
Catatan kecil seminar internasional prodi PAI
tentang budaya
Pada tahun 2024-2025 beberapa Perusahaan
tekstil Indonesia bangkrut dan melakukan Pemutusan Hubungan
Kerja-PHK-besar-besaran. Antara lain perusahan tekstil PT Sri Rezeki Isman Tbk
-Sritex. Berita yang sangat menyedihkan dari dalam negeri.
Perusahaan-perusahaan tersebut menjadi daftar panjang beberapa Perusahaan yang
lainnya yang mempunyai nasib sama seperti perusahaan PT Rokok Gudang Garang
Tbk. Sedih. penutupan berarti pengangguran sebagian masyarakat di tengah
sulitnya mencari pekerjaan saat sekarang ini.
Di tengah kesedihan, ada juga negara yang
justru mendapatkan keberkahan luarbiasa yaitu china. Sekitar 90%-99% kain yang
kita pakai impor dari china. Kini impor bulu mata Indonesia yang menguasai
pasaran negara-negara barat juga mulai digusur oleh china dan korea.
Hanya saja, perusahaan bulu mata di
Indonesia tidak sejelek nasib Perusahaan kain. Bulu mata masih bisa bermain
mata dengan isu agama. Beberapa waktu lalu heboh di media sosial bahwa bulu
mata dari china mengandung unsur bulu babi. Mungkin ini juga yang menyebabkan
sebagian suami-suami di Indonesia yang suka marah-marah sama istri nya karena
memakai bulu mata yang kerdipannya membuat laki-laki gambang marah “mem-babi
buta” kepada istrinya. Bayangkan saja sudah “babi”, “buta” lagi.
Para suami yang mungkin “cekak” duitnya dan
punya gelora iman tinggi akan mudah mengatakan kepada istrinya begini: “Tak
perlu mata ditambah-tambah lagi dengan bulu mata buatan, itu mengandung babi.
Tidak sah sholatnya. Mata mu harus
dicuci 7 kali, dan salah satu nya dicampur dengan debu agar bisa suci”.
Ma’lum butu mata-katanya sih-harga lumayan
bikin emosi suami. Ada sekitar Rp. 200.000-Rp. 500.000.” Dari mata beli bulu
mata, mendingan beli beras cukup untuk satu bulan”, pikiran sebagian suami
ketika melihat tingkah laku istrinya yang kalau “dandan” di depan cermin bisa
menghabiskan waktu 1 jam.
Nasib bulu mata produk Indonesia masih
beruntung ketimbang perusahaan kain Indonesia. Sebab tidak ada isu agama di
dalamnya. Masih bisa bernafas. Meskipun sudah mulai terserang penyakit maag
karena serbuan produk china. Bayangkan saja, jika ada isu yang mengatakan bahwa
“Kain impor dari china ada campuran bulu babi dan anjing” pasti heboh.
Tapi jika heboh, apa yang bisa diperbuat? Kain yang kita pakai, seragam dinas,
baju harian, kain sholat, jubah, celana dan semua nya berasal dari china. Bahkan
ketika kita pergi umrah atau haji, bukan hanya serban, baju dan peci, tasbih
saja sudah tertulis”made in china”. Jangan-jangan semua dicampur dengan
unsur “ke-babi-an”.
Membenturkan budaya dan agama di dunia maya
masih sangat laris manis. Dunia maya sering tampil sebagai bentuk kebebasan
untuk menghakimi sesuatu dengan cara yang kurang tepat. seolah-olah budaya
selalu berkaitan erat hubungannya dengan agama. padahal tidak semua demikian. Ada
penopang budaya yang lahir dari nilai-nilai hampa agama. ia netral dan bisa
berwarna sesuai dengan lingkungan yang mewarnainya.
Budaya dalam produk ada yang berkaitan
dengan seni sebagai ekspresi jiwa manusia diwujudkan dalam beragam bentuk. Seperti
bentuk bangunan apa saja. Orang beragama hindu akan membuat bangunan rumah
ibadah seperti pura, agama konghucu membuat klenteng dan agama kristen membuat
gereja.
