Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Budi Prijanto antara Dosen, Tabib dan Wartawan



Jumat , 06 Juni 2025



Telah dibaca :  471

Ada catatan tertinggal saat bertemu dengan Mas Budi Prijanto. saya abadikan dalam catatan harian ku pada hari ini.

Foto tersebut di atas kalau tak salah tanggal 14 Mei 2025. Dua asesor hebat-hebat yaitu prof. nurhidayah dan Dr. Budi Prijanto. Kebetulan di foto tersebut, saya dijebak untuk memasangkan Tanjak. Bingung juga. Belum pernah masang seperti ini. ”Tidak ada rotan, akar pun jadi”. Untung saja Mas Budi Prijanto asli dari Purworejo. Mbah saya, baratnya Purworejo. Sama kelahiran dari Jawa. Jadi kalaupun salah memasangnya, sama-sama mema’lumi. Lebih baik salah dalam mencoba daripada tidak pernah salah sama sekali karena tidak mencoba. Kira-kira pikiran ku saat memasang tanjak ke Dr. Budi Prijanto.

Pertemuan saya dengan Mas Budi seperti pertemuan sahabat lama yang sudah lama menghilang. Padahal baru pertama kali bertemu. Ia sangat humble. Dosen dari Universitas Gunadarma ini selain friendship, juga mempunyai “unggah-ungguh” yang sangat bagus. Meskipun sudah jadi “orang Jakarte”, tapi sifat jawani masih sangat kental. Salah satu yang masih sangat menonjol yaitu sangat “ngewongke” lawan bicaranya. Sehingga kami menemukan semitris yang sangat luarbiasa.

Saya tentu saja tidak bicara persoalan akreditasi. Saya yakin mereka berdua sudah mempunyai standarisasi nilai yang pantas. Kami tidak melakukan intervensi. Biarkan saja mereka berdua mengerjakan tugas sebagaimana yang mereka amanahkan. Saya dan teman-teman tim akreditas telah berusaha semaksimal mungkin. Tentu yang bisa dilakukan oleh kami yaitu memohon kepada Allah untuk mendapatkan nilai terbaik.

Kami bertiga[saya, Mas Budi, dan Mas Jarir] ngobrol “ngalor-ngidul”. Akhirnya ada titik temu, bahwa kami sama-sama suka menulis. Mas budi, duluuuu.., saat masih di UGM pernah menjadi pernah menjadi Kepala Suku Media Massa di Kampus. Saya duluuuuu, juga dibesarkan oleh Media Massa. Kebetulan yang ikut membesarkan ku Mas Jarir yang duduk disamping ku dan Mas Ilham mantan Komisioner KPU Provinsi Riau. Dua orang ini yang sering menampilkan tulisan ku di ruang opini Koran Riau Pos. itu duluuu. Sekarang belajar jalan sendiri.

Ternyata kami sama-sama pernah hidup di Media Massa. Pantas saja kami suka ngobrol. Tidak habis-habis. Ada saja bahan yang selalu nongol untuk diobrolkan.

Yang menarik pada obrolan itu adalah pengalaman Mas Budi menjadi dukun atau tabib. Dari tampangnya kurang menyakinkan. Wajahnya terlalu elit. Wajah kurang meyakinkan jadi dukun. Tapi saya harus percaya. Sebab yang ia ceritakan juga pernah saya alami. Artinya perfoma dukun sudah mengalami pergeseran, dari wajah lusuh bertransformasi menjadi wajah elit. 

Beberapa pengalaman selama berkarir menjadi dosen, Mas Budi sudah beberapa kali menyembuhkan berbagai penyakit dan menjadi konselor persoalan keluarga. Proses penyembuhannya diceritakan lucu-lucu. Tapi sulit untuk ditulis dalam kalimat.

Saya menilai sebenarnya Mas Budi tidak bisa menyembuhkan orang sakit. Ia lebih tepatnya seperti Abu Nawas. Ada faktor keberuntungan. Tapi faktor keberuntungan juga tidak terjadi secara instan. Ada faktor genetik atau ilmu tiban yang membuat seseorang bisa menyembuhkan orang sakit sedang dirinya sendiri tidak merasa bisa menyembuhkan. Ini keunikan penyembuhan model Mas Budi.

Ilmu tiban bisa diceritakan, tapi tidak bisa dibanggakan. Diceritakan sebagai tahadus binikmah, mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah. Tidak bisa dibanggakan karena sang pelaku tabib tidak merasa dirinya sebagai tabib. Mungkin hanya satu atau beberapa amalan warisan orang tua atau guru. Tidak banyak. Tabib model seperti ini lebih banyak memasrahkan diri kepada Allah SWT. Sebab ia merasa tidak punya apa-apa dan tidak bisa apa-apa.

Apa yang dialami oleh Mas Budi juga ada pada diriku. Ada prasangka-prasangka baik yang terbangun pada diri sendiri kepada orang lain dalam alam bawah sadar menyebabkan orang-orang pun berprasangka baik kepada diri kita sendiri.

Prasangka baik adalah cermin diri. Semakin besar berprasangka baik kepada hamba-hamba Allah, maka mereka pun akan berprasangka baik kepada diri kita sendiri. Pada wilayah ini manusia menjadi punya sifat tawadhu. Ia merasa tidak punya apa-apa. Hakikatnya semua berasal dari Allah.

Saya kira pada wilayah ini saya, Mas Budi dan Mas Jarir sedang belajar memaknai bahwa hidup  terbaik yaitu selalu membantu kepada sesama manusia sepanjang itu hal-hal yang bersifat positif. Ketika kita sudah terbiasa membantu orang lain, maka Allah pun akan memberi balasan dari jalan yang tidak terduga. 



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4550


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875