Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Bujang Dara; Semerbak Harum Bunga Kehidupan



Minggu , 06 Agustus 2023



Telah dibaca :  322

Sabtu siang, saya mendapat telpon dari sahabat Abu Bakar, yang saat sekarang ini sedang mendapatkan tugas di dinas disparpora, dan juga menjadi Bendahara MUI Kabupaten. Isi nya, agar saya berkenan menghadiri acara grand final Bujang Dara, sekaligus mendoakan agar acara berjalan dengan baik. Saya pun menyanggupinya.

Acara jam 20.00 wib. Saya datang jam 19.50. Masih ada 10 menit lebih cepat. Saya memang tidak enak kalau kehadiran diacara tersebut terlambat. Lebih baik menunggu di tempat acara daripada malah jadi “tungguan” orang banyak.

Kelihatanya Mas Abu Bakar cukup sibuk menjadi panitia. Saya tidak mau mengganggunya. Saya duduk bersama para pembesar Kabupaten Meranti, ada Mas Abdullah, Tengku Arifin serta Plt Disparpora, Pak Alfian.

“Pak Kyai, Ngopi” kata mas Abdullah yang terkenal ramah dan murah senyum.

Setelah berjabat tangan, saya duduk bersama mereka. Ada meja plastik. Kami duduk di kursi plastik mengeliling nya. orang yang paling sibuk kedatanganku yaitu pak tengku dan mas Abdullah. Kedua-duanya menyodorkan rokok sekaligus koreknya. Mereka benar-benar ma’rifat, kalau saya penganut madzhab maliki dalam hal rezeki, bahwa rezeki datang sendiri. Sedangkan mereka penganut mazhab syafi’i, bahwa rezeki harus dicari. Buktinya, mereka membeli rokok, dan saya duduk langsung disodori rokok, hehehehe.


Petugas protokoler datang. Katanya bupati dalam perjalanan. Untung secangkir kopi sudah hangat, disebul sedikit langsung habis. Yang repot, Pak Alfian, kopi baru nyampai. Masih “mrongah-mrongah”. Diminum panas, tidak diminum sayang. Saya tersenyum. Kedatangan pejabat kadang membuat keadaan jadi unik, lucu dan kadang juga aneh-aneh. Kehidupan memang demikian. Dalam Al-Qur’an hidup adalah permainan dan sendau gurau.

Saya segera masuk ke lokasi acara bersama Mas Taufik, MUI. Sampai di lokasi, ada Pak Sudandri. Pakar hukum. Orang nya sangat santun dan rendah hati. Saya kira dia sangat pantas menjadi penjaga Lembaga Adat Melayu. Orang-orang seperti pak sudandri sangat dibutuhkan sekali untuk merawat LAM. Sungguh sangat bangga LAM mempunyai orang-orang seperti Pak Sudandri.

Acara Bujang Dara dimulai. Acara pertama setelah pembukaan yaitu pembacaan doa. Saya membaca doa pendek saja. Doa panjang pun lama-lama malah nglantur. Yang penting maksud nya tercapat. Saya berharap semoga yang hadir selalu mencintai Allah dengan setulus hati. Bukankah hanya cinta yang menjadikan segala sesuatu menjadi indah?


Saya memang jarang ikut acara Bujang Dara. Sering diundang, tapi sering bebarengan dengan acara lain di luar Kepulauan Meranti. Malam ini bisa hadir. Saya duduk disamping pak bupati. Itupun yang perintah Pak Alfian. Karena dia tuan rumah, saya tamu harus sami’na wa atha’na. katanya “tamu” seperti “mayat”. Apa kata tuan rumah.

Alhamdulillah malam ini saya mendapatkan dua hal yang sangat menyenangkan hati: pertama penampilan mas candra dengan biola nya. Dia anak muda yang mempunyai bakat luarbiasa. Saya jadi ingat Karolina, pemain biiola yang suka menyanyikan lagu-lagu klasik. Penampilanya saya abadikan dalam video. Kedua, ada kata mutiara yang cukup menarik dari salah satu peserta bujang-dara. Peserta laki-laki. Dia mangatakan begini:

“Hidup laksana bunga. Untuk menjadi mekar dan mengeluarkan bau harum membutuhkan proses panjang.” Sungguh sangat filosofis bagi anak muda seusianya. Entah dari siapa dia belajar.

Saya tersenyum. dalam hati saya berkata,” Anak ini pantas untuk menjadi juara”. Ternyata benar. Entah gimana cerita nya, anak tersebut benar-benar memenangkan grand final malam itu. Padahal, saya tidak mengenal para juri yang hebat-hebat kecuali pak sudandri dan istri dari bupati. Hal yang sama ketika saya melihat peserta perempuan. Di antara tiga masuk grand final, saya pun mengatakan bahwa dalam hati, bahwa dia akan menjadi juara. Saya merasakan aura kemenangannya. Entah karena senyum nya yang seolah-olah selalu menatapku ( ini hanya perasaan saya saja).Tentu ini penilaian saya terlalu subjektif. Dua-duanya menjadi juara. Diam-diam ternyata saya sudah bakat menjadi juri Bujang-Dara.


Para peserta Bujang-Dara adalah anak-anak muda. Mereka masih banyak keterbatasan. Tapi mereka sudah mempunyai jalan hidup yang dipilih, jelas dan terarah. Kalimat-kalimat yang diungkapkan sebagai nasehat kehidupan adalah cermin bahwa suatu prestasi membutuhkan proses. Mereka sebagaimana kita, suatu proses tidak sesederhana sebagaimana menonton pertunjukan film. Meskipun demikian, saya melihat bahwa ada komitmen tinggi untuk mewujudkan cita-cita besar mereka terutama untuk mewujudkan cita-cita mereka terwujud dalam alam nyata. Ini sebuah perjuangan yang tidak mudah di saat gelora jiwa yang masih belum stabil dengan baik. Melawan kondisi jiwa yang fluktuatif adalah perjuangan yang sangat berat sekali.

Saya harus berterima kasih kepada mereka. Sebab tanpa disadari, mereka telah menyumbangkan suatu pelajaran bahwa semangat untuk meraih sebuah cita-cita adalah suatu keharusan.

Laksana Bunga Melati yang mampu menebarkan aroma harum. Anak-anak muda tadi laksana proses kuntum bunga yang harum dan indah. Tapi tetap ada bedanya. Jika harum bunga mengikuti arah mata angin, harum nya anak-anak muda mampu melawan arah mata angin.

Sebagaimana bunga banyak yang ingin memetik saat sudah mekar. Begitu juga manusia akan senantiasa mendekatinya. Jika bunga akan layu setelah dipetik dalam jangka waktu tertentu, seharusnya keagungan manusia tidak boleh layu dalam kondisi apapun. Itulah hakikat keagungan sejati. Bukankah demikian?



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4560


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879