Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Dahsyat Nya Efek Berkah: Obrolan Singkat Dengan Cak Catur



Jumat , 14 November 2025



Telah dibaca :  368

Malam hari hampir tidak bisa tidur, memikirkan anak yang sedang sakit. Sudah tiga hari masuk empat hari. Panas dan tidak mau makan. Gelisah. Ini mungkin makna dari anak sebagai “buah hati” orang tua. Ketika sang buah hati sedang tidak baik-baik saja, maka terasa “nyetrum”, orang tua pun tidak tenang. Sebisa mungkin saya berusaha tenang dan senyum seolah-olah tidak ada masalah. Tidak bisa juga. Pagi ini harus pulang dan melihat kondisi anak dengan berharap berkah doa semoga segera sembuh.

Mas Jarir menelpon ku. Ia mengajak sarapan pagi dengan para asesor KPI yang hebat-hebat: Dr.Yopi Kusmiati, M.Si  dan Dr. Catur Suratnoaji, M.Si. Setelah mandi, saya dan Mas Chanif menuju kedai Yogyakarta. Ketika Mas Reno Firdaus-Ketua Jurusan KDI-menawarkan sarapan, saya merespon dengan senyum. Fikiran sudah tidak fokus lagi. Selalu ingat “si buah hati”. Perut masih terasa kenyang, meskipun belum sarapan. Hanya kopi pahit dan makan dua potong kueh bakar sebagai pengganjal perut.


Sekitar 15 menit, Mas Jarir dan Asesor KPI sampai di Kedai Kopi Yogyakarta. Segera saya menyambut dan meminta Cak Catur-Dosen Kelahiran Jombang- duduk di sampingku. Saya memang tidak berani mengajak Ibu Dr. Yopi duduk disampingku. Takut nanti foto ku beredar dan ketahuan istriku. Untuk sama-sama menjaga perasaan, saya berfoto dengan Dr. Catur yang sama-sama satu nasib: sama-sama rambutnya mulai memutih.

Saya ngobrol dan diskusi singkat tentang makna kehidupan. sangat asyik. Meskipun saya kelahiran Jawa Tengah-Banyumas- tapi saya cukup lama tinggal di Jawa Timur, maka ada kenangan masa lalu yang menyebabkan kami mempunyai titik temu dari ajaran para leluhur yaitu makna keberkahan.

Orang tua dulu memaknai keberkahan sebagai ziyadatul khoir -bertambah kebaikan-. Kata berkah sebagai lughot keindonesiaan atau lebih khusus lagi maka kesantrian sebenarnya berasalah dari bahasa Arab “tabaraka” yang mengacu makna Allah memberikan banyak keberkahan.

Di dalam Al-Qur’an ada satu ayat yang menjadi landasan makna keberkahan yaitu Q.S. Al-Isra ([17]:1) sebagai berikut:

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ۝١

Artinya:

Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil haram ke Masjidil aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Saya-mungkin juga anda-bisa menafsiri makna keberkahan ayat tersebut dengan beragam versi. Sebab demikian kenyataannya. Allah menurunkan ayat al-qur’an sering mengandung majaz-metafora- yang memungkinkan setiap orang memaknai dengan kemampuan dan keterbatasan akal pikiran dalam memahaminya. Itu sebabnya, makna keberkahan menjadi beragam di tengah-tengah masyarakat.


Saya mengambil contoh makna berkah dari saudara Ahmad Dhofir Zuhri-Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Al-Farabi Malang-mengatakan makna berkah mengacu pada tiga hal yaitu: pertama, berkah makna nya sedikit tapi manfaatnya besar; kedua keberkahan sesuatu yang majaz, multi tafsir dan sulit untuk memahami secara pasti, tapi dampak positifnya sangat terasa sekali; ketiga keberkahan yang datang dari Allah mengalir terus dari dulu, sekarang dan masa datang dan memberi efek positif dan kebaikan bagi manusia di jagat raya.

