
Pertemuan tidak direncanakan dengan Cak
Ro-Rosihan Aslihudin, M.A.B-di depan ruangan waket telu. Benar-benar tidak
direncanakan babarblas. Awal mulanya mas jarir-waket satu-menemuiku. Selesai
acara kegiatan P2M, Mas Jarir memintaku untuk menemui nya. Alhamdulillah kami
bisa bertemu dan ngobrol singkat bersama Cak Ro-Dosen UIN Malik Ibrahim Malang.
Penampilan necis, tampan. Saya melihat nya selintas mirip Prof.Dr. Edward Omar
Sharif Hiariej, Guru Besar Hukum Pidana UGM. Mirip wajah nya dan rambutnya. Wajahnya
tampan, hidung mancung. Tapi sayangnya, rambutnya habis-botak.
Kami ngobrol di ruangan waket telu
tanpa meja. Untung ada kursi sebagai pengganti meja. Iya, kursi plastik. Pengganti meja untuk menaruh
sepiring kueh, dua gelas wedang kopi dan asbak. Tidak ada rotan, akar pun jadi.
Semua terlihat sempurna. Sebab kami berdua laksana sahabat karib yang telah
lama tidak bertemu. Ngobrol sangat asyik dan menyenangkan.
Bagaimana tidak menyenangkan pertemuan ini.
Hasil pertemuan singkat telah menghasilkan rekomendasi yang sangat mulia dalam
satu tarikan kalimat : “Semoga persahabatan kami langgeng, mendapat ridha Allah
dan bisa berjumpa kembali di masa mendatang”.
Kalimat tersebut tentu saja tidak lahir
dari ruang hampa. Waktu 30 menit yang tersedia digunakan untuk membahas tentang
ilmu, pendidikan, dan kisah para ulama. Kebetulan juga Cak Ro merupakan model
dosen yang sangat menyukai ulama. Ia benar-benar menerapkan tradisi para ulama
dan santri yaitu “ngalap barokah”. Ia menyakini, bahwa mencintai ulama
akan menambah kebaikan-ziyadatul khair-baginya dan keluarganya. Bisa
jadi, anak pertama yang sekarang kerja di Singapura dan sudah lulus S2, bagian
dari wujud barokah tersebut.
Cak ro sebagai akademisi yang lahir dari
lingkungan kota santri dan kota mempunyai sejarah panjang adanya berdiri
Kerajaan Singosari pada masa lalu sangat mempengaruhi cara pandang tentang
keagamaan, kebudayaan dan kemanusiaan.
Memahami pemikiran Cak Ro harus meneropong
tentang budaya dan kehidupan sosial masyarakat yang diwariskan oleh Kerajaan Singosari.
Kerajaan ini mempunyai sejarah yang unik. Ketika pasukan tiongkok mendarat di
Sungai Brantas dan akan melakukan ekspansi menaklukan Raja Kertanegara karena
menolak kekuasaan Dinasti Yuan, penguasa Singasari dengan patriotisme tinggi
menghadapi pasukan Kubilai Khan. Dengan semangat nasionalisme tinggi, pasukan Kubilai
Khan kocar kacir. Kalah. Akhirnya melarikan diri menuju Sungai Brantas dan naik
kapal dan meninggalkan Singasari. Mengetahui hal ini, pasukan Singasari segara
ke tepi Sungai Brantas dan membakar sebagian kapal tersebut. Akibatnya,
sebagian warga tiongkok tidak bisa pulang ke negerinya. Mereka bersembunyi di
perkampungan dari kejaran pasukan Kerajaan. Proses asimilasi yang panjang,
kemudian hari orang Tiongkok pun menjadi warga pribumi.
Pembicaraan yang menarik dengan cak ro
yaitu tentang dewa ruci. Pertemuan bima-werkudara-dengan dewa ruci merupakan
kisah pendalaman spiritual yang sangat agung. Untuk mengetahuinya, maka perlu
melihat kisah kurawa dan pandawa.
Kita mengetahui, bahwa dalam pewayangan
sang guru durna merupakan guru dari dua klan besar: Kurawa dan Pandawa. Sang Kurawa
secara tabiat hidup dengan pola hedonisme, kekayaan dan kekuasaan melihat
Pendidikan hanya sebagai tambahan. Bagi kelompok ini, guru bisa dibeli dan
diatur semau nya. Sang Guru Durna, telah mendapatkan kemewahan fasilitas dari
nya.
Sebaliknya, Pandawa-Yudistira, Bima,
Arjuna, Nakula Dan Sadewa- merupakan kelompok pelajar yang sangat mencintai
ilmu pengetahuan. Ilmu bagi mereka segala-galanya. Kepatuhan terhadap perintah
guru adalah kewajibannya. Dua prinsip yang menyebabkan keluarga pandawa menjadi
generasi yang menguasai seluruh ilmu pengetahuan pada masa nya.
