Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Diskusi Bersama Cak Ro: Dari Para Wali Sampai Dewa Ruci



Rabu , 19 November 2025



Telah dibaca :  352

Pertemuan tidak direncanakan dengan Cak Ro-Rosihan Aslihudin, M.A.B-di depan ruangan waket telu. Benar-benar tidak direncanakan babarblas. Awal mulanya mas jarir-waket satu-menemuiku. Selesai acara kegiatan P2M, Mas Jarir memintaku untuk menemui nya. Alhamdulillah kami bisa bertemu dan ngobrol singkat bersama Cak Ro-Dosen UIN Malik Ibrahim Malang. Penampilan necis, tampan. Saya melihat nya selintas mirip Prof.Dr. Edward Omar Sharif Hiariej, Guru Besar Hukum Pidana UGM. Mirip wajah nya dan rambutnya. Wajahnya tampan, hidung mancung. Tapi sayangnya, rambutnya habis-botak.

Kami ngobrol di ruangan waket telu tanpa meja. Untung ada kursi sebagai pengganti meja. Iya,  kursi plastik. Pengganti meja untuk menaruh sepiring kueh, dua gelas wedang kopi dan asbak. Tidak ada rotan, akar pun jadi. Semua terlihat sempurna. Sebab kami berdua laksana sahabat karib yang telah lama tidak bertemu. Ngobrol sangat asyik dan menyenangkan.

Bagaimana tidak menyenangkan pertemuan ini. Hasil pertemuan singkat telah menghasilkan rekomendasi yang sangat mulia dalam satu tarikan kalimat : “Semoga persahabatan kami langgeng, mendapat ridha Allah dan bisa berjumpa kembali di masa mendatang”.

Kalimat tersebut tentu saja tidak lahir dari ruang hampa. Waktu 30 menit yang tersedia digunakan untuk membahas tentang ilmu, pendidikan, dan kisah para ulama. Kebetulan juga Cak Ro merupakan model dosen yang sangat menyukai ulama. Ia benar-benar menerapkan tradisi para ulama dan santri yaitu “ngalap barokah”. Ia menyakini, bahwa mencintai ulama akan menambah kebaikan-ziyadatul khair-baginya dan keluarganya. Bisa jadi, anak pertama yang sekarang kerja di Singapura dan sudah lulus S2, bagian dari wujud barokah tersebut.

Cak ro sebagai akademisi yang lahir dari lingkungan kota santri dan kota mempunyai sejarah panjang adanya berdiri Kerajaan Singosari pada masa lalu sangat mempengaruhi cara pandang tentang keagamaan, kebudayaan dan kemanusiaan.

Memahami pemikiran Cak Ro harus meneropong tentang budaya dan kehidupan sosial masyarakat yang diwariskan oleh Kerajaan Singosari. Kerajaan ini mempunyai sejarah yang unik. Ketika pasukan tiongkok mendarat di Sungai Brantas dan akan melakukan ekspansi menaklukan Raja Kertanegara karena menolak kekuasaan Dinasti Yuan, penguasa Singasari dengan patriotisme tinggi menghadapi pasukan Kubilai Khan. Dengan semangat nasionalisme tinggi, pasukan Kubilai Khan kocar kacir. Kalah. Akhirnya melarikan diri menuju Sungai Brantas dan naik kapal dan meninggalkan Singasari. Mengetahui hal ini, pasukan Singasari segara ke tepi Sungai Brantas dan membakar sebagian kapal tersebut. Akibatnya, sebagian warga tiongkok tidak bisa pulang ke negerinya. Mereka bersembunyi di perkampungan dari kejaran pasukan Kerajaan. Proses asimilasi yang panjang, kemudian hari orang Tiongkok pun menjadi warga pribumi.

Pembicaraan yang menarik dengan cak ro yaitu tentang dewa ruci. Pertemuan bima-werkudara-dengan dewa ruci merupakan kisah pendalaman spiritual yang sangat agung. Untuk mengetahuinya, maka perlu melihat kisah kurawa dan pandawa.

Kita mengetahui, bahwa dalam pewayangan sang guru durna merupakan guru dari dua klan besar: Kurawa dan Pandawa. Sang Kurawa secara tabiat hidup dengan pola hedonisme, kekayaan dan kekuasaan melihat Pendidikan hanya sebagai tambahan. Bagi kelompok ini, guru bisa dibeli dan diatur semau nya. Sang Guru Durna, telah mendapatkan kemewahan fasilitas dari nya.

