
Ini tulisan ringan yang mungkin mulai
dilupakan oleh manusia akibat gempuran madzhab kapitalisme dan sosialisme murni
yang hanya menyediakan ruang rezeki dari hasil usaha dhohir dan tidak ada
campur tangan Tuhan. Tulisan ini untuk mengingatkan “diri sendiri” dan
harapannya ada manfaatnya untuk anda.
Saat ini perkembangan dunia digital sangat cepat dan pesat. Semua manusia menjadi gagap seperti seorang bapak-bapak atau
ibu-ibu dari kampung pedalaman ingin ke kota. Saat berada di jalan tol, ia
bingung. Semua yang dilihat hanya gedung-gedung pencakar langit dan kepulan asap
pabrik, serta papan-papan reklame orang berdasi. Ia ingin bertanya, tapi mobil
tak satupun berhenti. Ia ingin ingin menelpon, tapi lupa membawa telpon
genggamnya. Saat seperti ini, salah satu cara yaitu meminta pertolongan kepada Allah
swt. Sebab semua kendaraan yang lalu lalang tidak pernah berhenti setiap saat
sebenarnya bagian dari karya Allah. Semua mudah bagi-Nya. semua mungkin bagi-Nya.
Allah sangat mudah menolong kepada hamba-Nya jika sungguh-sungguh meminta
pertolongan kepada-Nya.
Apakah anda pernah membaca kisah Muhammad Al-Munkadir.
Ia orang yang sangat miskin. Di usia yang tidak muda lagi belum menikah. Sebab ia
tidak mempunyai uang untuk maskawin, ia juga tidak mempunyai uang untuk membuat
rumah yang pantas sebagai tempat tinggal.
Muhammad Al-Munkadir masih ada kerabat
dengan Abu Bakar As-Shidiq. Ia pernah meminta bantuan kepada Aisyah ra. Namun pada
saat yang sama ia juga lagi tidak mempunyai apa-apa yang pantas untuk nya.
akhirnya, Aisyah mengangkat kedua tangan dan memohon kepada Allah agar Sang
Pemberi Rezeki melimpahkan rezeki kepada Al-Munkadir.
Hari berikutnya, Saat Al-Munkadir berada di
rumah kedatangan utusan seorang hartawan mengantar uang sebanyak 10.000 dirham.
Ia kaget. Ia juga mengatakan bahwa kemungkinan pemberian tersebut salah
sasaran. Namun utusan tersebut menyakinkan bahwa uang tersebut untuk tuan rumah.
Ia sangat bersyukur atas nikmat tersebut. Uang
tersebut digunakan untuk memperbaiki rumah dan menikah. Ia pun memulai hidup
baru dalam berumah tangga.
Muhammad Al-Munkadir adalah orang yang
sangat rajin ibadah dan sangat mencintai Nabi. Dari mulutnya selalu berdzikir kepada-Nya
dan mengucapkan shalawat kepada nabi dan rasul-Nya yang paling agung Muhammad saw.
Ia membangun harmonisasi Sang Pencipta, maka alam semesta pun ikut membangun
harmonisasi dengan nya. Sebab alam semesta sebenarnya juga konsisten membangun
harmonisasi dengan sang pencipta. Allah telah berfirman: “ Langit tujuh, bumi
dan semua yang ada di dalamnya senantiasa bertasbih kepada Allah. Tidak ada
sesuatu pun, kecuali senantiasa bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak
mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun Lagi Maha Pengampun”.
Pemahaman ini menjadi sangat penting. Sebab
status Tuhan sebagai Sang Pencipta tidak bisa dihindari. Voltaire seorang filsuf
rasionalis mengatakan begini: “Jika Tuhan tidak ada maka sangat perlu untuk
menciptakannya”. Ia juga mengatakan bahwa ketika manusia berdebat, maka alam
semesta ini bergerak”. Maksudnya bahwa serasional apapun, hati manusia selalu
membutuhkan Tuhan untuk mengatur kehidupan. itu sebabnya ketika manusia
menghabiskan perdebatan yang tidak berfaidah akan berdampak kepada keselarasan alam
semesta. Kerusakan nya karena ulah manusia.
