
Dulu ada seorang ulama. Setiap hari setelah
mengajar biasanya pergi ke Pasar. Pagi itu, dia pergi ke Kedai untuk membeli Jarum
Baju. Pelayan tokonya adalah seorang gadis cantik. Namun saat dia bertanya pada
ulama tadi, saat bersamaan keluar angin dari belakang. Sontak dia malu. Muka
merah pucat karena sangat menahan malu. Namun dia seorang pelayan toko harus bertanya
kepada pelanggannya. Setiap bertanya, ulama tadi pun seperti orang tuli. Gadis
tadi membesarkan suaranya, namun masih juga seolah-olah tidak mendengarkan.
Padahal suaranya sudah beberapa kali dikeraskan. Akibat perilaku ulama tadi,
gadis tadi punya keyakinan bahwa suara “kentut” nya tidak terdengar oleh ulama
tadi. Wajah pun kembali ceria. Setelah terlihat ceria, gadis tadi mengeraskan lagi
bicaranya, dan ulama tadi baru mendengar. Atas perilaku baik tadi, alhasil
ulama tersebut diangkat menjadi kekasihnya Allah s.w.t.
Sebenarnya para ulama dan bahkan jauh-jauh
hari Nabi yang Agung Muhammad s.a.w telah mengajarkan tentang etika sesama
pergaulan sesama muslim. Ketika ada seseorang melakukan kesalahan dan di qisas,
beberapa sahabat bisik-bisik dengan nada mengejek atas maksiat yang telah
dilakukan, sehingga nabi mendengarnya. Lalu dengan nada marah nabi
memperingatkan para sahabat kurang lebih begini, “wahai para sahabat, jangan
kau merasa suci. Dia telah diqisas dan sudah dibersihkan oleh Allah melalui
hukumannya. Sedangkan ucapannmu telah menimbulkan dosa baru dihadapan Allah
akibat kesombongan mu”.
Di era keterbukaan saat sekarang ini, orang
sudah mulai kehilangan etika pergaulan tentang menjaga perasaan orang lain. Mereka
sudah tidak bisa membedakan apa yang disebut “hukuman” dan “hinaan”.
Seolah-olah kata “hukuman” berbanding lurus dengan “hinaan”, ketika seseorang
melakukan suatu kesalahan, pada saat yang sama dia pun berhak untuk dihina, di etrek-etrek
dosa dan aib-aib nya di jalan. Era keterbukaan yang terlalu cepat berkembang
telah menutup etika-etika yang sangat penting dalam memaknai sebagai “akhul
muslim”, bahwa sesama muslim adalah saudara.
Makna “muslim saudara muslim lain”, bahwa
saat kepala sakit, kaki berjalan ke kedai obat, dan mulut berbicara “obat
paracetamol”, dan tangan mengambil duit di saku celana. Semua kita saling
membantu. Namun pada saat melakukan suatu kesalahan, maka hukuman pun harus
diberikan sebagai wujud kasih sayang. Karena hukuman adalah bagian dari kasih
sayang, Keluarga besarnya tidak boleh menghancurkan nama baik nya dengan
menyebarkan aib kesalahanya di depan umum. Jika nekad melakukannya, allah pun
akan membuka aib nya pada saat yang tepat. disini para penebar aib telah
menanggung dua beban; beban dosa akibat menyebarkan aib saudaranya, dan
menanggung beban atas merasa suci dari pelaku dosa tadi. Ini sudah hubungan
antara manusia dengan manusia. Jika sang pendosa sudah bertaubat, lalu menuntut
di hari kiamat atas perilaku orang-orang yang menyebarkan berita maksiat, maka
kita terhalang masuk surge akibat belum ridha sang pendosa yang sudah bertaubat
tadi. Sungguh rugi, saat sang pendosa bertaubat sudah masuk surga, para pembuka
aib justru masih terhalang masuk surge. Kenapa demikian? Karena orang-orang
yang merasa lebih suci dan telah membuka aib, telah melakukan suatu kesalahan
besar yaitu merasa bersih dan sombong. Kedua-duanya adalah dosa besar. Sebab yang
merasa paling baik dan sombong hanya milik Allah s.w.t.
Allah s.w.t telah berfirman, “Hai
orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan laki-laki merendahkan kumpulan
yang lain,boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan
pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang
direndahkan itu lebih baik”. Nabi Muhammad s.a.w dawuh, “ Jika ada seseorang
yang menghinamu dan mempermalukanmu dengan sesuatu yang ia ketahui ada padamu,
maka janganlah engkau membalasnya dengan sesuatu yang engkau ketahui ada
padanya. Akibat buruk biarlah ia yang menanggungnya”.
Saya, anda dan kita adalah cermin. Saat
anda melihat muka di depan cermin, maka saudara anda adalah bagian belakang
tubuh anda. Dia tidak terlihat dalam cermin tapi dia selalu mengikuti anda
kemana pun. Ketika anda dipanggil sebagai orang yang cantik, ganteng, berwibawa
dan lain-lain karena muka depan anda, tapi bagian belakang pun tetap menjadi
bagian kewibawaan walaupun tidak terlihat dicermin.
Kita kadang merasa bahwa kita lebih bersih
dari orang-orang yang melakukan maksiat. Sebenarnya tidaklah demikian. Bisa
jadi jika ditimbang, dosa kita lebih besar dari para pendosa yang kita tuduh.
Hanya saja, Allah belum membuka aibnya. Allah masih terlalu sayang dengan
menutup aib-aibnya. Jika pada masa nya Allah membuka, maka kita pun akan
kehilangan wajah keagungan. Kita benar-benar tersungkur pada titik terendah.
Pada saat itulah, kita membutuhkan orang-orang yang memberi semangat dan
menasehati, bukan orang-orang yang menghina dan mencaci maki.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3578
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2981
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884