
Ada seorang bapak usia nya sekitar 75
tahun. Ia duduk bersama beberapa orang tamu. Kira-kira ada 8 orang tamu yang
datang ke rumah orang tua itu. Istilah pesantren, mereka “sowan” dan mengharap
berkah pengajian yang selalu dilaksanakan setiap hari. Jadi setiap hari ada
tamu, sang bapak tua itu selalu ngaji. Membaca kitab beberapa baris. Kitab yang
sering dibaca yaitu bidayatul hidayah. Karena tamu, tentu saja usia nya
beragam. Jika dibuat prosentase, rata-rata berumur 35 an tahun ke atas.
Di sela-sela pengajian, ada seorang tamu
bertanya tentang anak yang paling dicintai oleh bapak tua tadi. Lalu ia pun
menjawab: “Anak yang paling saya cintai yaitu si-fulanah”.
Semua tamu terdiam dan saling berpandangan.
Sebab mereka sudah sering ke rumah bapak tua tadi. Mereka tahu bahwa si-fulanah
adalah anak yang secara dhohir mempunyai keterbatasan mental. Umur nya kurang
lebih 25 tahun. Sejak lahir hingga dewasa selalu berada di kamar. Kadang kencing,
buang air besar di kamar, makan harus disuapi, mandi juga harus dimandikan. Kenapa
bisa menjadi anak yang paling dicintai?.
Para tamu sebagaimana saya dan mungkin juga
anda akan memberi jawaban tidak demikian. Bisa jadi anak-anak yang secara fisik
dan mental (menurut pandangan kita) tidak sempurna, sangat sulit untuk
diucapkan di depan umum ketika kita melakukan pertemuan dengan relasi,
sahabat-sahabat dan teman satu instansi. Kita akan dengan mudah menyebut
anak-anak kita yang mempunyai prestasi, kesempurnaan tubuh dan keahlian-keahlian
tertentu. Lihat di FB,IG, para orang tua ramai-ramai memamerkan anak-anak nya karena
mereka mempunyai prestasi yang bisa membanggakan orang tua nya.
Para tamu penasaran. Di antara mereka
bertanya kepada bapak tua yang dikenal sebagai seorang guru ngaji: “Mbah
kyai, bukan kah putra mbah kyai banyak yang hebat-hebat, pebisnis, dosen dan
lain-lain. tapi kenapa yang paling dicintai justru anak seperti si-fulanah?”.
Bapak tua menjawab: “ Allah menitipkan
anak ku yang bernama si-fulanah kepadaku merupakan suatu keberuntungan. Karena dia,
saya bisa mengenal arti syukur, karena dia juga saya mengenal arti sabar. Karena
dia Insya Allah yang menjadikan wasilah aku dan istri ku masuk surga”.
Saya merenung dan berfikir betapa hebat
bapak tua tadi bisa melihat dari tumpukan masalah sebagai sebuah kenikmatan. Sangat
sulit. Kita sering mengejar harta, jabatan, dan prestasi sebagai simbol
kesempurnaan hidup. Kita sering berlomba-lomba yang kadang “srimpung
sana-srimpung sini” hanya ingin menunjukan kehabatan kita. Saat semua
kalah, kita akan merasa puas dengan capaian-capaian kita. Padahal kepuasan kita
sebenarnya kepuasan sesaat. Kebahagiaan palsu. Kesenangan yang terbatas. Tapi akal
pikiran kita sering dikuasi oleh nafsu kenikmatan sesaat, menyebabkan akal
pikiran tidak bisa berfikir secara jernih hingga pada hati yang paling dalam.
Kita masih sering terjebak pada perasaan. Rasa
tidak nyaman ketika orang lain sukses. lalu kita pun mengartikan makna kesuksesan
selinier sebagaimana mereka. Ketika orang lain mempunyai harta banyak, kita iri
dan ingin seperti mereka. Ketika tidak mampu kadang dilampiaskan kepada mereka [yang
sukses] dengan tuduhan-tuduhan negatif. Akibatnya kita mempunyai tradisi kurang
sehat dalam menjalani pola kehidupan sosial. Mungkin secara dhohir sudah sangat
sehat. Tetapi hati kita masih belum bisa melihat diri sendiri [bercermin]
tentang makna kenikmatan sesungguhnya di hadapan Allah. Kita tentu saja
diperbolehkan mencapai puncak karir atau juga memperoleh kekayaan melimpah. Sangat
boleh dan banyak pesan-pesan ayat Al-Qur’an dan Hadist yang menganjurkan untuk
mendapatkan hidup bermartabat. Tapi Islam juga mengajarkan bahwa penopang
status martabat atau pondasi mencapai puncak kemulyaan melalui jalan pengenalan
kepada Allah SWT. Ada dua jalan untuk mengenal-nya yaitu syukur dan sabar. Itulah
cermin terbaik untuk mencapai puncak kemulyaan.
Mungkin saja, cita-cita kita menjadi orang
sukses. kadang terhambat oleh kondisi, sedikit modal, relasi dan lain-lain. Mungkin
juga kita tidak bisa mengejar kesuksesan sebagaimana orang lain. Tapi para
kekasih Allah terkadang juga hidup penuh dengan serba kekurangan. Mereka tetap mulia. Mereka bahkan mendapat status
level kekasih Allah. Dari sini kita bisa memahami bahwa Allah tidak salah
menitipkan apapun kepada kita dalam bentuk apapun. Kita bisa jadi menilai tidak
baik, tapi Allah justru berpandangan baik. Begitu juga sebaliknya. Karena itu,
belajar memperbaiki makna syukur dan sabar secara terus menerus agar bisa
mengerti arti kenikmatan yang sebenarnya. Itulah Cermin Ajaib yang ada pada
diri kita. Keajaiban yang sering dilupakan. Benarkah demikian?
Penulis : Imam Ghozali
???? You have a message # 389572. Open >>> https:/
76spr6
???? Ticket; Operation 0.75968460 BTC. Withdraw >
m817tk
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2941
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872