
Setelah mendarat di bandara kualanamu medan,
saya sibuk membalas WA dari sahabat sekaligus seniorku. Pertama, Prof Muhlisin (saya
lebih suka memanggilnya “Gus Dur”. Selain karena ia menjadi Warek 3 UIN KH Abdurrahman
Wahid, kebetulan wajahnya hampir mirip Gus Dur ketika ia memakai kacamata dan tidak
memakai songkok). Kedua, Prof Katimin. Prof satu ini sangat rapi, memakai baju
warna merah dan bersongkok warna hitam. Sepintas ia lebih cocok dipanggil “kiai
khos” daripada professor, ma’lum badannya terlihat kurus. Biasanya kiai itu
kurus karena banyak “nirakati” umatnya (selain juga banyak dibentak
istrinya). Jadi saya merasa tersanjung karena diapit oleh “Gus Dur
Kontemporer” dari UIN Pekalongan dan “Kyai Khos Kontemporer” dari UIN Sumatera utara.
Sebutan tersebut terlihat seperti guyonan, tapi menjadi serius ketika penulis mengambil sedikit saripati dari obrolannya. Ketika penulis mencoba membuka “sedikit” diskusi non-formal tentang persoalan “hablu minallah” dan “hambul min annas” keduanya benar-benar bisa merepresentasikan pemikiran Gus Dur dan kyai khos. Keduanya tidak mengeluarkan dalil naqli, tapi subtansi diskusinya mampu menterjemahkan makna dari ayat “lakum dinukum wali yadiin”.
Dalam kontek hablu minalloh, konsep lakum
diinukum waliyadiin merupakan penerapan totalitas sesembahan kepada Allah swt . Umat Islam sudah tidak lagi terpengaruh oleh ilah-ilah
lain dalam wujud apapun baik dalam keimanan maupun dalam alam pikiran dan
perbuatan. Ketika seseorang muslim yang sudah menerapkan kalimat tauhid dalam
hidupnya, maka seluruh alam semesta ini telah menjadi fana dan tidak ada yang
pantas dibesar-besarkan sebagai sesembahan baru. Itu sebabnya, ia menjadi merdeka
dan sangat percaya diri ketika berada dimanapun berada. Sebab tempat hanya
sebatas ciptaan Allah yang semua menjadi jalan untuk semakin mendekatkan
kepada-Nya, bukan menjadi penghalang untuk mensucikan-Nya.
Ketika Islam menguasai dataran Eropa pada masa
lalu, simbol-simbol agama menjadi tidak laku sama sekali. Mereka menguasai
suatu wilayah dan disitu ada tempat-tempat ibadah lain yang sudah kosong, maka
dialihfungsikan menjadi masjid dan tidak merubah bangunan sama sekali. Islam tetap
menjaga budaya setempat dan mewarnai budaya tersebut berdimensi tauhid. Proses-proses
seperti ini yang kemudian diadaptasi oleh ulama nusantara dalam menyebarkan Islam.
Beberapa bukti tersebut yang masih bisa dilihat antara lain Masjid Menara Kudus
dan Masjid Laksamana Ceng Ho yang secara budaya mirip dengan Pura dan Klenteng.
Proses penyerapan budaya sebenarnya jauh
sebelum contoh tersebut di atas, kita bisa melihat kubah-kubah masjid atau
mushola berbentuk setengah lingkaran sebenarnya sudah digunakan oleh kaum
majusi jauh sebelum Islam datang. Tradisi Islam pada masa nabi, tidak ada
bentuk masjid berbentuk kubah seperti di Indonesia, namun jika melihat tradisi
kaum majusi di Iran semakin terbuka bahwa budaya Islam itu sendiri telah
terjadi akulturasi dalam kurun waktu yang sangat panjang. Namun ironisnya sebagian
umat Islam menutup mata fakta-fakta tersebut di atas. Seolah-olah Islam hadir
secara kaffah secara langsung dari nabi dalam segala budaya yang ada saat
sekarang ini.
