Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Dokter THT, Menemukan Tuhan di Kolong Jembatan



Minggu , 03 Agustus 2025



Telah dibaca :  499

Setiap manusia punya ujian sendiri-sendiri. Setiap manusia juga punya perspektif beragam dalam melihat ujian tersebut: ada diantara manusia yang tidak bisa menerima penderitaan secara totalitas, ada sebagian manusia yang tidak menerima penderitaan tersebut tapi lama-kelamaan menerimanya, ada sebagian lagi yang sejak awal menerima ujian tersebut.

Ada seorang dokter THT bernama Hafiz. S1 dan S2 di universitas Indonesia. Istrinya berprofesi sebagai dokter. Anak nya semata wayang kuliah di Jerman. Mereka hidup sangat bahagia.  Persoalan materi, tentu profesi sebagai dokter lebih dari cukup. Ia juga punya relasi  cukup luas. Sebagai seorang dokter professional dan koneksinya hingga keluar negeri menyebabkan ia mempunyai status sosial yang sangat mentereng. Hafiz pernah lama hidup di Itali sekitar 4 tahun. Ia juga pernah tinggal di Singapura. Teman-teman nya sangat banyak dan sudah terbangun koneksi profesi sangat baik. Pendek kata, Hafiz mempunyai keluarga yang sempurna.

Namun itu masa lalu. Setelah kedua orang tercinta meninggal dunia -istri dan anak nya meninggal dunia pasca wisuda di Jerman. Sepulang dari luar negeri, ia kecelakaan dan mengantarkan hidupnya pergi untuk selama-lamanya.

Sangat sulit menerima kenyataan. Ia terus berusaha memahami rencana-rencana Tuhan yang diluar jangkauan akal pikiran sebagai seorang dokter. Sudah sekitar 9 tahun ia mengasingkan diri dari keramaian dunia. Ia benar-benar menjauhkan diri dari kelezatan dunia. Ia tinggal di bawah kolong Jembatan Kawasan Kadilangu, Demak, Jawa Tengah.

Hafiz kini hidup serba kekurangan. Tapi ia merasa menemukan kebahagiaan sejati. Ia menemukan suatu makna hidup yang belum pernah terpikir sebelumnya, yaitu hidup memasrahkan diri kepada Sang Pencipta. Kalimat “Semua berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-nya” sudah pernah didengar jauh sebelum ada bencana. Namun kalimat tersebut seperti angin lalu. Pikiran dan semangat jiwa yang membara yaitu mengumpulkan kekayaan sebanyak mungkin. Semakin banyak dikumpulkan terasa terus semakin berkurang. Semakin memburu kesempurnaan, terus semakin tidak menemukan kesempurnaan. Sehingga Allah memberi pelajaran yang sangat berharga sekali yaitu memanggil istri dan anak tercinta menghadap kepada Sang Maha Kuasa.

Keseharian Hafiz selama 9 tahunan yaitu selalu bertafakur mencari hakikat kebenaran. Ia kadang menyendiri di Makam Sunan Kalijaga. Saat masuk sholat lima waktu, ia pun segera menuju masjid, mengambil air wudhu, sholat tahiyatul masjid dan membaca Al-Qur’an sebelum datagnya shalat wajib. Setelah selesai ibadah, ia pulang ke rumah nya yang berada di kolong jembatan tadi.

Apa yang terjadi pada hafiz si dokter THT ini bukan baru pertama kali. Para sahabat nabi, tabi’in, tabi’in-tabi’in dan sebagian para ulama juga pernah melakukan lelakon yang demikian. Mereka menelusuri kebenaran-kebenaran dan kedamaian hidup dengan pola apa ada nya. pola hidup yang kontras bagi kebanyakan orang yang ingin selalu hidup serba ada.