Sebaliknya, Pandawa-Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula Dan Sadewa- merupakan kelompok pelajar yang sangat mencintai ilmu pengetahuan. Ilmu bagi mereka segala-galanya. Kepatuhan terhadap perintah guru adalah kewajibannya. Dua prinsip yang menyebabkan keluarga pandawa menjadi generasi yang menguasai seluruh ilmu pengetahuan pada masa nya.

Ketika ada konspirasi politik, Kurawa menginginkan agar orang yang paling kuat dari Pandawa-Bima-mati. Lalu durna memanggil Bima untuk tujuan syahwat politik kurawa. Durna dengan tipu muslihat mengatakan kepada Bima jika ingin menjadi orang yang paling sakti dan mulia, harus menemui Dewa Ruci di dasar laut.

Tanpa pikir panjang, bima melaksanakan perintah guru Durna. Masuk ke dalam dasar laut, mencari air kehidupan. Tentu saja para kurawa mendengar hal tersebut Tirta Pawitra Mahening Suci-air kehidupan yang mempunyai manfaat kehidupan menjadi sempurna. Bagi kurawa, kesempurnaan hidup adalah kematian bima. Namun bagi bima sendiri kesempurnaan hidup ketika mengenal Sang Hyang Widhi-Tuhan.

Ketika Bima bertemu dengan Dewa Ruci yang berbadan kerdil. Tapi ketika ia masuk ke dalam tubuh nya, ia melihat melihat hakikat kebenaran, kemanusiaan, keyakinan dan hakikat kehidupan. ia benar-benar mampu menundukan segala hawa nafsu nya. Ia benar-benar seperti terlahir kembali menjadi manusia yang sempurna, yaitu manusia yang sudah pada diri nya-dalam ilmu kaum sufi-kaanaka tarahu, seolah-olah melihat Sang Pencipta Alam Semesta.

Bima telah manunggaling gusti dalam pengertian majaz. Ada kesadaran total tentang darimana dan akan kemana hidup ini. Pola hidup yang sudah bersandar kepada Sang Pencipta. Ketika sudah bersandar kepada-Nya, maka tidak ada kekuatan yang bisa menandinginya-laa haula wala quwwata illa billah. Inilah makna kesaktian yang paling tinggi.

Kisah tersebut menggambarkan proses pendidikan kehidupan dua klan besar-Kurawa dan Pandawa. Saya dan Cak Ro mempunyai satu pemahaman bahwa para pendidik dan ulama pada masa dulu sangat mengutamakan pendidikan karakter sebelum pendidikan lain diperkenalkan kepada peserta didik. Ketika karakter sudah terbentuk, maka mereka sangat mudah menerima transfer ilmu pengetahuan dan merealisasikannya dengan cara-cara yang baik dan benar. Pola seperti ini yang diterapkan oleh negara-negara maju saat sekarang ini seperti jepang, tiongkok, india, inggris dan amerika serikat.

Tentu saja ada perbedaan filosofis makna karakter dari setiap negara tersebut di atas. Mereka mempunyai definisi sendiri tentang makna dan cara membangun karakter anak-anak bangsa sejak masih dini. Hasil nya, mereka telah mapan arah dalam menancapkan arah pembangunan di tengah kompetisi persaingan yang sangat ketat di antara negara-negara dunia.

Bangsa Indonesia mempunyai kekhususan karakter sebagai hasil dari saripati nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat Indonesia. Nilai-nilai tersebut adalah jati diri bangsa Indonesia. Pendidikan apapun harus mengarah kepada nilai-nilai tersebut. jika pendidikan melupakan hal tersebut karena ingin mengejar status kesamaan derajat dalam persaingan pendidikan di dunia, khawatir malah bangsa ini menjadi korban budaya bangsa lain. bisa jadi akan lahir generasi-generasi muda-orang menyebutnya generasi emas- yang hidup di tanah air Indonesia, tetapi sudah tidak mengenal jati diri sebagai anak Indonesia. Ia sudah menjadi jati diri bangsa lain dalam bersikap, berbicara dan bertingkah laku sehari-hari. Dan gejala-gejala tersebut kelihatannya sudah mulai terasa aroma nya. Menyedihkan sekali.

Tak terasa diskusi singkat dengan Cak Ro sudah selesai. Sebenarnya ingin sekali diskusi lebih lama. Tapi waktu yang membatasinya. Kami pun berjabat tangan. Saya kaget, ia mencium tangan ku. Sangat tawadhu sekali. Saya pun mencium pipi nya sebagai wujud ketulusan persaudaraan kepada saudara jauh yang sedang mengemban amanah di UIN Sunan Malik Ibrahim.

Sehat selalu Cak Ro, dan sukses selalu menyertai panjenengan dan keluarga panjenangan. Amin.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872