
Prof.Dr.KH.Abdul Syakur, MA (lebih dikenal
dengan sebutan Buya Syakur) telah meninggal dunia pada hari rabu (17/1/2024).
Sebagian kaum muslimin terkejut atas wafatnya ulama karismatik dari Indramayu.
Berbagai karya dalam bentuk tulisan dan pengajian lewat youtube telah menutup
keadaan dirinya terlihat selalu sehat. Maka ketika ada berita kematiannya, umat
muslim pun bersedih. Bahkan non-muslim pun merasa kehilangan atas meninggalkan
seorang ulama dan tokoh agama yang sangat santun dan sangat menghormati
orang-orang yang berbeda agama.
Secara pribadi, saya belum pernah berjumpa
dengannya. Jika melihat dari video saat pemakamannya, penulis artikel ini bisa
melihat kebesaran, keagungan dan kepemilikan masyarakat muslim kepada nya. Ribuan
orang mengantarkan sudah cukup bukti akan keagungan pribadinya. Padahal dalam
kesehariannya, Buya Syakur berpenampilan sangat bersahaja. Asesoris baju
sebagai seorang ulama tidak begitu terlihat pada dirinya. Beberapa video yang
saya lihat, dia sering menggunakan baju lengan pendek dan peci putih. Baju yang dia pakai sebenarnya baju masyarakat umum yang sering dikategorikan sebagai baju rakyat
yang biasa saja. Egaliter. Siapapun bisa memakai nya tanpa risih; bisa ustadz, bukan ustadz,
penjual baju di Pasar, tukang reparasi jam tangan, penjual bakso, gharim
masjid, mahasiswa, santri baru masuk pesantren, dan lain-lain.
Saya tidak tahu motifnya apa. Apakah karena
sedang memahami makna dari sunnah nabi dalam berpakaian? Bisa jadi. Jika
merujuk sejarah, Kanjeng Nabi terkenal memakai baju basyarun mislukum dengan harga yang
super murah. Bisa jadi, antara baju Nabi dan Bilal harganya sama. Nabi dan Bilal beli baju di Pasar Rakyat. Kain nya kasar,
panas dan murah. Berbeda dengan Abu Bakar , Umar dan Utsman bin Affan yang
senantiasa memilih baju di tempat khusus kaum elit. Harganya mahal. Ketika
masuk Islam, mereka belajar menyesuaikan diri dengan nabi dalam cara
berpakaian sederhana. Maka betapa bahagia para sahabat nabi tadi saat mampu mencontoh cara berpakaian model nabi yang terlihat sangat sederhana dan merakyat. Hal ini tentu suatu yang sangat luarbiasa para bangsawan arab bisa berpakain seperti rakyat jelata. Perasaan sahabat nabi dari kaum bangsawan tadi tentu berbeda dengan Bilal. Baginya memakai baju murah tidak merasa dirinya sedang mencontoh Nabi. Biasa saja. Sebab tidak mencontoh nabi pun tetap juga harga
baju nya murah (bahkan bisa jadi lebih murah dari baju nabi) dan sudah banyak “tembelan” nya.
Setelah melihat beberapa video
pengajiannya, saya menemukan satu video yang berbunyi kurang lebih begini,” Semua
apa yang ada di dunia milik Allah, harta kita milik Allah, jabatan milik Allah.
Semua milik Allah. Ketika kita berbuat, beramal dan mempunyai apa-apa di dunia
ini kok sombong, itu suatu kesalahan yang sangat fatal. Seharusnya kita berterima
kasih kepada Allah bisa berbuat baik, dan diberi kepercayaan melalukan kebaikan
oleh-Nya”.
Buya Syakur mengatakan demikian merupakan realisasi firman Allah Swt Q.S Taha [20]: 6 yang berbunyi, “Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi,
semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah”. Q.S. Al-Hajj[22]:64 berbunyi,” Kepunyaan Allah-lah segala yang
ada di langit dan segala yang ada di bumi. Dan sesungguhnya Allah benar-benar
Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.
Saya menilai Buya Syakur melihat persoalan dunia dari sudut pandang spiritual. Penilaian ku ini berangkat dari riwayat pendidikannya yang sangat komplek. Sejak kecil dia sudah mengenyam pendidikan di Pesantren. Lalu melanjutkan
pendidikan di Timur Tengah seperti Kairo Mesir, pendidikan ilmu Al-Qur’an di Libya,
sastra linguistik di Tunisia. Sebelum kembali ke Indonesia, dia pun kuliah di
Universitas Oxford Inggris. Hasilnya melahirkan tiga nilai dasar pendidikan;
pertama kemanusiaan dari Pesantren, kedua wawasan keulamaan dari Timur Tengah
dan ketiga wawasan modernisasi dari Barat. Gabungan ketiga dasar nilai-nilai
pendidikan ini melahirkan sikap tawadhu dan konsistensi Buya Syakur dalam
memahami hakikat hidup manusia yang sebenarnya berasal dari tidak punya apa-apa
dan akan kembali kepada Allah dengan tidak membawa apa-apa. Semua menghadap
kepada-Nya hanya membawa ibadah dan amal sholeh yang semata-mata mengharap
ridha Allah swt.
Mungkin bagi sebagian orang menilai
pemikiannya terlalu nlyeneh dan liberal. Siapapun boleh menilai apa saja
tentang dirinya. Sebab dia pun tidak memperdulikan penilaian dari manusia yang
pandangan mata nya sangat dibatasi oleh jarak dan umur. Dia telah benar-benar telah selesai dengan dirinya sendiri. Dia sangat welcome atas perbedaan dan pandangan orang lain kepadanya. Itulah ilmu pengetahuan. Sebagaimana Al-Qusairy,
ketika dunia hanya ditempatkan pada ‘ain al-yaqin, maka yang akan
terjadi adalah perdebatan yang tidak kunjung selesai. Sebab itu watak manusia. Itu
juga, kelemahan manusia yang tidak akan bisa menemukan suatu kebenaran mutlak
pada hasil keilmuannya. Karena memang, kebenaran absolut hanya milik Allah
swt. Orang-orang yang mendapat tataran cahaya haqul yaqin yang akan
mendapatkan manisnya dinamika kehidupan di dunia. Sebab semua sudah melihat
dengan pandangan ilahiyah.
Atas dasar-dasar seperti di atas, penulis
bisa memahami bahwa Buya Syakur mengajarkan kita untuk selalu mensyukuri kenikmatan
yang telah diberikan oleh Allah dan segala amanat yang telah diberikan oleh-Nya
kepada kita. Sebagai status fuqoro dan masyakiin, manusia harus
membunuh egoisme keakuan atas segala asesoris yang ada di dunia. Semua
yang dipunyai hanya sebatas titipan, dan kita harus berterima kasih atas
kepercayaan yang diberikan oleh Allah kepada kita. Maka, yang kita lakukan saat
ini adalah berlomba-lomba mempersembahkan amanah nikmat Allah untuk melakukan
yang terbaik untuk kemaslahatan bersama dan keselematan bersama di dunia dan di
akherat.
Sebagai penutup tulisan ini, saya menilai
atas pandangan mata ku yang terbatas, bahwa Buya Syakur sudah mencapai maqam
syukur. Kematiannya adalah puncak dari rasa syukur bisa bertemu dengan kekasih
yang selalu dirindukan setiap hari yaitu Allah swt. Selamat jalan, surga firdaus
menantinya. Al-fatehah.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3572
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876