
Sekitar jam 06.45 saya berangkat dari Hotel
Darma Nusantara menuju Bandara Internasional Sultan Hasanudin. Hotel ini cukup
dekat, dan saya kira cukup pas; pertama karena dekat Bandara Internasional Hasanudin, kedua sekitar hotel bisa
mencari rumah makan. Jadi ketika hotel tidak menyediakan sarapan nasi, makan siang dan malam, bisa
keluar hotel dan mencari makanan. Menu rata-rata Ikan Laut bakar . Bisa
memilih jenis Ikan Laut sesuai dengan selera.
Sekitar 15 menit naik Mobil Hotel sudah
sampai Bandara. Pagi ini Bandara sangat padat. Persis Bandara Soekarno-Hatta Jakarta.
Apakah karena hari jum’at, banyak orang yang ingin pulang kampung atau liburan.
Tapi ketika saya datang ke Makasar hari selasa, juga sudah terlihat sangat
padat. Bisa jadi ini bandara yang paling padat di Indonesia bagian timur. Jika merujuk sejarah dan kondisi kekinian, Sulawesi selain mobilitas pusat kegiatan perkantoran,
bisnis, pendidikan , juga menjadi destinasi tempat wisata sangat banyak, menjadi salah
satu penyebab Bandara Sultan Hasanudin sangat padat. Apalagi ditambah berbagai kegiatan
bulan ini; ada KKN Nusantara yang dipusatkan di tanah toraja melibatkan sekitar
52 Perguruan Tinggi di lingkungan Kementrian Agama, pertemuan walikota seluruh Indonesia dan
juga pertemuan para camat di daerah-daerah perbatasan atau daerah terdepan dan
terluar.
Saya harus turun dari mobil karena di
sekitar bandara macet. Saya menuju pintu masuk. Bandara lagi ada perbaikan sarana dan prasarana. Ada tulisan di dinding berupa permintaan maaf kepada para penumpang apabila merasa terganggu
dan kurang nyaman di bandara. Saya kira ini tulisan wajar, bentuk dari kesopanan. kalimat-kalimat sejenis itu, sudah sering saya di berbagai pekerjaan atau proyek umum di berbagai tempat. Biasanya saya tidak terganggu dengan
tulisan-tulisan sejenis itu pada beberapa waktu lalu.
Tapi entah pagi ini saya agak sedikit terganggu. Masuk lokasi cek-in bingung. Saya mencari tempat cek-in Tiket tidak menemukan tulisan pesawat menuju Makasar-Kulonprogo.
Yang ada adalah layar antrian berjumlah 6-7 layar dan da tulisan warna merah “Lion
Air”. Setiap antrian ada calon penumpang jika dibuat rata-rata sekitar
100-orang, bahkan bisa lebih. Sebab terus bertambah. Karena tidak ada tulisan
arah tujuan, saya pun menerobos antrian dan ingin tanya kepada petugas. tapi bingung sendiri karena terlalu ramai kerumunan calon penumpang. Akhirnya saya mengurungkan niat dan berhenti di antrian baris kedua. Sekitar 30-an menit berdiri di tempat antrian dua, tiba-tiba dari
belakang ada seorang gadis memakai jilbab hitam berkata kepadaku, “pak, antri pak!”. Saya menoleh,
dan tidak bicara. Sebenarnya merasa bersalah, tapi hati emosi,
kenapa sudah lama berdiri disitu baru ngomong “antrian”. Kalau pertama berdiri,
dia langsung mengingatanku, saya pasti langsung ke belakang. Ini sudah 30-an
menit, dan antrian sudah bertambah puluhan orang. saya pun diam saja.
Jam sudah menunjukan jam 7.30. antrian
masih sangat panjang. Seolah-olah tidak mau bergerak. Deretan antrian semakin
mbludag. Saya berfikir, jangan-jangan penerbangan bisa gagal dan harus beli
tiket lagi. Saya melihat para penumpang banyak yang mengeluh atas kejadian ini. Sampai-sampai ada seorang
bapak berbadan gempal marah-marah dengan mengucapkan kalimat kurang lebih
begini, “Nak, besok-besok tak perlu kuliah jika tidak bisa melayani dengan baik
dan cepat”. Entah siapa yang dimaksud bapak tadi apakah sama anak nya sendiri atau kepada petugas. Saya juga ingin marah. Tapi marah
pun tidak ada gunanya. Satu-satunya jalan harus tetap antri dan bersabar.
