Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Cermin Ku, Cermin Anda, dan Cermin Kita



Minggu , 19 Maret 2023



Telah dibaca :  319

Dulu ada seorang ulama. Setiap hari setelah mengajar biasanya pergi ke Pasar. Pagi itu, dia pergi ke Kedai untuk membeli Jarum Baju. Pelayan tokonya adalah seorang gadis cantik. Namun saat dia bertanya pada ulama tadi, saat bersamaan keluar angin dari belakang. Sontak dia malu. Muka merah pucat karena sangat menahan malu. Namun dia seorang pelayan toko harus bertanya kepada pelanggannya. Setiap bertanya, ulama tadi pun seperti orang tuli. Gadis tadi membesarkan suaranya, namun masih juga seolah-olah tidak mendengarkan. Padahal suaranya sudah beberapa kali dikeraskan. Akibat perilaku ulama tadi, gadis tadi punya keyakinan bahwa suara “kentut” nya tidak terdengar oleh ulama tadi. Wajah pun kembali ceria. Setelah terlihat ceria, gadis tadi mengeraskan lagi bicaranya, dan ulama tadi baru mendengar. Atas perilaku baik tadi, alhasil ulama tersebut diangkat menjadi kekasihnya Allah s.w.t.

Sebenarnya para ulama dan bahkan jauh-jauh hari Nabi yang Agung Muhammad s.a.w telah mengajarkan tentang etika sesama pergaulan sesama muslim. Ketika ada seseorang melakukan kesalahan dan di qisas, beberapa sahabat bisik-bisik dengan nada mengejek atas maksiat yang telah dilakukan, sehingga nabi mendengarnya. Lalu dengan nada marah nabi memperingatkan para sahabat kurang lebih begini, “wahai para sahabat, jangan kau merasa suci. Dia telah diqisas dan sudah dibersihkan oleh Allah melalui hukumannya. Sedangkan ucapannmu telah menimbulkan dosa baru dihadapan Allah akibat kesombongan mu”.

Di era keterbukaan saat sekarang ini, orang sudah mulai kehilangan etika pergaulan tentang menjaga perasaan orang lain. Mereka sudah tidak bisa membedakan apa yang disebut “hukuman” dan “hinaan”. Seolah-olah kata “hukuman” berbanding lurus dengan “hinaan”, ketika seseorang melakukan suatu kesalahan, pada saat yang sama dia pun berhak untuk dihina, di etrek-etrek dosa dan aib-aib nya di jalan. Era keterbukaan yang terlalu cepat berkembang telah menutup etika-etika yang sangat penting dalam memaknai sebagai “akhul muslim”, bahwa sesama muslim adalah saudara.

Makna “muslim saudara muslim lain”, bahwa saat kepala sakit, kaki berjalan ke kedai obat, dan mulut berbicara “obat paracetamol”, dan tangan mengambil duit di saku celana. Semua kita saling membantu. Namun pada saat melakukan suatu kesalahan, maka hukuman pun harus diberikan sebagai wujud kasih sayang. Karena hukuman adalah bagian dari kasih sayang, Keluarga besarnya tidak boleh menghancurkan nama baik nya dengan menyebarkan aib kesalahanya di depan umum. Jika nekad melakukannya, allah pun akan membuka aib nya pada saat yang tepat. disini para penebar aib telah menanggung dua beban; beban dosa akibat menyebarkan aib saudaranya, dan menanggung beban atas merasa suci dari pelaku dosa tadi. Ini sudah hubungan antara manusia dengan manusia. Jika sang pendosa sudah bertaubat, lalu menuntut di hari kiamat atas perilaku orang-orang yang menyebarkan berita maksiat, maka kita terhalang masuk surge akibat belum ridha sang pendosa yang sudah bertaubat tadi. Sungguh rugi, saat sang pendosa bertaubat sudah masuk surga, para pembuka aib justru masih terhalang masuk surge. Kenapa demikian? Karena orang-orang yang merasa lebih suci dan telah membuka aib, telah melakukan suatu kesalahan besar yaitu merasa bersih dan sombong. Kedua-duanya adalah dosa besar. Sebab yang merasa paling baik dan sombong hanya milik Allah s.w.t.

Allah s.w.t telah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan laki-laki merendahkan kumpulan yang lain,boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik”. Nabi Muhammad s.a.w dawuh, “ Jika ada seseorang yang menghinamu dan mempermalukanmu dengan sesuatu yang ia ketahui ada padamu, maka janganlah engkau membalasnya dengan sesuatu yang engkau ketahui ada padanya. Akibat buruk biarlah ia yang menanggungnya”.

Saya, anda dan kita adalah cermin. Saat anda melihat muka di depan cermin, maka saudara anda adalah bagian belakang tubuh anda. Dia tidak terlihat dalam cermin tapi dia selalu mengikuti anda kemana pun. Ketika anda dipanggil sebagai orang yang cantik, ganteng, berwibawa dan lain-lain karena muka depan anda, tapi bagian belakang pun tetap menjadi bagian kewibawaan walaupun tidak terlihat dicermin.

Kita kadang merasa bahwa kita lebih bersih dari orang-orang yang melakukan maksiat. Sebenarnya tidaklah demikian. Bisa jadi jika ditimbang, dosa kita lebih besar dari para pendosa yang kita tuduh. Hanya saja, Allah belum membuka aibnya. Allah masih terlalu sayang dengan menutup aib-aibnya. Jika pada masa nya Allah membuka, maka kita pun akan kehilangan wajah keagungan. Kita benar-benar tersungkur pada titik terendah. Pada saat itulah, kita membutuhkan orang-orang yang memberi semangat dan menasehati, bukan orang-orang yang menghina dan mencaci maki.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884