Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Cara Menghargai Karya Tulis Mahasiswa



Senin , 29 September 2025



Telah dibaca :  445

Pagi ini agak sedikit “kalang kabut” menghadiri dua acara sekaligus. Jam nya sama, tempat nya berbeda. pelantikan pengurus DEMA dan Kegiatan HMJ jurusan dakwah dan komunikasi Islam. jam 08.00 s/d selesai. Saya ingin bersikap adil, tapi ternyata sulit. Semua harus dihadiri. Saya sudah menelpon Ketua Jurusan Dakwah -saudara al-mukarom Reno Firdaus, M.Si- untuk membuka acara, ternyata tidak mau. Katanya kurang afdhol. Masa sih, acara di rumah sendiri yang membuka tuan rumah. Mungkin itu alasanya. Kadang saya berfikir juga “Menghadapi dua kegiatan saja sudah kalang kabut, apalagi kalau menghadapi -ini cuma andai saja- istri yang jumlah nya matsna, watsulasa, warubba, bisa-bisa tinggal “kabutnya” saja”.

Kegiatan HMJ jurusan dakwah dan komunikasi Islam tindak lanjut dari kegiatan ormawa yang mendapat biaya dari DIPA. Hari-hari selanjutnya akan menyusul kegiatan ormawa dengan biaya DIPA. Memang agak sedikit mepet dan masuk akhir tahun. Ma’lum, anggaran DIPA untuk mahasiswa memang baru dibuka dari pusat. Sekitar tanggal 6 september 2025. Jadi sedikit agak marathon. Semoga seluruh kegiatan ormawa bisa direalisasikan dengan baik.

Pagi ini saya memberi sambutan. Biasa-biasa saja. Tapi Dr.Jarir sebagai waket 1 telah menyampaikan inti-inti kegiatan yaitu sesuai dengan visi-misi kampus dan tidak lupa kegiatan juga berbasis akreditasi yang cakupannya -kalau bisa-berbasis internasional.

Beberapa hari lalu saya mendapatkan ilmu dari Pak Jarir bahwa kurikulum saat sekarang ini berbasis OBE -outcome based education- yang menekankan perkuliahan menghasilkan produk. Jika jurusan-jurusan teknik atau sejenisnya produknya mungkin bisa terlihat jelas. Agak sedikit susah mungkin yang jurusan sosial keagamaan. Seperti mata kuliah yang saya ampu saat sekarang ini membahas tentang tentang tasawuf. Saya bingung, apakah mahasiswa ku semester ini saya suruh membuat rumah suluk atau baiat thariqah atau suruh ‘uzlah di gua agar mendapatkan wangsit?.

Setelah diskusi dengan mahasiswa, outcome nya cukup produk buku yang ber-ISBN, sebagai kumpulan karya-karya ilmiah mahasiswa. Dua lokal cukup dua buku. Ini solusi yang murah meriah dan melegakan mahasiswa.

Pada acara pagi ini di HMJ dakwah, saya memang hanya sebatas mendengar dan memberi masukan “seuprit” tentang pentingnya mengabadikan karya-karya tulis mahasiswa dibukukan. Bagiku, sesederhana apapun tulisan tetap penting. Ia bukan hanya sebatas rangkaian kata atau kalimat. Ia merupakan kumpulan ide-ide dan luapan hati dari mahasiswa yang diungkapkan melalui kalimat-kalimat. Mungkin tulisan mereka masih terlalu sederhana. Tidak masalah. Kadang di dalam kesederhanaan ada kata-kata kunci yang ditawarkan oleh mereka dan kata kunci tersebut sesuatu yang sangat penting, bukan untuk hari ini, tapi bisa jadi di masa mendatang.

Saya memang sangat senang jika mahasiswa membiasakan menulis dan mendokumentasikan tulisan-tulisan mereka dalam wujud catatan harian, artikel, buku atau apa saja. Apalagi di era sekarang ini dimana manusia seluruh jagat raya-tidak terkecuali mahasiswa-dimanjakan dengan hiburan-hiburan di media digital yang sangat besar tanpa batas. Disisi lain, ada aplikasi-aplikasi tulisan yang -menurut ku-sangat membuat malas kalangan mahasiswa untuk membuat tradisi tulis menulis sebagaimana yang telah mentradisi kegiatan tersebut di kalangan generasi Islam pada masa lalu. ma’lum, aplikasi yang ada sekarang ini telah ikut membantu pola berfikir mahasiswa yang selalu menginginkan pola “cepat saji” tanpa melalui proses yang melelahkan. Padahal suatu karya yang baik atau tulisan yang baik membutuhkan proses dan waktu tidak sedikit. Melalui proses ini para penulis akan menemukan kenikmatan-kenikmatan luapan-luapan hati dirinya sendiri atas segala karya sebagai respon yang terjadi pada diri sendiri maupun di sekitar kita.

Apalagi sebagai mahasiswa yang mempunyai tambahan kata “Islam” yang blue print ajaran agama nya sangat mementingkan tradisi “membaca dan menulis” sebagai penopang utama “langgeng nya” peradaban. Jika sinyal HP bisa hilang, internet bisa lumpuh, tapi tradisi “membaca dan menulis” akan tetap hidup. Sebab membaca dan menulis merupakan keahlian yang sudah ada pada diri manusia sejak dulu, sekarang dan akan datang. Membaca dan menulis adalah nafas peradaban manusia.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4548


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2874