Ketika ada konspirasi politik, Kurawa
menginginkan agar orang yang paling kuat dari Pandawa-Bima-mati. Lalu durna
memanggil Bima untuk tujuan syahwat politik kurawa. Durna dengan tipu muslihat
mengatakan kepada Bima jika ingin menjadi orang yang paling sakti dan mulia,
harus menemui Dewa Ruci di dasar laut.
Tanpa pikir panjang, bima melaksanakan
perintah guru Durna. Masuk ke dalam dasar laut, mencari air kehidupan. Tentu
saja para kurawa mendengar hal tersebut Tirta Pawitra Mahening Suci-air
kehidupan yang mempunyai manfaat kehidupan menjadi sempurna. Bagi kurawa,
kesempurnaan hidup adalah kematian bima. Namun bagi bima sendiri kesempurnaan
hidup ketika mengenal Sang Hyang Widhi-Tuhan.
Ketika Bima bertemu dengan Dewa Ruci yang
berbadan kerdil. Tapi ketika ia masuk ke dalam tubuh nya, ia melihat melihat
hakikat kebenaran, kemanusiaan, keyakinan dan hakikat kehidupan. ia benar-benar
mampu menundukan segala hawa nafsu nya. Ia benar-benar seperti terlahir kembali
menjadi manusia yang sempurna, yaitu manusia yang sudah pada diri nya-dalam
ilmu kaum sufi-kaanaka tarahu, seolah-olah melihat Sang Pencipta Alam
Semesta.
Bima telah manunggaling gusti dalam
pengertian majaz. Ada kesadaran total tentang darimana dan akan kemana hidup
ini. Pola hidup yang sudah bersandar kepada Sang Pencipta. Ketika sudah
bersandar kepada-Nya, maka tidak ada kekuatan yang bisa menandinginya-laa
haula wala quwwata illa billah. Inilah makna kesaktian yang paling tinggi.
Kisah tersebut menggambarkan proses pendidikan
kehidupan dua klan besar-Kurawa dan Pandawa. Saya dan Cak Ro mempunyai satu
pemahaman bahwa para pendidik dan ulama pada masa dulu sangat mengutamakan pendidikan
karakter sebelum pendidikan lain diperkenalkan kepada peserta didik. Ketika karakter
sudah terbentuk, maka mereka sangat mudah menerima transfer ilmu pengetahuan
dan merealisasikannya dengan cara-cara yang baik dan benar. Pola seperti ini
yang diterapkan oleh negara-negara maju saat sekarang ini seperti jepang,
tiongkok, india, inggris dan amerika serikat.
Tentu saja ada perbedaan filosofis makna karakter
dari setiap negara tersebut di atas. Mereka mempunyai definisi sendiri tentang
makna dan cara membangun karakter anak-anak bangsa sejak masih dini. Hasil nya,
mereka telah mapan arah dalam menancapkan arah pembangunan di tengah kompetisi
persaingan yang sangat ketat di antara negara-negara dunia.
Bangsa Indonesia mempunyai kekhususan karakter
sebagai hasil dari saripati nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat Indonesia.
Nilai-nilai tersebut adalah jati diri bangsa Indonesia. Pendidikan apapun harus
mengarah kepada nilai-nilai tersebut. jika pendidikan melupakan hal tersebut
karena ingin mengejar status kesamaan derajat dalam persaingan pendidikan di
dunia, khawatir malah bangsa ini menjadi korban budaya bangsa lain. bisa jadi
akan lahir generasi-generasi muda-orang menyebutnya generasi emas- yang hidup
di tanah air Indonesia, tetapi sudah tidak mengenal jati diri sebagai anak Indonesia.
Ia sudah menjadi jati diri bangsa lain dalam bersikap, berbicara dan bertingkah
laku sehari-hari. Dan gejala-gejala tersebut kelihatannya sudah mulai terasa
aroma nya. Menyedihkan sekali.
Tak terasa diskusi singkat dengan Cak Ro sudah
selesai. Sebenarnya ingin sekali diskusi lebih lama. Tapi waktu yang
membatasinya. Kami pun berjabat tangan. Saya kaget, ia mencium tangan ku. Sangat
tawadhu sekali. Saya pun mencium pipi nya sebagai wujud ketulusan persaudaraan
kepada saudara jauh yang sedang mengemban amanah di UIN Sunan Malik Ibrahim.
Sehat selalu Cak Ro, dan sukses selalu
menyertai panjenengan dan keluarga panjenangan. Amin.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2941
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872