Penumpang semakin padat di depan antrian.
Tapi cek-in sepertinya tidak bergerak-gerak. Suara para penumpang mulai
terdengar,” saya ke Gorontalo jam 08, ini sudah dipanggil. Kapan cek in-nya.”
ada juga, “saya ke Ternate jam 08.10 menit”. Ada juga” saya dari Maluku, waktu
sudah hampir habis”. Ada juga, “saya ke Jakarta, jam 8.15 menit”. Situasi
memang kurang kondusif. Untung ini di Bandara, udara terasa sejuk. Meskipun
emosi, tidak sampai banting-banting kursi atau lempar sepatu dan sebagainya.
Tiba-tiba ada suara panggilan dari petugas cek-in, “Penumpang Gorontalo
silahkan ke depan”. Maka kondisi pun bertambah semrawut sebab penumpang yang
tujuan ke Gorontalo rata-rata di baris bagian belakang. Para penumpang
bermacam-macam umur, ada gadis yang dibelakang saya (sekitar 3 orang sangat
gesit dan langsung membawa tas-tas, koper dan barang-barang lainnya. Tidak lama berselang, ada ibu-ibu berumur sekitar 55 tahun
membawa trolley yang berisi dua koper dan tas. Dia permisi ingin maju. Namun
tidak bisa, sebab antara antrian satu dengan antrian lain di
batasi deretan trolley, sehingga tidak memungkin ibu tua tadi menembus
kerumunan orang begitu rame dan padat. Sungguh menyedihkan melihatnya. Saya mengganti posisi sebagai Petugas Porter. Saya pun menyarankan kepada ibu tadi agar
jangan membawa trolley dan koper nya di dorong. Dia menerima saran saya, tapi
dia pun bingung membawa barang dan dua koper besar. Akhirnya saya menyuruh ibu tua tadi mengikuti saya dari belakang dengan posisi kedua tangan saya penuh dengan dua koper sembari meminta maafkepada para penumpang di depan untuk memberi ruang agar memberi ruang untuk berjalan. Cara
ini berhasil, ibu tua tadi mendapatkan tiket.
Setelah selesai mengantar ke depan petugas Tiket, saya pun kembali lagi ke belakang di antrian semula. tak beberapa lama datang lagi rombongan ibu yang
sudah berumur tua sebagaimana ibu pertama tadi. Tujuan sama yaitu Gorontalo. Saya menggunakan trik pertama tadi, yaitu seluruh barang diturunkan dari
trolley. Pada saat yang sama, saya bicara agak keras kepada seorang Polisi yang
berdiri didekat petugas cek-in yang sejak tadi hanya berdiri saja, “Pak tolong
itu trolley keluarkan saja dari situ atau ditumpuk di pinggi, agar ini para
penumpang dan ibu-ibu tua yang akan menuju Gorontalo dan Ambon bisa cek-in!”. Mungkin
karena suara agak keras, pak polisi tadi pun merapikan trolley yang cukup
banyak, sehingga jalan pun agak sedikit longgar. Saya mengajak ibu tadi untuk
berjalan dan sekalian membawa koper dan barang-barang milik ibu tua tadi.
Apa karena kebetulan, setelah menolong dua
ibu-ibu tadi, tiba-tiba ada gadis cantik berkacama dan berbadan langsing datang menemuiku dan berbicara
begini,”Pesawat sudah mau berangkat pak, itu sudah ada panggilan. Kami bawa
banyak rombongan, ada 12 penumpang, ada bayi kecil juga”. Saya tersenyum dan mbatin, “lama-lama bisa
menjadi petugas porter sungguhan”. Saya menengok
ke belakang, orang cukup ramai. dibelakang gadis tadi ada seorang laki-laki
kekar memakai songkok model khas Sulawesi. Saya berkata kepada nya, “Pak, adik
ini suruh mewakili semua untuk mengambilkan tiket. KTP semua dikumpulkan. Bapak dan yang lainya membawa barang-barang
lewat sebelah kiri. Jangan sebelah kanan, karena banyak trolley. Nanti tidak
bisa jalan!!”. Saran saya diterima, dan gadis tadi pun berjalan menuju kedepan
setelah memegang seluruh KTP rombongannya.
