
Jam menunjukan pukul 13.10 WIB. Kota
Tanjung Balai sudah terlihat dari tengah laut. Ini daerah Pegunungan atau
perbukitan yang bentuk nya memanjang. Kanan-kiri dan depan berjejer pulau-pulau besar dan kecil. Seperti membentuk
huruf “U”. Mirip Danau Toba. Di kaki bukit terlihat bangunan-bangungan; Hotel,
pabrik, perkantoran dan perumahan yang terlihat warna putih mendominasi.
Perpaduan gunung warna hijau oleh pepohonan dan bangungan-bangunan berwarna
putih. Sinar matahari ke permukaan laut dan memantulkan kembali. Gedung-gedung
berubah seperti cahaya lampu dari laut. Kota Tanjung Balai seperti terapung di
tengah laut. Sungguh Indah ciptaan Allah S.W.T.
Ketika keluar dari Kapal Dumai, seorang
laki-laki tua datang menghampiriku. umur sekitar 50-an tahun. Kulitnya kuning
mendekati putih, mata nya sipit, rambutnya lurus. Tinggi badan sekitar 157 cm. Hampir sama tingginya dengan saya. Sedikit tinggi saya. Dia menawarkan kepadaku
agar bersedia naik ojek. Saya tersenyum dan bertanya ongkosnya. Dia pun tidak
langsung menyebutkan jumlah nominal. Mungkin bingung. Banyak pertimbangan. Jika
terlalu mahal, khawatir tidak jadi naik. Jika terlalu murah, tentu hitungan pendapatan
rugi. Akhirnya dia menyebutkan nominalnya. saya tersenyum. Tangan kiri saya
menggandeng tangan kanan pak tua tadi, dan berjalan bareng menuju tempat Parkir.
Siang ini kota Tanjung Balai terasa sangat
panas. Hembusan angin laut menambah suhu udara naik. Lembab bercampur panas.
Saya tetap menahan rasa panas sambil pegangan bahu tukang ojek. Setelah berkenalan
saya pun tahu namanya Pak Alan.
Sepanjang perjalanan kami terus ngobrol.
Kebetulan juga, dia membawa Honda tidak laju. Saking asyiknya, kami pun
menikmati dialog dengan penuh persahabatan. Namun karena logat nya seperti
orang etnis tionghoa.
“Dari
logatnya, bapak keturunan Tionghoa?” tanya ku
“Ia, bapak dulu pernah menjadi tentara. Dia
asli Jawa. Sedangkan ibu asli etnis Tionghoa. Saudara kami banyak. Ada di Pekanbaru,
Dumai, Meranti dan Tanjung Balai” Jawab Pak Alan.
“Berarti Pak Alan Penganut Konghucu?” tanya ku sambil bergurau.
“Bukan, saya penganut Budha Darma. Saya vegetarian.
Sedangkan penganut Konghucu boleh makan daging” jawab Pak Alan menjelaskan
perbedaan Budha Darma dan Konghucu.
Sepanjang perjalanan dia bercerita tentang
hidupnya sebagai penganut Budha. Katanya selama dua tahun telah menghapalkan
doa-doa ajaran budha. Dia kelihatannya telah mengamalkan ajaran agama dengan
serius. Mungkin dalam Islam sudah maqam “manusia khos”. Wajah nya
mencerminkan suasana damai batinya. Ketika ada persoalan menimpa, dia berasabar
dan berdoa. Dalam doa nya senantiasa merasa
kehadiran Sang Budha senantiasa hadir pada dirinya.
“Bagaimana sikap Pak Alan terhadap sesama
manusia?” tanya ku lagi.
“Budha mengajarkan kepada
pengikut-pengikutnya dilarang berbohong, tidak boleh sombong, harus menghormati orang lain, harus berlaku
adil, dan senantiasa menebarkan kedamaian serta tidak boleh
menyakiti orang lain” kata Pak Alan.
