
Setelah selesai pengajian di Kecamatan
Rangsang beberapa waktu lalu, kami menyempatkan duduk-duduk dengan Dr.KH. Reza
Ahmad Zahid (Gus Reza) Pengasuh Pesantren Al-Mahrusiyah, Lirboyo Jawa Timur. Sebenarnya
ingin sebentar saja. Ngalap berkah, dapat doa langsung pulang. Ternyata
rancangan agenda meleset. Ketika Haji Fadil (Tuan Rumah) melihatku, langsung
diberi kursi berdampingan dengan Gus Reza. Kami dikelilingi para
alumni Pesantren Lirboyo berjumlah sekitar 30-40 orang. Usia mereka sudah berumur di atas 35-an tahun ke atas.
Panitia pengajian datang dan memberi secangkir
kopi panas. “Benar-benar tidak bisa tidur kalau begini, “melekan”
sekalian sampai subuh” batin ku. Saya melihat samping kiri sekitar 6 meter, dua
anggota Danramil yang sejak dari lokasi pengajian setia mengawal ku. Sudah saya
suruh pulang, tapi tetap setia menunggu dan mengantar ku nanti sampai di tempat
penginapan ku. Saya pun membiarkan. Kelihatannya dua anggota TNI lagi senang
ngaji. Bisa jadi sedang “ngalap berkah”. Bisa jadi karena intruksi dari
Danramil untuk mengawal orang-orang tertentu. Termasuk saya.
Pertemuan malam itu yang lebih tepat nya
acara “jagongan” atau kongkow-kongkow Islami. Sebab semua peserta
memakai peci, dan ada yang memakai serban. Malum, santri ketemu kyai nya
biasanya memakai baju Islami. Peci tidak ketinggalan.Tema nya berkaitan isi-isu
kekinian berkaitan dengan pemahaman agama yang “nyleneh”, sudah jauh
dari Pesantren dan sejenisnya. Sedangkan sub-tema yang dipertajam dalam diskusi
malam itu berkaitan dengan maraknya perilaku LGBT di tengah-tengah masyarakat.
“Disertasi saya membahas LGBT kyai” kata Gus
Reza kepadaku. Saya mengangguk.
Menurutnya, perkembangan LGBT sudah sangat
marak di kota-kota besar. peminatnya semakin banyak. Dulu perilaku seperti
sangat aneh. Pada tahun 1982 dan 1990-an pernah heboh. Era 90-an pergerakan
perilaku lesbian, gay didukung oleh organisasi sempalan feminis, organisasi
kesehatan dan seksual, organisasi layanan HIV, dan perkumpulan keluarga
berencana Indonesia(republika.co.id,kamis, 28 januari 2026). Pada tahun 1993
ada konggres lesbi dan gay di Yogyakarta. Dua tahun berikutnya, di Bandung. Dua
tahun berikutnya di Bali. Setelah ini, perkembangan mulai muncul di permukaan
seperti di Surabaya, Medan dan Ambon. Kini kata Gus Reza, kota-kota besar dan
kecil sudah terjangkit. Ketika saya mengikuti pertemuan komisi pendidikan di MUI Provinsi Riau, ternyata salah satu pemimpin LGBT berada di Provinsi ini. Saya
mendengar penjelasanya sangat kaget.
Menurut Gus Reza, organisasi ini sudah
menyasar ke anak-anak pelajar. Mereka membuat grup dan melakukan kaderisasi
agar berperilaku menjadi gay atau lesbian. Jadi, perilaku ini bisa diciptakan. Meskipun,
ada beberapa pelaku LGBT yang sejak pertama mengenal cinta ada suatu keanehan,
yaitu lebih menyukai sesama jenis daripada lawan jenis.
Ketika salah satu dari pelaku LGBT
diwawancari dan dinasehati oleh Gus Reza, jawabanya cukup mengagetkan,” Sampean
enak bisa merasakan jatuh cinta kepada lawan jenis. Kalian orang-orang normal. Sedangkan
kami sama sekali tidak menyukai lawan jenis. Kami ini jatuh cinta kepada
sama-sama jenis. Apakah salah kami menyalurkan perasaan cinta saya kepada orang
yang benar-benar membuat saya jatuh cinta?”
