Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Dialog Kebangsaan di Si Bolang Durian



Rabu , 12 Juni 2024



Telah dibaca :  671

Setelah mendarat di bandara kualanamu medan, saya sibuk membalas WA dari sahabat sekaligus seniorku. Pertama, Prof Muhlisin (saya lebih suka memanggilnya “Gus Dur”. Selain karena ia menjadi Warek 3 UIN KH Abdurrahman Wahid, kebetulan wajahnya hampir mirip Gus Dur ketika ia memakai kacamata dan tidak memakai songkok). Kedua, Prof Katimin. Prof satu ini sangat rapi, memakai baju warna merah dan bersongkok warna hitam. Sepintas ia lebih cocok dipanggil “kiai khos” daripada professor, ma’lum badannya terlihat kurus. Biasanya kiai itu kurus karena banyak “nirakati” umatnya (selain juga banyak dibentak istrinya). Jadi saya merasa tersanjung karena diapit oleh “Gus Dur Kontemporer”  dari UIN Pekalongan dan “Kyai Khos Kontemporer” dari UIN Sumatera utara.

Sebutan tersebut terlihat seperti guyonan, tapi menjadi serius ketika penulis mengambil sedikit saripati dari obrolannya. Ketika penulis mencoba membuka “sedikit” diskusi non-formal  tentang persoalan “hablu minallah” dan “hambul min annas” keduanya benar-benar bisa merepresentasikan pemikiran Gus Dur dan kyai khos. Keduanya tidak mengeluarkan dalil naqli, tapi subtansi diskusinya mampu menterjemahkan makna dari  ayat “lakum dinukum wali yadiin”. 

Dalam kontek hablu minalloh, konsep lakum diinukum waliyadiin merupakan penerapan totalitas  sesembahan kepada Allah swt . Umat Islam sudah tidak lagi terpengaruh oleh ilah-ilah lain dalam wujud apapun baik dalam keimanan maupun dalam alam pikiran dan perbuatan. Ketika seseorang muslim yang sudah menerapkan kalimat tauhid dalam hidupnya, maka seluruh alam semesta ini telah menjadi fana dan tidak ada yang pantas dibesar-besarkan sebagai sesembahan baru. Itu sebabnya, ia menjadi merdeka dan sangat percaya diri ketika berada dimanapun berada. Sebab tempat hanya sebatas ciptaan Allah yang semua menjadi jalan untuk semakin mendekatkan kepada-Nya, bukan menjadi penghalang untuk mensucikan-Nya.

Ketika Islam menguasai dataran Eropa pada masa lalu, simbol-simbol agama menjadi tidak laku sama sekali. Mereka menguasai suatu wilayah dan disitu ada tempat-tempat ibadah lain yang sudah kosong, maka dialihfungsikan menjadi masjid dan tidak merubah bangunan sama sekali. Islam tetap menjaga budaya setempat dan mewarnai budaya tersebut berdimensi tauhid. Proses-proses seperti ini yang kemudian diadaptasi oleh ulama nusantara dalam menyebarkan Islam. Beberapa bukti tersebut yang masih bisa dilihat antara lain Masjid Menara Kudus dan Masjid Laksamana Ceng Ho yang secara budaya mirip dengan Pura dan Klenteng.

Proses penyerapan budaya sebenarnya jauh sebelum contoh tersebut di atas, kita bisa melihat kubah-kubah masjid atau mushola berbentuk setengah lingkaran sebenarnya sudah digunakan oleh kaum majusi jauh sebelum Islam datang. Tradisi Islam pada masa nabi, tidak ada bentuk masjid berbentuk kubah seperti di Indonesia, namun jika melihat tradisi kaum majusi di Iran semakin terbuka bahwa budaya Islam itu sendiri telah terjadi akulturasi dalam kurun waktu yang sangat panjang. Namun ironisnya sebagian umat Islam menutup mata fakta-fakta tersebut di atas. Seolah-olah Islam hadir secara kaffah secara langsung dari nabi dalam segala budaya yang ada saat sekarang ini.

