Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Debat atau Debat Kusir ?



Rabu , 10 Januari 2024



Telah dibaca :  863

Dulu saat masih di Pesantren, saya selalu ikut kegiatan “sawir”. Kegiatan sawir mempunyai arti musyawarah. Dalam Al-Qur’an juga menggunakan kata tersebut:”Wasyawirhum”, bermusyawarlah. Kegiatan sawir di Pesantren lebih memfokuskan pada kajian kita klasik. Para santri pada malam tertentu diwajibkan mengkaji suatu persoalan dan mereka mencari jawaban-jawaban nya yang ada pada literatur klasik. Seringnya berkaitan dengan hukum fiqh. Saya waktu itu, sebagai peserta di baris bagian belakang. Nomor 70 dari 70 orang. Duduk paling belakang dan mendengar para senior membuka kitab-kitab klasik, beradu argument dengan dalil dan referensi-referensi kitab yang sudah dipersiapkan di atas meja.

Acara ini sangat mengasikan. Rasanya, sawir lebih mengasikan daripada debat capres. Bisa jadi, perdebatan para santri benar-benar  ilmiah dan natural. Tidak ada motif apapun, kecuali mereka beradu argumentasi masing-masing peserta dengan dasar-dasar hukum yang berbeda-beda. Meskipun pada tataran tertentu, ada peserta sawir  emosi dan mengeluarkan kalimat yang kurang bijak. Semua bisa mema'luminya.  Bisa jadi karena mereka mempunyai kesamaan frekuensi. Semua enjoy. Apalagi, ada santri sangat lucu dan melebihi program stand up comedy di TV.  Ucapan dan argumennya selalu saja membuat orang lain tertawa. Tapi ini belum parah. lebih parah lagi kadang santri yang berperilaku sedikit “degil”. Kadang teman nya berdiri sedang menjawab argument lawan diskusi, dia dengan seenaknya datang dari belakang “mlorot” sarung teman nya. Suasana pun menjadi cair dan “geeeerrrrr”, tertawa semua.

Sudah tiga kali acara debat capres dan cawapres. Dua kali debat capres, satu kali debat cawapres. Saya membayangkan bahwa debat capres-cawapres adalah debat natural sebagaimana para santri. Debat ini yang kata santri adalah mencari hujah yang paling shoheh dari yang shoheh, mencari sumber yang lebih kuat dari yang kuat. Apalagi debat capres ini adalah debat model masyarakat timur yang sering diasumsikan sebagai bangsa yang memegang teguh moralitas yang agung. Tapi, penulis merasakannya sudah mulai mengarah "kebarat-baratan" dan mulai meninggalkan nilai-nilai politik Islam dan nilai-nilai yang diajarkan oleh nenek moyang bangsa Indonesia. Mungkin saya terlalu baper melihatnya.

Jika para santri selesai berdebat di ruang diskusi, maka selesai juga persoalan. Mereka masing-masing pergi ke kamar dan kemudian mereka sama-sama pergi ke dapur umum dan makan bersama. Kadang “saking intens” persahabatan mereka, kadang satu gelas kopi diminum secara berjamaah sambil duduk-duduk di teras asrama. Padahal, mereka saat berada di forum sawir saling serang dan saling menunjukan kualitas argumennya. Semua selesai di ruang debat. Di luar mereka sahabat karib. 

Debat capres-cawapres seharusnya forum yang sangat membahagiakan, bukan menjadi terlihat tegang. Forum ini adalah forum silaturahim, diskusi dan kalau bisa saling memuji. Tapi kelihatanya ini sangat sulit, terutama sebagian para pendukungnya. Acara debat ini menjadi ujian tentang arti kedewasaan, tentang arti penting keberagaman pandangan. Para capres sangat memerlukan para pendukung dalam membangun kejernihan berfikir  sebagai bagian edukasi politik yang baik dan bermartabat. Tapi menuju kearah tersebut kelihatannya masih membutuhkan waktu yang sangat panjang. Beragam faktor yang melatarbelakanginya, seperti situasi batiniah para calon dan juga pendukungnya telah membentuk garis pemisah, maka ketika bertemu dengan calon dan pendukung lain membentuk identitas-identitas yang sebenarnya mereka ciptakan sendiri dalam alam bawah sadar. Para pendukung telah menjadikan dirinya”kal jasad al-wahid” seperti satu tubuh, Ketika tangannya sakit, maka seluruh tubuhnya sakit. Sayangnya, makna tersebut sebatas tubuh-tubuh parsial yang akan terus melahirkan perbedaan pendapat, debat kusir, permusuhan dan saling menjelek-jelekan tanpa perlu malu lagi. Mereka belum mampu meningkatkan kualitas “kal jasad al-wahid” pada level yang lebih universal dalam kebersamaan lintas dukungan sebagai satu bangsa dan tanah air.

Q.S. Ali-Imran [3]:159 berbunyi : “ Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekirannya kamu bersikap keras lagi berhati-hati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertakwakalallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya”. Nabi Muhammad mengatakan: “Barangsiapa menghendaki mengerjakan sesuatu, lalu ia bermusyawarah dengan seorang muslim, maka Allah akan memberi taufik kepadanya untuk memilih yang paling baik baginya”.

Berdebat sebenarnya bukan sebatas pada keinginan menunjukan wawasan intelektual pada dirinya. Ada yang lebih penting seorang yang berdebat yaitu mengerti pada dirinya sendiri. Sayid Muhammad Az-Zabidi Taufik berkata: “Maka bagaimana mungkin orang yang berakal tidak memperhitungkan dirinya sendiri dalam hal yang berkaitan dengan bahaya kesengsaraan dan kebahagiaan selamanya? Apa ini kemalasan kecuali karena kelalaian, kehinaan, dan sedikit taufik. Kita berlindung kepada Allah dari hal itu.” Jadi, ada yang lebih penting dalam seni debat sebenarnya. Siapapun pelaku debat, yaitu kemampuan mengenal diri sendiri. Jika sudah mengenal diri sendiri, maka akan semakin mempunyai kearifan dalam berdebat. Debat menjadi lebih bermakna dan tidak terjebak pada debat kusir yang sangat melelahkan dan tidak bermartabat.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876