Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Cahaya Iman dan Cahaya AI dalam Pendidikan



Jumat , 02 Mei 2025



Telah dibaca :  584

Ini tulisan ringan yang mungkin mulai dilupakan oleh manusia akibat gempuran madzhab kapitalisme dan sosialisme murni yang hanya menyediakan ruang rezeki dari hasil usaha dhohir dan tidak ada campur tangan Tuhan. Tulisan ini untuk mengingatkan “diri sendiri” dan harapannya ada manfaatnya untuk anda.

Saat ini perkembangan dunia digital sangat cepat dan pesat. Semua manusia menjadi gagap seperti seorang bapak-bapak atau ibu-ibu dari kampung pedalaman ingin ke kota. Saat berada di jalan tol, ia bingung. Semua yang dilihat hanya gedung-gedung pencakar langit dan kepulan asap pabrik, serta papan-papan reklame orang berdasi. Ia ingin bertanya, tapi mobil tak satupun berhenti. Ia ingin ingin menelpon, tapi lupa membawa telpon genggamnya. Saat seperti ini, salah satu cara yaitu meminta pertolongan kepada Allah swt. Sebab semua kendaraan yang lalu lalang tidak pernah berhenti setiap saat sebenarnya bagian dari karya Allah. Semua mudah bagi-Nya. semua mungkin bagi-Nya. Allah sangat mudah menolong kepada hamba-Nya jika sungguh-sungguh meminta pertolongan kepada-Nya.

Apakah anda pernah membaca kisah Muhammad Al-Munkadir. Ia orang yang sangat miskin. Di usia yang tidak muda lagi belum menikah. Sebab ia tidak mempunyai uang untuk maskawin, ia juga tidak mempunyai uang untuk membuat rumah yang pantas sebagai tempat tinggal.

Muhammad Al-Munkadir masih ada kerabat dengan Abu Bakar As-Shidiq. Ia pernah meminta bantuan kepada Aisyah ra. Namun pada saat yang sama ia juga lagi tidak mempunyai apa-apa yang pantas untuk nya. akhirnya, Aisyah mengangkat kedua tangan dan memohon kepada Allah agar Sang Pemberi Rezeki melimpahkan rezeki kepada Al-Munkadir.

Hari berikutnya, Saat Al-Munkadir berada di rumah kedatangan utusan seorang hartawan mengantar uang sebanyak 10.000 dirham. Ia kaget. Ia juga mengatakan bahwa kemungkinan pemberian tersebut salah sasaran. Namun utusan tersebut menyakinkan bahwa uang tersebut untuk tuan rumah.

Ia sangat bersyukur atas nikmat tersebut. Uang tersebut digunakan untuk memperbaiki rumah dan menikah. Ia pun memulai hidup baru dalam berumah tangga.

Muhammad Al-Munkadir adalah orang yang sangat rajin ibadah dan sangat mencintai Nabi. Dari mulutnya selalu berdzikir kepada-Nya dan mengucapkan shalawat kepada nabi dan rasul-Nya yang paling agung Muhammad saw. Ia membangun harmonisasi Sang Pencipta, maka alam semesta pun ikut membangun harmonisasi dengan nya. Sebab alam semesta sebenarnya juga konsisten membangun harmonisasi dengan sang pencipta. Allah telah berfirman: “ Langit tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya senantiasa bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatu pun, kecuali senantiasa bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun Lagi Maha Pengampun”.

Pemahaman ini menjadi sangat penting. Sebab status Tuhan sebagai Sang Pencipta tidak bisa dihindari. Voltaire seorang filsuf rasionalis mengatakan begini: “Jika Tuhan tidak ada maka sangat perlu untuk menciptakannya”. Ia juga mengatakan bahwa ketika manusia berdebat, maka alam semesta ini bergerak”. Maksudnya bahwa serasional apapun, hati manusia selalu membutuhkan Tuhan untuk mengatur kehidupan. itu sebabnya ketika manusia menghabiskan perdebatan yang tidak berfaidah akan berdampak kepada keselarasan alam semesta. Kerusakan nya karena ulah manusia.

