Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

322 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Cahaya Di Atas Cahaya Yang Ada Pada Dirimu



Kamis , 10 Juli 2025



Telah dibaca :  596

Langit di atas Pantai selat baru terlihat sangat bersih. Berwarna kebiru-biruan. Sinar Matahari terlihat sangat terang. jam 14.30. biasanya udara terasa panas. Namun hari itu angin laut membawa kedamaian menyapu seluruh tubuh ku terasa sangat nikmat. Panas nya matahari seolah-olah hilang. Ada rasa nyaman dan damai melihat pemandangan di sekitar Pantai Selatbaru. Air lagi surut. Ramai-ramai turun ke Pantai. Sebagian mereka ada foto bersama keluarga, mainan ombak laut, dan mainan tanah bercampur pasir.

Di sepanjang bibir Pantai berisi Rumah-Rumah Makan yang menyediakan makanan menu beragam ikan dan beragam minuman. Bagi yang malas jalan-jalan di Pantai, mereka bisa duduk-duduk, minum air Kelapa Muda sambil memandang Pantai selatbaru dengan pasangan nya atau dengan orang-orang yang dicintai nya. nun jauh di sana, ada jleretan warna hitam. Itu adalah negara tetangga kita, Malaysia.

Apakah Pantai Selatbaru memang sangat indah, sehingga meninggalkan kesan tersendiri. Saya kira setiap Pantai selalu ada kesan-kesan tersendiri. Saya sudah melihat cukup banyak Pantai-Pantai di Nusantara. Kesan selalu muncul karena mungkin baru pertama datang ke tempat itu. Untuk mengenang nya, maka diabadikan dalam bentuk foto-foto bersama sebagai kenangan dalam hidup. Saat datang sesuatu yang membosankan, kenangan-kenangan sering menjadi penghibur diri dan menjadi cahaya saat pikiran dan hati sedang sedih tidak menentu.

Memang benar, asesoris dunia sering hadir laksana cahaya. Pada saat momen terindah, ia hadir memberi penerang dan mendatangkan kedamaian. Dunia terlihat indah atas kehadirannya. Namun saat asesori dunia meninggalkan kita, dunia terasa gelap gulita. Ada asa putus asa, bosan, tidak semangat dan seolah-olah hidup tidak ada arti sama sekali.

Terkadang asesoris masih berada di samping kita. Anggap saja, ada mertua, orang tua, saudara, anak-anak, istri atau suami serta harta kekayaan atau jabatan. Tapi semua ini kadang hadir kurang memberi cahaya kebahagiaan. Ada konflik tidak berkesudahan, punya harta saling rebutan, punya jabatan merasa menderita oleh jabatan tersebut. seharusnya semua yang kita punya bisa menjadi matahari, rembulan dan bintang-bintang yang mampu menghiasai rumah, tapi kadang justru hadir laksana bara api yang membuat seluruh isi rumah panas dan hidup terasa tidak tenang. Rumah seolah-olah menjadi gelap gulita.

Kita harus berlatih menghidupkan sumber cahaya yang ada pada diri kita, yaitu cahaya di atas cahaya. Cahaya tersebut akan tetap bersinar di gelap nya malam hari, dan akan terus menerangi gelap nya hati dari debu-debu persoalan yang datang silih berganti dalam beragam problema kehidupan.

Tahukah siapa yang dimaksud dengan Cahaya di atas Cahaya? Tidak lain dan tidak bukan yaitu Allah SWT. Dia sumber cahaya yang bisa menjadi manusia terasa terang meskipun dalam gelap nya malam, dan mati nya lampu-lampu listrik -akibat dibuat jadwal mati bergilir.

Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda: “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhan nya dengan orang yang tidak berdzikir kepada Tuhannya adalah seperti orang yang hidup dengan orang yang mati” (HR. Al-Bukhori).

Pernahkah saat anda sedang kasmaran -jatuh cinta -dengan seseorang dan anda menyebut namanya terasa sangat indah dan mempunyai kekuatan magnit luarbiasa pada diri anda. Jika iya, berarti anda menyebut nya dengan ketulusan cinta dan menggunakan seluruh potensi yang ada pada dirinya dikumpulkan menjadi satu untuk menyebut nama terindah saat itu. Sehingga keindahan benar-benar terbentuk. Seluruh alam semesta menjadi indah bukan karena keberadaan alam tersebut. Keindahan tersebut karena pantulan-pantulan cinta anda kepada sang pujaan yang engkau sanjung setiap hari.