Saya mengatakan pada nya bahwa dalam Islam
juga mengajarkan hal-hal sama dalam kehidupan sosial. Bahkan allah telah
mengancam kepada orang-orang yang beragama dan ahli ibadah ketika klaim
kedekatan dengan Tuhan tidak berbanding lurus dengan kebajikan kepada sesama manusia
dianggap oleh-nya sebagai seorang pendusta. Bahkan bagian dari orang celaka.
Allah dalam Surat Al-Isra telah berfirman: “Jika
berbuat baik, maka kamu telah berbuat baik untuk dirimu sendiri. jika kamu
berbuat jahat, maka kejahatan akan kembali pada dirimu sendiri.” Hadist Nabi, “Sebaik-baik
sahabat disisi Allah adalah mereka yang paling baik kepada sahabatnya, dan
sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah mereka yang paling baik kepada
tetangganya.” Hadist Nabi yang lain, “Sebaik-baik manusia di antara kamu adalah
orang yang bermanfaat bagi orang lain”.
Dari sini ada titik temu. Saya sebagai
seorang muslim dan pak alan penganut agama budha darma. Kami sama-sama lahir
dari agama yang mengajarkan kebaikan kepada sesame manusia. Namun, baik saya
dan pak alan adalah manusia yang mempunyai kelemahan dan keterbatasan. Sehingga
pada saat-saat tertentu, kami bisa juga melakukan perbuatan yang bertentangan
dengan ajaran-ajaran agama masing-masing.
Setelah berjalan keliling Kota Tanjung Balai, saya kembali ke Hotel. Sedih
rasanya ketika melihat media online dan media sosial telah membuat dada terasa “sesak”.
Seolah-olah sulit untuk bernafas. Kehidupan sosial-keagamaan yang diceritakan
oleh Pak Alan sering tidak sejalan dalam realita kehidupan. Agama telah berubah
menjadi Tuhan. Antar penganut agama terjebak pada kesholehan formalistik. Saling
memperolok dan saling menjelekan. Satu ormas menjelekan ormas lain dan tidak
segan mengkafir-kafirkan. Tuhan benar-benar dipaksa untuk tunduk kepada mereka
atas segala keputusan-keputusan yang sangat konyol. Peran Tuhan telah diambil
alih, lalu dengan mudah mengatakan kepada orang lain dengan kata-kata,”kafir”,”sesat”,
“murtadz”, dan “halal darahnya”.
Saya, Pak Alan dan kita adalah makhluk yang dititipi oleh Allah untuk
menyembah-Nya dan menebarkan peradaban sebagai wujud ketundukan kepada-Nya. Namun
kita terkadang laksana anak kecil yang bangga pada orang tua nya, lalu pamer
kepada teman-temanya. Tapi pada saat tertentu anak kecil tadi juga seolah-olah
berkuasa melebihi orang tua nya dengan segala tingkah laku yang aneh-aneh dan
menggelikan.
Kita kadang dalam kehidupan beragama bertingkah laku menggelikan. Merasa
mulya, tapi tidak tahu cara menempatkan arti kemulyaan. Merasa suci, tapi tidak
mengerti hakikat kesucian. Akibatnya penampilan dan perilaku bertentangan
dengan esensi nilai-nilai agama seperti bumi dan langit.
Saya menyakini bahwa agama Islam adalah
agama yang paling benar sebagaimana Pak Alan mengakui kebenaran agama Budha. Namun
saya dan juga Pak Alan sedih ketika penganut agama terperosok oleh pemahaman
sempit, sehingga tidak bisa melihat nilai-nilai kasih sayang dalam kontek
keberagaman. Bagaimana rasanya ketika kita selalu mengucapkan asma Tuhan, tapi
kemudian hari Tuhan “ghodob” karena telah menyalahgunakan asma-asma-Nya
yang agung untuk kepentingan pragmatis sematas. Ironis bukan?
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4559
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3576
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2976
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879