Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Dibandara Sultan Hasanudin, Saya Nyambi Jadi Porter



Jumat , 14 Juli 2023



Telah dibaca :  392

Sekitar jam 06.45 saya berangkat dari Hotel Darma Nusantara menuju Bandara Internasional Sultan Hasanudin. Hotel ini cukup dekat, dan saya kira cukup pas; pertama karena dekat  Bandara Internasional Hasanudin, kedua sekitar hotel bisa mencari rumah makan. Jadi ketika hotel tidak menyediakan sarapan nasi, makan siang dan malam, bisa keluar hotel dan mencari makanan. Menu rata-rata Ikan Laut bakar . Bisa memilih jenis Ikan Laut sesuai dengan selera.  

Sekitar 15 menit naik Mobil Hotel sudah sampai Bandara. Pagi ini Bandara sangat padat. Persis Bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Apakah karena hari jum’at, banyak orang yang ingin pulang kampung atau liburan. Tapi ketika saya datang ke Makasar hari selasa, juga sudah terlihat sangat padat. Bisa jadi ini bandara yang paling padat di Indonesia bagian timur. Jika merujuk sejarah dan kondisi kekinian,  Sulawesi  selain  mobilitas pusat kegiatan perkantoran, bisnis, pendidikan , juga menjadi destinasi tempat wisata sangat banyak, menjadi salah satu penyebab Bandara Sultan Hasanudin sangat padat. Apalagi ditambah berbagai kegiatan bulan ini; ada KKN Nusantara yang dipusatkan di tanah toraja melibatkan sekitar 52 Perguruan Tinggi di lingkungan Kementrian Agama, pertemuan walikota seluruh Indonesia dan juga pertemuan para camat di daerah-daerah perbatasan atau daerah terdepan dan terluar.

Saya harus turun dari mobil karena di sekitar bandara macet. Saya menuju pintu masuk. Bandara lagi ada perbaikan sarana dan prasarana. Ada tulisan di dinding berupa  permintaan maaf kepada para penumpang apabila merasa terganggu dan kurang nyaman di bandara. Saya kira ini tulisan wajar, bentuk dari kesopanan. kalimat-kalimat sejenis itu, sudah  sering saya di berbagai pekerjaan atau proyek umum di berbagai tempat. Biasanya saya tidak terganggu dengan tulisan-tulisan sejenis itu pada beberapa waktu lalu.

Tapi entah pagi ini saya agak sedikit terganggu. Masuk lokasi cek-in bingung. Saya mencari tempat cek-in Tiket tidak menemukan tulisan pesawat menuju Makasar-Kulonprogo. Yang ada adalah layar antrian berjumlah 6-7 layar dan da tulisan warna merah “Lion Air”. Setiap antrian ada calon penumpang jika dibuat rata-rata sekitar 100-orang, bahkan bisa lebih. Sebab terus bertambah. Karena tidak ada tulisan arah tujuan, saya pun menerobos antrian dan ingin tanya kepada petugas. tapi bingung sendiri karena terlalu ramai kerumunan calon penumpang. Akhirnya  saya mengurungkan niat dan berhenti di antrian baris kedua. Sekitar 30-an menit berdiri di tempat antrian dua, tiba-tiba dari belakang ada seorang gadis memakai jilbab hitam berkata kepadaku, “pak, antri pak!”. Saya menoleh, dan tidak bicara. Sebenarnya merasa bersalah, tapi hati emosi, kenapa sudah lama berdiri disitu baru ngomong “antrian”. Kalau pertama berdiri, dia langsung mengingatanku, saya pasti langsung ke belakang. Ini sudah 30-an menit, dan antrian sudah bertambah puluhan orang. saya pun diam saja.

Jam sudah menunjukan jam 7.30. antrian masih sangat panjang. Seolah-olah tidak mau bergerak. Deretan antrian semakin mbludag. Saya berfikir, jangan-jangan penerbangan bisa gagal dan harus beli tiket lagi. Saya melihat para penumpang banyak yang mengeluh atas kejadian ini. Sampai-sampai ada seorang bapak berbadan gempal marah-marah dengan mengucapkan kalimat kurang lebih begini, “Nak, besok-besok tak perlu kuliah jika tidak bisa melayani dengan baik dan cepat”. Entah siapa yang dimaksud bapak tadi apakah sama anak nya sendiri atau kepada petugas. Saya juga ingin marah. Tapi marah pun tidak ada gunanya. Satu-satunya jalan harus tetap antri dan bersabar.

