
Dulu saat masih di Pesantren, saya selalu
ikut kegiatan “sawir”. Kegiatan sawir mempunyai arti musyawarah.
Dalam Al-Qur’an juga menggunakan kata tersebut:”Wasyawirhum”,
bermusyawarlah. Kegiatan sawir di Pesantren lebih memfokuskan pada
kajian kita klasik. Para santri pada malam tertentu diwajibkan mengkaji suatu
persoalan dan mereka mencari jawaban-jawaban nya yang ada pada literatur
klasik. Seringnya berkaitan dengan hukum fiqh. Saya waktu itu, sebagai peserta
di baris bagian belakang. Nomor 70 dari 70 orang. Duduk paling belakang dan mendengar para
senior membuka kitab-kitab klasik, beradu argument dengan dalil dan
referensi-referensi kitab yang sudah dipersiapkan di atas meja.
Acara ini sangat mengasikan. Rasanya, sawir lebih mengasikan daripada debat capres. Bisa jadi, perdebatan para santri benar-benar ilmiah dan natural. Tidak ada motif apapun, kecuali mereka beradu
argumentasi masing-masing peserta dengan dasar-dasar
hukum yang berbeda-beda. Meskipun pada tataran tertentu, ada peserta sawir emosi dan mengeluarkan kalimat yang kurang bijak. Semua bisa mema'luminya. Bisa jadi karena mereka mempunyai kesamaan frekuensi. Semua enjoy. Apalagi, ada santri sangat lucu dan melebihi program stand
up comedy di TV. Ucapan dan argumennya selalu saja membuat orang lain tertawa. Tapi ini belum parah. lebih parah lagi kadang santri yang berperilaku sedikit “degil”. Kadang teman nya
berdiri sedang menjawab argument lawan diskusi, dia dengan seenaknya datang dari belakang “mlorot” sarung teman nya. Suasana pun
menjadi cair dan “geeeerrrrr”, tertawa semua.
Sudah tiga kali acara debat capres dan
cawapres. Dua kali debat capres, satu kali debat cawapres. Saya membayangkan
bahwa debat capres-cawapres adalah debat natural sebagaimana para santri. Debat ini yang kata santri adalah mencari hujah yang paling shoheh dari yang shoheh, mencari sumber yang lebih kuat dari yang kuat. Apalagi debat capres ini adalah debat model masyarakat timur yang sering diasumsikan sebagai bangsa yang memegang teguh moralitas yang agung. Tapi, penulis merasakannya sudah mulai mengarah "kebarat-baratan" dan mulai meninggalkan nilai-nilai politik Islam dan nilai-nilai yang diajarkan oleh nenek moyang bangsa Indonesia. Mungkin saya terlalu baper melihatnya.
Jika para santri selesai berdebat di ruang diskusi, maka selesai juga persoalan. Mereka masing-masing pergi ke kamar dan
kemudian mereka sama-sama pergi ke dapur umum dan makan bersama. Kadang “saking
intens” persahabatan mereka, kadang satu gelas kopi diminum secara berjamaah
sambil duduk-duduk di teras asrama. Padahal, mereka saat berada di forum sawir saling serang dan saling menunjukan kualitas argumennya. Semua selesai di ruang debat. Di luar mereka sahabat karib.
Debat capres-cawapres seharusnya forum yang sangat membahagiakan, bukan menjadi
terlihat tegang. Forum ini adalah forum silaturahim, diskusi dan kalau bisa saling memuji. Tapi kelihatanya ini sangat sulit, terutama sebagian para pendukungnya. Acara debat ini menjadi ujian tentang arti kedewasaan, tentang arti penting keberagaman pandangan. Para capres sangat memerlukan para pendukung dalam membangun kejernihan berfikir sebagai bagian edukasi politik yang baik dan bermartabat. Tapi menuju kearah tersebut kelihatannya masih membutuhkan waktu yang sangat panjang. Beragam faktor
yang melatarbelakanginya, seperti situasi batiniah para calon dan juga
pendukungnya telah membentuk garis pemisah, maka ketika bertemu dengan calon
dan pendukung lain membentuk identitas-identitas yang sebenarnya mereka
ciptakan sendiri dalam alam bawah sadar. Para pendukung telah menjadikan
dirinya”kal jasad al-wahid” seperti satu tubuh, Ketika tangannya sakit,
maka seluruh tubuhnya sakit. Sayangnya, makna tersebut sebatas tubuh-tubuh
parsial yang akan terus melahirkan perbedaan pendapat, debat kusir, permusuhan
dan saling menjelek-jelekan tanpa perlu malu lagi. Mereka belum mampu
meningkatkan kualitas “kal jasad al-wahid” pada level yang lebih
universal dalam kebersamaan lintas dukungan sebagai satu bangsa dan tanah air.
Q.S. Ali-Imran [3]:159 berbunyi : “ Maka
disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekirannya
kamu bersikap keras lagi berhati-hati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari
sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan
bermusyawarahlah mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah
membulatkan tekad, maka bertakwakalallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya”. Nabi Muhammad mengatakan:
“Barangsiapa menghendaki mengerjakan sesuatu, lalu ia bermusyawarah dengan
seorang muslim, maka Allah akan memberi taufik kepadanya untuk memilih yang
paling baik baginya”.
Berdebat sebenarnya bukan sebatas pada
keinginan menunjukan wawasan intelektual pada dirinya. Ada yang lebih penting
seorang yang berdebat yaitu mengerti pada dirinya sendiri. Sayid Muhammad Az-Zabidi
Taufik berkata: “Maka bagaimana mungkin orang yang berakal tidak
memperhitungkan dirinya sendiri dalam hal yang berkaitan dengan bahaya
kesengsaraan dan kebahagiaan selamanya? Apa ini kemalasan kecuali karena
kelalaian, kehinaan, dan sedikit taufik. Kita berlindung kepada Allah dari hal
itu.” Jadi, ada yang lebih penting dalam seni debat sebenarnya. Siapapun pelaku
debat, yaitu kemampuan mengenal diri sendiri. Jika sudah mengenal diri sendiri,
maka akan semakin mempunyai kearifan dalam berdebat. Debat menjadi lebih
bermakna dan tidak terjebak pada debat kusir yang sangat melelahkan dan tidak
bermartabat.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3572
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876