Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Di Tengah Gelombang Laut



Rabu , 09 Agustus 2023



Telah dibaca :  1018

Jam 07.30 Saya ingin “ngendangi” mahasiswa yang sedang ber-KKN di Kec.Tasik Putri Puyuh sekaligus silaturahim ke setiap kades. Saya benar-benar silaturahim dan mengucapkan terima kasih kepada mereka sekaligus, untuk senantiasa membimbing anak-anak mahasiswa yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Pertama-tama saya menuju Desa Tanjung Padang. Dari Bengkalis melalui Pelabuhan Temeran. Ini pelabuhan pertama saya “nyebrang” dari Bengkalis ke Kep. Meranti. Biasanya melalui pelabuhan yang menuju Kudap atau Dedap. Pagi ini laut begitu tenang. Udara segar. Suasana laut terasa indah. Suasana yang sering menginspirasi setiap orang untuk menuangkan ide-ide dalam bentuk tulisan, sastra, puisis, mengungkapkan isi hati kepada kekasihnya dan lain-lain. Bahkan banyak para pejabat atau para wisatawan memilih laut sebagai pilihan terakhir transaksi, negosiasi, atau juga kadang menjadi jalan untuk menghilangkan kesedihan hati. Allah telah menciptakan keindahan laut menjadi jalan untuk mengenal Allah dengan tadabur atau angen-angen sa’ ma’nane.


Sesampai di Desa Tanjung Padang, saya tidak langsung menemui mahasiswa di posko, tapi langsung ke kantor desa. Saya sengaja ingin ketemu kepada para kades, silaturahim dan mengucapkan terima kasih atas kesediaan mereka menerima dan memberi tunjuk ajar kepada mahasiswa tentang cara hidup bermasyarakat. Setelah selesai, saya baru menemui mahasiswa.

Pak kades tidak ada. Saya ketemu dengan pegawai nya. saya ngobrol “ngalor-ngidul”, kadang tertawa dan juga ada yang serius.

“Bagaimana anak-anak kami disini pak, pada “geleleng” tidak ? tanyaku.

“Mereka baik-baik pak, Alhamdulillah kami sangat terbantu oleh para mahasiswa” kata mereka.

Ketika saya berada di kantor desa mekar delima, ketemu pak kadus. Responnya sangat bagus. Katanya mahasiswa yang kkn tahun ini sangat kreatif dan aktif ikut kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh masyarakat termasuk oleh desa.


Sedang di Desa Kudap, saya tidak sempat ke kantor desa. Langsung ke posko mahasiswa. informasinya, pak kades sedang ke Bengkalis. Setelah ngobrol dengan mahasiswa, saya minta istirahat sebentar. Rebahan sebentar. Rencana ingin sholat dhuhur di masjid. Namun tertidur. Bangun jam 12.30-an. Saya duduk, dan di depan saya sudah ada nasi beserta lauk dan sayur nya. semua masih panas. Sayur kol atau kubis dicampur wortel. Lauk tempe sambel. Sangat nikmat. Bahkan bisa jadi lebih nikmat dari makanan di Rumah Makan  New Normal. Saya tidak tahu mengapa demikian nikmat nya. Setelah saya pikir, baru sadar kalau tadi pagi saya memang belum sarapan.

Setelah makan, saya pun permisi pulang ke kampus. Saya senang, mereka telah mendapat apresiasi dari masyarakat dan aparat desa dengan baik. Saya yakin, ini bukan basa-basi. Tuhan akan meletakan prasangka kepada hamba-Nya, jika hamba-Nya berprasangka baik, maka Tuhan pun demikian. Namun tetap saya tidak bosan-bosan kepada mereka berpesan untuk menjaga diri dengan baik. Pohon yang subur dan hebat, berasal dari tunas yang sehat dan kuat. Bukankah demikian?

“Permisi ya, siang ini sangat panas, mungkin mau hujan” kata ku kepada mereka di depan pintu.

