Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Disertasi LGBT



Kamis , 31 Agustus 2023



Telah dibaca :  1144

Setelah selesai pengajian di Kecamatan Rangsang beberapa waktu lalu, kami menyempatkan duduk-duduk dengan Dr.KH. Reza Ahmad Zahid (Gus Reza) Pengasuh Pesantren Al-Mahrusiyah, Lirboyo Jawa Timur. Sebenarnya ingin sebentar saja. Ngalap berkah, dapat doa langsung pulang. Ternyata rancangan agenda meleset. Ketika Haji Fadil (Tuan Rumah) melihatku, langsung diberi kursi berdampingan dengan Gus Reza. Kami dikelilingi para alumni Pesantren Lirboyo berjumlah sekitar 30-40 orang. Usia mereka sudah berumur di atas 35-an tahun ke atas.

Panitia pengajian datang dan memberi secangkir kopi panas. “Benar-benar tidak bisa tidur kalau begini, “melekan” sekalian sampai subuh” batin ku. Saya melihat samping kiri sekitar 6 meter, dua anggota Danramil yang sejak dari lokasi pengajian setia mengawal ku. Sudah saya suruh pulang, tapi tetap setia menunggu dan mengantar ku nanti sampai di tempat penginapan ku. Saya pun membiarkan. Kelihatannya dua anggota TNI lagi senang ngaji. Bisa jadi sedang “ngalap berkah”. Bisa jadi karena intruksi dari Danramil untuk mengawal orang-orang tertentu. Termasuk saya.

Pertemuan malam itu yang lebih tepat nya acara “jagongan” atau kongkow-kongkow Islami. Sebab semua peserta memakai peci, dan ada yang memakai serban. Malum, santri ketemu kyai nya biasanya memakai baju Islami. Peci tidak ketinggalan.Tema nya berkaitan isi-isu kekinian berkaitan dengan pemahaman agama yang “nyleneh”, sudah jauh dari Pesantren dan sejenisnya. Sedangkan sub-tema yang dipertajam dalam diskusi malam itu berkaitan dengan maraknya perilaku LGBT di tengah-tengah masyarakat.

“Disertasi saya membahas LGBT kyai” kata Gus Reza kepadaku. Saya mengangguk.

Menurutnya, perkembangan LGBT sudah sangat marak di kota-kota besar. peminatnya semakin banyak. Dulu perilaku seperti sangat aneh. Pada tahun 1982 dan 1990-an pernah heboh. Era 90-an pergerakan perilaku lesbian, gay didukung oleh organisasi sempalan feminis, organisasi kesehatan dan seksual, organisasi layanan HIV, dan perkumpulan keluarga berencana Indonesia(republika.co.id,kamis, 28 januari 2026). Pada tahun 1993 ada konggres lesbi dan gay di Yogyakarta. Dua tahun berikutnya, di Bandung. Dua tahun berikutnya di Bali. Setelah ini, perkembangan mulai muncul di permukaan seperti di Surabaya, Medan dan Ambon. Kini kata Gus Reza, kota-kota besar dan kecil sudah terjangkit. Ketika saya mengikuti pertemuan komisi pendidikan di MUI Provinsi Riau, ternyata salah satu pemimpin LGBT berada di Provinsi ini. Saya mendengar penjelasanya sangat kaget.

Menurut Gus Reza, organisasi ini sudah menyasar ke anak-anak pelajar. Mereka membuat grup dan melakukan kaderisasi agar berperilaku menjadi gay atau lesbian. Jadi, perilaku ini bisa diciptakan. Meskipun, ada beberapa pelaku LGBT yang sejak pertama mengenal cinta ada suatu keanehan, yaitu lebih menyukai sesama jenis daripada lawan jenis.

Ketika salah satu dari pelaku LGBT diwawancari dan dinasehati oleh Gus Reza, jawabanya cukup mengagetkan,” Sampean enak bisa merasakan jatuh cinta kepada lawan jenis. Kalian orang-orang normal. Sedangkan kami sama sekali tidak menyukai lawan jenis. Kami ini jatuh cinta kepada sama-sama jenis. Apakah salah kami menyalurkan perasaan cinta saya kepada orang yang benar-benar membuat saya jatuh cinta?”

