Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Buah Lail Al-Qadr; Tidak Takut dan Sedih



Senin , 17 April 2023



Telah dibaca :  386

Seorang sahabat bertanya kepada Nabi, “Ya Rasul, kapan lail al-qadr?”. Kanjeng Nabi yang agung menjawab kurang lebih begini, “Saya dilupakan oleh Allah, coba cari sepuluh terakhir bulan Ramadhan”. Dialog ini adalah dialog model Nabi yang senantiasa memberikan motivasi pada hal-hal yang berkaitan dengan fadilah atau keutamaan ibadah dengan bentuk kalimat majaz. bahkan Al-Qur'an sendiri pun demikian. Ketika berbicara tentang lail al-qadr, maka Allah menggunakan kalimat yang sangat indah, “khairun min alfi syahr”, lebih baik dari seribu bulan. Kedua ucapan, baik dalam Al-Qur’an dan Hadist ini adalah gambaran bahwa sesuatu yang sifatnya spiritual tidak bisa diukur dengan ukuran kuantitatif, namun harus dengan kualitatif. Hal ini mengingatkan kepada kita, bahwa janji-janji Allah atau balasan-balasan-Nya adalah balasan-balasan yang sifat nya “lebih” dari kehidupan Dunia. Jika itu balasan kebaikan, maka nilai nya lebih baik dari kehidupan Dunia. Jika balasan-Nya siksa, maka nilai nya lebih besar penderitaan di Dunia.

Mengapa demikian? Allah dan Nabi-Nya mengajarkan bahwa kehidupan Dunia itu sebatas “la’ibun dan lahwn”, permainan dan sendau gurau. Allah menggunakan pilihan kata tersebut untuk menunjukan sifat dunia yang sementara. Kata dunia yang berasal dari kata “daana” yang mempunyai arti dekat. Apapun yang kita lakukan, sifatnya dekat. Apapun yang kita punya sifatnya dekat. Kita mempunyai suatu cita-cita yang sangat tinggi, dan cita-cita tersebut berhasil didapat dengan penuh susah-payah, maka kesuksesan tersebut sebenarnya sedang menuju pada finish berakhirnya masa kehidupan manusia. Sebab kata “dekat” dalam filosofis dunia adalah kedekatan yang dibatasi oleh waktu kuantitas baik satuan maupun puluhan untuk manusia, dan alam semesta ini adalah ribuan atau jutaan.

Manusia dibatasi kehidupan dengan satuan atau puluhan karena tidak ada manusia yang melebihi umur lebih dari dua ratus tahun. Kita sering mendengar ada manusia yang hidupnya lebih dari seratus tahun. Namun kita bisa melihat dari sifat-sifat dunia pada dirinya seperti; mata mulai kabur, pendengaran berkurang, kulit berkeriput, rambut memutif, jalan sempoyongan. Jadi, tidak ada kehebatan manusia yang kekal, semakin bertambah umur maka kehebatan tersebut semakin berkurang secara pelan-pelan dan akhirnya kembali kepada Sang Pencipta.

Begitu juga dalam kehidupan sehari-hari yang dikemas kehidupan dengan istilah-istilah seperti dunia pendidikan, politik, bisnis, dan sejenisnya. Kita akan melihat kehidupan manusia yang lucu-lucu yang Allah sebut dengan la’ibun atau sendau-gurau. Saya dan anda saat menjadi pendidik harus menyiapkan ini dan itu, lalu jika tidak akan terkena sangsi ini dan itu. Ribuan Ton kertas dibuang untuk administrasi, menulis “titik-koma”, dan ketika salah diulang lagi, diulang lagi. Padahal saat kita memberikan proses pembelajaran, administrasi-administrasi nyaris tidak ada gunanya saat proses transfer on knowlegde. Seorang guru hanya ingin anak didiknya bisa, bagaimana pun caranya. Namun, ujungnya-ujungnya antara guru dan pengambil kebijakan berkelahi lantaran sibuk membahas persoalan perbedaan regulasi yang mempunyai tujuan sama, tapi cara yang berbeda.

Kita pun sering melihat dalam dunia politik dan kekuasaan. Dunia dibuat sedemikian rupa dengan segala aturan. Ada istilah eksekutif, legislatif, dan yudikatif hanya untuk membahasakan kalimat “pelayan masyakarat”. Namun ujung-ujungnya kadang mereka beringkah laku sebagai “bos masyarakat” yang berbicara atas nama rakyat tapi untuk kepentingan diri menggunakan stempel rakyat. Akibatnya, saat mendapatkan kenikmatan dunia, mereka ketakutan kehilangan jabatan tersebut dan berusaha sekuat tenaga dengan lagi-lagi menggunakan kalimat ampuh, “sebagai penyambung lidah masayarakat”.

Siapa? Hampir semua orang demikian. Saat kekuasaan dan kenikmatan dunia sudah bersarang dalam hati, maka cahaya-cahaya ilahiyah pun akan tertutup. Siapapun kita, apakah seorang guru, seorang pengusaha, dan seorang pejabat ingin hidup seribu tahun untuk menikmati segala apa yang usahakan terasa kekal dalam kehidupan yang fana ini. Namun demikian, ada sebagian lagi hamba-hamba Allah menyadarinya. Kelompok kedua ini mempunyai fasilitas dunia, tapi sebatas untuk kendaraan akherat. Namun dalam perjalanan kehidupan kadang juga muncul sifat “la’ibun wa walhwun” sebagai bagian dari naluri manusia yang tidak bisa lepas dari jati diri nya.

Itu sebabnya Allah mengajarkan dengan lembut kepada umat manusia akan sifat fana dari dunia, dan mengajarkan kepada manusia tentang kualitas hidup untuk menanam kehidupan di Akherat, dengan ibadah di malam lail al-qadr sebanding dengan umur hidup kita di dunia, 82 tahun. Tamsil-tamsil keindahan ini agar hati manusia tidak terpaut terlalu dalam pada permainan dan sendau gurau dunia. Nikmat dan manisnya dunia akan ditinggalkan, dan saat di dunia terus belajar untuk memperoleh manis dan nikmatnya di akherat. Ketika kita sudah berhasil menanamkan hal ini dalam alam pikiran dan hati nurani, maka akan terkikis rasa sedih dan takut. Sebab janji Allah jauh lebih besar daripada janji manusia. Bahkan manusia yang memberi janji pun masih sangat membutuhkan janji-janji kebahagiaan Allah s.w.t.

Ketika kita hidup di dunia ini sudah bisa menerapkan,”laa khauf wa laa yahzanun”, tidak sedih dan tidak takut dalam menjalankan proses kehidupan dunia, maka ini puncak kehidupan kita yang sebenarnya. Kita sudah meraih jati diri tentang kemerdekaan dari belenggu dunia, bahkan dunia pun sudah berada di kaki kita. sebab akal dan hati kita sudah mendapatkan sinar Ilahiyah. Pada akhirnya, seluruh bulan Ramadhan menjadi malam-malam yang indah dan seluruh malam berubah menjadi malam-malam lail al-qadr



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4565


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2883