Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Coto Makasar dan Sop Buntut Kulonprogo



Minggu , 16 Juli 2023



Telah dibaca :  701

Sebagai pembuka, saya mengulas sedikit catatan harian pada edisi sebelumnya tentang kepanikan saya akibat penumpang yang “mbludag” sampai saya “nyambi” menjadi petugas porter freelance tanpa gaji mengangkat koper-koper dari ibu-ibu rombongan calon penumpang tujuan Gorontalo. Kebetulan waktu itu waktu sangat “mepet”. Suara airport announcement sudah terdengar memanggil penumpang tujuan tersebut. Kebetulan juga, Topi yang saya kenakan ada tulisan “Kuliah Kerja Nyata 2023”. Rasanya tidak enak juga jika dalam situasi yang sangat mendesak dan serba sulit, saya berdiam diri dan bersikap “mriyayi”. Tidak enak “babarblas”. Saya pun mengatur dan membantu ibu-ibu yang sudah berumur kira 55-60-an. Setelah saya bantu, mereka senang bukan main. Ucapan terima kasih beberapa kali diucapkan oleh ibu-ibu tadi. Saya tersenyum dan mengangguk kepala.

Setelah di Ruang Tunggu Bandara, saya mencari Rumah Makan atau Kantin. Alhamdulillah dapat. Jam menunjukan pukul 08.20. Masih ada waktu 30 menit untuk sarapan. Saya pun pesan Coto Makasar dan Teh Manis. Selesai makan dan minum, saya memanggil pelayan cantik yang berbaju serba hitam dan berkulit putih. “berapa semua dik?”, tanya ku. Dia pun mengatakan, “semua seratus ribu pak”. Saya tersenyum, tidak kaget. Ini bandara. Petugas bandara sudah bersikap “khusnudzon” atau baik sangka, bahwa orang-orang yang naik pesawat terbang adalah orang-orang pilihan, khususul khusus. Maka harga pun tidak mengikuti harga pada umum nya. Jika harga pada umum nya, Coto Makasar hanya Rp. 15.000, dan Teh Manis hanya Rp. 3000, maka di bandara naik berlipat-lipat; Coto Makasar menjadi Rp.70.00 dan Teh Manis menjadi Rp. 30.000. Saya lagi-lagi tersenyum, karena masuk golongan orang-orang istimewa. Walaupun sandal saya merek “Sandal Jepit”, dikira konglomerat lagi “nyamar” seperti Tuan Muda longmen pewaris Spectra.

Jam 09.20, saya terbang ke Bandara Internasional Kulonprogo yaitu Yogyakarta Internasional Airport (YIA). Jam 11.20 sudah sampai di Bandara tersebut. sambil berjalan menuju baggage inspection, saya melihat tiket pesawat dan mencocokan waktu di papan informasi FIDS (Flight Information Display System). Pesawat Lion Air ke Pekanbaru jam 13.50. masih lama. Setelah di ruang tunggu, saya pun mencari Kantin Bandara. Setelah duduk, pelayan datang dan memberi menu makanan. Saya lagi-lagi tersenyum lagi. Sop buntut harga nya sekitar Rp.80.000 (padahal selama hidup belum pernah saya makan sop buntut. Terbayang buntut sapi, yang “belepotan” kotoran) dan wedang jahe Rp. 20.000. Jika di kampung saya, sop buntut ful satu mangkok besar paling banter harga Cuma Rp. 25.000, wedang jahe Rp. 5000. lagi-lagi, saya telah merasakan makanan orang-orang “pinilih”. Ternyata rasanya sama. Orang kaya, miskin, berilmu dan tidak sekolah ketika makan Sop Buntut sama; rasa dan harga. Bedangya kalau lagi demam. Sangat demokratis. Ternyata ketika semua berbau demokratis kadang-kadang membuat hati “mbededeg”.

Petugas bandara memberi pengumungan. Penerbangan lion air diundur dari jam 13.55 menjadi jam 14.30. Saya tidak marah. Sebab marah pun tetap delay.  Seorang Ibu dari salah satu Pegawai Dinas Kota Pekanbaru yang baru saja mengikuti acara Apeksi di Makasar yang diikuti seluruh Walikota se-Indonesia “ngomel-ngomel”. Sedangkan seorang bapak yang ikut di acara yang sama kelihatannya diam saja. Kelihatanya bapak tadi memang tipe pendiam dan murah senyum. Meskipun terlambat, dia pun tetap senyum dan masih bisa bercanda dengan ku di Ruang Tunggu.