Dalam berbagai perjalanan sejarah, umat Islam
pernah menjadikan tempat ibadah lainnya menjadi masjid. Ketika Islam berkuasa
di daratan eropa, banyak gereja-gereja menjadi masjid. Bentuk nya persis
gereja. Karena aslinya -dulunya-memang gereja. Ada juga masjid yang tidak
meninggalkan budaya lama dan tetap dirawat, yaitu bangunan menara kudus yang
mirip pura tempat ibadah orang hindu, ada juga masjid laksemana ceng ho yang ornament
nya sangat khas berwarna merah model klenteng.
Hal yang sama masjid. Dalam sejarah nya, kubah
masjid yang kita kenal sekarang ini bukan murni model tempat ibadah umat Islam.
Ia merupakan budaya yang mengalami proses sejarah yang panjang. Kubah yang pada
awal nya dibangun oleh orang romawi kemudian untuk tempat kuil dan rumah sakit.
orang-orang majuzi jauh-jauh hari juga sebelum datangnya islam telah membuat
tempat ibadah untuk sesembahan api berbentuk kubah. Ini yang kemudian hari
digunakan menjadi simbol tempat ibadah umat Islam.
Berkaitan dengan produk budaya tersebut, penulis bisa berpendapat perlu ada pemisahan antara budaya dan keyakinan atau ritual. Perubahan fungsi tempat ibadah dari tempat ibadah nya agama lain menjadi masjid atau mushola merupakan suatu hal yang wajar dan tidak ada hubungan dengan sah tidak sah nya ibadah seseorang. Ketika tempat ibadah tersebut dialih fungsikan menjadi masjid, maka nama tersebut menjadi masjid meskipun bentuk nya seperti bentuk ibadah agama lain. Sebab agama tidak terletak pada bangunan, tapi pada ritual dengan aturan-aturan yang telah ditentukan.

Berbeda dengan kasus dengan seorang muslim
sholat di tempat ibadah orang lain yang masih menjadi tempat aktif untuk ibadah
agama lain. Meskipun sah-dengan syarat keadaan tempat suci-tapi bisa menjadi
fitnah yang sering muncul dalam dunia
maya yaitu ada tuduhan pencampuran ritual agama. dianggap mencampur aduk
ibadah. Padahal sebenarnya tidak demikian dalam realita kejadian.
Budaya dalam produk seperti rumah, tempat
perkantoran. Atau yang sering kita pakai adalah baju. Sekarang ini kita sudah
sangat sulit menemukan maka produk budaya asli model umat Islam. Sebab dalam
sejarah, bangsa yang memproduksi kain yang terkenal sejak dulu adalah china. Pakaian
yang sangat menutup seluruh tubuh juga china. Mereka mendesain baju agar bisa
mengusir rasa dingin sehingga tertutup seluruh tubuhnya.
Dalam sejarah panjang umat Islam, para
buruh-buruh yang bekerja di pasar dan bangunan kadang tidak memakai baju dan
hanya menggunakan celana pendek. Mereka bekerja untuk majikannya. Saat tiba
waktu sholat, mereka sholat dengan kondisi seperti itu. Maka dalam fiqh Islam
juga dijelaskan batas-batas aurat laki-laki yaitu dari atas “pusat”-wudel-
hingga bawah “lutut”-dengkul.
Budaya dalam bentuk perilaku seperti gotong royong dan melakukan kegiatan sosial lainnya. pada wilayah ini maka sering kita melihat ada unsur-unsur nilai yang mempengaruhinya. Ada gotong royong yang mungkin saja di salah satu tempat lain dipengaruhi oleh keyakinan atau agama tertentu. Jadi netral dan tergantung siapa dan keyakinan apa yang mewarnainya.

Karena gotorng royong dan kegiatan sosial berbentuk
netral, maka penganut agama Islam dalam berbagai tempat sangat masif mewarnai
menjadi hal yang baru dan memberi manfaat sangat besar dalam membentuk ikatan
sosial yang sangat kuat. Seperti kenduri sebagai warisan masa lalu tetap
dipertahankan dan diganti ruh nya dengan ruh Islami. Dari sini penulis bisa memahami
bahwa kehadiran budaya sebenarnya bagian dari jalan untuk mempermudah menjalankan
syariat Islam itu sendiri. Tanpa ada nya budaya, ajaran Islam sangat sulit
dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari. Sepanjang budaya sudah dimasuki ruh
tauhid, maka budaya tersebut telah menjadi budaya Islam.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2942
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872