Dari sini ada suatu fakta bahwa perilaku LGBT
tidak serta-merta karena persoalan-persoalan eksternal seperti broken home,
karena diputus pacar, karena sudah bosen dengan pasangan dan sejenisnya. Tapi memang
ada faktor internal pada diri mereka sendiri.
Apakah ini bagian dari gangguan mental? Belum
tentu.
American Psychiatric Association (APA) telah melakukan penelitian. Hasilnya bahwa pelaku LGBT tidak serta merta menjadi bagian dari gangguan mental ketika mereka merasa nyaman dan
sesuai untuk mengubah orientasi seksualnya. Namun bisa menjadi gangguang mental
ketika dia merasa akan ketidaknyamanan atau ketidaksesuaian dengan
homoseksualitasnya (uniramalang.ac.id, 15/05/2022).
Data yang dikatakan oleh Gus Reza, bahwa
para pelaku lesbian atau gay terjadi karena ada rasa kenyamanan dan bisa
meluapkan rasa cinta kepada pasangan sesama jenis. Namun tidak jarang juga,
perilaku seperti ini karena ada persoalan mental dari berbagai persoalan yang
melatarbelakangi nya. Sangat komplek.
Bagaimana pandangan Islam? Jelas perilaku LGBT
seperti lesbi dan gay tidak boleh dalam hukum Islam. Dalam pendekatan sosiologi
Islam, bahwa Allah menciptakan manusia untuk meneruskan suatu peradaban dengan
kalimat “khalifah fi al-ardi”. Jika merujuk dari definisi manusia
meminjam pendapat Ibn Khaldun,”al-insan madaniyun bi tab’i”. Pada
sosiolog barat pun mengartikan sama,”zoon politicon”. Keduanya mempunyai
satu inti kesamaan, yaitu manusia adalah makhluk yang selalu membutuhkan orang
lain. Proses terbentuknya komunitas dalam Islam yaitu melalui perkawinan. Dari sini
kemudian melahirkan keturunan. Semakin banyak, secara naluriah mereka membentuk
suatu komunitas-komunitas seperti masyarakat, perkumpulan, organisasi, bangsa
dan negara. Itu sebabnya organisasi atau perkumbulan LGBT pada masa purba mengalami
pelarangan sebagaimana pada masa Nabi Luth A.S. Sebab melawan sunatullah
manusia sebagai manusia yang bertamadun(al-insan madaniyun bi tab’i).
Meskipun begitu, para pelaku LGBT juga
manusia. Ada berbagai persoalan yang tidak sesederhana sebagaimana bayangan
yang ada dalam benak penulis artikel ini. Jika kita dalam posisi mereka juga mengalami
problematik yang sangat komplek. Sedih mendengar cibiran dari dunia luar.
Dari sini harus bisa membedakan pelaku LGBT
sebagai manusia dan sebagai aktivitas. Kita memang menolak perilakunya karena merusak
peradaban dalam ajaran Islam. Tapi kita tidak boleh membencinya sebagai bagian
mahluk Allah dengan melontarkan kalimat atau ucapan yang menghina mereka. Jelas
ini dilarang dalam Islam.
Penulis artikel ini setuju pendapat Gus Reza bahwa perlu ada pendekatan
individual untuk membantu mereka mengenal dirinya sendiri. Ini
butuh proses. Tapi perlu untuk melakukan penyadaran secara terus-menerus. Melakukan
pendekatan edukatif dalam berbagai aspek lebih baik daripada “maido” ,memincingkan
sebelah mata “mengejek”, merasa bahwa diri kita lebih mulia dari mereka.
Jelas ini egoisme yang tidak perlu dilakukan. Bukankah tugas kita yang
diberikan dalam agama melalui Nabi Muhammad adalah mengajak kepada kebaikan dan
mencegah kepada kemungkaran? Harapanya, semoga mereka menyadari kekeliruannya
dan menjadi manusia yang normal sebagaimana yang diinginkan dalam ajaran Islam.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4559
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3576
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2976
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879