Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Doa dan Cinta



Rabu , 06 Agustus 2025



Telah dibaca :  534

Dulu di sebuah kerajaan yang terletak di Padang Pasir terjadi musim kemarau. Kekeringan terjadi dimana-mana. Oase mulai mengering. Rumput-rumput yang tumbuh di sekitar batu-batu besar mulai layu menghitam warnanya. Binatang ternak pun mulai banyak yang mati. Hal yang sama, warga masyarakat kerajaan tersebut pun mulai terkena beragam penyakit. Korban pun mulai berjatuhan.

Para ulama dan khalifah saat itu telah menganjurkan untuk beribadah dan melakukan sholat istisqa -sholat minta turun hujan. Secara formal, mereka telah memenuhi peryaratan fiqh. Baju nya sangat sederhana. Sangat sulit dibedakan baju khalifah, ulama dan masyarakat biasa. mereka semua berkumpul di lapangan terbuka melakukan sholat istisqa dan berdoa kepada Allah agar hujan segera diturunkan.

Ritual telah usai, sholat dan khutbah pun telah berlalu. Aiir mata akibat mereka tidak terbendung lagi. Rangkaian kata-kata sang khatib yang sangat menyentuh hati telah membuat mereka hanyut dalam kesedihan dan merasa berdosa. Mereka menangis tersedu-sedu.

Namun pagi itu, matahari tetap bersinar terang. langit benar-benar masih berwarna biru. udara terasa mulai panas. Lambat laun, air mata pun mulai mengering. Ada keraguan dalam hati: “Jangan-jangan, doa kami tidak terkabulkan”.

Saat kesedihan  menyelimuti jiwa, tiba-tiba ada pemuda badui datang menuju mimbar. Semua orang melihat nya penuh kebingungan. Tidak ada satupun yang melarangnya. Semua terdiam oleh suasana hati yang sedih. Ia kemudian berkhutbah dengan syarat rukun yang benar. Selesai mengucapkan takwa. Lalu dia berdoa kepada kepada Allah. Doa nya sangat pendekt : “Ya Tuhan ku, I love you”.

Selesai berdoa, pemuda tersebut kemudian pergi hingga hilang dari pandangan mata. Seolah-olah tidak peduli di sekitarnya. Ia sangat cepat berjalan,seolah-olah ingin bercengkrama dengan kekasih tercinta. Ia kekasih tercintanya yaitu Allah SWT.

Tiba-tiba mendung berdatangan dari seluruh penjuru mata angin. Semakin gelap. Kejadian begitu cepat. Semua manusia yang hadir di majelis tersebut bertanya-tanya dalam hati gerangan pemuda tersebut. Khalifah bertanya-tanya kepada para ajudannya. Sebelum sempat ada yang memberi jawaban pasti, hujan pun turun dengan sangat lebat.

Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam buku berjudul “Tuhan Tidak Perlu Di Bela” (Wahid, Tuhan Tidak Perlu dibela , 1999) mengutip ucapan seorang kyai sufi begini: “Tuhan itu maha besar. Ia tidak memerlukan pembuktian akan kebesaran-Nya. Ia Maha Besar karena ia ada, apapun yang diperbuat orang atas diri-Nya, sama sekali tidak ada pengaruhnya atas wujud-Nya dan atas kekuasaan-Nya”.

Dalam pandangan Gus Dur persoalan sesungguhnya yang sering dilupakan oleh manusia adalah bertingkah laku seperti Tuhan. Pengambil alihan otoritas Tuhan dalam berbagai kasus keagamaan di masyarakat yang sering dilihat di tengah-tengah masyarakat. Saling caci, membuka aib dan merasa paling benara dan sholeh di hadapan-Nya. Mungkin itu wujud dari kecintaan kepada-Nya. Namun persoalannya, ketika mewujudkan rasa cinta kepada-Nya dengan meremehkan ciptaan-ciptaan-Nya sebenarnya wujud dari perilaku yang tidak mencintai -Nya secara benar. Ini yang kemudian mendatangkan rahmat Allah tidak ada dalam hati, doa-doanya pun kurang di dengar oleh Allah SWT.

Al-Qusyairi mengatakan bahwa orang-orang yang terus membersihkan diri -para sufi – sama seperti pada umum nya manusia yaitu mempunyai dua penyakit: pertama, sifat-sifat yang diperoleh dalam perkembangan dirinya, seperti tindakannya yang maksiat ataupun menyimpang. Kedua, moral (bawaan) yang tercela, dalam mana jiwanya pun tercela. Jika seorang hamba Allah ingin menyembuhkan dan menjauhinya, maka meluruskan moral nya itu bisa dengan latihan ruhaniah (an-Naisabury, 2000).

Seseorang yang membersihkan diri senantiasa sibuk dengan usaha-usaha konstruktif diri dan mengurangi penilaian-penilaian kepada orang lain. segala fenomena atau kejadian di luar dirinya bukan sebagai kritik terhadap orang tersebut, tetapi sebagai jalan untuk pembelajaran ruhaniah untuk mengambil yang baik dan membuat hal-hal yang kurang baik atau malah tidak baik.

Larangan-larangan berhenti pada keindahan orang lain digambarkan oleh al-Qusairiyah sebagaimana para wanita yang melukai dirinya sendiri karena terpaku oleh keindahan wajah rupawan Nabi Yusuf (an-Naisabury, 2000). Bisa dibayangkan betapa manusia mudah lalai oleh keindahan di luar dirinya dan sering begitu memuja orang lain dan melupakan diri sendiri, ini yang kemudian menyebabkan dirinya terluka dan tidak menyadari atas luka tersebut.

Ukuran para pecinta sejati adalah ketersendiriannya dalam Yang Maha Esa (al-Taftazani, 1991). Kesendirian merupakan suatu keasikan yang tidak serta merta terlepas dari ruang keramaian. Bisa jadi ia berada dalam keramaian, tapi masuk dalam kesunyian diri. Ia mampu menyelami telaga cinta kepada-nya di tengah gelombang arus perubahan yang terus menerus di tengah-tengah masyarakat. Identitas dirinya dalam kehidupan sosial adalah identitas mengikuti hukum sosial. Ia bisa mempunyai baju apa saja, warna apa saja dan profesi apa saja.

Dalam kehidupan sosial manusia tidak lepas dari aturan-aturan sosial dan segala administrasinya. Adanya perdebatan dan perbedaan serta kesamaan pemikiran sebagai pertanda bahwa desain Tuhan memberikan kehidupan manusia sangat berwana sekali. Itulah keindahan kehidupan sosial yang kemudian oleh para ilmuwan disebut sebagai sebuah peradaban.

Keindahan perbedaan tersebut sebenarnya berangkat dari keasikan manusia pada tataran wilayah ruhaniah. Ia akan terus memberikan konstribusi cara pandang kehidupan sosial menjadi perpsepsi cinta kasih. Perbedaan pandangan sebagai bagian dari kebebasan bagian dari wujud naluri manusia yang berbudaya. Dengan harapan hadirnya rasa cinta yang tumbuh dari ruhaniah suci, berbudaya dengan senantiasa selalu mengingatkan kesadaran kepada kesucian mengabdi kepada-Nya.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875