Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Cara Para Korea Menyambut Hari Kemerdekaan



Selasa , 12 Agustus 2025



Telah dibaca :  516

Suasana menyambut hari kemerdekaan 17 Agustus 1945 sudah sangat terasa. Hampir setiap rumah memasang Bendera Merah Putih sebagai bentuk nasionalisme dan cinta tanah air.

Sebagian masyarakat ada yang enggan -jika tidak dikatakan menolak -dengan beberapa alasan: Pertama, mereka malu terhadap jutaan para pahlawan yang telah gugur dan berkorban dalam mewujudkan kemerdekaan. Tapi ironisnya, kini -menurut sebagian mereka- negara dan bangsa dikapling-kapling untuk kepentingan segelintir orang atau golongan. Kedua, alasan-alasan kekecewaan standar masyarakat umum berkaitan dengan sulitnya mendapatkan pekerjaan, ekonomi melemah, dan harga bahan pokok semakin mahal. Ketiga, alasan ideologi klasik para pegiat khilafah yang masih beranggapan NKRI sebagai negara toghut dan belum move on terhadap sistem negara dan pemerintahan Indonesia. Keempat, alasan akidah. Memasang, berdiri dan memberi hormat terhadap Bendera Merah Putih bagi kelompok ini beranggapan identik-menyerupai -dengan menyembah kepada Tuhan. Padahal dalam Al-Qur’an telah merekam dua kisah malaikat yang sujud kepada Nabi Adam dan keluarga Nabi Yusuf sujud kepada Nabi Yusuf sebagai bentuk penghormatan. Penghormatan sujud pada kedua peristiwa tersebut justru lebih mirip ibadah sholat daripada sebatas penghormatan Bendera Merah Putih. Tapi keduanya sebatas penghormatan meskipun bentuknya seperti ibadah tak masalah. Kelima,  kelompok masa bodoh terhadap kondisi masyarakat atau keadaan bangsa. Kelompok ini yang terpenting adalah bisa terpenuhi kebutuhan hidup tanpa perlu memikirkan dinamika kehidupan politik yang terjadi di sekitarnya.

Kelima alasan tersebut merupakan tangkapan layar data yang sering mampir di media sosial dan media online. Tentu masih ada alasan lain kenapa sebagian masyarakat tidak atau belum mau memasang Bendera Merah Putih menjelang ulang tahun kemerdekaan RI ke-80.

Ekspresi masyarakat Indonesia beragam. Jutaan masyarakat Indonesia mempunyai problematika kehidupan melalui ekspresi-ekspresi berupa rasa senang dan luapan-luapan kekecewaan atas kondisi saat sekarang ini. Senang karena telah mulai berhasil merintis atau bahkan mengukir prestasi-prestasi di tengah ujian kehidupan yang datang silih berganti. Kekecewaan juga datang dari segala ujian-ujian yang pada diri mereka belum bisa menyelesaikan atau belum mampu menyelesaikan ujian-ujian tersebut menjadi buah yang harum. Itu sebabnya pelampiasan kekecewaan bisa menendang kemana-mana sebagaimana yang terlihat di media online dan media sosial.

Saya tidak akan membahas tentang ungkapan kekecewaan pada tulisan ini. Ma’lum setiap manusia pasti pernah mengalaminya. Hanya porsi nya yang berbeda-beda. Biar saja ungkapan kekecewaan menyebul di dunia maya sebagai bagian dinamka kehidupan nyata dan beragam.

Tulisan ini ingin melihat secuil kehidupan -meminjam istilah Bambang Pacul -para korea. Kelompok tersebut merupakan terminologi kelompok masyarakat kaum pinggiran atau “wong ndeso” yang mempunyai etos kerja dan subyektif tinggi dalam mewujudkan cita-cita hidupnya (Editor, 2024). Sebutan Korea berangkat dari sejarah penjajahan Jepang di Indonesia. Pasukan Jepang pada Perang Dunia II membawa orang-orang korea untuk menjadi buruh. Mereka mempunyai militansi sangat tinggi (Burno, 2024). Penderitaan bekerja di bawah tekanan, jatuh bangun, terus bertahan dalam penderitaan telah membentuk jiwa petarung dalam segala medan kehidupan. ia terus berjuang melepaskan dari segala belenggu penderitaan untuk mencapai level tertinggi dari cita-cita.

Para korea jenis ini kelihatannya mulai bermunculan di tengah isu-isu miring persoalan bangsa saat ini. Beberapa waktu lalu, saya juga telah menulis seorang Kepala Desa dari Kabupaten Banjarnegara bernama Hoho Alkaf yang telah mengubah desa nya yang biasa saja menjadi desa suasembada pangan dan mampu membantu masyarakatnya ke level lebih sejahtera dari hasil pendapatan BUMDES nya (Ghozali, 2025). Ada juga Kepala Desa di Kabupaten Banjarnegara lain yang juga sangat populer atas perilaku korea nya seperti Pandu Dewanata dan Slamet Raharjo. Di tengah-tengah ketidakpercayaan publik terhadap para pejabat, selalu saja hadir para bupati dan gubernur yang menginspirasi masyarakat untuk terus berkarya di tengah keterbatasan yang ada.

Tentu saja kita bukan bangsa Korea atau rakyat Korea. Kita merupakan warga negara Indonesia yang beragam suku dan etnis. Itu tidak akan berubah. Sebab Tuhan menciptakan demikian adanya.

Apa yang dikatakan oleh Bambang Pacul dengan menggunakan kata “korea” meminjam spirit kehidupannya. Mungkin juga Bambang Pacul melihat realita bahwa sebagian masyarakat kita rata-rata masih mempunyai etos kerja di bawah rata-rata dari bangsa korea. Jika berbicara persoalan penderitaan mungkin tidak ada perbedaan signifikan. Sama-sama menderita. Namun persoalan  kesiapan menerima penderitaan dan strategi mengubah penderitaan sebagai batu loncatan merubah kehidupan yang lebih baik ada perbedaan yang signifikan di antara kedua nya.

Jadi kata “korea” sebagai jalan transformasi nilai-nilai positif etos kerja dan cara berfikir bangsa korea kepada generasi-generasi muda dalam mengisi dan mewujudkan cita-cita besar mereka. Menanam nilai-nilai positif tersebut tentu tidak mudah. Banyak faktor yang menyebabkan semua itu. Namun hal yang harus dilakukan yaitu perlu cancut tali wondo melakukan perubahan-perubahan secara dinamis. Hal suatu kewajiban perubahan itu pasti terjadi. dan seharusnya perubahan terus ke arah positif, apapun bentuk tantangan yang terjadi di hadapan bangsa dan negara Indonesia.

Walhasil, menyambut hari kemerdekaan ke-80 tahun ini sebenarnya menyambut upaya perubahan diri masing-masing untuk bisa membebaskan diri dari beberapa belenggu yang telah menjerat diri kita dengan tetap terus bersyukur menjaga dan merawat nikmat yang sangat besar yaitu nikmat kemerdekaan.

Itulah cara menyambut para korea, Terdengar “sangar” dan “liar”, tapi juga terbersit ada jiwa “tegar” dan “pantang menyerah” untuk mengisi nikmat kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia. 



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

Mardiyo

Inspirasi mensyukuri kemerdekaan. Mantul pak doktor

   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875