Setelah sedikit longgar, Kini giliran saya mengambil tiket di depan
petugas. Saya taruh KTP dan bukti pembelian tiket di HP. Tiba-tiba ada seorang laki-laki calon penumpang nylonong dari kiri dan minta kepada petugas agar secepatnya diberi tiket. Saya
pun ngomong dengan cukup sopan, “Maaf mas, bolehkan saya dulu, soalnya saya
sudah nunggu lama juga belum mendapatkan tiket.” Pemuda kekar yang mempunyai
alis tebal itu pun mengangguk,”silahkan” katanya. Tidak lama, datang seorang
ibu muda memakai baju dan jilbab berwarna hijau muda juga menyelonong dan minta
dilayani lebih awal. Saya pun kembali bicara kepada ibu tadi, “Ibu, mohon maaf
saya datang lebih awal, bisakah saya dulu ambil tike”. Ibu muda tadi menjawab,
“ maaf pak, saya lagi hamil muda”. Saya bingung. Kelihatanya kurang nyambung
antara antrian dan hamil muda. Saya juga heran, lagi hamil kok lapor sama saya.
Seharunnya lapor sama suaminya. Namun karena petugas cek-in memang masih sibuk
menaruh tanda bagasi di Koper serta barang-barang lain, saya bertanya ke
ibu muda tadi, “ibu mau kemana?”. Dia menjawab, “ ke Gorontalo pak”. Akhirnya
saya menyuruh nya untuk mengambil tiket lebih dulu. Sebab memang pesawat ke Gorontalo sudah waktunya take off.
Jam 08.20 saya mendapatkan tiket. Saya pun
berbegas menuju ruang tunggu dan harus sedikit bersambar mendapat pemeriksaan
di baggage inspection. Di tempat ini tidak terlalu lama, tapi juga perlu
hati-hati dan tidak boleh buru-buru. Sebab saat proses pemeriksaan semua barang
dikeluarkan, termasuk barang berharga. Setelah selesai pemeriksaan dan sudah
saya cek seluruh barang sudah aman, saya menuju ruang tunggu di Gate-5. Jam
sudah 08.30. Saya melihat jadwal berangkat pesawat pukul 09.10, berarti masih
ada waktu untuk sarapan di Bandara. Saya pun menuju ke Kantin Bandara dan pesan
coto ( mungkin bahasa jawa “soto”). Pelayan cantik memakai baju hitam pun
bertanya, coto nya pakai buras? Saya bingung,”buras itu apa?”. “kupat” katanya.
Saya pun mengangguk. “minum pak?” tanya dia lagi. Saya menjawab singkat, “Teh
manis hangat”. Saya pun membuka buras yang dibungkus dengan daun pisang. Saya
tersenyum dan berkata dalam hati, “oalah….ini meniran atau kupat, bedanya ini
buras rasanya gurih rasa santan, kalau kupat di Jawa tidak dicampur santan”.
Selesai makan, saya tanya harga nya.
pelayan cantik menjawab,”Seratus ribu pak”. Saya lihat listnya. Satu mangkuk
Coto harganya Rp. 70.000, dan teh manis Rp.30.000. saya jadi ingat waktu beli
satu mangkuk coto dekat Hotel Darma Nusantara, harganya hanya Rp. 15.000. teh manis
di kampung saya Rp. 3000. Apakah ini yang dimaksud,”sama barangnya bisa
beda harganya ketika beda tempatnya”. Saya kira ini kalimat yang tepat
untuk menunjukan suatu kualitas barang atau kita dimanapun berada. Bisa jadi,
di kampung sendiri, kita dihargai dengan apa adanya, tapi di tempat lain, kita
presepsikan oleh orang lain dengan harga yang lumayan mahal. Tapi, yang
terpenting juga kita perlu menyikapi yang wajar-wajar saja. “Gitu aja kok repot”.
Penulis : Imam Ghozali
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4565
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3577
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2979
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879