
Di tengah berbagai informasi yang “sliweran” di media sosial dan media online, yang kadang membuat hati ikut bahagia kadang juga membuat hati bertambah susah, saya menemukan sebuah video -lupa saya simpan- seorang perempuan muda berkulit hitam dan berambut kriting. Ia mengatakan kalimat motivasi yang sangat indah sekali. Kurang lebih begini:”Allah telah memberi ku kulit berwarna hitam bukan sedang menghina diriku, tetapi agar aku lebih mengenal Allah akan arti syukur kepada-Nya. Saya tidak akan mengubah kulitku yang berwarna hitam menjadi putih dengan tawaran-tawaran produk kosmetik saat sekarang ini, agar saya terlihat lebih menarik. Sebab saya mempunyai keyakinan, manusia menjadi terlihat indah dan menarik bukan dari penampilan dan keindahan tubuh. Saya menyakini keindahan manusia terletak pada perilaku sehari-hari kepada sesama manusia dan perilaku kebaikannya ketika berdialog dengan Tuhan”.

Kalimat dari perempuan muda berkulit hitam tersebut mungkin terlihat sederhana. Mungkin terlalu klasik dan kurang responsif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban yang sangat pesat. Ia mungkin terlihat kolot cara berfikir di tengah manusia berlomba-lomba memperindah diri sendiri dan memperindah segala fasilitas yang ada di sekitar dirinya baik berupa kedudukan, jabatan, rumah, mobil dan kekayaan.
Era sekarang ini disebut era modern
tidak lepas dari asumsi yang berkembang di masyarakat yaitu keindahan, kemewahan,
kekayaan dan kemulyaan. Ia lebih mengarah pada hedonisme. Tidak heran sebagian
dari mereka berlomba-lomba mengejar seluruh aspek keinginan-keinginan tersebut.
Sebab makna modern yang dihembuskan dari barat berkaitan pada perbaikan
kebutuhan dhohir dan meninggalkan makna modern yang menyentuh pada bidang
ruhaniah. Maka tidak heran, jika kemudian menimbulkan persoalan etik dan moral
saat “modern badaniah” bersentuhan dengan muamalah-kehidupan sosial-dalam
berbagai aspek kehidupan.
Pengertian makna modern memang perlu dipahami bukan sebatas hal-hal yang bersifat mekanik sebagaimana yang diinginkan oleh barat. Islam telah menempatkan modern pada tataran nilai-nilai kehidupan sosial yang bersumber pada kalimat tauhid. Robert N Bellah seorang sosiolog telah menjelaskan ajaran Islam sejak pertama lahir sudah sangat modern melampaui zaman nya. Ia telah melihat bagaimana kehidupan yang sangat mendewa-dewakan hal-hal yang berbau dunia seperti berlomba-lomba memperkaya diri, perbudakan, dan dikriminasi status manusia telah diberantas oleh nabi dengan kalimat tauhid. Makna “Tidak ada Tuhan selain Allah” dalam ajaran Islam telah diterapkan oleh Nabi dalam kehidupan sehari-hari dengan menempatkan manusia stara dalam status sosial dan hukum. Semua sama, dan yang membedakan pada takwa nya.

Makna takwa dalam Islam adalah makna
hakikat kemulyaan seseorang muslim. ketika seorang muslim merealisasikan nilai-nilai
mutaqin seperti kesadaran sebagai hamba Allah dalam upaya menempatkan khalifah
fi ardhi, maka tugas manusia adalah membangun peradaban di dunia dengan mengacu
kepada nilai-nilai agama. Dari sini penulis bisa memahami bahwa makna “modern”
dalam Islam tidak hanya sebatas pada kemajuan dan modernisasi pada mekanik
semata, tetapi juga lebih mendalam lagi pada kemampuan para khalifah tersebut
terhadap kepatuhan terhadap ajaran-ajaran Islam yaitu hatinya kosong dari
debu-debu dunia dan diisi dengan cahaya-cahaya mutaqin.
Sungguh sangat sulit mempraktekan kekosongan hati dari debu-debu dunia-harta, kekayaan, dan jabatan-sebagaimana pada masa nabi, sahabat dan para pendahulu kemuliaan penguasa Islam pada masa lalu. Ia benar-benar menggunakan kekuasaan dan jabatan semata-mata mencari Ridha-Nya.

Hari ini, saya mencari pola
kehidupan kesederhanaan dan kezuhudan dalam kemodernan sebagaimana pada masa Nabi
Muhammad, para sahabat dan para penguasa islam masa lalu. saya menelusuri media
online, media massa menemukan kehidupan penuh dengan kezuhudan para pemimpin
nya yaitu para penguasa di negara iran. Saya melihat kesederhanaan para
pemimpinnya seperti Ayatollah Khomeini, Ahmadinejad, dan Ayatollah Ali
Khemeini.
Saya rindu para pemimpin Islam yang bisa
memadukan modernisasi mekanik dan modernisasi spiritual sebagaimana tokoh-tokoh
tersebut. Semoga segera muncul para pemimpin kita-mulai dari tingkat bawah
sampai atas-dalam menerapkan perpaduan makna kemodernan tersebut. Pola demikian
yang membuat kita bisa mendapatkan cahaya ketenangan batin di era gebyar nya
dunia saat sekarang ini.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2941
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872