
Malam hari hampir tidak bisa tidur,
memikirkan anak yang sedang sakit. Sudah tiga hari masuk empat hari. Panas dan
tidak mau makan. Gelisah. Ini mungkin makna dari anak sebagai “buah hati” orang
tua. Ketika sang buah hati sedang tidak baik-baik saja, maka terasa “nyetrum”, orang
tua pun tidak tenang. Sebisa mungkin saya berusaha tenang dan senyum
seolah-olah tidak ada masalah. Tidak bisa juga. Pagi ini harus pulang dan
melihat kondisi anak dengan berharap berkah doa semoga segera sembuh.
Mas Jarir menelpon ku. Ia mengajak sarapan pagi dengan para asesor KPI yang hebat-hebat: Dr.Yopi Kusmiati, M.Si dan Dr. Catur Suratnoaji, M.Si. Setelah mandi, saya dan Mas Chanif menuju kedai Yogyakarta. Ketika Mas Reno Firdaus-Ketua Jurusan KDI-menawarkan sarapan, saya merespon dengan senyum. Fikiran sudah tidak fokus lagi. Selalu ingat “si buah hati”. Perut masih terasa kenyang, meskipun belum sarapan. Hanya kopi pahit dan makan dua potong kueh bakar sebagai pengganjal perut.

Sekitar 15 menit, Mas Jarir dan Asesor KPI sampai
di Kedai Kopi Yogyakarta. Segera saya menyambut dan meminta Cak Catur-Dosen
Kelahiran Jombang- duduk di sampingku. Saya memang tidak berani mengajak Ibu
Dr. Yopi duduk disampingku. Takut nanti foto ku beredar dan ketahuan istriku. Untuk
sama-sama menjaga perasaan, saya berfoto dengan Dr. Catur yang sama-sama satu nasib:
sama-sama rambutnya mulai memutih.
Saya ngobrol dan diskusi singkat tentang
makna kehidupan. sangat asyik. Meskipun saya kelahiran Jawa Tengah-Banyumas- tapi
saya cukup lama tinggal di Jawa Timur, maka ada kenangan masa lalu yang
menyebabkan kami mempunyai titik temu dari ajaran para leluhur yaitu makna
keberkahan.
Orang tua dulu memaknai keberkahan sebagai ziyadatul
khoir -bertambah kebaikan-. Kata berkah sebagai lughot keindonesiaan atau
lebih khusus lagi maka kesantrian sebenarnya berasalah dari bahasa Arab “tabaraka”
yang mengacu makna Allah memberikan banyak keberkahan.
Di dalam Al-Qur’an ada satu ayat yang
menjadi landasan makna keberkahan yaitu Q.S. Al-Isra ([17]:1) sebagai berikut:
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ
الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ
مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ١
Artinya:
Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan
hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil haram ke Masjidil aqsa
yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian
tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha
Melihat.
Saya-mungkin juga anda-bisa menafsiri makna keberkahan ayat tersebut dengan beragam versi. Sebab demikian kenyataannya. Allah menurunkan ayat al-qur’an sering mengandung majaz-metafora- yang memungkinkan setiap orang memaknai dengan kemampuan dan keterbatasan akal pikiran dalam memahaminya. Itu sebabnya, makna keberkahan menjadi beragam di tengah-tengah masyarakat.

Saya mengambil contoh makna berkah dari
saudara Ahmad Dhofir Zuhri-Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Al-Farabi Malang-mengatakan
makna berkah mengacu pada tiga hal yaitu: pertama, berkah makna nya sedikit
tapi manfaatnya besar; kedua keberkahan sesuatu yang majaz, multi tafsir dan
sulit untuk memahami secara pasti, tapi dampak positifnya sangat terasa sekali;
ketiga keberkahan yang datang dari Allah mengalir terus dari dulu, sekarang dan
masa datang dan memberi efek positif dan kebaikan bagi manusia di jagat raya.
