Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Doa Buat Ananda Muhammad Faiz Artanabil



Rabu , 05 Juni 2024



Telah dibaca :  653

Hari senin lalu istri ku menelpon bahwa faiz hari kamis akan wisuda di TK Afida. Saya mendengarnya ingin tertawa, masih TK sudah wisuda. Pengalaman dulu, Ketika mendengar kata “wisuda” identik dengan lulusan diploma atau Strata 1, Magister dan Doktor. Kebetulan, saya pernah merasakan wisuda ketiga jenjang tersebut. Artinya jika setiap jenjang pendidikan mengahiri sekolah dengan acara wisuda, maka ketika Faiz seperti ayah nya (kuliah sampai program doktor) berarti bisa wisuda tujuh kali.

Saya secara pribadi tidak masalah. Meskipun ada yang melakukan kritik terhadap penggunaan kata “wisuda”. Hal ini berangkat dari tradisi tersebut sebagai momen penting dianggap sakral dan wibawa bagi setiap orang yang menggunakan baju wisuda dan toga. Kesakralan dan kewibawaan karena berkaitan dengan keilmuan yang disandang pada dirinya. Dari situ kemudian lahir gelar-gelar sarjana dengan bidang keahlian tertentu seperti gelar S.Pd untuk sarjana Pendidikan, SH untuk gelar sarjana hukum dan lain-lain.

Ulama besar Bernama Syaikh Abu Hanifah dalam Kitab Ta’lim Muta’alim mengatakan demikian, “Perbesarlah Lengan Baju Mu”. Perkataan Abu Hanifah sebenarnya pesan kepada  para ulama agar menggunakan khas baju yang berlengan besar, sehingga akan terlihat kewibawaan dan keagungan nya. Jadi tradisi lengan besar adalah tradisi baju untuk para ulama. Lalu pola tersebut diadopsi perguruan tinggi sebagai simbol kepakaran, kedalaman ilmunya dan keindahan akhlak al-karimah.

Zaman mengalami perubahan yang sangat cepat. Sistem pendidikan pun demikian. Para ilmuwan dan para pendidik mencoba melakukan inovasi-inovasi pendidikan dengan beragam model yang bisa kita lihat saat sekarang ini. Perubahan-perubahan dan inovasi-inovasi akan terus berjalan dari generasi ke generasi berikutnya. Meskipun sekali lagi, ada yang setuju dan menolaknya. Itu sudah menjadi watak sepanjang perjalanan sejarah manusia.

Saya sebagai ayah tentu tidak mempersoalkan hal tersebut. Justru saya senang melihat anak-anak bahagia di acara tersebut. Ma’lum dunia taman kanak-kanak adalah dunia main. Mereka belum memahami esensi baju dan toga yang disandangnya. Dunia anak-anak adalah kebahagiaan mengekspresikan segala ucapan dan perilakunya. Melalui dunia permainan mereka tumbuh kreatifitasnya dan interaksi sosial dengan teman-teman dan lingkungan yang lebih luas.

Sebagai penutup tulisan ini, saya berdoa kepada Allah semoga acara wisuda TK tersebut menjadi simbol tangga prestasi bagi anaku Muhammad Faiz Artanabil pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi  dan “tafaulan” bahwa baju wisuda tersebut simbol mendapatkan baju kemulyaan di masa depan, amin ya rabbal ‘alamin.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876