Kedewasaan umat Islam memahami tauhid secara totalitas
dan murni dibuktikan dengan kedewasaan dan tidak terpengaruh keimanannya oleh istilah-istilah dari ketauhidan agama non-Islam. Dalam kontek kehidupan
sosial dan bahkan politik, umat Islam sering menggunakan kata “tuhan” yang
berasal dari kata “tuh” dan “hyang” yang artinya pimpinan para tuhan. Lalu kata
tuhan juga digunakan dalam sila pertama “ketuhanan yang maha esa”. Semua agama
menerima dan tidak merasa dikotori keimanannya meskipun bukan nama
sesembahannya yang disebut dalam konstitusi negara dan bangsa. Umat Islam juga
tidak terkena erosi keimanan saat menyebut kata “sembahyang” yang berasalah
dari kata “sembah” dan “hyang” yang merupakan sesembahan agama Hindu artinya
menyembah kepada Sang Hyang Widhi. Umat Islam menerima istilah keagamaan
dan sesembahan agama lain tanpa terperosok pada persoalan keimanan. Mereka
telah teruji sangat kuat tentang pemahaman konsep Allah meskipun dalam kebahasaan
sehari-hari dan kehidupan sosial sering diucapkannya. Mereka tetap menjadi
muslim yang kaffah meskipun dalam budaya sehari-hari masih menggunakan
istilah-istilah keyakinan agama lain. Dari sini betapa arif dan sangat mendalam
memahami hakikat keyakinan para ulama khos dalam mengajarkan tauhid secara
matang dan mapan dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam kontek bermasyarakat, konsep lakum
dinukum waliyadiin dalam hablu min an-nas merupakan implementasi
nilai-nilai tauhid dalam kehidupan bermasyarakat. Ketika konsep tauhid dalam kalimat
“ketuhanan yang maha esa” secara kesadaran penuh umat Islam mengartikan hatinya
dengan kalimat “Allah Yang Maha Esa”. Meskipun kata “Tuhan” sebagai serapan
milik agama non-muslim, tidak menjadi persoalan pada tataran tauhid. Pemaknaan hakikat
lebih penting dari syariat. Ketika seorang muslim mengikrarkan diri laa ilaha
illa allah secara otomatis semua selain Allah adalah makhluk. Itu sebabnya,
nama-nama Tuhan dalam bentuk apapun agama dan keyakinan ketika tidak sesuai
dengan konsep tauhid maka maka batal sebagai sesembahan. Semua hanya sebatas
asesoris belaka. Ketika anda melihat patung yang disembah-sembah, bagi ahli
tauhid adalah sebatas asesoris dan ketika sholat berada di depannya pasti tidak
akan terpengaruh oleh keberadaan patung. Karena status Tuhan telah dimatikan
oleh status Allah sebagai Tuhan Semesta Alam. Ketika telah dimatikan, maka bagi
muslim melihat istilah-istilah Tuhan tersebut hanya sebatas sebagai asesori budaya
yang digunakan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Toh seandainya
asesoris itu digunakan dalam suatu keyakinan, maka yang dimaksud oleh setiap
muslim pasti Allah dalam kalimat tauhid yang diyakininnya.
Dalam konteks berbangsa dan bernegara belakangan
ini muncul pengulangan istilah-istilah budaya lama dalam versi baru meskipun
tidak sesakral sebagaimana istilah tauhid di atas, yaitu penggunaan salam
lintas agama. Ada pro dan kontra pastinya. Yang lebih pasti semuanya mempunyai
niat baik. Itu yang perlu digarisbawaih.
Jika dilihat dari kasus pada persoalan
tauhid dan etika, sebenarnya penggunaan kata “tuhan” dan “sembahyang” jauh
lebih bermasalah ketimbang mengucapkan kata salam lintas agama. Justru istilah-istilah
ketauhidan tersebut tidak mengganggu sama sekali masyarakat muslim dalam
kehidupan sehari-hari. Sedangkan salam lintas agama hanya sebatas digunakan
oleh para pejabat public. Artinya kalimat tersebut hanya ucapan formalitas dan budaya
administrasi salam para pejabat yang notabene nya mempunyai anggota lintas
agama dan keyakinan. Dari kontek ini sebenarnya, penulis bisa memahami bahwa
persoalan tersebut hanya pada persolan unggah-ungguh dari pejabat semata
dan masyarakat pun tidak akan menggunakan nya dalam kehidupan sehari-hari. Jika
istilah Tuhan dan Sembahyang serta sejenisnya dalam kehidupan umat Islam tidak
mengganggu tauhidnya, apalagi salam lintas agama yang dilihat secara syariat
dan hakikat tidak mengakui Tuhan sebagai sesembahan ( hanya Allah yang menjadi Tuhan
umat Islam). Dari kontek ini penulis melihat salam lintas agama tidak menjadi
persoalan yang dilakukan oleh para
pejabat.
Demikian sekelumit hasil mau’idhatul
hasanah dari kyai dan gus kontemporer di atas. Saya hanya sebatas
mendengarkan sambil makan durian di kedai Si Bolang Durian. Kesalahan saya waktu
itu mungkin ketika sebelum makan durian saya keliru membaca doa “allahumma ahya wa
bismika amutu”. Akibatnya, sedikit diskusi terekam intin-intinya, sebab saya
keburu ngantuk berat.
Terima kasih Prof Katimin atas suguhan
durian nya. Semoga dilain waktu ditraktir lagi, hehehe.
Penulis : Imam Ghozali
???? You got a transfer from our company. Withdrаw
vxnq34
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876