
Langit di atas Pantai selat baru terlihat
sangat bersih. Berwarna kebiru-biruan. Sinar Matahari terlihat sangat terang. jam
14.30. biasanya udara terasa panas. Namun hari itu angin laut membawa kedamaian
menyapu seluruh tubuh ku terasa sangat nikmat. Panas nya matahari seolah-olah
hilang. Ada rasa nyaman dan damai melihat pemandangan di sekitar Pantai Selatbaru.
Air lagi surut. Ramai-ramai turun ke Pantai. Sebagian mereka ada foto bersama
keluarga, mainan ombak laut, dan mainan tanah bercampur pasir.
Di sepanjang bibir Pantai berisi Rumah-Rumah
Makan yang menyediakan makanan menu beragam ikan dan beragam minuman. Bagi yang
malas jalan-jalan di Pantai, mereka bisa duduk-duduk, minum air Kelapa Muda sambil
memandang Pantai selatbaru dengan pasangan nya atau dengan orang-orang yang dicintai
nya. nun jauh di sana, ada jleretan warna hitam. Itu adalah negara
tetangga kita, Malaysia.
Apakah Pantai Selatbaru memang sangat indah,
sehingga meninggalkan kesan tersendiri. Saya kira setiap Pantai selalu ada kesan-kesan
tersendiri. Saya sudah melihat cukup banyak Pantai-Pantai di Nusantara. Kesan selalu
muncul karena mungkin baru pertama datang ke tempat itu. Untuk mengenang nya,
maka diabadikan dalam bentuk foto-foto bersama sebagai kenangan dalam hidup. Saat
datang sesuatu yang membosankan, kenangan-kenangan sering menjadi penghibur
diri dan menjadi cahaya saat pikiran dan hati sedang sedih tidak menentu.
Memang benar, asesoris dunia sering hadir
laksana cahaya. Pada saat momen terindah, ia hadir memberi penerang dan
mendatangkan kedamaian. Dunia terlihat indah atas kehadirannya. Namun saat
asesori dunia meninggalkan kita, dunia terasa gelap gulita. Ada asa putus asa,
bosan, tidak semangat dan seolah-olah hidup tidak ada arti sama sekali.
Terkadang asesoris masih berada di samping
kita. Anggap saja, ada mertua, orang tua, saudara, anak-anak, istri atau suami
serta harta kekayaan atau jabatan. Tapi semua ini kadang hadir kurang memberi cahaya
kebahagiaan. Ada konflik tidak berkesudahan, punya harta saling rebutan, punya
jabatan merasa menderita oleh jabatan tersebut. seharusnya semua yang kita
punya bisa menjadi matahari, rembulan dan bintang-bintang yang mampu menghiasai
rumah, tapi kadang justru hadir laksana bara api yang membuat seluruh isi rumah
panas dan hidup terasa tidak tenang. Rumah seolah-olah menjadi gelap gulita.
Kita harus berlatih menghidupkan sumber cahaya
yang ada pada diri kita, yaitu cahaya di atas cahaya. Cahaya tersebut akan
tetap bersinar di gelap nya malam hari, dan akan terus menerangi gelap nya hati
dari debu-debu persoalan yang datang silih berganti dalam beragam problema
kehidupan.
Tahukah siapa yang dimaksud dengan Cahaya di
atas Cahaya? Tidak lain dan tidak bukan yaitu Allah SWT. Dia sumber cahaya yang
bisa menjadi manusia terasa terang meskipun dalam gelap nya malam, dan mati nya
lampu-lampu listrik -akibat dibuat jadwal mati bergilir.
Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda: “Perumpamaan
orang yang berdzikir kepada Tuhan nya dengan orang yang tidak berdzikir kepada Tuhannya
adalah seperti orang yang hidup dengan orang yang mati” (HR. Al-Bukhori).
Pernahkah saat anda sedang kasmaran -jatuh
cinta -dengan seseorang dan anda menyebut namanya terasa sangat indah dan
mempunyai kekuatan magnit luarbiasa pada diri anda. Jika iya, berarti anda
menyebut nya dengan ketulusan cinta dan menggunakan seluruh potensi yang ada
pada dirinya dikumpulkan menjadi satu untuk menyebut nama terindah saat itu. Sehingga
keindahan benar-benar terbentuk. Seluruh alam semesta menjadi indah bukan
karena keberadaan alam tersebut. Keindahan tersebut karena pantulan-pantulan
cinta anda kepada sang pujaan yang engkau sanjung setiap hari.
