
Pagi ini agak sedikit “kalang kabut”
menghadiri dua acara sekaligus. Jam nya sama, tempat nya berbeda. pelantikan
pengurus DEMA dan Kegiatan HMJ jurusan dakwah dan komunikasi Islam. jam 08.00
s/d selesai. Saya ingin bersikap adil, tapi ternyata sulit. Semua harus
dihadiri. Saya sudah menelpon Ketua Jurusan Dakwah -saudara al-mukarom Reno Firdaus,
M.Si- untuk membuka acara, ternyata tidak mau. Katanya kurang afdhol. Masa sih,
acara di rumah sendiri yang membuka tuan rumah. Mungkin itu alasanya. Kadang
saya berfikir juga “Menghadapi dua kegiatan saja sudah kalang kabut, apalagi
kalau menghadapi -ini cuma andai saja- istri yang jumlah nya matsna, watsulasa,
warubba, bisa-bisa tinggal “kabutnya” saja”.
Kegiatan HMJ jurusan dakwah dan komunikasi Islam
tindak lanjut dari kegiatan ormawa yang mendapat biaya dari DIPA. Hari-hari selanjutnya
akan menyusul kegiatan ormawa dengan biaya DIPA. Memang agak sedikit mepet dan
masuk akhir tahun. Ma’lum, anggaran DIPA untuk mahasiswa memang baru dibuka dari
pusat. Sekitar tanggal 6 september 2025. Jadi sedikit agak marathon. Semoga seluruh
kegiatan ormawa bisa direalisasikan dengan baik.
Pagi ini saya memberi sambutan. Biasa-biasa
saja. Tapi Dr.Jarir sebagai waket 1 telah menyampaikan inti-inti kegiatan yaitu
sesuai dengan visi-misi kampus dan tidak lupa kegiatan juga berbasis akreditasi
yang cakupannya -kalau bisa-berbasis internasional.
Beberapa hari lalu saya mendapatkan ilmu
dari Pak Jarir bahwa kurikulum saat sekarang ini berbasis OBE -outcome based
education- yang menekankan perkuliahan menghasilkan produk. Jika jurusan-jurusan
teknik atau sejenisnya produknya mungkin bisa terlihat jelas. Agak sedikit
susah mungkin yang jurusan sosial keagamaan. Seperti mata kuliah yang saya ampu
saat sekarang ini membahas tentang tentang tasawuf. Saya bingung, apakah
mahasiswa ku semester ini saya suruh membuat rumah suluk atau baiat thariqah
atau suruh ‘uzlah di gua agar mendapatkan wangsit?.
Setelah diskusi dengan mahasiswa, outcome
nya cukup produk buku yang ber-ISBN, sebagai kumpulan karya-karya ilmiah
mahasiswa. Dua lokal cukup dua buku. Ini solusi yang murah meriah dan melegakan
mahasiswa.
Pada acara pagi ini di HMJ dakwah, saya
memang hanya sebatas mendengar dan memberi masukan “seuprit” tentang
pentingnya mengabadikan karya-karya tulis mahasiswa dibukukan. Bagiku,
sesederhana apapun tulisan tetap penting. Ia bukan hanya sebatas rangkaian kata
atau kalimat. Ia merupakan kumpulan ide-ide dan luapan hati dari mahasiswa yang
diungkapkan melalui kalimat-kalimat. Mungkin tulisan mereka masih terlalu
sederhana. Tidak masalah. Kadang di dalam kesederhanaan ada kata-kata kunci
yang ditawarkan oleh mereka dan kata kunci tersebut sesuatu yang sangat penting,
bukan untuk hari ini, tapi bisa jadi di masa mendatang.
Saya memang sangat senang jika mahasiswa
membiasakan menulis dan mendokumentasikan tulisan-tulisan mereka dalam wujud catatan
harian, artikel, buku atau apa saja. Apalagi di era sekarang ini dimana manusia
seluruh jagat raya-tidak terkecuali mahasiswa-dimanjakan dengan hiburan-hiburan
di media digital yang sangat besar tanpa batas. Disisi lain, ada
aplikasi-aplikasi tulisan yang -menurut ku-sangat membuat malas kalangan
mahasiswa untuk membuat tradisi tulis menulis sebagaimana yang telah mentradisi
kegiatan tersebut di kalangan generasi Islam pada masa lalu. ma’lum, aplikasi
yang ada sekarang ini telah ikut membantu pola berfikir mahasiswa yang selalu
menginginkan pola “cepat saji” tanpa melalui proses yang melelahkan. Padahal
suatu karya yang baik atau tulisan yang baik membutuhkan proses dan waktu tidak
sedikit. Melalui proses ini para penulis akan menemukan kenikmatan-kenikmatan
luapan-luapan hati dirinya sendiri atas segala karya sebagai respon yang
terjadi pada diri sendiri maupun di sekitar kita.
Apalagi sebagai mahasiswa yang mempunyai
tambahan kata “Islam” yang blue print ajaran agama nya sangat mementingkan
tradisi “membaca dan menulis” sebagai penopang utama “langgeng nya” peradaban.
Jika sinyal HP bisa hilang, internet bisa lumpuh, tapi tradisi “membaca dan
menulis” akan tetap hidup. Sebab membaca dan menulis merupakan keahlian yang
sudah ada pada diri manusia sejak dulu, sekarang dan akan datang. Membaca dan
menulis adalah nafas peradaban manusia.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4548
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2944
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2874