
Sebagai pembuka, saya mengulas sedikit
catatan harian pada edisi sebelumnya tentang kepanikan saya akibat penumpang
yang “mbludag” sampai saya “nyambi” menjadi petugas porter
freelance tanpa gaji mengangkat koper-koper dari ibu-ibu rombongan calon
penumpang tujuan Gorontalo. Kebetulan waktu itu waktu sangat “mepet”. Suara
airport announcement sudah terdengar memanggil penumpang tujuan tersebut.
Kebetulan juga, Topi yang saya kenakan ada tulisan “Kuliah Kerja Nyata 2023”.
Rasanya tidak enak juga jika dalam situasi yang sangat mendesak dan serba
sulit, saya berdiam diri dan bersikap “mriyayi”. Tidak enak “babarblas”.
Saya pun mengatur dan membantu ibu-ibu yang sudah berumur kira 55-60-an. Setelah
saya bantu, mereka senang bukan main. Ucapan terima kasih beberapa kali
diucapkan oleh ibu-ibu tadi. Saya tersenyum dan mengangguk kepala.
Setelah di Ruang Tunggu Bandara, saya
mencari Rumah Makan atau Kantin. Alhamdulillah dapat. Jam menunjukan pukul
08.20. Masih ada waktu 30 menit untuk sarapan. Saya pun pesan Coto Makasar dan
Teh Manis. Selesai makan dan minum, saya memanggil pelayan cantik yang berbaju
serba hitam dan berkulit putih. “berapa semua dik?”, tanya ku. Dia pun
mengatakan, “semua seratus ribu pak”. Saya tersenyum, tidak kaget. Ini bandara.
Petugas bandara sudah bersikap “khusnudzon” atau baik sangka, bahwa
orang-orang yang naik pesawat terbang adalah orang-orang pilihan, khususul
khusus. Maka harga pun tidak mengikuti harga pada umum nya. Jika harga pada
umum nya, Coto Makasar hanya Rp. 15.000, dan Teh Manis hanya Rp. 3000, maka di
bandara naik berlipat-lipat; Coto Makasar menjadi Rp.70.00 dan Teh Manis menjadi
Rp. 30.000. Saya lagi-lagi tersenyum, karena masuk golongan orang-orang
istimewa. Walaupun sandal saya merek “Sandal Jepit”, dikira konglomerat lagi “nyamar”
seperti Tuan Muda longmen pewaris Spectra.
Jam 09.20, saya terbang ke Bandara
Internasional Kulonprogo yaitu Yogyakarta Internasional Airport (YIA). Jam
11.20 sudah sampai di Bandara tersebut. sambil berjalan menuju baggage
inspection, saya melihat tiket pesawat dan mencocokan waktu di papan
informasi FIDS (Flight Information Display System). Pesawat Lion Air ke
Pekanbaru jam 13.50. masih lama. Setelah di ruang tunggu, saya pun mencari Kantin
Bandara. Setelah duduk, pelayan datang dan memberi menu makanan. Saya lagi-lagi
tersenyum lagi. Sop buntut harga nya sekitar Rp.80.000 (padahal selama hidup
belum pernah saya makan sop buntut. Terbayang buntut sapi, yang “belepotan”
kotoran) dan wedang jahe Rp. 20.000. Jika di kampung saya, sop buntut ful satu
mangkok besar paling banter harga Cuma Rp. 25.000, wedang jahe Rp. 5000. lagi-lagi,
saya telah merasakan makanan orang-orang “pinilih”. Ternyata rasanya sama.
Orang kaya, miskin, berilmu dan tidak sekolah ketika makan Sop Buntut sama;
rasa dan harga. Bedangya kalau lagi demam. Sangat demokratis. Ternyata ketika
semua berbau demokratis kadang-kadang membuat hati “mbededeg”.
Petugas bandara memberi pengumungan. Penerbangan
lion air diundur dari jam 13.55 menjadi jam 14.30. Saya tidak marah. Sebab
marah pun tetap delay. Seorang Ibu
dari salah satu Pegawai Dinas Kota Pekanbaru yang baru saja mengikuti acara
Apeksi di Makasar yang diikuti seluruh Walikota se-Indonesia “ngomel-ngomel”.
Sedangkan seorang bapak yang ikut di acara yang sama kelihatannya diam
saja. Kelihatanya bapak tadi memang tipe pendiam dan murah senyum. Meskipun
terlambat, dia pun tetap senyum dan masih bisa bercanda dengan ku di Ruang
Tunggu.
