Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Cermin Ajaib yang Sering Dilupakan



Rabu , 22 Januari 2025



Telah dibaca :  621

Ada seorang bapak usia nya sekitar 75 tahun. Ia duduk bersama beberapa orang tamu. Kira-kira ada 8 orang tamu yang datang ke rumah orang tua itu. Istilah pesantren, mereka “sowan” dan mengharap berkah pengajian yang selalu dilaksanakan setiap hari. Jadi setiap hari ada tamu, sang bapak tua itu selalu ngaji. Membaca kitab beberapa baris. Kitab yang sering dibaca yaitu bidayatul hidayah. Karena tamu, tentu saja usia nya beragam. Jika dibuat prosentase, rata-rata berumur 35 an tahun ke atas.

Di sela-sela pengajian, ada seorang tamu bertanya tentang anak yang paling dicintai oleh bapak tua tadi. Lalu ia pun menjawab: “Anak yang paling saya cintai yaitu si-fulanah”.

Semua tamu terdiam dan saling berpandangan. Sebab mereka sudah sering ke rumah bapak tua tadi. Mereka tahu bahwa si-fulanah adalah anak yang secara dhohir mempunyai keterbatasan mental. Umur nya kurang lebih 25 tahun. Sejak lahir hingga dewasa selalu berada di kamar. Kadang kencing, buang air besar di kamar, makan harus disuapi, mandi juga harus dimandikan. Kenapa bisa menjadi anak yang paling dicintai?.

Para tamu sebagaimana saya dan mungkin juga anda akan memberi jawaban tidak demikian. Bisa jadi anak-anak yang secara fisik dan mental (menurut pandangan kita) tidak sempurna, sangat sulit untuk diucapkan di depan umum ketika kita melakukan pertemuan dengan relasi, sahabat-sahabat dan teman satu instansi. Kita akan dengan mudah menyebut anak-anak kita yang mempunyai prestasi, kesempurnaan tubuh dan keahlian-keahlian tertentu. Lihat di FB,IG, para orang tua ramai-ramai memamerkan anak-anak nya karena mereka mempunyai prestasi yang bisa membanggakan orang tua nya.

Para tamu penasaran. Di antara mereka bertanya kepada bapak tua yang dikenal sebagai seorang guru ngaji: “Mbah kyai, bukan kah putra mbah kyai banyak yang hebat-hebat, pebisnis, dosen dan lain-lain. tapi kenapa yang paling dicintai justru anak seperti si-fulanah?”.

Bapak tua menjawab: “ Allah menitipkan anak ku yang bernama si-fulanah kepadaku merupakan suatu keberuntungan. Karena dia, saya bisa mengenal arti syukur, karena dia juga saya mengenal arti sabar. Karena dia Insya Allah yang menjadikan wasilah aku dan istri ku masuk surga”.

Saya merenung dan berfikir betapa hebat bapak tua tadi bisa melihat dari tumpukan masalah sebagai sebuah kenikmatan. Sangat sulit. Kita sering mengejar harta, jabatan, dan prestasi sebagai simbol kesempurnaan hidup. Kita sering berlomba-lomba yang kadang “srimpung sana-srimpung sini” hanya ingin menunjukan kehabatan kita. Saat semua kalah, kita akan merasa puas dengan capaian-capaian kita. Padahal kepuasan kita sebenarnya kepuasan sesaat. Kebahagiaan palsu. Kesenangan yang terbatas. Tapi akal pikiran kita sering dikuasi oleh nafsu kenikmatan sesaat, menyebabkan akal pikiran tidak bisa berfikir secara jernih hingga pada hati yang paling dalam.

Kita masih sering terjebak pada perasaan. Rasa tidak nyaman ketika orang lain sukses. lalu kita pun mengartikan makna kesuksesan selinier sebagaimana mereka. Ketika orang lain mempunyai harta banyak, kita iri dan ingin seperti mereka. Ketika tidak mampu kadang dilampiaskan kepada mereka [yang sukses] dengan tuduhan-tuduhan negatif. Akibatnya kita mempunyai tradisi kurang sehat dalam menjalani pola kehidupan sosial. Mungkin secara dhohir sudah sangat sehat. Tetapi hati kita masih belum bisa melihat diri sendiri [bercermin] tentang makna kenikmatan sesungguhnya di hadapan Allah. Kita tentu saja diperbolehkan mencapai puncak karir atau juga memperoleh kekayaan melimpah. Sangat boleh dan banyak pesan-pesan ayat Al-Qur’an dan Hadist yang menganjurkan untuk mendapatkan hidup bermartabat. Tapi Islam juga mengajarkan bahwa penopang status martabat atau pondasi mencapai puncak kemulyaan melalui jalan pengenalan kepada Allah SWT. Ada dua jalan untuk mengenal-nya yaitu syukur dan sabar. Itulah cermin terbaik untuk mencapai puncak kemulyaan.

Mungkin saja, cita-cita kita menjadi orang sukses. kadang terhambat oleh kondisi, sedikit modal, relasi dan lain-lain. Mungkin juga kita tidak bisa mengejar kesuksesan sebagaimana orang lain. Tapi para kekasih Allah terkadang juga hidup penuh dengan serba kekurangan.  Mereka tetap mulia. Mereka bahkan mendapat status level kekasih Allah. Dari sini kita bisa memahami bahwa Allah tidak salah menitipkan apapun kepada kita dalam bentuk apapun. Kita bisa jadi menilai tidak baik, tapi Allah justru berpandangan baik. Begitu juga sebaliknya. Karena itu, belajar memperbaiki makna syukur dan sabar secara terus menerus agar bisa mengerti arti kenikmatan yang sebenarnya. Itulah Cermin Ajaib yang ada pada diri kita. Keajaiban yang sering dilupakan. Benarkah demikian?



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

???? You have a message # 389572. Open >>> https:/

76spr6

Avatar

???? Ticket; Operation 0.75968460 BTC. Withdraw >

m817tk

   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872