Pernahkan anda mendengar kisah cinta yang
menggetarkan dari dua orang yang punya status sosial berbeda. laksana bumi dan
langit. Mereka tetap mempertahankan cinta nya dan merelakan seluruh kekayaan
dan jabatan hilang, dan dikucilkan dari keluarga besarnya. Mereka berdua berani
menanggung penderitaan sepanjang hayat demi hidup dengan orang yang
dicintainya. Ia menderita jasad. Tapi dalam hatinya selalu bersinar cahaya-cahaya
kebahagiaan dalam tumpukan penderitaan hidup di dunia. Ia tetap tersenyum dan memulai
hidup baru dengan penuh keterbatasan. Ia tetap bahagia. Sebab cinta yang
mendalam dalam hatinya telah menghancurkan seluruh karang penderitaan. Ia
terasa bebas dan merdeka tanpa ada beban yang mengganggunya. Bahkan ia mampu
mengatakan pada pujaannya: “Apapun yang akan terjadi, saya tetap mencintai
mu sepanjang masa”.
Pasangan hidup mu, pujaan hati mu sama
seperti kamu, Ia manusia yang akan menua dan akan hilang ditelan bumi pada saat
yang tepat. cinta sejati yang anda bangun akan mengalami evolusi waktu yang
membuat perasaan cinta akan mengalami perubahan, ada rasa hambar, getir, pahit,
kecut dan sebagainya. Sebab memang perekat cinta pada hal-hal yang bersifat
fana tidak lepas dari unsur-unsur yang terlihat pada kasat mata dan masuk ke
dalam hati.
Saya dan anda sering melupakan hal yang
demikian. Sehingga energi kita terlalu fokus kepada hal-hal yang bersifat
sementara. Padahal, Pemilik Cinta yang sesungguhnya bukan pasangan anda, anak
anda, mertua anda, orang tua anda dan guru-guru anda. Cinta mereka sering
mengalami fluktuatif, naik turun dan kadang bisa hilang. Sedangkan pemilik
cinta sesungguhnya tidak akan menghilangkan rasa cinta kepada anda sepanjang
hidup anda di dunia dan setelah hidup di dunia, yaitu Allah SWT.
Kekasih yang anda kagumi yang berada di
dekat anda tidak sebaik tuhan anda. Kekasih anda mungkin menyulitkan hidup anda
dengan meminta banyak tuntutan di luar kemampuan anda. Tapi demi cinta, anda
harus banting tulang, bekerja siang dan malam untuk membahagiakan kekasih anda.
Sedangkan Tuhan telah memberi kita dengan bentuk
kesempurnaan tubuh. Ada mata yang bergerak secara otomatis, ada rambut yang
terus tumbuh memanjang, ada alis yang tumbuh tetap konsisten, ada kumis dan
jenggot dengan susunan yang sangat indah dan menawan. Anda terlihat indah
karena fasilitas yang telah Tuhan berikan kepada anda. Tuhan sangat mencintai
anda. Tapi hingga kini anda -juga saya -sering bertepuk sebelah tangan.
Bisakah luapan cinta kita kepada Tuhan sama
sebagaimana saat anda jatuh cinta kepada kekasih kita. Bisakah cinta kita membara
kepada kekasih anda meskipun ujian, rintangan dan segala cobaan tidak
menggoyahkan semangat untuk melihat dan menjemputnya. Hingga ada istilah yang
sangat ilusi : “Laut akan aku seberangi, gunung akan aku daki”.
Semua butuh proses. Kita memang harus mulai
mengenal cinta kita yang sesungguhnya, yang kekal abadi yaitu cinta nya Sang Khaliq
kepada makhluk-Nya.
Dzikir kepada Allah sebenarnya dzikir
mengingat kepada Kekasih Sejati. Dzikir yang bergairah penuh rasa cinta yang
mendalam. Dzikir yang mampu membakar berhala-berhala cinta dalam wujud-wujud
asesoris-asesoris dunia. Dzikir yang telah melahirkan ketenangan dan kedamaian
hati saat kita telah selalu bersama-Nya setiap saat.
Allah telah berfirman dalam Q.S. Ar-Rad ayat
28 sebagai berikut: “Orang-orang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan
mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram”.
Tentu saja rasa tenang dan tentram bukan tidak
ada badai kehidupan. Laksana Kapal Laut yang besar, ia tidak lepas dari
gelombang dan tekanan air dari luar. Tapi Kapal Laut tersebut tetap tenang dan
terus bergerak memecahkan ombak untuk terus berjalan mencapai suatu tujuan yang
dicita-citakan.
Orang yang sangat mencintai Allah dengan
benar adalah orang-orang yang hidup dengan sangat tenang. Ada pancaran cahaya dalam
pikiran dan hati, bahwa cinta kepada-Nya laksana Alam Semesta yang begitu luas,
dan beban hidup laksana debu-debu yang menempel di kacamata. Terlihat besar
debu tersebut, tapi diusap sebentar akan terlihat indah kembali alam semesta
ini.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13558
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3569
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876