Untuk mengisi waktu luang, saya dan bapak tadi berbagi cerita. Dia bercerita tentang pertemuan dengan bakal calon presiden; ada Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto, dan Anies Baswedan. Saya tanya, siapa yang paling bagus dalam menyampaikan gagasan. Bapak tadi tertawa dan kemudian berkata, “Semua baik pak”. Setelah itu gantian dia bertanya tentang pengalaman saya selama perjalanan dari Makasar sampai Bandara Kulonprogo, saya menjawab: “ tidak ada, hanya saja saya ingin buang air besar di rumah pak”. Bapak tadi bingung,”Lo, memangnya kenapa buang air di Bandara?”. Saya menjawab singkat, “Soalnya Coto dan Sop buntutnya mahal, sayang dibuang begitu saja!”. kami berdua pun tertawa.

Terlepas dari persoalan mahal harga “Coto Makasar dan Sop Buntut” (tentu makanan dan souvenir-souvenir lainya di bandara juga sama; mahal), ada pesan yang berharga, yaitu harga barang di tentukan oleh tempat. Konon di daerah Timur Tengah air lebih berharga dan lebih mulia daripada emas. Begitu mulia air, Surga pun dihiasai dengan sungai,”jannatun adnin tajri min tahtihal anhar”. Indonesia daerah tropis. Curah hujan cukup tinggi. emas lebih berharga dari air (lebih berharga lain emas yang bergerak seperti Mas Paijo, Mas Parmin, dan lain-lain). Sama wilayah beda tempat juga berbeda harganya. Coto makasar di Rumah Makan biasa harganya Rp.15.000, di Rumah Makan besar harga Rp. 35.000 di Bandara harganya Rp. 70.000. Ini masih satu wilayah Makasar, beda tempat beda juga harga.

Saat saya menginap di Hotel Darma Nusantara, iseng-iseng saya bertanya kepada seorang pemuda yang bertugas di bagian receptionis. Dia berumur 30-an tahun. Saya tanya apakah sudah menikah. Dia menjawab belum menikah. Ketika bertanya tentang tidak mau cepat menikah. Dia pun memberi alasan tentang persoalan mahalnya “antar belanja”. Apalagi jika calon istrinya berpendidikan tinggi, maka semakin mahal. Saya mendapat cerita ini sudah mewabah di berbagai kota. Jangan-jangan sudah menjadi pandemic “bandrol harga”. Seolah-olah “bandrol harga” lebih sakral dari ketulusan cinta.

Ini berbeda di daerah pedesaan. Meskipun masyarakat kampung mulai mengenal “tik-tok” dan mulai bergaya “tik-tok”, tapi masih mudah mencari calon mertua yang tidak aneh-aneh, yang masih menerima calon menantu dengan batas-batas kewajaran. Saya melihat bahwa keluarga yang orang tuanya mengerti ilmu agama dan hidup menjalani dengan sikap “sumeleh”, bisa menerima calon menantu dengan persyaratan yang lebih disederhanakan; taat beragama, berbakti kepada orang tua/mertua, sayang sama istrinya dan mempunyai semangat tinggi mencari nafkah atau tinggi etos kerjanya. Hal yang sama juga masyarakat yang merasa sebagai orang biasa, akan bersikap biasa-biasa dalam menerima calon menantunya.

Meskipun fenomena “beda harga barang karena beda tempat” sudah terjadi sejak lama dan ini akan terus terjadi, ada pelajaran berharga, yaitu: marketing menjadi sangat berharga untuk menaikan harga tersebut. Kita bisa menemukan orang-orang disekitar kita yang menurut ukuran kita biasa-biasa saja, namun tampil mengagetkan sebagai bagian orang yang luarbiasa. Dulu saat di Pesantren  “diplorodi” sarungnya saat sholat, atau saat kuliah tidak bisa membuat makalah, lalu di kemudian hari dia menjadi orang yang terhormat; orang-orang antri datang ingin mencium tangan dan mengharapkan berkah doa darinya. Entah ini yang dimaksud “orang mujur”, “bawaan garis tangan”,” berkah” atau apalah namanya, tapi yang jelas prestasi yang diraih bukan sebatas “ngelus-ngelus” Lampu Aladin.

Selatpanjang, 16 Juli 2023



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

AjiP

Paling ujung kiri, pria yang mengenakan topi, berkacamata dan berbaju kerah putih adalah sosok inspiratif yang telah mengenalkan saya pada dunia literasi. Tanpa beliau, mungkin saya tidak bisa menikmati dan menjiwai menulis. Beliau Prof. Ngainun Naim, Allahu yubarik fiik

   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4560


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879