
Tulisan ini untuk mengenang kebersamaan ku
dengan almarhum Kyai Syarbini (meninggal tahun 2013), guru ngaji Alumni
Pesantren Lirboyo dan Al-Falah Ploso Jawa Timur. Meninggal pada usia 63-an. Ia
seorang penceramah yang hampir tiap hari mempunyai jadwal pengajian. Ia juga
seorang dermawan yang hampir seluruh harta dan kekayaannya untuk kemaslahatan
umat. Ia meninggal dunia tidak menyisakan harta benda kecuali rumah kayu yang
saya beli tahun 2013. Ia seorang yang terlalu lurus hatinya dan selalu
berprasangka baik kepada siapapun. Para santrinya banyak yang sudah menjadi pejabat
pemda, polisi, hakim dan PNS. mereka rata-rata memberi komentar: sabar, dermawan, dan berbuat
baik kepada siapapun.
Pernah saya bersamanya dari Jawa menuju Riau
naik Bus Jambi Indah. Ketika sampai di Lampung terjadi kecelakaan. Bus yang kami naiki tabrakan “adu kambing” dengan Mobil Tangki Pertamina. Untung
tidak meledak. Meskipun kecelakaan ternyata masih untung juga. Untung saya tidur di Bus saat terjadi tabrakan. Tidur selonjor. Ma’lum, satu deret dua kursi sampingku kosong, jadi bisa tidur seperti di kursi panjang atau risban. Depan saya persis adalah supir dan pacarnya (katanya sih). Informasi dari rumah sakit, keduanya meninggal
dunia. Informasi dari rumah sakit juga ada penumpang koma satu minggu. Kyai Syarbini duduk di bangku
deret sebelah kiri kaki nya patah.
Saat saya sadar, di luar Bus sangat ramai.
Pintu bus tidak bisa dibuka. Ternyata penumpang dikeluarkan dan keluar dari bus bagian
depan yang kacanya sudah pecah. Yang tersisa di Bus cuma saya. Mungkin
dikira sudah meninggal dunia. Saya memang terasa nikmat tidur sampai kejadian tabrakan pun terlambat. Itu sebabnya saat saya bangun dari bangku dan
mau keluar melalui kaca bagian depan mobil, semua menjerit histeris dan banyak
yang lari. Saya belum sadar penyebabnya. Saya baru tahu bahwa seluruh wajah ku
berlumuran darah. Ini akibat terkena percikan pecahan kaca depan sangat keras ke
belakang. Saya tidak menyadarinya. Saat ada
suara keras orang menyuruh dari bawah agar saya “anjrut”, saya pun melompat dari atas
mobil.
Ada beberapa peristiwa yang unik pada
kejadian kecelakaan di Lampung antara lain:
Pertama, seluruh penumpang yang cedera ringan dan berat dirawat di Rumah Sakit Imanuel. Malam itu juga seluruh penumpang
baik yang hidup maupun sudah meninggal di bawa ke Rumah Sakit Imanuel Lampung. Ini
Rumah Sakit milik non-muslim. Untuk ukuran Rumah Sakit saat itu, ini termasuk
sudah sangat baik pelayanannya.
Saya dan kyai sarbini segera mendapat perawatan. Saya bagian kepala
yang parah. Terutama bagian muka. Luka-luka akibat pecahan kaca dibersihkan dan
dikasih obat serta mendapatkan jahitan beberapa bagian muka seperti bagian alis
dan dagu bagian kanan. Kepala diperban. Gigi terasa goyang semua. Untuk
menguyah makanan terasa sangat sakit. Untung setiap pagi ada penjual bubur ayam
lewat di jalan raya.
Kyai Syarbini diperiksa kakinya. Saya jaga dia. Dia kakinya yang
parah, saya kepala nya yang parah. Penjaga dan yang dijaga sama-sama sakit.
Tidak ada saudara. Tidak bisa menelpon. Karena tidak punya HP saat itu. Untung Kyai
Sarbini punya HP Nokia. Tidak menelpon, cukup SMS. Waktu itu kalau menelpon
beda wilayah terkena roaming. Paket pulsa cepat habis. Biaya pulsa mahal. Sama
mahalnya dengan nomor HP. Dulu nomor HP harganya mahal mulai Rp. 300.000-Rp.700.000.
Kedua, Ketika saya menunggu mobil Bus Kota di pinggir jalan, tidak
ada satupun yang mau berhenti. Ada dua kemungkinan; pertama takut dikira pasien
lepas dari Rumah Sakit; kedua karena kondisi badan dan baju memprihatinkan. Wajah
diperban dan dijahit, kaos berwarna putih banyak bercak-bercak darah. Ma’lum,
kejadian tabrakan telah membuat seluruh tas dan pakaian hilang di Bus. Termasuk
sandal yang saya pakai pun hilang sebelah.
