap penghargaan orang barat dalam memberikan respon spontanitas atas kesuksean orang lain. Ada satu sisi pola kehidupan yang sampai hari ini saya kagumi, yaitu pola kebiasaan “standing applause” yaitu tepuk tangan sambil berdiri. Saya pernah melihat video youtube penyanyi cilik Celine Tam pada acara America’s Got Talent. Dia membawakan lagu berjudul “my heart will go on” nya milik Celine Dion. Waktu tampil di acara itu, terlihat masih anak-anak. Mungkin berumur sekitar 10 tahun. Saya yang hanya melihat melalui youtube pun terbawa emosi dan hanyut dalam suasana keharuan yang mendalam sampai-sampai hampir meneteskan air mata. Bukan karena meresapi lirik-lirik kerinduaan yang mendalam seorang kekasih, “ far across the distance, and space between us..” di lanjutkan kalimat yang sangat sedih, “ I believe that the heart does go on”, saya percaya hati ini akan bertahan. Tapi saya melihat sambutan tulus dari para penonton. Saat lagu belum selesai dinyanyikan, seluruh penonton yang ada diruangan tersebut sepontanitas berdiri dan memberi aplaus luar biasa. Sang ibu dari Celine Tam tidak kuasa menahan tangis penuh kebanggan terhadap anak nya.

Saya kira kita memang harus belajar memisahkan persoalan politik praktis dengan politik kebangsaan. Politik praktis persoalan parsial dan kelompok. Sedang persoalan politik kebangsaan adalah kolektivitas yang melintasi di atas politik praktis. Pada moment tertentu, kita terkadang tidak harus melihat siapa mereka dan seperti apa serta bagaimana. Ada suatu kesadaran yang perlu dibangun dan seharusnya menjadi tradisi untuk membiasakan senang dan memberi penghargaan ketika melihat orang lain sukses dalam kehidupan sehari-hari. Sebab apapun dan bagaimanapun, persoalan politik dan kekuasaan memang punya seni berbeda dengan bidang-bidang lainya. Tapi semua nya mempunyai denyut nadi dan getaran hati yang sama yaitu sama-sama mencintai bangsa.

Tangan Dingin Erik Tohir

Follower Erik Tohir di Twitter setelah kemenangan Timnas di Sea-Game 2023 meningkat pesat. Padahal sebelum nya “digebug” gara-gara batal nya piala dunia U-20 di Indonesia karena persoalan timnas Yahudi. Namun kemenangan di Kamboja kelihatanya telah menjadi obat mujarab bagi nya. Biasanya di Twitter nya yang like tidak lebih dari 1000 follower. Kini follower Erik Thohir meningkat. Unggahan gambar Erik Thohir sedang berdoa sudah 8000-an. Unggahan ucapan selamat kemenangan dengan background timnas U-22 dan pelatih Indra Sjafir meningkat dratis sebanyak 61 ribuan lebih yang memberi “like”. Belum yang lain-lain sama, meningkat tajam.

Penulis artikel ini menilai kelihatanya teamwork yang dibentuk oleh Erik Thohir betah. Dalam pikiran dan hati saya pernah “mbatin”, bahwa sepak bola jika dipegang oleh nya bagus. Itu batin saya yang sebenarnya terlalu overacting karena mencampuri pandangan pengamat persepakbolaan. Sebab untuk membangun spirit sebagai manusia tangguh dan sukses tidak sebatas slogan. Saya ingat dia belum lama diangkat menjadi ketua PSSI. Saya pun masih ingat sebelumnya pernah menulis artikel Erik Thohir tentang PSSI juga. Jarak antara belum lama dan membenahi keadaan PSSI yang konon sebelumnya amburadul (hal ini karena pelaporan keuangan tidak ada). Namun dia mampu membangkitkan anak-anak muda menjad seorang jiwa pemenang. Suatu prestasi yang menurut saya sangat luarbiasa.

Ada suatu kalimat yang saya agak lupa ketika memberi semangat kepada timnas Indonesia. Erik Thohir dengan gaya humble dan bersahabat mengatakan,”jangan kamu lihat lawan, tapi konsentrasi untuk menang”. Saya kira ini suatu pesan luarbiasa. Ini bisa ditiru dan kalau bisa jika anda ingin sukses perlu ditulis besar-besar di buku kuliah anda, atau menjadi amalan setelah sholat lima waktu dan dibaca berulang-ulang.

Kita mungkin lupa sejarah Islam. Tapi Erik Thohir mampu menangkap sejarah kehebatan Islam pada masa dulu. Para guru-guru sejarah Islam tentu telah mengetahui peristiwa perang badar. Jumlah kekuatan yang tidak seimbang. Para sahabat nabi sebagaimana kita pada umum nya berfikir realistis. Jika berkelahir 1 lawan 5, pasti satu kalah. Nabi tidak berfikir tentang kuantitas, tapi kualitas baik kualitas skill, fisik dan tidak kalah pentingnya adalah sandaran secara totalitas kepada Allah s.w.t. jika ini dilakukan, maka semua lawan terlihat menjadi kecil. Saat sudah melihat cara berfikir seperti ini, maka jalan untuk menang terbuka.

Suka, Duka (jangan lupa ber-doa) dalam Dunia Sepak Bola

Sejarah panjang oleh raga sepak bola di Indonesia memang penuh cerita yang beragam. Para Begawan sepak bola telah memberikan tentang strategi jitu untuk menjadi sang juara; mulai naturalisasi para pemain bermata biru berbadan tinggi agar tidak terlihat pendek para pemain Indonesia sampai pada mencari pelatih dari barat. Mungkin karena semangat terlalu tinggi ingin memajukan kualitas sepak bola, semua yang merasa mampu ramai-ramai ingin menjadi pengurus pssi dan ujung-ujungnya terjadi konflik kepentingan. Akibatnya, dunia sepak bola menjadi korban lagi.

Keberhasilan Timnas saat ini tentu bukan semata-mata hasil kerja Erik Thohir dan tim nya yang masih se-umur jagung. Namun dia telah meletakan nilai-nilai filosofis kehidupan yang sangat mempengaruhi jiwa para pemain untuk siap sedia menelusuri jalan-jalan kesuksesan yang tidak mudah. Mereka juga tahu untuk mencapai suatu tangga kesuksesan tertinggi ada ujian yang tidak mudah ditundukan. Mereka telah berhasil menundukan diri sendiri akan ketakutan, dan melimpah semangat patriotisme di dada nya. Hasil nya adalah kemenangan.

Lagi-lagi dunia bola adalah dunia kehidupan. Orang bijak sering mengatakan tidak selama posisi berada di puncak secara terus-menerus. Suatu saat ada masa-masa apa yang disebut “kegagalan” akibat dari segala persoalan dan kesalahan. Itu sudah watak manusia untuk menunjukan bahwa setiap manusia ada kekuranganya. Tentu tidak ada yang membahagiakan bagi kehidupan sosial adalah kebersamaan dalam suka dan duka. Jika hari ini, timnas sebagai kemenangan bangsa Indonesia, sudah sepantasnya kita berbahagia atas prestasi yang luarbiasa ini. Namun suatu masa datang musim kemarau dan pacelik, yang diharapkan adalah tetap beratu padu membangun kebersamaan dalam menghadapi dan melalui segala ujian. Bukankah demikian?



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4565


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879