Seorang tokoh yang ia kagumi antara lain adalah Sunan Kalijaga. Ia tentu saja -menurutku -terinspirasi tentang perjalanan hidup seorang waliyullah yang masa muda nya hidup dengan penuh kemewahan. Sang sunan kalijaga yang muda nya sering dikaitkan dengan seorang yang ugal-ugalan sebagai seorang pangeran menemukan suatu kebenaran dan memberi kemanfaatan kepada masyarakat luas berangkat dari kegelisahan yang menghantui sepanjang hidup.

Lingkungan Istana menurutnya sebuah pemandangan palsu. Ia hanya menciptakan kehidupan di negeri dongeng. Padahal di luar Tembok Istana, kehidupan sering tampil kontras. Ada kebahagiaan dan penderitaan. ada senyum, tawa dan tangis yang mengharu-biru, bahkan ada kekayaan dan kemiskinan, kenyang dan kelaparan sepanjang hari. Ia terus berontak dan tidak puas dengan pola kehidupan istana yang dianggap sangaat menyesatkan jalan berfikirnya. Ia pun meninggalkan segala kenikmatan dunia dengan terus mencari kebenaran melalui olah batin dan belajar dari para ulama-ulama saat itu.

Hafiz -menurut ku -bukan orang yang frustasi. Mungkin kejadian awal demikian. Tapi ia juga seorang dokter yang sangat cerdas. Ia juga telah membaca referensi-referensi orang-orang besar lahir dari penderitaan yang jauh lebih dahsyat ketimbang dirinya sendiri. Jika menuruti egoisme, mungkin dia akan terus berontak terhadap keputusan Tuhan. Tapi ia tidak dilakukan. Justru perjalanan hidup yang cukup panjang tersebut menjadi suatu pelajaran bahwa mengenal hidup yang sebenarnya saat menemukan penderitaan. Karena dari penderitaan tersebut, seluruh organ tubuh akan merasakan suatu kepedihan, kesedihan, dan kesusahan yang menyebabkan pikiran dan hati terlatih mudah empati dan mudah menerima kebenaran-kebenaran baik kebenaran yang bersifat duniawi maupun kebenaran yang bersifat ukhrowi atau ruhaniah.

Maka sejarah telah mencatat, para pemimpin dalam jenis apapun selalu hadir melalui tempaan-tempaan ujian yang terkadang sangat sulit diterjemahkan dalam pikiran-pikiran manusia biasa. Saya -dan mungkin anda -saat mendengar kisah-kisah mereka kadang terbersit dalam hati :”Betapa hebat dan agung nya jiwa-jiwa mereka, jika itu terjadi atau menimpaku, rasa nya saya tidak sanggup menanggung beban tersebut”.

Ia, orang-orang hebat yang telah tertulis dalam buku-buku dan dalam kisah-kisah yang sering bersliweran di sekitar kita adalah kisah-kisah orang yang semasa hidupnya penuh dengan penderitaan. Mereka mampu menaklukan penderitaan tersebut dengan terus melatih jiwa dan hati serta pikiran untuk terus mencari solusi dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Konsistensi akal pikiran dan hati menyatu dalam cahaya-cahaya ilahiah menyebabkan mereka bisa melalui bara api di sekitarnya. Tentu saja, bara api sejak dulu sangat panas dan tetap panas. Namun hatinya sudah bulat hanya dirinya dan Tuhan nya dalam proses kehidupannya. Suatu prinsip yang telah melahirkan rasa cinta mendalam terhadap Tuhan nya, sehingga seluruh kejadian menjadi terlihat indah.

Saya kira proses kehidupan yang seperti ini merupakan jalan terbaik bagi Hafiz lebih dekat dengan tuhan nya. Ia menemukan tuhan justru saat berada di bawah kolong jembatan, bukan saat dia mendapatkan kejayaan dan gemerlap harta.

Tentu saja, tugas sebagai khalifah fi al-ardhi harus kembali normal setelah ia menemukan ketentangan hidup. Sehingga ia tidak saja mendapatkan kedamaian hati, tapi juga memberi konstribusi untuk masyarakat sekitarnya.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875