Sebagai seorang muslim sejak kecil sudah dilatih pendidikan tauhid tentang Allah dan penciptaan-Nya. Manusia diberi kelengkapan tubuh untuk bekerja dan mencari rezeki. Ada kelangkapan tubuh sempurna, ada yang tidak sempurna. Semua digunakan untuk mencari rezeki yang telah disediakan oleh Allah SWT.

Namun Allah juga menyediakan rezeki dari “jalan yang tidak disangka-sangka”. Ada yang “tidak disangka-sangka” dengan kesadaran itu terjadi, ada “tidak disangka-sangka” kita tidak menyadari rezeki itu telah ada pada diri kita.

Ada seorang sepasang suami-istri. Kedua nya buruh tani. Artinya, ia tidak punya lahan. Ia bekerja kepada orang lain untuk mencukupi hidupnya. Secara dhohir penghasilan sangat terbatas sekali. Meskipun sedikit, tapi Allah ridha. Ia makan dengan makanan yang diridhai Allah. Lalu istri nya hamil, melahirkan dan terus tumbuh menjadi seorang anak yang sempurna. Puncaknya, anak nya bisa lulus S3 di perguruan tinggi paling bergengsi di dunia.

Ada juga sepasang suami-istri menjadi buruh pemintal kain. Sangat fakir, sangat miskin. Tapi ia sangat mencintai para ulama. Ia sangat khusu’ dan ingin sekali berkah melimpah di keluarganya. Ia bertawasul dengan menyediakan lentera di malam hari. Masjid menjadi terang karena orang tua miskin tadi. Berkah dari amal kebaikan, ia mendapatkan rezeki berupa anak-anak nya menjadi ulama besar yang kemudian dikenal dengan sebutan hujatul Islam.

Kedua kisah tersebut di atas adalah rezeki. Bukan bentuk barang, luas kebun, duit yang melimpah, tapi anak-anak nya yang mampu menjadi cahaya dunia dalam bidang akademik. Anak-anak nya menjadi rujukan para ulama, ilmuwan, cendekiawan, dan para raja. Itu wujud rezeki yang luarbiasa.

Anda yang saat sekarang ini merasa rezeki atau penghasilan keluarga anda terlihat sedikit, cupet, dan serba pas-pasan, jangan cepat-cepat berfikir negatif kepada tuhan. Situasi seperti itu adalah tarikat anda untuk semakin mengenal Allah dengan lebih dekat. Nikmati segala keterbatasan hidup di dunia dengan semakin asyik bercengkrama dengan Tuhan anda. Sehingga anda lupa terhadap kesedihan dunia, dan nikmat bercinta dengan-Nya.

Sehingga bekerja anda tidak monoton hanya mencari kekayaan semata, tapi menjadi wasilah pembuka rezeki dalam arti yang sangat luas. Anda mungkin seperti itu-itu saja sampai tua atau bahkan sampai meninggal dunia. Tapi Tuhan akan mengganti rezeki anda dengan generasi terbaik dari keturunan anda yang sukses, cerdas, berilmu dan jembar rezekinya. Semua ini terjadi karena tawakal anda terhadap keputusan Tuhan yang telah diberikan kepada anda.

Sebagai penutup, biarkan kehidupan modern dengan segala produk digital yang sangat canggih bersliweran di hadapan anda. Tapi anda dan kita semua harus tetap berkeyakinan bahwa kecanggihan Tuhan jauh lebih hebat dari manusia. Itu sebabnya, sandaran kepada-Nya harus semakin diperbaiki dalam kehidupan sehari-hari, agar kita semakin bisa merasakan ketenangan hidup, kenyamanan dalam segala situasi dan kedamaian dalam bekerja dan beribadh kepada-Nya.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872