“Iya pak, sudah lama tidak hujan. Hati-hati pak di jalan. Terima kasih atas berkenan mampir di posko kami” jawab mereka bergantian.

Saya meluncur ke Pelabuhan Kudap Dekat Klenteng. Angin berhenbus kencang. Saya duduk di lantai kayu. Menunggu Pemilik Kempang. Lalu berdiri melihat deretan botol madu. Saya iseng-iseng bertanya pada ibu kedai yang jualan madu tersebut.

“Berapa satu botol bu” tanya ku.

“Yang kecil Rp.100.000, yang besar Rp. 200.000” jawab ibu.

“Asli?” tanya ku lagi.

“Iya asli donk…” jawab ibu tadi tersenyum.

“Ah, saya tidak jadi beli” kata ku.

“Kenapa” tanya ibu.

“Istri saya tidak suka madu asli” jawab ku.


Ibu tadi diam. Kelihatanya mikir. Tapi kemudian tersenyum setelah paham maksud gurauan ku.

Udara panas. Angin bertiup kencang. Kempang bergoyang sangat kuat, sehingga sulit untuk masuk ke dalam nya. harus menunggu. Setelah gelombang sedikit tenang, baru Honda bisa masuk ke dalam nya.

Ketika Kempang sudah di tengah laut, gelombang semakin besar. Helm, tas dan air mineral botol berserakan “glundung” tidak karuan. Kempang seperti mau terbalik. Kadang ke kanan-kadang ke kiri. Semburan air dari luar masuk. Suasana gelap. Sebelah barat hujan pun turun deras. Hati mulai takut. Tapi aneh, bukan ingat Tuhan, malah ingat istri dan anak-anak di Rumah. Ingat mahasiswa. Ingat perjuangan silaturahim kepada mahasiswa yang barus saya lakukan.

Saya melihat Sang Nahkoda sangat tenang. Seperti tidak ada kejadian yang mengerikan. Saya tanya apakah tidak takut dengan gelombang sedemikian besar? Dia pun menggelengkan kepala dan tersenyum. Dia pun menceritakan pengalamannya saat menjadi pelaut di Irian Jaya. Ada kejadian sejenis ini yang lebih besar dari gelombang tadi, bahkan sering terjadi di laut lepas Irian Jaya.

Akhirnya sampai mendarat di Pelabuhan. Hujan terus turun agak sedikit lebat. Saya tetap naik Honda dan menerobos guyuran hujan. Pikiran masih ingat kejadian di tengah laut tadi. Saya ingat juga senyuman sang Nahkoda cara menghadapi situasi yang mengerikan tersebut dengan tenang dan terus bekerja sesuai dengan prosedur.

Saya jadi tersenyum sendiri di atas Honda. Sang Nahkoda yang mungkin tidak pernah sekolah telah mengajariku tentang makna kehidupan yang tidak lepas dari ujian dan fitnah yang mungkin akan terus terjadi sepanjang masih ada nafas di dalam tubuh. Namun, hebatnya dia bisa mengendalikan diri segala emosi dan pikiran sempit. Dia tetap menggunakan keahlian dan kecerdasannya menahkodai kempang hingga sampai pelabuhan. Terima kasih pak atas ilmu hikmah yang engakau berikan. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

Promadi

Seseorang yang bekerja berdasarkan ilmu pengetahuan dan pengalaman memiki rasa percaya diri untuk bisa mengatasi segala problem sehingga melahirkan rasa tenang yang membuat dia fokus pada pencapaian tujuan an terhindar dari stress. Luarbiasa Pak Dosen, sebuah tulisan catatan pengalaman yang bermutu dan memcerahkan. Lanjutkan dengan laporan lainnya nanti bisa diedit jadi novel KKN....Tapi beda dari Novel KKN di Desa Penari

Avatar

Imam Hakim

Macam kan betol nak madu asli...boleh lh ditulis di episode berikutnya Asli Madu tdk sama denga Madu Asli...kik kik kik...

   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4560


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879