Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Dirigen dan Maestro di Negara Merdeka



Minggu , 17 Agustus 2025



Telah dibaca :  407

Allah menciptakan manusia dalam kondisi merdeka. Tidak ada yang boleh melakukan kedzaliman dan penindasan terhadap manusia. Semua sama dalam pandangan-Nya. Tidak ada perbedaan warna kulit, suku, etnis, budaya dan keyakinan. Semua punya kebebasan untuk menjadi manusia merdeka dan tidak terbelenggu oleh penjajahan.

Kenapa terjadi penjajahan. Karena ada kelompok manusia merasa lebih hebat dari kelompok lain. merasa lebih pandai, lebih luas wawasannya, lebih cerdas, lebih kuat dan lain-lain. lalu dengan kelebihan ini digunakan untuk melakukan penindasan dan perbudakan kelompok atau bangsa lain yang menurut anggapannya berada di bawah standar kemampuannya.

Kelompok etnis pada masa dulu seperti bangsa romawi dan persia merasa sebagai bangsa yang paling kuat. Mereka terus perang dan selalu silih berganti menang. Pada masa Fir’aun kaum qibthi merasa lebih hebat dan kuat daripada kaum Bani Israel. Mereka menindas dan membunuh anak laki-laki Bani Israel. Ketika Musa telah membebaskan dari cengkraman kekuasaan Fir’aun, mereka menjadi penguasa dan merasa lebih hebat dari bangsa lain hingga saat sekarang ini.


Bangsa Indonesia pernah menjadi bangsa yang sangat maju pada masa kerajaan Sriwijaya dan Majapahati. Setelah kedua runtuh, muncul kerajaan-kerajaan Islam berkuasa di seluruh nusantara. Sejalan perjalanan waktu, ketika bangsa barat masuk ke wilayah nusantara , terjadi apa yang disebut imperialisme dan kolonialisme.

Pada masa imperialisme masyarakat Indonesia mengalami kerja paksa baik pada penjajahan Belanda maupun penjajahan Jepang. Watak para penjajah Dimana-mana selalu sama, yaitu membuat sistem kehidupan agar tidak bisa bangkit dan selalu dalam kondisi lemah, baik ekonomi, pendidikan, maupun rasa persatuan di antara saudara satu bangsa dan tanah air. Para penjajah selalu membuat sistem pendidikan dan ekonomi selalu mengalami ketergantungan kepada mereka. Persis seperti orang terkena ganja atau morfin. Ia akan mengalami kecanduan dan rela membeli nya dengan harga yang sangat mahal. Kondisi ini berlangsung sangat lama.

Sebagaimana bangsa Bani Israel ketika dijajah oleh Kaum Qibthi, mereka terpecah belah. Tidak ada kekuatan sama sekali. Ada rasa putus asa menatap masa depan. Lalu Tuhan mengutus para nabi dan melatih kaum Bani Israel untuk bisa bangkit dari rasa takut terhadap manusia. Siapapun manusia merupakan karya Tuhan. Kedudukan Tuhan jauh lebih tinggi dari manusia manapun termasuk para raja seperti Fir’aun. Akhirnya mereka sadar, bahwa satu-satunya sandaran yang paling kuat menjadi bangsa Merdeka ketika usaha nya melibatkan Tuhan dalam setiap usaha nya. Akhirnya berhasil. Bani Israel mendapatkan kemerdekaan, terbebas dari penjajah Raja Fir’aun.

Ketika Indonesia hidup dalam cengkraman imperialisme, satu-satunya yang menjadi sumber kekuatan yaitu kesadaran kolektif akan pertolongan Allah SWT. Agama bangsa Indonesia sangat beragam. Namun keyakinan akan pertolongan-Nya menumbuhkan rasa kasih-sayang yang kemudian tumbuh untuk hidup bersatu dalam keberagaman. Ini yang kemudian melahirkan pilar bangsa: “Bhineka tunggal ika, berbeda-beda tetapi tetap satu”.

Dari sini penulis bisa memahami bahwa kemerdekaan Indonesia berangkat dari keberagaman yang mempunyai kesadaran total untuk menjadi satu. Kesadaran tersebut merupakan keberkahan yang telah diberikan oleh Allah kepada bangsa Indonesia. hidup penuh dengan keberagaman. Tidak ada superior mayoritas dan tidak inferior minoritas. Semua nya berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah.


Keberagaman merupakan keberkahan dan sekaligus ujian. Keberagaman suku, etnis, agama dan budaya merupakan realita kenikmatan dari-nya. dari situ juga ada potensi-potensi yang berbeda-beda, pandangan yang beragam dan upaya mengaktualisasikan kenikmatan kemerdekaan tersebut. potensi-potensi ini pada sisi lain bisa memicu suatu ketegangan, konflik bahkan perpecahan di tengah-tengah masyarakat. Hal ini terjadi jika potensi-potensi tersebut tidak dikelola dengan baik. Maka, mengelola keberagaman dengan segala kekayaan intelektual, pandangan, watak dan jalan penyelesaian masalah dari beragam masalah yang ada saat sekarang ini membutuhkan kejernihan hati dan kesucian jiwa serta “jembarnya rasa” untuk bisa menerimanya dan memutuskan jawaban untuk kepentingan bersama.

Kejernihan hati dan kesucian jiwa serta luas nya rasa yang ada pada diri masing-masing membutuhkan proses terus-menerus. Ia tidak cukup pada sebatas tataran ilmu, wacana, tapi juga menjadi jati diri kesehariannya. Jika ini bisa dibangun dengan baik dan terus-menerus diasah pada setiap individua, maka egoisme, keakuan diri lambat laun akan mulai berkurang. Sebab dalam hidup berbangsa dan bernegara, tidak ada istilah aku, tapi sudah berubah menjadi “kami” dan “kita”. Ketika kesukesan berhasil bukan karena sebatas kehebatan pimpinannya, tapi merupakan keagungan kolektif atas kesadaran diri mewujudkan cita-cita kemerdekaan tersebut.

Meskipun demikian, bangsa yang merdeka dan maju membutuhkan sistem administrai negara dan pemerintahan yang rapi. Pada wilayah ini, maka seorang pemimpin laksana Dirigen. Ia harus mampu menciptakan harmonisasi nada dan lagu yang tepat agar menghasilkan paduan suara yang indah di dengar dan enak dipandang mata. 



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875