
Seorang sahabat bertanya kepada Nabi, “Ya
Rasul, kapan lail al-qadr?”. Kanjeng Nabi yang agung menjawab kurang lebih
begini, “Saya dilupakan oleh Allah, coba cari sepuluh terakhir bulan Ramadhan”.
Dialog ini adalah dialog model Nabi yang senantiasa memberikan motivasi pada
hal-hal yang berkaitan dengan fadilah atau keutamaan ibadah dengan bentuk
kalimat majaz. bahkan Al-Qur'an sendiri pun demikian. Ketika berbicara
tentang lail al-qadr, maka Allah menggunakan kalimat yang sangat indah, “khairun
min alfi syahr”, lebih baik dari seribu bulan. Kedua ucapan, baik dalam Al-Qur’an
dan Hadist ini adalah gambaran bahwa sesuatu yang sifatnya spiritual tidak bisa
diukur dengan ukuran kuantitatif, namun harus dengan kualitatif. Hal ini
mengingatkan kepada kita, bahwa janji-janji Allah atau balasan-balasan-Nya adalah
balasan-balasan yang sifat nya “lebih” dari kehidupan Dunia. Jika itu balasan
kebaikan, maka nilai nya lebih baik dari kehidupan Dunia. Jika balasan-Nya
siksa, maka nilai nya lebih besar penderitaan di Dunia.
Mengapa demikian? Allah dan Nabi-Nya
mengajarkan bahwa kehidupan Dunia itu sebatas “la’ibun dan lahwn”,
permainan dan sendau gurau. Allah menggunakan pilihan kata tersebut untuk
menunjukan sifat dunia yang sementara. Kata dunia yang berasal dari kata “daana”
yang mempunyai arti dekat. Apapun yang kita lakukan, sifatnya dekat. Apapun yang
kita punya sifatnya dekat. Kita mempunyai suatu cita-cita yang sangat tinggi,
dan cita-cita tersebut berhasil didapat dengan penuh susah-payah, maka
kesuksesan tersebut sebenarnya sedang menuju pada finish berakhirnya masa
kehidupan manusia. Sebab kata “dekat” dalam filosofis dunia adalah kedekatan
yang dibatasi oleh waktu kuantitas baik satuan maupun puluhan untuk manusia,
dan alam semesta ini adalah ribuan atau jutaan.
Manusia dibatasi kehidupan dengan satuan
atau puluhan karena tidak ada manusia yang melebihi umur lebih dari dua ratus
tahun. Kita sering mendengar ada manusia yang hidupnya lebih dari seratus
tahun. Namun kita bisa melihat dari sifat-sifat dunia pada dirinya seperti;
mata mulai kabur, pendengaran berkurang, kulit berkeriput, rambut memutif,
jalan sempoyongan. Jadi, tidak ada kehebatan manusia yang kekal, semakin
bertambah umur maka kehebatan tersebut semakin berkurang secara pelan-pelan dan
akhirnya kembali kepada Sang Pencipta.
Begitu juga dalam kehidupan sehari-hari
yang dikemas kehidupan dengan istilah-istilah seperti dunia pendidikan,
politik, bisnis, dan sejenisnya. Kita akan melihat kehidupan manusia yang
lucu-lucu yang Allah sebut dengan la’ibun atau sendau-gurau. Saya dan
anda saat menjadi pendidik harus menyiapkan ini dan itu, lalu jika tidak akan
terkena sangsi ini dan itu. Ribuan Ton kertas dibuang untuk administrasi,
menulis “titik-koma”, dan ketika salah diulang lagi, diulang lagi. Padahal saat
kita memberikan proses pembelajaran, administrasi-administrasi nyaris tidak ada
gunanya saat proses transfer on knowlegde. Seorang guru hanya ingin anak
didiknya bisa, bagaimana pun caranya. Namun, ujungnya-ujungnya antara guru dan
pengambil kebijakan berkelahi lantaran sibuk membahas persoalan perbedaan
regulasi yang mempunyai tujuan sama, tapi cara yang berbeda.
Kita pun sering melihat dalam dunia politik
dan kekuasaan. Dunia dibuat sedemikian rupa dengan segala aturan. Ada istilah
eksekutif, legislatif, dan yudikatif hanya untuk membahasakan kalimat “pelayan
masyakarat”. Namun ujung-ujungnya kadang mereka beringkah laku sebagai “bos
masyarakat” yang berbicara atas nama rakyat tapi untuk kepentingan diri
menggunakan stempel rakyat. Akibatnya, saat mendapatkan kenikmatan dunia,
mereka ketakutan kehilangan jabatan tersebut dan berusaha sekuat tenaga dengan
lagi-lagi menggunakan kalimat ampuh, “sebagai penyambung lidah masayarakat”.
Siapa? Hampir semua orang demikian. Saat kekuasaan
dan kenikmatan dunia sudah bersarang dalam hati, maka cahaya-cahaya ilahiyah
pun akan tertutup. Siapapun kita, apakah seorang guru, seorang pengusaha, dan
seorang pejabat ingin hidup seribu tahun untuk menikmati segala apa yang usahakan
terasa kekal dalam kehidupan yang fana ini. Namun demikian, ada sebagian lagi
hamba-hamba Allah menyadarinya. Kelompok kedua ini mempunyai fasilitas dunia,
tapi sebatas untuk kendaraan akherat. Namun dalam perjalanan kehidupan kadang juga
muncul sifat “la’ibun wa walhwun” sebagai bagian dari naluri manusia
yang tidak bisa lepas dari jati diri nya.
Itu sebabnya Allah mengajarkan dengan
lembut kepada umat manusia akan sifat fana dari dunia, dan mengajarkan kepada
manusia tentang kualitas hidup untuk menanam kehidupan di Akherat, dengan ibadah
di malam lail al-qadr sebanding dengan umur hidup kita di dunia, 82
tahun. Tamsil-tamsil keindahan ini agar hati manusia tidak terpaut terlalu
dalam pada permainan dan sendau gurau dunia. Nikmat dan manisnya dunia akan
ditinggalkan, dan saat di dunia terus belajar untuk memperoleh manis dan
nikmatnya di akherat. Ketika kita sudah berhasil menanamkan hal ini dalam alam
pikiran dan hati nurani, maka akan terkikis rasa sedih dan takut. Sebab janji Allah
jauh lebih besar daripada janji manusia. Bahkan manusia yang memberi janji pun
masih sangat membutuhkan janji-janji kebahagiaan Allah s.w.t.
Ketika kita hidup di dunia ini sudah bisa
menerapkan,”laa khauf wa laa yahzanun”, tidak sedih dan tidak takut
dalam menjalankan proses kehidupan dunia, maka ini puncak kehidupan kita yang
sebenarnya. Kita sudah meraih jati diri tentang kemerdekaan dari belenggu
dunia, bahkan dunia pun sudah berada di kaki kita. sebab akal dan hati kita
sudah mendapatkan sinar Ilahiyah. Pada akhirnya, seluruh bulan Ramadhan
menjadi malam-malam yang indah dan seluruh malam berubah menjadi malam-malam lail
al-qadr.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4565
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3577
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2981
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2883