Dari tiga makna tersebut, keberkahan tidak dibatasi oleh pagar-pagar intelektual dan kemampuan akal pikiran. Kadang secara intelektual dan pandangan panca Indera, kita sering mentertawakan seseorang atau suatu kehidupan kelompok tertentu yang dianggap remeh temeh. Dengan ukuran-ukuran rasional, pikiran kita bahkan bisa jadi hati kita akan berkata: “dia tidak mungkin jadi orang sukses”, “dia mungkin hanya menjadi manusia biasa”.

Pikiran-pikiran pendek kita yang hanya dibatas oleh panca indera sering dipatahkan oleh realita kehidupan. bahkan kita kemudian dibuat terkagum-kagum. Seolah-olah tidak percaya, bagaimana mungkin orang biasa-biasa saja bisa menjadi orang hebat dan mengatur kehidupan manusia yang begitu luas. Bagaimana mungkin orang yang terlihat biasa-biasa saja, cerdas pas-pasan, kemampuan standar dan tampan ala kadarnya. Lalu di kemudian hari, orang sejenis ini tampil berada di panggung utama, menjadi pembicara dan motivator hebat. Lebih hebatnya lagi peserta seminar tersebut adalah teman-teman nya dulu yang sangat hebat-hebat. bahkan ruangan itu juga berisi orang-orang hebat dari berbagai instansi, akademisi dan profesi.

Saya-mungkin juga anda-pernah bertanya-tanya dalam hati: “Kenapa bangsa barat menjajah Asia Tenggara Seperti Indonesia Malaysia, Brunai dan tidak menjajah Timur Tengah seperti Arab Saudi?”

Sebab sejak dulu Arab Saudi yang terlihat adalah gurun dan Padang Pasir. Ketika revolusi industri di Inggris, para kolonialisme barat lebih memilih negara-negara yang mempunyai tanah subur dan berpenghasilan seperti Indonesia.

Arab Saudi tidak menarik sama sekali. Tapi janji Allah itu haq. Keberkahan akan melimpah di sekitar Masjid Haram dan Aqsha. Diantara wujudnya yaitu tersimpan minyak tanah dengan jumlah tanpa batas di seluruh Timur Tengah. Di sekitar Masjidil Haram juga tersimpan air zam-zam yang mempunyai kualitas air kesehatan terbaik di dunia.

Tulisan ini tentu saja sangat panjang dan bisa dibuat berseri jika menulis contoh-contoh keberkahan dalam kehidupan. Seperti seorang supir Grab di Bandara Internasional Yogyakarta Kulonprogo yang mempunyai tiga anak yang kuliah di luar negeri-Harvard, MIT dan Swiss. Anak-anak hebat bisa jadi bukan karena kekayaan dari orang tua nya sebagai Supir Grab, bisa jadi keberkahan lahir dari kasih sayang yang tulus dari pasangan suami istri, bisa jadi dari kejernihan doa orang tua, bisa jadi berangkat dari usaha orang tua. Semua memungkinkan menjadi jalan keberkahan melimpah.

Walhasil, ngaji bersama Cak Catur dari Jombang dan Ibu Doktor Yopi dari Palembang merupakan keberkahan yang tidak bernilai khusus nya bagi diriku sendiri. keberkahan yang nampak, yaitu kami bisa silaturahim. Kata Nabi Muhammad, silaturahim menjadi jalan keberkahan umur, rezeki dan amal sholeh yang berkualitas.

Selesai sarapan, saya mengantar Cak Catur dan Ibu Yopi ke mobil. Saya berdoa, semoga kedua nya selalu mendapatkan kesehatan, keselamatan dan keberkahan dalam menjalan tugas masing-masing. Semoga kita menjadi saudara yang kekal abadi ila yaumil kiyamah dan menjadi mulia dalam pandangan Allah SWT. Amin.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872