Penumpang semakin padat di depan antrian. Tapi cek-in sepertinya tidak bergerak-gerak. Suara para penumpang mulai terdengar,” saya ke Gorontalo jam 08, ini sudah dipanggil. Kapan cek in-nya.” ada juga, “saya ke Ternate jam 08.10 menit”. Ada juga” saya dari Maluku, waktu sudah hampir habis”. Ada juga, “saya ke Jakarta, jam 8.15 menit”. Situasi memang kurang kondusif. Untung ini di Bandara, udara terasa sejuk. Meskipun emosi, tidak sampai banting-banting kursi atau lempar sepatu dan sebagainya. Tiba-tiba ada suara panggilan dari petugas cek-in, “Penumpang Gorontalo silahkan ke depan”. Maka kondisi pun bertambah semrawut sebab penumpang yang tujuan ke Gorontalo rata-rata di baris bagian belakang. Para penumpang bermacam-macam umur, ada gadis yang dibelakang saya (sekitar 3 orang sangat gesit dan langsung membawa tas-tas, koper dan barang-barang lainnya. Tidak lama berselang, ada ibu-ibu berumur sekitar 55 tahun membawa trolley yang berisi dua koper dan tas. Dia permisi ingin maju. Namun tidak bisa, sebab antara antrian satu dengan antrian lain  di batasi deretan trolley, sehingga tidak memungkin ibu tua tadi menembus kerumunan orang begitu rame dan padat. Sungguh menyedihkan melihatnya. Saya mengganti posisi sebagai Petugas Porter. Saya pun menyarankan kepada ibu tadi agar jangan membawa trolley dan koper nya di dorong. Dia menerima saran saya, tapi dia pun bingung membawa barang dan dua koper besar. Akhirnya saya menyuruh ibu tua tadi  mengikuti saya dari belakang dengan posisi kedua tangan saya penuh dengan dua koper sembari meminta maafkepada para penumpang di depan untuk memberi ruang agar memberi ruang untuk berjalan.  Cara ini berhasil, ibu tua tadi mendapatkan tiket.

Setelah selesai mengantar ke depan petugas Tiket,  saya pun kembali lagi ke belakang di antrian semula. tak beberapa lama datang lagi rombongan ibu yang sudah berumur tua sebagaimana ibu pertama tadi. Tujuan sama yaitu Gorontalo. Saya menggunakan trik pertama tadi, yaitu seluruh barang diturunkan dari trolley. Pada saat yang sama, saya bicara agak keras kepada seorang Polisi yang berdiri didekat petugas cek-in yang sejak tadi hanya berdiri saja, “Pak tolong itu trolley keluarkan saja dari situ atau ditumpuk di pinggi, agar ini para penumpang dan ibu-ibu tua yang akan menuju Gorontalo dan Ambon bisa cek-in!”. Mungkin karena suara agak keras, pak polisi tadi pun merapikan trolley yang cukup banyak, sehingga jalan pun agak sedikit longgar. Saya mengajak ibu tadi untuk berjalan dan sekalian membawa koper dan barang-barang milik ibu tua tadi.

Apa karena kebetulan, setelah menolong dua ibu-ibu tadi, tiba-tiba ada gadis cantik berkacama dan berbadan langsing datang menemuiku dan berbicara begini,”Pesawat sudah mau berangkat pak, itu sudah ada panggilan. Kami bawa banyak rombongan, ada 12 penumpang, ada bayi kecil juga”.  Saya tersenyum dan mbatin, “lama-lama bisa menjadi petugas porter sungguhan”. Saya  menengok ke belakang, orang cukup ramai. dibelakang gadis tadi ada seorang laki-laki kekar memakai songkok model khas Sulawesi. Saya berkata kepada nya, “Pak, adik ini suruh mewakili semua untuk mengambilkan tiket. KTP semua dikumpulkan.  Bapak dan yang lainya membawa barang-barang lewat sebelah kiri. Jangan sebelah kanan, karena banyak trolley. Nanti tidak bisa jalan!!”. Saran saya diterima, dan gadis tadi pun berjalan menuju kedepan setelah memegang seluruh KTP rombongannya.