Sudah terasa putus asa. Namun tiba-tiba ada Bus Kota berhenti
sekitar 30 meter dari ku. Saya melihat kernet nya turun dari bus,
memeriksa ban bagian depan. Cukup lama, sekitar 5 menit. Tidak ada
yang rusak. Saat ia kebingunan mencari bagian yang rusak, saya pun segera masuk
ke dalam bus. Setelah saya masuk,Bus pun bisa berjalan. Saya bersyukur kepada Allah
bisa naik Bus yang sejak pagi menunggu belum juga dapat-dapat.
Ketiga, saat berada di dalam Bus, tidak ada satupun penumpang memberikan
tempat duduk. Ma’lum, penuh. Jika ada yang kosong pun tidak mempersilahkan. Ma’lum,
kaos ku berwarna putih penuh bercak darah cukup banyak. Saya tetap berdiri.
Tiba-tiba dari tempat duduk bagian depan, ada seorang pemuda
bertato, kaosnya juga compang-camping berdiri dan mempersilahkan diriku
untuk duduk disampingnya. Mungkin dia melihatku dari spion depan. Preman, tapi
punya hati dan empati. Atau mungkin sama-sama satu nasib, sama-sama bajunya
kotor.
Ketika saya turun dari Bus ia menuntun saya dan mengantar sampai di
Rumah Makan. Hebatnya lagi, Bus nya pun menunggu pemuda bertato saat mengantar
diriku. Sambil memberikan secarik kertas, dia berkata kepadaku; “Jika ada
apa-apa dan membutuhkan bantuan apa saja, silahkan sms ke nomor ini”.
Keempat, saat berada di Rumah Makan, saya langsung pergi ke
mushola. Hati saya berkata,”Ya Allah, secara syariat bajuku sudah kotor dan
penuh najis. Tapi perkenankan saya sujud dengan kondisi yang penuh dengan
kotoran ini”. Saya pun tetap berwudhu, dan sholat dhuha.
Kelima, selesai sholat dhuha saya berdoa kurang lebih begini; ”Ya
Allah, saya ingin sholat di Rumah Sakit tapi tidak ada Mushola, berilah
petunjuk agar bisa sujud dalam kondisi apapun. Ya Allah, kyai sarbini harus
operasi kaki. Menurut dokter Solusi terbaik dipotong kakinya dan biaya untuk
potong kaki pun lumayan mahal. Berilah kami jalan keluar dari persoalan
tersebut”.
Keenam, ketika selesai sholat dan makan, saya kembali ke Rumah
Sakit. Saat masuk ke Rumah Sakit, ada seseorang pemuda sedang menjenguk kyai
sarbini. Ia segera mencium tanganku. Saya tidak mengenalnya. Saya menangkap pembicaraan
pemuda dengan kyai sarbini ada dua point; tidak perlu operasi potong kaki, dan
tidak perlu lagi dirawat di Rumah Sakit. Akhirnya kami pindah dari Rumah Sakit ke
rumah penduduk. Tuan rumahnya sungguh luarbiasa. Ahli ibadah, ahli sholawat dan
ahli kebaikan. Saya pun bisa mandi, ganti baju, dan sholat dengan baju bersih
dan suci.
Ketujuh, satu hari kemudian bapak ku dan rombongan datang ke Lampung dan menemui kami di rumah penduduk. Ayah melihatku bukan sedih, malah
tertawa;” Mam, kamu kok jadi ganteng kaya Jenderal Sudirman”.
Setelah dialog secukupnya memutuskan; pertama, saya disuruh ke Riau seorang diri. Meskipun kepala diperban, tapi masih bisa jalan. Kedua, Kyai Sarbini di bawa ke Jawa dan dirawat pada pengobatan tradisional “sangkal putung” yang memang khusus untuk pengobatan patah tulang. Alhamdulillah, kaki yang patah bisa pulih kembali. Tidak jadi dipotong sebagaimana rekomendasi Rumah Sakit.
Saya tidak tahu doa-doa mana yang dikabulkan oleh Allah. Tapi saya menyakini, bahwa Allah sangat menyayangiku, anda dan kita semua. Tapi lucunya, saya sering melupakan kasih sayang-Nya. Semoga anda tidak seperti ku.
Penulis : Imam Ghozali
???? You have a transaction from us. Receive > htt
zymcj6
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875