
Dua hari ini, saya dan teman-teman mengikuti beragam acara; pertama di Pesantren Al-Aqobah Asuhan Kiai Khosairi, M.Pd.I malam selasa. Selesai jam 24.20-an. Acara sampai larut malam ditutup makan tumpeng bersama. Makan Tumpeng diacara imtihan di pesantren sangat menyenangkan. Terutama Ingkung Ayam nya adalah Ayam Kampung terasa nikmat sekali. Ibu-ibu Kampung memang pandai memasak Ayam Kampung menjadi daging sangat empuk dan terasa gurih. Rasa ini jelas tidak bisa ditemukan di tempat masak di acara hajatan lain seperti pengantinan, sunatan atau juga masakan-masakan terkenal seperti masakan Padang yang daging ayamnya terasa keras. Padahal Ayam Kota [untuk istilah Ayam Potong] yang terkenal empuk, tapi ditempat acara kenduri atau hajatan, atau di Rumah Makan tetap keras. Namun jika acara impithan atau khataman Al-Qur’an, Ayam Kampung sangat empuk dan gurih. Mungkin juga ini filosofis orang yang sudah mengahatamkan Al-Qur’an akan mampu mengubah ucapan dan perilakunya semakin gurih, nikmat, menyenangkan dan memberi manfaat kepada orang lain. wallahu a’lam.

Kedua, acara santunan Anak Yatim di Rumah Pribadi Bupati Kepulauan Meranti. Yang hadir kurang lebih ada 300-an orang. Para Pejabat Pemda mulai dari asisten ahli, staff ahli dan para kepala OPD hadir. Para pimpinan ormas pun datang. Saya atas nama MUI pun hadir bersama anak saya nomor empat, Muhammad faiz artanabil yang sekarang masih kelas TK nol kecil. Nama acara santunan anak yatim, tapi yang diberi bantuan bukan anak yatim saja. Saya lihat para orang tua, janda-janda tua mendapatkan bantuan berupa uang saku, sarung dan mukena. Acara diawali bacaan sholawat sebagai tanda pembagian bantuan. Semua berdiri. Trip pertama, santunan anak yatim. Trip kedua, kelompok duda dan janda tua, serta orang-orang yang sudah udzur. Trip ketiga, para imam masjid dan mushola. Mungkin karena sangat banyak yang dibantu, bupati kurang konsentrasi. Saat dia berjalan mendekat saya, dia menyodorkan amplop tanpa melihat saya. Mungkin pikirannya, saya bagian dari orang tua nya anak yatim. Sebab ada anak kecil disampingku. Ketika dia memberi amplop yang berisi uang, saya menolak. Karena itu bukan hak saya. Pikiran saya diundang untuk menghadiri saja.Tapi bupati tetap memaksaku untuk menerima. Saya terima dan saya berikan faiz yang berdiri di sebelahku. Pak Bambang Sekertaris Daerah yang mendampingi bupati melihat melihat kejadian ini. Entah gimana ceritanya, dia bersikap melebihi seorang santri. Sangat santun dan hormat kepada para kiai yang berjejer disampingku. Dipanggil Kabag Kesra. Setelah dipanggil olehnya, beberapa saat kemudian Kabag Kesra menemuiku. Katanya, ‘Maaf pak kiai, tadi amplopnya keliru, ditukar yang ini”. Saya tersenyum. ingatan saya beberapa waktu lalu, saat ngisi ceramah di suatu acara Hari Besar Islam. Panitia memberi amplop yang diluar ada tulisan “pembawa acara”. Padahal saya penceramah. Akhirnya panitia pun berlari-lari mengejar saya sambil berkata, “Maaf ustadz, amplop ketukar”. Dalam hati saya berkata, Tuhan begitu indah membagi rezeki hamba-Nya, walaupun kadang harus dengan cara-cara yang lucu.

Acara ketiga di Kapolres. Saya tahu Kapolres Meranti sangat akrab dengan kalangan ulama, kiai dan ustadz serta kalangan santri. Kadang saya ngopi bareng, makan bareng di acara-acara non-formal. Namun kadang terlalu akrab sampai tidak mengenal istilah-istilah kesantrian. Kata-kata seperti, “al-mukarom” berubah menjadi “al-muharom”, pemimpin istighosah itu bukan jabatan, berubah menjadi jabatan baru, “pimpinan istighosah”, yang kebetulan Kiai Mardio Hasan adalah Ketua Baznas. Namun esensi keakraban yang dibangun oleh Kapolres Kepulauan Meranti cukup sukses. Acara ini cukup meriah, selain santunan anak yatim dari ibu-ibu bayangkari, ada acara sholawatan. Jadi suasana Kapolres berubah seperti suasana pesantren yang sedang melaksanakan acara imtihan atau acara-acara khas pesantren lainya. Entah gimana ceritanya, ditambah momen lucu Bupati Kepulauan Meranti. Saat memberi sambutan, bupati Muhammad Adil mengatakan bahwa pak Andi Yul sudah mirip seorang, “kiai”. Sontak semua tertawa. Mungkin ini juga pengaruh karena sering kumpul dengan para kiai dan ustadz, jadi dia terbawa cara bicaranya agak mirip-mirip nasehat yang diberikan para penceramah.

Saya kebagian mengisi kultum. Kesempatan saya
untuk “nggojlogi” pak kapolres dan bupati dengan guyonan ringan. Pertama, saya
menyebut kapolres dengan sebutan Kiai Andi Yul, SH, MM. semua pun tertawa. Kedua
saya bilang sama bupati di acara itu kurang lebih begini, “Saya iri dengan pak
bupati, dia penampilannya persis seperti kiai, ustadz atau penceramah. Tapi sayangnya,
saya tidak bisa tampil seperti bupati.”
Ketiga acara di atas semua ditutup dengan
istighosah. Ini wujud pengakuan manusia sebagai makhluk yang dhoif atau lemah,
tidak terlepas dari ujian berupa kenikmatan dan menyedihkan. Istghosah secara
literal mempunyai arti memohon pertolongan kepada Allah memang harus terus
digaungkan baik secara internal diri kita masing-masing sebagai manusia yang
dhoif maupun secara institusi yang diikat oleh lembaga tertentu. Saya, anda dan
kita adalah manusia yang tidak terlepas dari perbuatan dosa dan kesalahan. Pada
posisi ini, kita akan menemukan sanjungan, prestasi, karir jabatan meningkat
dengan cepat. Tapi pada posisi tertentu, kita bisa jadi menemukan masa-masa
paceklik komplikasi masalah yang harus melepaskan seluruh atribut keduniaan. Ketika
ini terjadi, kita seolah-olah anak yang baru lahir, tidak punya apa-apa. Saat seperti
ini, kita dilatih oleh lafadz-lafadz agung dalam istighosah agar kesadaran kita
kembali normal dan menyadari bahwa kita lahir tidak membawa apa-apa dan akan
kembali kepada Allah dengan tidak membawa apa-apa kecuali iman, ibadah dan amal
sholeh. Itu sebabnya, ketawadhuan selalu memohon kepada Allah atas
segala fitnah dunia menjadi sangat penting dilakukan.
Penulis : Imam Ghozali
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3578
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2981
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884