Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Bukber dan Akar Makna Infak



Rabu , 19 Maret 2025



Telah dibaca :  632

Pembahasan ringan dan amburadul ini sengaja saya tulis, agar para pembaca tidak ketularan ikut-ikut amburadul,terutama berkaitan dengan ibadah puasa, buka bersama dan berbagai kebaikan kepada sesama manusia di bulan yang mulia.

Pertemuan sebelumnya telah membahas ciri-ciri orang bertakwa yaitu beriman kepada yang ghoib dan mendirikan sholat. Kini penulis akan melanjutkan perjalanan hidup atau ngaji kehidupan tentang ciri takwa yang nomor tiga yaitu “wamimma razakahum yunfiquun”, menginfakan sebagian rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka”.

Firman Allah SWT dalam Q.S. Surat Al-Baqarah ayat 3 sebagai berikut:

الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۙ

Artinya:

(yaitu) orang-orang yang beriman pada yang gaib, menegakkan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka,

Ayat tersebut memberi penjelasan tentang kerangka berfikir orang-orang yang bertakwa bahwa hakikat manusia tidak mempunyai apa-apa, dan tidak boleh mengklaim apa-apa yang ada dirinya serratus persen karena usaha kerja kerasnya.

Jika manusia berhasil dalam karir dan mampu mengumpulkan kekayaan yang melimpah, dalam tinjauan agama sebenarnya ia sedang menggunakan fasilitas yang diberikan Allah kepada nya berupa akal pikiran, skill dan segala yang mendukung  kesuksesan ada pada dirinya. Wajar apabila orang-orang yang bertakwa ketika mendapatkan karunia berupa harta senantiasa bersyukur kepada-Nya. Salah satu bentuk syukur tersebut berupa ringan tangan membantu orang lain yang membutuhkan.

Sedangkan kaum materalisme berpandangan bahwa apa-apa yang dilakukan karena hasil kerja kerasnya. Jika tidak kerja keras, tidak berpendidikan tinggi dan tidak punya koneksi dan sebagainya, maka ia berpikir semua kejayaan tidak akan didapatkannya. Atas dasar keyakinan tersebut, tumbuh dalam hati benih-benih keangkuhan, senyum mengembang dengan penuh kesinisan terhadap orang-orang yang dianggap pemalas, belum sukses dan sejenisnya. Dengan kekayaan nya, ia merasa bisa berbuat apa saja, bahkan mengatur sistem kehidupan pun bisa. Sebagaimana contoh aturan kehidupan pada masa jahiliyah yang menempatkan kaum hartawan sebagai simbol manusia kelas atas.

Kata yunfiqun [ ينفقون ] dalam pendekatan agama sebenarnya ada titik temu dengan hakikat dari materialisme dan pendekatan keagamaan. Penulis mengutip Kitab Tafsir Al-Qurtubi. Kata yunfiqun arti nya mengeluarkan. Al-Munafiq, artinya orang yang keluar dari iman, dan iman keluar dari hatinya. Nafaqa az-zaad artinya bekal telah habis (Qurthubi, 2015).

Jadi kata yunfiqun yang sering diartikan sebagai sedekah terhadap sebagian harta jika dilihat dari akar kata tersebut merupakan desain Tuhan agar seorang mutaqin harus mengeluarkan  yunfiqun atau mengeluarkan pada dirinya sifat-sifat nifak atau sifat-sifat kotoran yang menempel pada dirinya. Salah satu sifat yang menempel pada kaum materialisme yaitu keakuan diri bisa menciptakan segala-galanya.

Allah telah mendidik mutaqin berinfak sebenarnya sedang mengeluarkan kotoran-kotoran baik sifak nifak pada dirinya dan kotoran-kotoran harta yang mereka dapatkan dalam bisnis dan usaha-usaha nya. Jadi, sikap trengginas mengeluarkan kotoran-kotoran tersebut merupakan suatu keharusan dan tidak harus menunggu mempunyai harta melimpah. Sebab berinfak sedang mengeluarkan penyakit yang ada pada dirinya. Semakin rajin berinfak, maka semakin bersih hati dan hartanya. Orang-orang yang berinfak semakin jernih pikirannya, tenang hatinya dan damai kehidupannya.

Infak merupakan jenis bantuan yang sangat spesifik. Ia lahir dari dua profes yaitu proses yu’minuna bi al-ghoib dan yuqimuna as-sholat. Pendek kata, ketika seorang muslim memberikan bantuan kepada sesama manusia sebenarnya sedang melakukan proses infak tersebut. meskipun definisi infak dalam berbagai kitab literatur islam berbeda-beda maknanya. Secara umum, perbuatan seorang muslim membantu orang lain bernilai infak yang bernilai ibadah.

Dalam pandangan Islam, non-muslm melakukan bantuan kepada sesama manusia tidak bisa disebut sebagai infak. Cukup disebut bantuan atau donatur. Kemanfaatan dalam kehidupan sosial sama, yaitu memberi keringanan kepada orang-orang yang membutuhkan. Masyarakat Indonesia pernah mendapatkan bantuan dari berbagai negara luar negeri saat terjadi Gempa Tsunami tahun 2004-an, dan bencana-bencana yang bersifat nasional pada masa lalu.

Selain perbedaan yang mendasar tersebut, infak juga harus sesuai dengan syariat Islam. ada aturan syariat yang harus dipatuhi: harta benda yang dicari dengan cara yang benar dan barang yang dicari juga barang yang tidak mengandung madzarat. Islam tidak semua membenarkan melakukan usaha-usaha secara liberal hingga merusak ekosistem alam, udara, laut dan tanah. Tidak juga merusak tubuh manusia seperti morfin, heroin, ganja dan sejenisnya. Tidak juga melakukan perilaku kejahatan dengan segala trik dan intrik dengan menghalalkan segala cara.

Aturan-aturan syariat tersebut sebenarnya bertujuan agar proses yunfiqun benar-benar berjalan dengan benar. Jadi setelah proses tersebut, harta kaum muslimin benar-benar bersih. Tapi jika sudah dari awal sudah melanggar syariat dalam usahanya, maka proses yunfiqun macet. Sebab meskipun sudah berinfak, hartanya tetap kotor. Tidak bersih. Sebab dari awal hingga akhir usaha nya sudah terkontaminasi dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah SWT.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   184

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872