Dari tiga makna tersebut, keberkahan tidak
dibatasi oleh pagar-pagar intelektual dan kemampuan akal pikiran. Kadang secara
intelektual dan pandangan panca Indera, kita sering mentertawakan seseorang
atau suatu kehidupan kelompok tertentu yang dianggap remeh temeh. Dengan ukuran-ukuran
rasional, pikiran kita bahkan bisa jadi hati kita akan berkata: “dia tidak
mungkin jadi orang sukses”, “dia mungkin hanya menjadi manusia biasa”.
Pikiran-pikiran pendek kita yang hanya
dibatas oleh panca indera sering dipatahkan oleh realita kehidupan. bahkan kita
kemudian dibuat terkagum-kagum. Seolah-olah tidak percaya, bagaimana mungkin
orang biasa-biasa saja bisa menjadi orang hebat dan mengatur kehidupan manusia
yang begitu luas. Bagaimana mungkin orang yang terlihat biasa-biasa saja, cerdas
pas-pasan, kemampuan standar dan tampan ala kadarnya. Lalu di kemudian hari,
orang sejenis ini tampil berada di panggung utama, menjadi pembicara dan
motivator hebat. Lebih hebatnya lagi peserta seminar tersebut adalah
teman-teman nya dulu yang sangat hebat-hebat. bahkan ruangan itu juga berisi
orang-orang hebat dari berbagai instansi, akademisi dan profesi.
Saya-mungkin juga anda-pernah
bertanya-tanya dalam hati: “Kenapa bangsa barat menjajah Asia Tenggara
Seperti Indonesia Malaysia, Brunai dan tidak menjajah Timur Tengah seperti Arab
Saudi?”
Sebab sejak dulu Arab Saudi yang terlihat
adalah gurun dan Padang Pasir. Ketika revolusi industri di Inggris, para
kolonialisme barat lebih memilih negara-negara yang mempunyai tanah subur dan
berpenghasilan seperti Indonesia.
Arab Saudi tidak menarik sama sekali. Tapi
janji Allah itu haq. Keberkahan akan melimpah di sekitar Masjid Haram dan Aqsha.
Diantara wujudnya yaitu tersimpan minyak tanah dengan jumlah tanpa batas di
seluruh Timur Tengah. Di sekitar Masjidil Haram juga tersimpan air zam-zam yang
mempunyai kualitas air kesehatan terbaik di dunia.
Tulisan ini tentu saja sangat panjang dan
bisa dibuat berseri jika menulis contoh-contoh keberkahan dalam kehidupan. Seperti
seorang supir Grab di Bandara Internasional Yogyakarta Kulonprogo yang
mempunyai tiga anak yang kuliah di luar negeri-Harvard, MIT dan Swiss. Anak-anak
hebat bisa jadi bukan karena kekayaan dari orang tua nya sebagai Supir Grab,
bisa jadi keberkahan lahir dari kasih sayang yang tulus dari pasangan suami
istri, bisa jadi dari kejernihan doa orang tua, bisa jadi berangkat dari usaha
orang tua. Semua memungkinkan menjadi jalan keberkahan melimpah.
Walhasil, ngaji bersama Cak Catur dari Jombang
dan Ibu Doktor Yopi dari Palembang merupakan keberkahan yang tidak bernilai khusus
nya bagi diriku sendiri. keberkahan yang nampak, yaitu kami bisa silaturahim. Kata
Nabi Muhammad, silaturahim menjadi jalan keberkahan umur, rezeki dan amal
sholeh yang berkualitas.
Selesai sarapan, saya mengantar Cak Catur dan
Ibu Yopi ke mobil. Saya berdoa, semoga kedua nya selalu mendapatkan kesehatan,
keselamatan dan keberkahan dalam menjalan tugas masing-masing. Semoga kita menjadi
saudara yang kekal abadi ila yaumil kiyamah dan menjadi mulia dalam
pandangan Allah SWT. Amin.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2941
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872