Pernahkan anda mendengar kisah cinta yang menggetarkan dari dua orang yang punya status sosial berbeda. laksana bumi dan langit. Mereka tetap mempertahankan cinta nya dan merelakan seluruh kekayaan dan jabatan hilang, dan dikucilkan dari keluarga besarnya. Mereka berdua berani menanggung penderitaan sepanjang hayat demi hidup dengan orang yang dicintainya. Ia menderita jasad. Tapi dalam hatinya selalu bersinar cahaya-cahaya kebahagiaan dalam tumpukan penderitaan hidup di dunia. Ia tetap tersenyum dan memulai hidup baru dengan penuh keterbatasan. Ia tetap bahagia. Sebab cinta yang mendalam dalam hatinya telah menghancurkan seluruh karang penderitaan. Ia terasa bebas dan merdeka tanpa ada beban yang mengganggunya. Bahkan ia mampu mengatakan pada pujaannya: “Apapun yang akan terjadi, saya tetap mencintai mu sepanjang masa”.

Pasangan hidup mu, pujaan hati mu sama seperti kamu, Ia manusia yang akan menua dan akan hilang ditelan bumi pada saat yang tepat. cinta sejati yang anda bangun akan mengalami evolusi waktu yang membuat perasaan cinta akan mengalami perubahan, ada rasa hambar, getir, pahit, kecut dan sebagainya. Sebab memang perekat cinta pada hal-hal yang bersifat fana tidak lepas dari unsur-unsur yang terlihat pada kasat mata dan masuk ke dalam hati.

Saya dan anda sering melupakan hal yang demikian. Sehingga energi kita terlalu fokus kepada hal-hal yang bersifat sementara. Padahal, Pemilik Cinta yang sesungguhnya bukan pasangan anda, anak anda, mertua anda, orang tua anda dan guru-guru anda. Cinta mereka sering mengalami fluktuatif, naik turun dan kadang bisa hilang. Sedangkan pemilik cinta sesungguhnya tidak akan menghilangkan rasa cinta kepada anda sepanjang hidup anda di dunia dan setelah hidup di dunia, yaitu Allah SWT.

Kekasih yang anda kagumi yang berada di dekat anda tidak sebaik tuhan anda. Kekasih anda mungkin menyulitkan hidup anda dengan meminta banyak tuntutan di luar kemampuan anda. Tapi demi cinta, anda harus banting tulang, bekerja siang dan malam untuk membahagiakan kekasih anda.

Sedangkan Tuhan telah memberi kita dengan bentuk kesempurnaan tubuh. Ada mata yang bergerak secara otomatis, ada rambut yang terus tumbuh memanjang, ada alis yang tumbuh tetap konsisten, ada kumis dan jenggot dengan susunan yang sangat indah dan menawan. Anda terlihat indah karena fasilitas yang telah Tuhan berikan kepada anda. Tuhan sangat mencintai anda. Tapi hingga kini anda -juga saya -sering bertepuk sebelah tangan.

Bisakah luapan cinta kita kepada Tuhan sama sebagaimana saat anda jatuh cinta kepada kekasih kita. Bisakah cinta kita membara kepada kekasih anda meskipun ujian, rintangan dan segala cobaan tidak menggoyahkan semangat untuk melihat dan menjemputnya. Hingga ada istilah yang sangat ilusi : “Laut akan aku seberangi, gunung akan aku daki”.

Semua butuh proses. Kita memang harus mulai mengenal cinta kita yang sesungguhnya, yang kekal abadi yaitu cinta nya Sang Khaliq kepada makhluk-Nya.

Dzikir kepada Allah sebenarnya dzikir mengingat kepada Kekasih Sejati. Dzikir yang bergairah penuh rasa cinta yang mendalam. Dzikir yang mampu membakar berhala-berhala cinta dalam wujud-wujud asesoris-asesoris dunia. Dzikir yang telah melahirkan ketenangan dan kedamaian hati saat kita telah selalu bersama-Nya setiap saat.

Allah telah berfirman dalam Q.S. Ar-Rad ayat 28 sebagai berikut: “Orang-orang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram”.

Tentu saja rasa tenang dan tentram bukan tidak ada badai kehidupan. Laksana Kapal Laut yang besar, ia tidak lepas dari gelombang dan tekanan air dari luar. Tapi Kapal Laut tersebut tetap tenang dan terus bergerak memecahkan ombak untuk terus berjalan mencapai suatu tujuan yang dicita-citakan.

Orang yang sangat mencintai Allah dengan benar adalah orang-orang yang hidup dengan sangat tenang. Ada pancaran cahaya dalam pikiran dan hati, bahwa cinta kepada-Nya laksana Alam Semesta yang begitu luas, dan beban hidup laksana debu-debu yang menempel di kacamata. Terlihat besar debu tersebut, tapi diusap sebentar akan terlihat indah kembali alam semesta ini.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13558


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876