
Sabtu siang, saya mendapat telpon dari sahabat Abu Bakar,
yang saat sekarang ini sedang mendapatkan tugas di dinas disparpora, dan juga
menjadi Bendahara MUI Kabupaten. Isi nya, agar saya berkenan menghadiri acara grand
final Bujang Dara, sekaligus mendoakan agar acara berjalan dengan baik.
Saya pun menyanggupinya.
Acara jam 20.00 wib. Saya datang jam 19.50.
Masih ada 10 menit lebih cepat. Saya memang tidak enak kalau kehadiran diacara
tersebut terlambat. Lebih baik menunggu di tempat acara daripada malah jadi
“tungguan” orang banyak.
Kelihatanya Mas Abu Bakar cukup sibuk
menjadi panitia. Saya tidak mau mengganggunya. Saya duduk bersama para pembesar
Kabupaten Meranti, ada Mas Abdullah, Tengku Arifin serta Plt Disparpora, Pak
Alfian.
“Pak Kyai, Ngopi” kata mas Abdullah yang
terkenal ramah dan murah senyum.
Setelah berjabat tangan, saya duduk bersama mereka. Ada meja plastik. Kami duduk di kursi plastik mengeliling nya. orang yang paling sibuk kedatanganku yaitu pak tengku dan mas Abdullah. Kedua-duanya menyodorkan rokok sekaligus koreknya. Mereka benar-benar ma’rifat, kalau saya penganut madzhab maliki dalam hal rezeki, bahwa rezeki datang sendiri. Sedangkan mereka penganut mazhab syafi’i, bahwa rezeki harus dicari. Buktinya, mereka membeli rokok, dan saya duduk langsung disodori rokok, hehehehe.

Petugas protokoler datang. Katanya bupati
dalam perjalanan. Untung secangkir kopi sudah hangat, disebul sedikit langsung
habis. Yang repot, Pak Alfian, kopi baru nyampai. Masih “mrongah-mrongah”.
Diminum panas, tidak diminum sayang. Saya tersenyum. Kedatangan pejabat kadang
membuat keadaan jadi unik, lucu dan kadang juga aneh-aneh. Kehidupan memang
demikian. Dalam Al-Qur’an hidup adalah permainan dan sendau gurau.
Saya segera masuk ke lokasi acara bersama Mas
Taufik, MUI. Sampai di lokasi, ada Pak Sudandri. Pakar hukum. Orang nya sangat
santun dan rendah hati. Saya kira dia sangat pantas menjadi penjaga Lembaga
Adat Melayu. Orang-orang seperti pak sudandri sangat dibutuhkan sekali untuk
merawat LAM. Sungguh sangat bangga LAM mempunyai orang-orang seperti Pak
Sudandri.
Acara Bujang Dara dimulai. Acara pertama setelah pembukaan yaitu pembacaan doa. Saya membaca doa pendek saja. Doa panjang pun lama-lama malah nglantur. Yang penting maksud nya tercapat. Saya berharap semoga yang hadir selalu mencintai Allah dengan setulus hati. Bukankah hanya cinta yang menjadikan segala sesuatu menjadi indah?

Saya memang jarang ikut acara Bujang Dara.
Sering diundang, tapi sering bebarengan dengan acara lain di luar Kepulauan
Meranti. Malam ini bisa hadir. Saya duduk disamping pak bupati. Itupun yang
perintah Pak Alfian. Karena dia tuan rumah, saya tamu harus sami’na wa atha’na.
katanya “tamu” seperti “mayat”. Apa kata tuan rumah.
Alhamdulillah malam ini saya mendapatkan
dua hal yang sangat menyenangkan hati: pertama penampilan mas candra dengan
biola nya. Dia anak muda yang mempunyai bakat luarbiasa. Saya jadi ingat Karolina,
pemain biiola yang suka menyanyikan lagu-lagu klasik. Penampilanya saya
abadikan dalam video. Kedua, ada kata mutiara yang cukup menarik dari salah
satu peserta bujang-dara. Peserta laki-laki. Dia mangatakan begini:
“Hidup laksana bunga. Untuk menjadi mekar
dan mengeluarkan bau harum membutuhkan proses panjang.” Sungguh sangat
filosofis bagi anak muda seusianya. Entah dari siapa dia belajar.
Saya tersenyum. dalam hati saya berkata,” Anak ini pantas untuk menjadi juara”. Ternyata benar. Entah gimana cerita nya, anak tersebut benar-benar memenangkan grand final malam itu. Padahal, saya tidak mengenal para juri yang hebat-hebat kecuali pak sudandri dan istri dari bupati. Hal yang sama ketika saya melihat peserta perempuan. Di antara tiga masuk grand final, saya pun mengatakan bahwa dalam hati, bahwa dia akan menjadi juara. Saya merasakan aura kemenangannya. Entah karena senyum nya yang seolah-olah selalu menatapku ( ini hanya perasaan saya saja).Tentu ini penilaian saya terlalu subjektif. Dua-duanya menjadi juara. Diam-diam ternyata saya sudah bakat menjadi juri Bujang-Dara.
Para peserta Bujang-Dara adalah anak-anak
muda. Mereka masih banyak keterbatasan. Tapi mereka sudah mempunyai jalan hidup
yang dipilih, jelas dan terarah. Kalimat-kalimat yang diungkapkan sebagai
nasehat kehidupan adalah cermin bahwa suatu prestasi membutuhkan proses. Mereka
sebagaimana kita, suatu proses tidak sesederhana sebagaimana menonton
pertunjukan film. Meskipun demikian, saya melihat bahwa ada komitmen tinggi
untuk mewujudkan cita-cita besar mereka terutama untuk mewujudkan cita-cita
mereka terwujud dalam alam nyata. Ini sebuah perjuangan yang tidak mudah di
saat gelora jiwa yang masih belum stabil dengan baik. Melawan kondisi jiwa yang
fluktuatif adalah perjuangan yang sangat berat sekali.
Saya harus berterima kasih kepada mereka. Sebab
tanpa disadari, mereka telah menyumbangkan suatu pelajaran bahwa semangat untuk
meraih sebuah cita-cita adalah suatu keharusan.
Laksana Bunga Melati yang mampu menebarkan
aroma harum. Anak-anak muda tadi laksana proses kuntum bunga yang harum dan
indah. Tapi tetap ada bedanya. Jika harum bunga mengikuti arah mata angin, harum
nya anak-anak muda mampu melawan arah mata angin.
Sebagaimana bunga banyak yang ingin memetik
saat sudah mekar. Begitu juga manusia akan senantiasa mendekatinya. Jika bunga
akan layu setelah dipetik dalam jangka waktu tertentu, seharusnya keagungan
manusia tidak boleh layu dalam kondisi apapun. Itulah hakikat keagungan sejati.
Bukankah demikian?
Penulis : Imam Ghozali
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4560
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3576
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2977
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879