
Ada catatan tertinggal saat bertemu dengan Mas Budi Prijanto. saya abadikan dalam catatan harian ku pada hari ini.
Foto tersebut di atas kalau tak salah
tanggal 14 Mei 2025. Dua asesor hebat-hebat yaitu prof. nurhidayah dan Dr. Budi
Prijanto. Kebetulan di foto tersebut, saya dijebak untuk memasangkan Tanjak. Bingung
juga. Belum pernah masang seperti ini. ”Tidak ada
rotan, akar pun jadi”. Untung saja Mas Budi Prijanto asli dari Purworejo.
Mbah saya, baratnya Purworejo. Sama kelahiran dari Jawa. Jadi kalaupun salah memasangnya, sama-sama mema’lumi. Lebih baik salah dalam
mencoba daripada tidak pernah salah sama sekali karena tidak mencoba. Kira-kira
pikiran ku saat memasang tanjak ke Dr. Budi Prijanto.
Pertemuan saya dengan Mas Budi seperti
pertemuan sahabat lama yang sudah lama menghilang. Padahal baru pertama kali
bertemu. Ia sangat humble. Dosen dari Universitas Gunadarma ini selain
friendship, juga mempunyai “unggah-ungguh” yang sangat bagus. Meskipun
sudah jadi “orang Jakarte”, tapi sifat jawani masih sangat kental.
Salah satu yang masih sangat menonjol yaitu sangat “ngewongke” lawan bicaranya.
Sehingga kami menemukan semitris yang sangat luarbiasa.
Saya tentu saja tidak bicara persoalan
akreditasi. Saya yakin mereka berdua sudah mempunyai standarisasi nilai yang
pantas. Kami tidak melakukan intervensi. Biarkan saja mereka berdua mengerjakan
tugas sebagaimana yang mereka amanahkan. Saya dan teman-teman tim akreditas
telah berusaha semaksimal mungkin. Tentu yang bisa dilakukan oleh kami yaitu
memohon kepada Allah untuk mendapatkan nilai terbaik.
Kami bertiga[saya, Mas Budi, dan Mas Jarir]
ngobrol “ngalor-ngidul”. Akhirnya ada titik temu, bahwa kami sama-sama suka menulis. Mas budi, duluuuu.., saat masih di UGM pernah menjadi
pernah menjadi Kepala Suku Media Massa di Kampus. Saya duluuuuu, juga
dibesarkan oleh Media Massa. Kebetulan yang ikut membesarkan ku Mas Jarir yang
duduk disamping ku dan Mas Ilham mantan Komisioner KPU Provinsi Riau. Dua orang
ini yang sering menampilkan tulisan ku di ruang opini Koran Riau Pos. itu
duluuu. Sekarang belajar jalan sendiri.
Ternyata kami sama-sama pernah hidup di Media Massa. Pantas saja kami suka ngobrol. Tidak habis-habis. Ada saja bahan yang selalu nongol untuk diobrolkan.
Yang menarik pada obrolan itu adalah pengalaman Mas Budi menjadi dukun atau tabib. Dari tampangnya kurang menyakinkan. Wajahnya terlalu elit. Wajah kurang meyakinkan jadi dukun. Tapi saya harus percaya. Sebab yang ia ceritakan juga pernah saya alami. Artinya perfoma dukun sudah mengalami pergeseran, dari wajah lusuh bertransformasi menjadi wajah elit.
Beberapa pengalaman selama berkarir menjadi dosen, Mas Budi sudah beberapa kali menyembuhkan berbagai penyakit dan menjadi konselor persoalan keluarga. Proses
penyembuhannya diceritakan lucu-lucu. Tapi sulit untuk ditulis dalam kalimat.
Saya menilai sebenarnya Mas Budi tidak bisa
menyembuhkan orang sakit. Ia lebih tepatnya seperti Abu Nawas. Ada faktor
keberuntungan. Tapi faktor keberuntungan juga tidak terjadi secara instan. Ada
faktor genetik atau ilmu tiban yang membuat seseorang bisa menyembuhkan
orang sakit sedang dirinya sendiri tidak merasa bisa menyembuhkan. Ini keunikan
penyembuhan model Mas Budi.
Ilmu tiban bisa diceritakan, tapi tidak bisa
dibanggakan. Diceritakan sebagai tahadus binikmah, mensyukuri nikmat
yang diberikan oleh Allah. Tidak bisa dibanggakan karena sang pelaku tabib
tidak merasa dirinya sebagai tabib. Mungkin hanya satu atau beberapa amalan
warisan orang tua atau guru. Tidak banyak. Tabib model seperti ini lebih banyak
memasrahkan diri kepada Allah SWT. Sebab ia merasa tidak punya apa-apa dan
tidak bisa apa-apa.
Apa yang dialami oleh Mas Budi juga ada
pada diriku. Ada prasangka-prasangka baik yang terbangun pada diri sendiri
kepada orang lain dalam alam bawah sadar menyebabkan orang-orang pun
berprasangka baik kepada diri kita sendiri.
Prasangka baik adalah cermin diri. Semakin
besar berprasangka baik kepada hamba-hamba Allah, maka mereka pun akan
berprasangka baik kepada diri kita sendiri. Pada wilayah ini manusia
menjadi punya sifat tawadhu. Ia merasa tidak punya apa-apa. Hakikatnya semua
berasal dari Allah.
Saya kira pada wilayah ini saya, Mas Budi
dan Mas Jarir sedang belajar memaknai bahwa hidup terbaik yaitu selalu membantu
kepada sesama manusia sepanjang itu hal-hal yang bersifat positif. Ketika kita
sudah terbiasa membantu orang lain, maka Allah pun akan memberi balasan dari
jalan yang tidak terduga.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4548
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2945
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2874