Untuk mengisi waktu luang, saya dan bapak
tadi berbagi cerita. Dia bercerita tentang pertemuan dengan bakal calon
presiden; ada Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto, dan Anies Baswedan. Saya tanya,
siapa yang paling bagus dalam menyampaikan gagasan. Bapak tadi tertawa dan
kemudian berkata, “Semua baik pak”. Setelah itu gantian dia bertanya tentang
pengalaman saya selama perjalanan dari Makasar sampai Bandara Kulonprogo, saya
menjawab: “ tidak ada, hanya saja saya ingin buang air besar di rumah pak”.
Bapak tadi bingung,”Lo, memangnya kenapa buang air di Bandara?”. Saya menjawab
singkat, “Soalnya Coto dan Sop buntutnya mahal, sayang dibuang begitu saja!”.
kami berdua pun tertawa.
Terlepas dari persoalan mahal harga “Coto
Makasar dan Sop Buntut” (tentu makanan dan souvenir-souvenir lainya di bandara
juga sama; mahal), ada pesan yang berharga, yaitu harga barang di tentukan oleh
tempat. Konon di daerah Timur Tengah air lebih berharga dan lebih mulia daripada
emas. Begitu mulia air, Surga pun dihiasai dengan sungai,”jannatun adnin
tajri min tahtihal anhar”. Indonesia daerah tropis. Curah hujan cukup tinggi.
emas lebih berharga dari air (lebih berharga lain emas yang bergerak seperti Mas
Paijo, Mas Parmin, dan lain-lain). Sama wilayah beda tempat juga berbeda
harganya. Coto makasar di Rumah Makan biasa harganya Rp.15.000, di Rumah Makan besar
harga Rp. 35.000 di Bandara harganya Rp. 70.000. Ini masih satu wilayah Makasar,
beda tempat beda juga harga.
Saat saya menginap di Hotel Darma Nusantara,
iseng-iseng saya bertanya kepada seorang pemuda yang bertugas di bagian receptionis.
Dia berumur 30-an tahun. Saya tanya apakah sudah menikah. Dia menjawab belum
menikah. Ketika bertanya tentang tidak mau cepat menikah. Dia pun memberi
alasan tentang persoalan mahalnya “antar belanja”. Apalagi jika calon istrinya
berpendidikan tinggi, maka semakin mahal. Saya mendapat cerita ini sudah
mewabah di berbagai kota. Jangan-jangan sudah menjadi pandemic “bandrol harga”.
Seolah-olah “bandrol harga” lebih sakral dari ketulusan cinta.
Ini berbeda di daerah pedesaan. Meskipun masyarakat
kampung mulai mengenal “tik-tok” dan mulai bergaya “tik-tok”, tapi masih mudah
mencari calon mertua yang tidak aneh-aneh, yang masih menerima calon menantu
dengan batas-batas kewajaran. Saya melihat bahwa keluarga yang orang tuanya
mengerti ilmu agama dan hidup menjalani dengan sikap “sumeleh”, bisa
menerima calon menantu dengan persyaratan yang lebih disederhanakan; taat
beragama, berbakti kepada orang tua/mertua, sayang sama istrinya dan mempunyai
semangat tinggi mencari nafkah atau tinggi etos kerjanya. Hal yang sama juga
masyarakat yang merasa sebagai orang biasa, akan bersikap biasa-biasa dalam
menerima calon menantunya.
Meskipun fenomena “beda harga barang karena
beda tempat” sudah terjadi sejak lama dan ini akan terus terjadi, ada pelajaran
berharga, yaitu: marketing menjadi sangat berharga untuk menaikan harga
tersebut. Kita bisa menemukan orang-orang disekitar kita yang menurut ukuran
kita biasa-biasa saja, namun tampil mengagetkan sebagai bagian orang yang
luarbiasa. Dulu saat di Pesantren “diplorodi”
sarungnya saat sholat, atau saat kuliah tidak bisa membuat makalah, lalu di
kemudian hari dia menjadi orang yang terhormat; orang-orang antri datang ingin
mencium tangan dan mengharapkan berkah doa darinya. Entah ini yang dimaksud “orang
mujur”, “bawaan garis tangan”,” berkah” atau apalah namanya, tapi yang jelas
prestasi yang diraih bukan sebatas “ngelus-ngelus” Lampu Aladin.
Selatpanjang, 16 Juli 2023
Penulis : Imam Ghozali
AjiP
Paling ujung kiri, pria yang mengenakan topi, berkacamata dan berbaju kerah putih adalah sosok inspiratif yang telah mengenalkan saya pada dunia literasi. Tanpa beliau, mungkin saya tidak bisa menikmati dan menjiwai menulis. Beliau Prof. Ngainun Naim, Allahu yubarik fiik
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4560
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3576
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2977
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879