Dari sini ada suatu fakta bahwa perilaku LGBT tidak serta-merta karena persoalan-persoalan eksternal seperti broken home, karena diputus pacar, karena sudah bosen dengan pasangan dan sejenisnya. Tapi memang ada faktor internal pada diri mereka sendiri.

Apakah ini bagian dari gangguan mental? Belum tentu.

American Psychiatric Association (APA) telah melakukan penelitian. Hasilnya bahwa pelaku LGBT tidak serta merta menjadi bagian dari gangguan mental ketika mereka merasa nyaman dan sesuai untuk mengubah orientasi seksualnya. Namun bisa menjadi gangguang mental ketika dia merasa akan ketidaknyamanan atau ketidaksesuaian dengan homoseksualitasnya (uniramalang.ac.id, 15/05/2022).

Data yang dikatakan oleh Gus Reza, bahwa para pelaku lesbian atau gay terjadi karena ada rasa kenyamanan dan bisa meluapkan rasa cinta kepada pasangan sesama jenis. Namun tidak jarang juga, perilaku seperti ini karena ada persoalan mental dari berbagai persoalan yang melatarbelakangi nya. Sangat komplek.

Bagaimana pandangan Islam? Jelas perilaku LGBT seperti lesbi dan gay tidak boleh dalam hukum Islam. Dalam pendekatan sosiologi Islam, bahwa Allah menciptakan manusia untuk meneruskan suatu peradaban dengan kalimat “khalifah fi al-ardi”. Jika merujuk dari definisi manusia meminjam pendapat Ibn Khaldun,”al-insan madaniyun bi tab’i”. Pada sosiolog barat pun mengartikan sama,”zoon politicon”. Keduanya mempunyai satu inti kesamaan, yaitu manusia adalah makhluk yang selalu membutuhkan orang lain. Proses terbentuknya komunitas dalam Islam yaitu melalui perkawinan. Dari sini kemudian melahirkan keturunan. Semakin banyak, secara naluriah mereka membentuk suatu komunitas-komunitas seperti masyarakat, perkumpulan, organisasi, bangsa dan negara. Itu sebabnya organisasi atau perkumbulan LGBT pada masa purba mengalami pelarangan sebagaimana pada masa Nabi Luth A.S. Sebab melawan sunatullah manusia sebagai manusia yang bertamadun(al-insan madaniyun bi tab’i).

Meskipun begitu, para pelaku LGBT juga manusia. Ada berbagai persoalan yang tidak sesederhana sebagaimana bayangan yang ada dalam benak penulis artikel ini. Jika kita dalam posisi mereka juga mengalami problematik yang sangat komplek. Sedih mendengar cibiran dari dunia luar.

Dari sini harus bisa membedakan pelaku LGBT sebagai manusia dan sebagai aktivitas. Kita memang menolak perilakunya karena merusak peradaban dalam ajaran Islam. Tapi kita tidak boleh membencinya sebagai bagian mahluk Allah dengan melontarkan kalimat atau ucapan yang menghina mereka. Jelas ini dilarang dalam Islam.

Penulis artikel ini setuju pendapat Gus Reza bahwa perlu ada pendekatan individual untuk membantu mereka  mengenal dirinya sendiri. Ini butuh proses. Tapi perlu untuk melakukan penyadaran secara terus-menerus. Melakukan pendekatan edukatif dalam berbagai aspek lebih baik daripada “maido” ,memincingkan sebelah mata “mengejek”, merasa bahwa diri kita lebih mulia dari mereka. Jelas ini egoisme yang tidak perlu dilakukan. Bukankah tugas kita yang diberikan dalam agama melalui Nabi Muhammad adalah mengajak kepada kebaikan dan mencegah kepada kemungkaran? Harapanya, semoga mereka menyadari kekeliruannya dan menjadi manusia yang normal sebagaimana yang diinginkan dalam ajaran Islam.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4559


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879