
Suasana menyambut hari kemerdekaan 17 Agustus
1945 sudah sangat terasa. Hampir setiap rumah memasang Bendera Merah Putih sebagai
bentuk nasionalisme dan cinta tanah air.
Sebagian masyarakat ada yang enggan -jika
tidak dikatakan menolak -dengan beberapa alasan: Pertama, mereka malu
terhadap jutaan para pahlawan yang telah gugur dan berkorban dalam mewujudkan
kemerdekaan. Tapi ironisnya, kini -menurut sebagian mereka- negara dan bangsa
dikapling-kapling untuk kepentingan segelintir orang atau golongan. Kedua,
alasan-alasan kekecewaan standar masyarakat umum berkaitan dengan sulitnya
mendapatkan pekerjaan, ekonomi melemah, dan harga bahan pokok semakin mahal. Ketiga,
alasan ideologi klasik para pegiat khilafah yang masih beranggapan NKRI sebagai
negara toghut dan belum move on terhadap sistem negara dan pemerintahan Indonesia.
Keempat, alasan akidah. Memasang, berdiri dan memberi hormat terhadap
Bendera Merah Putih bagi kelompok ini beranggapan identik-menyerupai -dengan
menyembah kepada Tuhan. Padahal dalam Al-Qur’an telah merekam dua kisah
malaikat yang sujud kepada Nabi Adam dan keluarga Nabi Yusuf sujud kepada Nabi
Yusuf sebagai bentuk penghormatan. Penghormatan sujud pada kedua peristiwa
tersebut justru lebih mirip ibadah sholat daripada sebatas penghormatan Bendera
Merah Putih. Tapi keduanya sebatas penghormatan meskipun bentuknya seperti
ibadah tak masalah. Kelima,
kelompok masa bodoh terhadap kondisi masyarakat atau keadaan bangsa.
Kelompok ini yang terpenting adalah bisa terpenuhi kebutuhan hidup tanpa perlu
memikirkan dinamika kehidupan politik yang terjadi di sekitarnya.
Kelima alasan tersebut merupakan tangkapan
layar data yang sering mampir di media sosial dan media online. Tentu masih ada
alasan lain kenapa sebagian masyarakat tidak atau belum mau memasang Bendera
Merah Putih menjelang ulang tahun kemerdekaan RI ke-80.
Ekspresi masyarakat Indonesia beragam. Jutaan
masyarakat Indonesia mempunyai problematika kehidupan melalui ekspresi-ekspresi
berupa rasa senang dan luapan-luapan kekecewaan atas kondisi saat sekarang ini.
Senang karena telah mulai berhasil merintis atau bahkan mengukir
prestasi-prestasi di tengah ujian kehidupan yang datang silih berganti. Kekecewaan
juga datang dari segala ujian-ujian yang pada diri mereka belum bisa
menyelesaikan atau belum mampu menyelesaikan ujian-ujian tersebut menjadi buah
yang harum. Itu sebabnya pelampiasan kekecewaan bisa menendang kemana-mana
sebagaimana yang terlihat di media online dan media sosial.
Saya tidak akan membahas tentang ungkapan kekecewaan
pada tulisan ini. Ma’lum setiap manusia pasti pernah mengalaminya. Hanya porsi
nya yang berbeda-beda. Biar saja ungkapan kekecewaan menyebul di dunia maya
sebagai bagian dinamka kehidupan nyata dan beragam.
Tulisan ini ingin melihat secuil kehidupan -meminjam
istilah Bambang Pacul -para korea. Kelompok tersebut merupakan terminologi
kelompok masyarakat kaum pinggiran atau “wong ndeso” yang mempunyai etos
kerja dan subyektif tinggi dalam mewujudkan cita-cita hidupnya
Para korea jenis ini kelihatannya mulai
bermunculan di tengah isu-isu miring persoalan bangsa saat ini. Beberapa waktu
lalu, saya juga telah menulis seorang Kepala Desa dari Kabupaten Banjarnegara bernama
Hoho Alkaf yang telah mengubah desa nya yang biasa saja menjadi desa suasembada
pangan dan mampu membantu masyarakatnya ke level lebih sejahtera dari hasil
pendapatan BUMDES nya
Tentu saja kita bukan bangsa Korea atau
rakyat Korea. Kita merupakan warga negara Indonesia yang beragam suku dan
etnis. Itu tidak akan berubah. Sebab Tuhan menciptakan demikian adanya.
Apa yang dikatakan oleh Bambang Pacul
dengan menggunakan kata “korea” meminjam spirit kehidupannya. Mungkin juga Bambang
Pacul melihat realita bahwa sebagian masyarakat kita rata-rata masih mempunyai
etos kerja di bawah rata-rata dari bangsa korea. Jika berbicara persoalan
penderitaan mungkin tidak ada perbedaan signifikan. Sama-sama menderita. Namun persoalan kesiapan menerima penderitaan dan strategi
mengubah penderitaan sebagai batu loncatan merubah kehidupan yang lebih baik
ada perbedaan yang signifikan di antara kedua nya.
Jadi kata “korea” sebagai jalan
transformasi nilai-nilai positif etos kerja dan cara berfikir bangsa korea
kepada generasi-generasi muda dalam mengisi dan mewujudkan cita-cita besar
mereka. Menanam nilai-nilai positif tersebut tentu tidak mudah. Banyak faktor
yang menyebabkan semua itu. Namun hal yang harus dilakukan yaitu perlu cancut
tali wondo melakukan perubahan-perubahan secara dinamis. Hal suatu
kewajiban perubahan itu pasti terjadi. dan seharusnya perubahan terus ke arah
positif, apapun bentuk tantangan yang terjadi di hadapan bangsa dan negara Indonesia.
Walhasil, menyambut hari kemerdekaan ke-80
tahun ini sebenarnya menyambut upaya perubahan diri masing-masing untuk bisa
membebaskan diri dari beberapa belenggu yang telah menjerat diri kita dengan
tetap terus bersyukur menjaga dan merawat nikmat yang sangat besar yaitu nikmat
kemerdekaan.
Itulah cara menyambut para korea, Terdengar
“sangar” dan “liar”, tapi juga terbersit ada jiwa “tegar” dan “pantang menyerah”
untuk mengisi nikmat kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Mardiyo
Inspirasi mensyukuri kemerdekaan. Mantul pak doktor
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875