Sebagai seorang muslim sejak kecil sudah
dilatih pendidikan tauhid tentang Allah dan penciptaan-Nya. Manusia diberi
kelengkapan tubuh untuk bekerja dan mencari rezeki. Ada kelangkapan tubuh
sempurna, ada yang tidak sempurna. Semua digunakan untuk mencari rezeki yang
telah disediakan oleh Allah SWT.
Namun Allah juga menyediakan rezeki dari “jalan
yang tidak disangka-sangka”. Ada yang “tidak disangka-sangka” dengan kesadaran
itu terjadi, ada “tidak disangka-sangka” kita tidak menyadari rezeki itu telah
ada pada diri kita.
Ada seorang sepasang suami-istri. Kedua nya
buruh tani. Artinya, ia tidak punya lahan. Ia bekerja kepada orang lain untuk
mencukupi hidupnya. Secara dhohir penghasilan sangat terbatas sekali. Meskipun
sedikit, tapi Allah ridha. Ia makan dengan makanan yang diridhai Allah. Lalu istri
nya hamil, melahirkan dan terus tumbuh menjadi seorang anak yang sempurna. Puncaknya,
anak nya bisa lulus S3 di perguruan tinggi paling bergengsi di dunia.
Ada juga sepasang suami-istri menjadi buruh
pemintal kain. Sangat fakir, sangat miskin. Tapi ia sangat mencintai para
ulama. Ia sangat khusu’ dan ingin sekali berkah melimpah di keluarganya. Ia bertawasul
dengan menyediakan lentera di malam hari. Masjid menjadi terang karena orang
tua miskin tadi. Berkah dari amal kebaikan, ia mendapatkan rezeki berupa
anak-anak nya menjadi ulama besar yang kemudian dikenal dengan sebutan hujatul
Islam.
Kedua kisah tersebut di atas adalah rezeki.
Bukan bentuk barang, luas kebun, duit yang melimpah, tapi anak-anak nya yang mampu
menjadi cahaya dunia dalam bidang akademik. Anak-anak nya menjadi rujukan para
ulama, ilmuwan, cendekiawan, dan para raja. Itu wujud rezeki yang luarbiasa.
Anda yang saat sekarang ini merasa rezeki
atau penghasilan keluarga anda terlihat sedikit, cupet, dan serba pas-pasan,
jangan cepat-cepat berfikir negatif kepada tuhan. Situasi seperti itu adalah tarikat
anda untuk semakin mengenal Allah dengan lebih dekat. Nikmati segala keterbatasan
hidup di dunia dengan semakin asyik bercengkrama dengan Tuhan anda. Sehingga anda
lupa terhadap kesedihan dunia, dan nikmat bercinta dengan-Nya.
Sehingga bekerja anda tidak monoton hanya
mencari kekayaan semata, tapi menjadi wasilah pembuka rezeki dalam arti yang
sangat luas. Anda mungkin seperti itu-itu saja sampai tua atau bahkan sampai
meninggal dunia. Tapi Tuhan akan mengganti rezeki anda dengan generasi terbaik
dari keturunan anda yang sukses, cerdas, berilmu dan jembar rezekinya. Semua ini
terjadi karena tawakal anda terhadap keputusan Tuhan yang telah diberikan
kepada anda.
Sebagai penutup, biarkan kehidupan modern
dengan segala produk digital yang sangat canggih bersliweran di hadapan anda. Tapi
anda dan kita semua harus tetap berkeyakinan bahwa kecanggihan Tuhan jauh lebih
hebat dari manusia. Itu sebabnya, sandaran kepada-Nya harus semakin diperbaiki
dalam kehidupan sehari-hari, agar kita semakin bisa merasakan ketenangan hidup,
kenyamanan dalam segala situasi dan kedamaian dalam bekerja dan beribadh
kepada-Nya.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2941
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872