
Dulu di sebuah kerajaan yang terletak di
Padang Pasir terjadi musim kemarau. Kekeringan terjadi dimana-mana. Oase mulai
mengering. Rumput-rumput yang tumbuh di sekitar batu-batu besar mulai layu
menghitam warnanya. Binatang ternak pun mulai banyak yang mati. Hal yang sama,
warga masyarakat kerajaan tersebut pun mulai terkena beragam penyakit. Korban
pun mulai berjatuhan.
Para ulama dan khalifah saat itu telah
menganjurkan untuk beribadah dan melakukan sholat istisqa -sholat minta turun
hujan. Secara formal, mereka telah memenuhi peryaratan fiqh. Baju nya sangat
sederhana. Sangat sulit dibedakan baju khalifah, ulama dan masyarakat biasa. mereka
semua berkumpul di lapangan terbuka melakukan sholat istisqa dan berdoa kepada Allah
agar hujan segera diturunkan.
Ritual telah usai, sholat dan khutbah pun telah berlalu. Aiir mata akibat mereka tidak terbendung lagi. Rangkaian kata-kata sang khatib yang sangat menyentuh hati telah membuat mereka hanyut dalam kesedihan dan merasa berdosa. Mereka menangis tersedu-sedu.
Namun pagi itu, matahari tetap bersinar terang. langit
benar-benar masih berwarna biru. udara terasa mulai panas. Lambat laun, air
mata pun mulai mengering. Ada keraguan dalam hati: “Jangan-jangan, doa kami
tidak terkabulkan”.
Saat kesedihan menyelimuti jiwa, tiba-tiba ada pemuda
badui datang menuju mimbar. Semua orang melihat nya penuh kebingungan. Tidak
ada satupun yang melarangnya. Semua terdiam oleh suasana hati yang sedih. Ia
kemudian berkhutbah dengan syarat rukun yang benar. Selesai mengucapkan takwa.
Lalu dia berdoa kepada kepada Allah. Doa nya sangat pendekt : “Ya Tuhan ku, I
love you”.
Selesai berdoa, pemuda tersebut kemudian pergi hingga
hilang dari pandangan mata. Seolah-olah tidak peduli di sekitarnya. Ia sangat
cepat berjalan,seolah-olah ingin bercengkrama dengan kekasih tercinta. Ia
kekasih tercintanya yaitu Allah SWT.
Tiba-tiba mendung berdatangan dari seluruh penjuru mata angin. Semakin
gelap. Kejadian begitu cepat. Semua manusia yang hadir di majelis tersebut bertanya-tanya dalam hati
gerangan pemuda tersebut. Khalifah bertanya-tanya kepada para ajudannya.
Sebelum sempat ada yang memberi jawaban pasti, hujan pun turun dengan sangat
lebat.
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam buku
berjudul “Tuhan Tidak Perlu Di Bela”
Dalam pandangan Gus Dur persoalan
sesungguhnya yang sering dilupakan oleh manusia adalah bertingkah laku seperti Tuhan.
Pengambil alihan otoritas Tuhan dalam berbagai kasus keagamaan di masyarakat
yang sering dilihat di tengah-tengah masyarakat. Saling caci, membuka aib dan
merasa paling benara dan sholeh di hadapan-Nya. Mungkin itu wujud dari
kecintaan kepada-Nya. Namun persoalannya, ketika mewujudkan rasa cinta kepada-Nya
dengan meremehkan ciptaan-ciptaan-Nya sebenarnya wujud dari perilaku yang tidak
mencintai -Nya secara benar. Ini yang kemudian mendatangkan rahmat Allah tidak
ada dalam hati, doa-doanya pun kurang di dengar oleh Allah SWT.
Al-Qusyairi mengatakan bahwa orang-orang
yang terus membersihkan diri -para sufi – sama seperti pada umum nya manusia
yaitu mempunyai dua penyakit: pertama, sifat-sifat yang diperoleh dalam
perkembangan dirinya, seperti tindakannya yang maksiat ataupun menyimpang. Kedua,
moral (bawaan) yang tercela, dalam mana jiwanya pun tercela. Jika seorang hamba
Allah ingin menyembuhkan dan menjauhinya, maka meluruskan moral nya itu bisa
dengan latihan ruhaniah
Seseorang yang membersihkan diri senantiasa
sibuk dengan usaha-usaha konstruktif diri dan mengurangi penilaian-penilaian
kepada orang lain. segala fenomena atau kejadian di luar dirinya bukan sebagai
kritik terhadap orang tersebut, tetapi sebagai jalan untuk pembelajaran ruhaniah
untuk mengambil yang baik dan membuat hal-hal yang kurang baik atau malah tidak
baik.
Larangan-larangan berhenti pada keindahan
orang lain digambarkan oleh al-Qusairiyah sebagaimana para wanita yang melukai
dirinya sendiri karena terpaku oleh keindahan wajah rupawan Nabi Yusuf
Ukuran para pecinta sejati adalah ketersendiriannya
dalam Yang Maha Esa
Dalam kehidupan sosial manusia tidak lepas
dari aturan-aturan sosial dan segala administrasinya. Adanya perdebatan dan
perbedaan serta kesamaan pemikiran sebagai pertanda bahwa desain Tuhan
memberikan kehidupan manusia sangat berwana sekali. Itulah keindahan kehidupan
sosial yang kemudian oleh para ilmuwan disebut sebagai sebuah peradaban.
Keindahan perbedaan tersebut sebenarnya
berangkat dari keasikan manusia pada tataran wilayah ruhaniah. Ia akan terus memberikan
konstribusi cara pandang kehidupan sosial menjadi perpsepsi cinta kasih. Perbedaan
pandangan sebagai bagian dari kebebasan bagian dari wujud naluri manusia yang
berbudaya. Dengan harapan hadirnya rasa cinta yang tumbuh dari ruhaniah suci, berbudaya
dengan senantiasa selalu mengingatkan kesadaran kepada kesucian mengabdi
kepada-Nya.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875