Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Dialog Keimanan dengan Etnis Tionghoa di Tanjung Balai Port



Jumat , 15 September 2023



Telah dibaca :  559

Jam menunjukan pukul 13.10 WIB. Kota Tanjung Balai sudah terlihat dari tengah laut. Ini daerah Pegunungan atau perbukitan yang bentuk nya memanjang. Kanan-kiri dan depan berjejer  pulau-pulau besar dan kecil. Seperti membentuk huruf “U”. Mirip Danau Toba. Di kaki bukit terlihat bangunan-bangungan; Hotel, pabrik, perkantoran dan perumahan yang terlihat warna putih mendominasi. Perpaduan gunung warna hijau oleh pepohonan dan bangungan-bangunan berwarna putih. Sinar matahari ke permukaan laut dan memantulkan kembali. Gedung-gedung berubah seperti cahaya lampu dari laut. Kota Tanjung Balai seperti terapung di tengah laut. Sungguh Indah ciptaan Allah S.W.T.

Ketika keluar dari Kapal Dumai, seorang laki-laki tua datang menghampiriku. umur sekitar 50-an tahun. Kulitnya kuning mendekati putih, mata nya sipit, rambutnya lurus. Tinggi badan sekitar 157 cm. Hampir sama tingginya dengan saya. Sedikit tinggi saya. Dia menawarkan kepadaku agar bersedia naik ojek. Saya tersenyum dan bertanya ongkosnya. Dia pun tidak langsung menyebutkan jumlah nominal. Mungkin bingung. Banyak pertimbangan. Jika terlalu mahal, khawatir tidak jadi naik. Jika terlalu murah, tentu hitungan pendapatan rugi. Akhirnya dia menyebutkan nominalnya. saya tersenyum. Tangan kiri saya menggandeng tangan kanan pak tua tadi, dan berjalan bareng menuju tempat Parkir.

Siang ini kota Tanjung Balai terasa sangat panas. Hembusan angin laut menambah suhu udara naik. Lembab bercampur panas. Saya tetap menahan rasa panas sambil pegangan bahu tukang ojek. Setelah berkenalan saya pun tahu namanya Pak Alan.

Sepanjang perjalanan kami terus ngobrol. Kebetulan juga, dia membawa Honda tidak laju. Saking asyiknya, kami pun menikmati dialog dengan penuh persahabatan. Namun karena logat nya seperti orang etnis tionghoa.

 “Dari logatnya, bapak keturunan Tionghoa?” tanya ku

“Ia, bapak dulu pernah menjadi tentara. Dia asli Jawa. Sedangkan ibu asli etnis Tionghoa. Saudara kami banyak. Ada di Pekanbaru, Dumai, Meranti dan Tanjung Balai” Jawab Pak Alan.

“Berarti Pak Alan Penganut Konghucu?” tanya ku sambil bergurau.

“Bukan, saya penganut Budha Darma. Saya vegetarian. Sedangkan penganut Konghucu boleh makan daging” jawab Pak Alan menjelaskan perbedaan Budha Darma dan Konghucu.

Sepanjang perjalanan dia bercerita tentang hidupnya sebagai penganut Budha. Katanya selama dua tahun telah menghapalkan doa-doa ajaran budha. Dia kelihatannya telah mengamalkan ajaran agama dengan serius. Mungkin dalam Islam sudah maqam “manusia khos”. Wajah nya mencerminkan suasana damai batinya. Ketika ada persoalan menimpa, dia berasabar dan berdoa. Dalam doa nya senantiasa  merasa kehadiran Sang Budha senantiasa hadir pada dirinya.

“Bagaimana sikap Pak Alan terhadap sesama manusia?” tanya ku lagi.

“Budha mengajarkan kepada pengikut-pengikutnya dilarang berbohong, tidak boleh sombong, harus menghormati orang lain, harus berlaku adil, dan senantiasa menebarkan kedamaian serta tidak boleh menyakiti orang lain” kata Pak Alan.

Saya mengatakan pada nya bahwa dalam Islam juga mengajarkan hal-hal sama dalam kehidupan sosial. Bahkan allah telah mengancam kepada orang-orang yang beragama dan ahli ibadah ketika klaim kedekatan dengan Tuhan tidak berbanding lurus dengan kebajikan kepada sesama manusia dianggap oleh-nya sebagai seorang pendusta. Bahkan bagian dari orang celaka.

Allah dalam Surat Al-Isra telah berfirman: “Jika berbuat baik, maka kamu telah berbuat baik untuk dirimu sendiri. jika kamu berbuat jahat, maka kejahatan akan kembali pada dirimu sendiri.” Hadist Nabi, “Sebaik-baik sahabat disisi Allah adalah mereka yang paling baik kepada sahabatnya, dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah mereka yang paling baik kepada tetangganya.” Hadist Nabi yang lain, “Sebaik-baik manusia di antara kamu adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain”.

Dari sini ada titik temu. Saya sebagai seorang muslim dan pak alan penganut agama budha darma. Kami sama-sama lahir dari agama yang mengajarkan kebaikan kepada sesame manusia. Namun, baik saya dan pak alan adalah manusia yang mempunyai kelemahan dan keterbatasan. Sehingga pada saat-saat tertentu, kami bisa juga melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran-ajaran agama masing-masing.

Setelah berjalan keliling Kota Tanjung Balai, saya kembali ke Hotel. Sedih rasanya ketika melihat media online dan media sosial telah membuat dada terasa “sesak”. Seolah-olah sulit untuk bernafas. Kehidupan sosial-keagamaan yang diceritakan oleh Pak Alan sering tidak sejalan dalam realita kehidupan. Agama telah berubah menjadi Tuhan. Antar penganut agama terjebak pada kesholehan formalistik. Saling memperolok dan saling menjelekan. Satu ormas menjelekan ormas lain dan tidak segan mengkafir-kafirkan. Tuhan benar-benar dipaksa untuk tunduk kepada mereka atas segala keputusan-keputusan yang sangat konyol. Peran Tuhan telah diambil alih, lalu dengan mudah mengatakan kepada orang lain dengan kata-kata,”kafir”,”sesat”, “murtadz”, dan “halal darahnya”.

Saya, Pak Alan dan kita adalah makhluk yang dititipi oleh Allah untuk menyembah-Nya dan menebarkan peradaban sebagai wujud ketundukan kepada-Nya. Namun kita terkadang laksana anak kecil yang bangga pada orang tua nya, lalu pamer kepada teman-temanya. Tapi pada saat tertentu anak kecil tadi juga seolah-olah berkuasa melebihi orang tua nya dengan segala tingkah laku yang aneh-aneh dan menggelikan.

Kita kadang dalam kehidupan beragama bertingkah laku menggelikan. Merasa mulya, tapi tidak tahu cara menempatkan arti kemulyaan. Merasa suci, tapi tidak mengerti hakikat kesucian. Akibatnya penampilan dan perilaku bertentangan dengan esensi nilai-nilai agama seperti bumi dan langit.

Saya menyakini bahwa agama Islam adalah agama yang paling benar sebagaimana Pak Alan mengakui kebenaran agama Budha. Namun saya dan juga Pak Alan sedih ketika penganut agama terperosok oleh pemahaman sempit, sehingga tidak bisa melihat nilai-nilai kasih sayang dalam kontek keberagaman. Bagaimana rasanya ketika kita selalu mengucapkan asma Tuhan, tapi kemudian hari Tuhan “ghodob” karena telah menyalahgunakan asma-asma-Nya yang agung untuk kepentingan pragmatis sematas. Ironis bukan?



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4559


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879