Kedewasaan umat Islam memahami tauhid secara totalitas dan murni dibuktikan dengan kedewasaan dan tidak terpengaruh keimanannya oleh istilah-istilah dari ketauhidan agama non-Islam. Dalam kontek kehidupan sosial dan bahkan politik, umat Islam sering menggunakan kata “tuhan” yang berasal dari kata “tuh” dan “hyang” yang artinya pimpinan para tuhan. Lalu kata tuhan juga digunakan dalam sila pertama “ketuhanan yang maha esa”. Semua agama menerima dan tidak merasa dikotori keimanannya meskipun bukan nama sesembahannya yang disebut dalam konstitusi negara dan bangsa. Umat Islam juga tidak terkena erosi keimanan saat menyebut kata “sembahyang” yang berasalah dari kata “sembah” dan “hyang” yang merupakan sesembahan agama Hindu artinya menyembah kepada Sang Hyang Widhi. Umat Islam menerima istilah keagamaan dan sesembahan agama lain tanpa terperosok pada persoalan keimanan. Mereka telah teruji sangat kuat tentang pemahaman konsep Allah meskipun dalam kebahasaan sehari-hari dan kehidupan sosial sering diucapkannya. Mereka tetap menjadi muslim yang kaffah meskipun dalam budaya sehari-hari masih menggunakan istilah-istilah keyakinan agama lain. Dari sini betapa arif dan sangat mendalam memahami hakikat keyakinan para ulama khos dalam mengajarkan tauhid secara matang dan mapan dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam kontek bermasyarakat, konsep lakum dinukum waliyadiin dalam hablu min an-nas merupakan implementasi nilai-nilai tauhid dalam kehidupan bermasyarakat. Ketika konsep tauhid dalam kalimat “ketuhanan yang maha esa” secara kesadaran penuh umat Islam mengartikan hatinya dengan kalimat “Allah Yang Maha Esa”. Meskipun kata “Tuhan” sebagai serapan milik agama non-muslim, tidak menjadi persoalan pada tataran tauhid. Pemaknaan hakikat lebih penting dari syariat. Ketika seorang muslim mengikrarkan diri laa ilaha illa allah secara otomatis semua selain Allah adalah makhluk. Itu sebabnya, nama-nama Tuhan dalam bentuk apapun agama dan keyakinan ketika tidak sesuai dengan konsep tauhid maka maka batal sebagai sesembahan. Semua hanya sebatas asesoris belaka. Ketika anda melihat patung yang disembah-sembah, bagi ahli tauhid adalah sebatas asesoris dan ketika sholat berada di depannya pasti tidak akan terpengaruh oleh keberadaan patung. Karena status Tuhan telah dimatikan oleh status Allah sebagai Tuhan Semesta Alam. Ketika telah dimatikan, maka bagi muslim melihat istilah-istilah Tuhan tersebut hanya sebatas sebagai asesori budaya yang digunakan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Toh seandainya asesoris itu digunakan dalam suatu keyakinan, maka yang dimaksud oleh setiap muslim pasti Allah dalam kalimat tauhid yang diyakininnya.

Dalam konteks berbangsa dan bernegara belakangan ini muncul pengulangan istilah-istilah budaya lama dalam versi baru meskipun tidak sesakral sebagaimana istilah tauhid di atas, yaitu penggunaan salam lintas agama. Ada pro dan kontra pastinya. Yang lebih pasti semuanya mempunyai niat baik. Itu yang perlu digarisbawaih.

Jika dilihat dari kasus pada persoalan tauhid dan etika, sebenarnya penggunaan kata “tuhan” dan “sembahyang” jauh lebih bermasalah ketimbang mengucapkan kata salam lintas agama. Justru istilah-istilah ketauhidan tersebut tidak mengganggu sama sekali masyarakat muslim dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan salam lintas agama hanya sebatas digunakan oleh para pejabat public. Artinya kalimat tersebut hanya ucapan formalitas dan budaya administrasi salam para pejabat yang notabene nya mempunyai anggota lintas agama dan keyakinan. Dari kontek ini sebenarnya, penulis bisa memahami bahwa persoalan tersebut hanya pada persolan unggah-ungguh dari pejabat semata dan masyarakat pun tidak akan menggunakan nya dalam kehidupan sehari-hari. Jika istilah Tuhan dan Sembahyang serta sejenisnya dalam kehidupan umat Islam tidak mengganggu tauhidnya, apalagi salam lintas agama yang dilihat secara syariat dan hakikat tidak mengakui Tuhan sebagai sesembahan ( hanya Allah yang menjadi Tuhan umat Islam). Dari kontek ini penulis melihat salam lintas agama tidak menjadi persoalan  yang dilakukan oleh para pejabat.

Demikian sekelumit hasil mau’idhatul hasanah dari kyai dan gus kontemporer di atas. Saya hanya sebatas mendengarkan sambil makan durian di kedai Si Bolang Durian. Kesalahan saya waktu itu mungkin ketika sebelum makan durian saya  keliru membaca doa “allahumma ahya wa bismika amutu”. Akibatnya, sedikit diskusi terekam intin-intinya, sebab saya keburu ngantuk berat.

Terima kasih Prof Katimin atas suguhan durian nya. Semoga dilain waktu ditraktir lagi, hehehe.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

???? You got a transfer from our company. Withdrаw

vxnq34

   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876