Setelah sedikit longgar, Kini giliran saya mengambil tiket di depan petugas. Saya taruh KTP dan bukti pembelian tiket di HP. Tiba-tiba ada seorang laki-laki calon penumpang nylonong dari kiri dan minta kepada petugas agar secepatnya diberi tiket.  Saya pun ngomong dengan cukup sopan, “Maaf mas, bolehkan saya dulu, soalnya saya sudah nunggu lama juga belum mendapatkan tiket.” Pemuda kekar yang mempunyai alis tebal itu pun mengangguk,”silahkan” katanya. Tidak lama, datang seorang ibu muda memakai baju dan jilbab berwarna hijau muda juga menyelonong dan minta dilayani lebih awal. Saya pun kembali bicara kepada ibu tadi, “Ibu, mohon maaf saya datang lebih awal, bisakah saya dulu ambil tike”. Ibu muda tadi menjawab, “ maaf pak, saya lagi hamil muda”. Saya bingung. Kelihatanya kurang nyambung antara antrian dan hamil muda. Saya juga heran, lagi hamil kok lapor sama saya. Seharunnya lapor sama suaminya. Namun karena petugas cek-in memang masih sibuk menaruh tanda bagasi di Koper serta barang-barang lain, saya  bertanya ke ibu muda tadi, “ibu mau kemana?”. Dia menjawab, “ ke Gorontalo pak”. Akhirnya saya  menyuruh nya untuk mengambil tiket lebih dulu. Sebab memang pesawat ke Gorontalo sudah waktunya take off.

Jam 08.20 saya mendapatkan tiket. Saya pun berbegas menuju ruang tunggu dan harus sedikit bersambar mendapat pemeriksaan di baggage inspection. Di tempat ini tidak terlalu lama, tapi juga perlu hati-hati dan tidak boleh buru-buru. Sebab saat proses pemeriksaan semua barang dikeluarkan, termasuk barang berharga. Setelah selesai pemeriksaan dan sudah saya cek seluruh barang sudah aman, saya menuju ruang tunggu di Gate-5. Jam sudah 08.30. Saya melihat jadwal berangkat pesawat pukul 09.10, berarti masih ada waktu untuk sarapan di Bandara. Saya pun menuju ke Kantin Bandara dan pesan coto ( mungkin bahasa jawa “soto”). Pelayan cantik memakai baju hitam pun bertanya, coto nya pakai buras? Saya bingung,”buras itu apa?”. “kupat” katanya. Saya pun mengangguk. “minum pak?” tanya dia lagi. Saya menjawab singkat, “Teh manis hangat”. Saya pun membuka buras yang dibungkus dengan daun pisang. Saya tersenyum dan berkata dalam hati, “oalah….ini meniran atau kupat, bedanya ini buras rasanya gurih rasa santan, kalau kupat di Jawa tidak dicampur santan”.

Selesai makan, saya tanya harga nya. pelayan cantik menjawab,”Seratus ribu pak”. Saya lihat listnya. Satu mangkuk Coto harganya Rp. 70.000, dan teh manis Rp.30.000. saya jadi ingat waktu beli satu mangkuk coto dekat Hotel Darma Nusantara, harganya hanya Rp. 15.000. teh manis di kampung saya Rp. 3000. Apakah ini yang dimaksud,”sama barangnya bisa beda harganya ketika beda tempatnya”. Saya kira ini kalimat yang tepat untuk menunjukan suatu kualitas barang atau kita dimanapun berada. Bisa jadi, di kampung sendiri, kita dihargai dengan apa adanya, tapi di tempat lain, kita presepsikan oleh orang lain dengan harga yang lumayan mahal. Tapi, yang terpenting juga kita perlu menyikapi yang wajar-wajar saja. “Gitu aja kok repot”. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4565


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879